Main King

Main King
(Bukan) Sadako!



Sekelebat bayangan sesekali terlihat di gelap malam. Hutan perbatasan antara wilayah Half-beast dan manusia telah dilewati beberapa bayangan itu. Terlihat ada lima bayangan yang mengejar satu bayangan saat cahaya bulan sesekali menyoroti mereka.


Lima bayangan yang mengejar di belakang segera tersadar bahwa mereka hampir mendekati wilayah manusia dan langsung berhenti di tempat. Sedangkan satu bayangan masih berlari melewati batas terdalam manusia.


"Sial! Dia benar-benar mencari masalah!" ucap salah satu bayangan yang berhenti mengejar.


Lima bayangan tadi menatap bengis pada arah yang dituju bayangan yang mereka kejar tadi. Ketika cahaya bulan menerpa tubuh mereka, terlihat kejanggalan pada fisik mereka.


Tubuh bersisik dengan tubuh seperti manusia berekor panjang yang meliuk-liuk tak berhenti serta mata merah penuh nafsu membunuh. Mereka saling melihat satu sama lain sebelum salah satu dari mereka berbicara.


"Dia sudah kita tandai. Kita akan menemukannya nanti. Coba kita lihat seberapa jauh dia bisa berlari," ucapnya penuh kebencian.


Setelah mengatakannya, yang paling berbadan besar dengan sisik hitam berhias merah memberi tanda agar berbalik dan pergi. Empat dari mereka segera mengangguk dan mengikutinya di belakang.


"Penemuan para ahli itu membuatku terkejut. Masalahnya, anak itu terkenal memberontak tapi tetap saja diberi kekuatan dalam hal kecepatan. Apa maksud mereka itu?" salah satu dari Half-beast bersisik itu berujar penasaran, ada nada sedikit kesal dalam suaranya.


Kecuali yang berbadan besar, tiga diantara mereka menoleh.


"Benar juga," yang kurus berujar. "Kecepatan itu tidak normal. Bahkan Tuan pun sulit untuk melumpuhkannya bila ia benar-benar melawannya."


Mereka berempat segera menyusul makhluk berbadan besar di depan mereka setelah berdiskusi secara singkat.


Nasib satu bayangan yang melewati batas terdalam wilayah manusia itu juga tidak berakhir baik. Meski dia bebas dari pengejar, fisiknya mulai melemah. Andai para pengejar masih mengikutinya, ia tidak yakin bisa lari lagi. Kondisinya cukup mengenaskan. Pakaian sobek, rambut panjang yang acak-acakkan, darah yang awalnya mengalir sekarang berhenti dan mengering di berbagai sisi tubuhnya.


Saat melewati satu pohon besar ia terjatuh dari ketinggian lima meter, di mana dia tidak sanggup melompati pohon demi pohon yang ia lakukan tadi.


Napasnya terdengar memburu dan dadanya terasa sesak. Matanya mulai berkunang-kunang, tapi dia tahu bila dia terpejam, ia takut mereka akan menemukannya dalam keadaan seperti ini.


Dengan tenaga yang tersisa, dia bangun dan memaksa berjalan mendekati suara air sungai yang mengalir. Kedua kakinya gemetaran, sedangkan tangannya hampir mati rasa karena berkali-kali mematahkan ranting pohon tanpa peduli kondisi.


Ketika sampai di tempat tujuan, ia segera memasukkan tubuhnya ke sungai dengan kedalaman sepinggang. Baru saja membungkuk untuk meminum air, kepalanya menoleh ke arah kiri saat aliran air tiba-tiba menjadi deras, mendorongnya terjatuh dan tenggelam di sungai dangkal itu.


Masalahnya, arus itu menjadi gila. Seakan marah, tubuhnya yang kecil terhempas sebab melawan arus dan mulut serta hidungnya kemasukan air membuatnya sulit untuk bernapas maupun bangkit. Ditambah lagi kakinya yang sudah mati rasa saat menghantam batu di sekitarnya, mengilangkan kesimbangannya.


Akhirnya ia tidak memiliki tenaga yang tersisa untuk melawan arus hingga pasrah dan membiarkan sungai membawanya menjelajahi jalannya. Keras kepala yang tertanam dalam sifatnya membuatnya masih tersadar bahkan saat terapung dan terombang-ambing seperti daun.


***


Perasaan haus membangunkan Aldir yang tidur terlentang di dekat api unggun. Dengan mata mengantuk, Aldir dengan malas merangkak ke arah sungai yang jauhnya beberapa meter dari tempatnya tidur.


Aldir mendecak saat lupa menggunakan botol untuk minum. Terpaksa tangannya ia celupkan untuk mengambil air agar bisa diminumnya.


Aldir berjengit setelah selesai minum saat dilihatnya ada sesuatu yang mengambang diantara bebatuan. Seperti ada hal yang tersangkut di sana.


Pelan-pelan Aldir berdiri dan menyipitkan matanya, mencoba meneliti benda apa itu. Dia melotot dan hampir berteriak ketika benda itu menunjukkan tanda gerakan.


Niat akan berbalik demi membangunkan Altair terhenti saat sebuah tangan memegang pundaknya. Aldir menoleh pelan dan langsung berteriak saat melihat wajah tanpa emosi di depannya. Sayangnya, respon itu juga berbalas teriakan yang tak kalah kerasnya.


"Aaaaaakkhh, kenapa kau berteriak?!" Altair langsung memukul kepala Aldir yang sudah lebih dulu berhenti berteriak.


Aldir mengaduh. Tatapan kesal masih ditunjukkan Altair untuknya.


"Aku hanya terkejut," katanya dengan tangan kiri yang mengelus bagian kepala yang sakit. Setelah merasa lebih baik, Aldir teringat hal yang baru saja dia temui.


Aldir menoleh ke arah Altair, "Aku menemukan sesuatu di sana." Tangannya menunjuk sisi sungai.


"Oh, ayam bakar?"


Plakk!


"Aw, itu sakit, Aldir." ujar Altair mengeluh.


"Lagipula kenapa kau berpikir aku menemukan ayam bakar di sudut sungai?"


Altair mengangkat bahu, "Lalu apa?"


Suara air yang berkecipak membuat mereka berdua menoleh bersamaan. Di sana, tempat yang ditunjuk Aldir sebelumnya menampakkan wujud perempuan yang menyeret tubuhnya dengan kedua tangan untuk menuju tepi sungai tempat mereka berada.


Secara cepat Altair langsung berteriak diikuti Aldir yang juga berteriak karena teriakan Altair memenuhi telinganya.


"AAAAAAKKHHH, SADAKO! DIA SADAKO! KENAPA DIA PINDAH KE DUNIA INI JUGA?!"


"AAAAAKHH SIAPA SADAKO? SIAPA DIA?! DI MANA DIA?!"


Aldir yang tersadar dengan ucapannya dengan cepat memukul kepala Altair. Altair yang tak siap mengaduh kesakitan dan langsung melotot pada Aldir. Belum sempat protes, sosok itu sudah sampai di tepi sungai dengan suara serak memanggil keduanya.


"To... long."


Sekali lagi, Altair berteriak. Bedanya, kali ini dia melompak ke punggung Aldir yang limbung karena kehilangan keseimbangan dan meneriakkan nama Sadako berulang kali.


"Sadako aku berjanji tidak akan mencacimu di kehidupan ini. Aku juga akan selalu menonton film terbarumu jika ada televisi di sini. Aku akan selalu memanjatkan doa untukmu.... "


Altair masih mengoceh dengan tangan mendekap Aldir yang meronta karena sesak napas di dekapannya. Tangan Aldir berulang kali memukul tangan Altair kecil yang membekap lehernya terlalu erat. Semua itu tidak akan berhenti jika sosok itu tidak bicara.


"Aku bukan Sadako. Aku juga bukan manusia seperti kalian," jawabnya dengan terbata. Seolah ada yang menghalanginya untuk bicara.


"Sadako juga bukan manusia!" teriak Altair.


"Tapi namaku bukan Sadako," sosok itu masih menyangkal dengan sisa tenaganya.


Altair berdecak sebelum melepaskan rangkulannya pada Aldir, sedangkan Aldir dengan cepat pergi ke arah sosok itu lalu membawanya ke api unggun tempat mereka beristirahat.


Suasana menjadi sunyi setelah Aldir memberi sosok itu makan. Altair terdiam sejenak saat melihat penampilan sosok yang ternyata adalah gadis, di depannya.


"Sampai kapan kau terus memelototinya? Berhentilah, kau menakutinya."


Altair menoleh pada Aldir yang menatap lelah ke arahnya. Altair mendengus, lalu matanya menyipit dan telunjuknya teracung ke arah gadis itu.


"Aku yakin kau Sadako yang menyamar, 'kan?"


Meski sudah lebih baik, gadis itu masih lemah secara mental. Dia hanya memandang Altair dengan mata sayu.


"Sudah kubilang aku bukan Sadako. Bahkan aku tidak tau siapa Sadako itu."


Altair mengerucutkan bibirnya, "Sadako sangat mirip denganmu. Rambut panjang menjuntai ke depan, baju putih lusuh, serta berjalan dengan merangkak."


"Aku menyeret tubuhku, bukan merangkak."


"Dia keluar dari sumur."


"Dan aku keluar dari sungai," jawabnya ketus. "Lagipula, Sadako itu ras apa?"


Altair mengerutkan dahi sejenak sebelum menjawab, "Mungkin dari ras manusia yang berubah menjadi hantu."


"Hantu?" Aldir memiringkan kepalanya, penasaran.


"Semacan roh yang bebas," Altair mengangkat bahu, merasa tidak tahu bagaimana menceritakannya.


"Setidaknya aku bukan roh hantu. Aku berasal dari perbatasan Half-beast."


Altair semakin mengerutkan dahinya sedangkan Aldir melebarkan matanya.


"Kau seorang Half-beast?! Lalu kau jenis apa? Dan bagaimana kau bisa ada di sini?"


Gadis itu mendengus, "Aku dari jenis kucing bercampur dengan darah harimau putih," dia mengangkat bahu. "Bisa dibilang keturunan yang kesekian."


Ekor yang disembunyikan gadis itu terangkat, memperlihatkan ekor putih panjang yang berbulu.


Satu hal yang Altair sadar adalah bahwa gadis di depannya ini tidak menjawab pertanyaan Aldir yang terakhir. Meski begitu, Altair berpikir bukan sekarang waktunya bertanya demikian.


"Kau tidak takut air?" tanya Altair.


"Saat itu aku haus, mana mungkin aku berpikir tentang ketakutanku."


Altair hanya menanggapi dengan anggukan. "Lalu bagaimana sekarang?"


"Ha?"


"Apa yang kau lakukan setelah ini?"


Gadis itu terdiam, bingung bagaimana menanggapi pertanyaan bocah yang lebih muda dua tahun darinya. Aldir juga diam karena dia masih memikirkan situasi mereka saat ini. Aldir juga tidak mau mencari masalah dengan Altair dalam waktu dekat.


Matahari yang mulai naik perlahan ke permukaan membuat Altair menoleh sekilas, mengabaikan kecanggungan yang baru saja ia buat. Ketika tatapannya kembali, Altair melihat gadis itu sudah lebih baik dari sebelumnya.


"Aku bukan orang yang baik. Kami tidak akan membawamu dalam perjalanan. Kami juga tidak mau mendapat masalah darimu. Aku tau ada sesuatu yang membuatmu hanyut di sungai tadi malam, tapi aku tidak tau itu," Altair berhenti sejenak.


Kepalanya menoleh pada Aldir yang juga memandangnya. Secara naluriah, Aldir langsung mengambil kantong kulit berisi uang dan memberikan lima koin emas pada gadis di sampingnya.


"Aku hanya memeberimu sedikit uang. Aku yakin kau tak punya itu," gadis itu menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Kita berpisah di sini saja. Aku masih punya urusan."


Altair serta Aldir dengan cepat mengemas barang-barang mereka. Bekas api unggun pun mereka bersihkan sampai tak tersisa. Aldir cukup terkejut dengan cara Altair yang seolah tahu bagaimana cara hidup di hutan. Apalagi dia masih berumur delapan tahun.


Altair membiarkan gadis itu meski beberapa kali ketahuan meliriknya. saat mengemas barang. Sebelum mereka berdua beranjak pergi, suara gadis itu memanggil.


"Hei, aku belum tau siapa nama kalian?"


"Panggil saja aku Altair dan kau boleh memanggilnya Aldur, " tangannya nenunjuk ke arah Aldir yang memasang wajah dingin.


"Aku Maria. Terima kasih untuk makanan dan uangnya." Ucapnya tulus.


"Ya."


Setelah menjawab, Altair beserta Aldir langsung meninggalkannya tanpa menoleh. Beberapa langkah menjauh dari tempat mereka tadi, Aldir bertanya dengan penasaran.


"Kenapa kita tidak menggunakan nama samaran seperti saat Salazar bertanya?"


Altair melirik sekilas, "Kita akan bertemu dengannya lagi dan aku yakin sampai saat itu, nama kita akan tabu untuk dia ucapkan."


Aldir mengerutkan dahinya merasa bingung dengan pertanyaan Altair.


"Darimana kau tau kalau kita akan bertemu dengannya lagi?"


"Hanya firasat," jawabnya dengan mengangkat bahu.


Aldir menghentikan langkahnya sejenak dan menghelas napas sebelum menyusul Altair di depannya. Baginya, Altair bukan anak kecil seperti penampilannya. Bahkan dia tidak yakin orang akan percaya bila tahu usia tuannya yang asli ini karena pemikirannya yang misterius.


###