
Altair memandang ke arah ayahnya. Genggaman tangan kurusnya sudah ia lepas dari tangan Gordon sejak tadi.
Garnad memperhatikan semuanya. Ia masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.Lagipula Altair tak menyuruhnya pergi. Ia juga penasaran dengan kalimat yang dilontarkan keponakannya tersebut.
"Memangnya apa yang ingin aku katakan?" tanya Gordon masih dengan wajahnya yang tanpa emosi.
Altair cemberut. Ia kira Gordon yang ada dihadapannya akan berbeda dengan yang di dunianya dulu, nyatanya mereka memiliki kesamaan. Bahkan Altair berani jamin jika Gordon tak memiliki perbedaan sama sekali dari yang dulu maupun yang sekarang.
"Kupikir kau mau memberitahuku kalau mereka punya niat jahat padaku."
Garnad menautkan alis mendengar kalimat Altair. "Sejak kapan kau mengira mereka jahat? Bukankah mereka sudah ada bersamamu sejak kecil? Kau juga sering membela mereka. Rasanya sedikit aneh kalau mengatakan demikian."
"Akhir-akhir ini mereka sedikit aneh. Itulah sebabmya aku sedikit menjaga jarak."
"Kau baru saja menjaga jarak dari mereka kurang lebih sepuluh menit yang lalu, jangan bercanda."
Ucapan Garnad dihadiahi Altair dengan tawa kecil. "Ah, aku lupa memberitahumu, Paman. Kau dan ayah menganggapku menjaga jarak dengan kalian, maka dari itu aku agak kesulitan memberitahu kalian soal ini."
"Jadi kau sudah tau masalahnya?"
Altair memandang wajah Gordon yang tanpa ekspresi. Ia tahu bahwa Gordon sudah sangat lama ingin bicara dengannya, meski wajahnya tak menunjukkan itu. Tuan Muda sebelumnya benar-benar tidak tahu diri sudah menyiakan ayah seperti Gordon.
"Aku baru saja mengetahuinya tadi," jawab Altair.
"Baguslah kalau kau tau," kata Garnad. "Lalu apa yang akan kau lakukan pada mereka sekarang?"
"Menghukumnya?"
Ucapan Altair membuat Garnad menaikkan alis tanpa sadar, sedangkan Gordon mencerna perkataan Altair dengan seksama. Bagi mereka Altair adalah orang yang lembut. Mendengar ia akan menghukum pengasuhnya sendiri membuat mereka sedikit terkejut.
"Kau yakin?" Garnad bertanya heran. "Mereka adalah orang yang mengasuhmu sejak kecil."
"Kalau begitu terserah kalian saja," Altair mengangkat bahu tanda menyerah. "Oh, aku lupa bertanya pada kalian. Sudah berapa lama kalian tau ini?"
Kali ini suara Gordon mengudara. "Kami sudah memberitahumu dulu, tetapi kau tak mau mendengarkan kami."
Altair berdecak lalu ingatan kejadian yang dialami tuan muda terdahulu saat Gordon menyebutkannya terulang. Alasan Altair dulu sangat konyol. Hanya karena ia tidak dekat dengan ayahnya, ia tak pernah percaya pada siapapun selain pengasuh dan tabib pribadinya.
"Aku tau, itu salahku."
"Tapi aku tidak yakin bahwa mereka lah otak dari semua penyakitmu. Aku tidak menemukan satupun kebohongan dari raut wajah mereka. Bahkan rasa khawatir mereka pun asli tanpa dibuat-buat."
Gordon sudah mencurigai hal ini sejak lama. Meakipun dia sudah melihat banyak ekspresi kebohongan yang bisa ditutupi berbagai macam cara, tetap saja ia bisa melihatnya. Tapi untuk kali ini, dia benar-benar percaya bahwa mereka tulus berada di samping Altair. Itulah sebabnya ia tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat.
"Ya, kau benar." Altair membenarkan ucapan ayahnya. "Mungkin aku akan menanyakannya pada mereka nanti."
"Kau yakin?" tanya Garnad.
"Untuk saat ini aku yakin. Tidak mudah mengubah sebuah kepercayaan, Paman. Aku akan melakukannya perlahan."
Ruang kamar bernuansa putih itu hening sejenak sebelum Altair mendesis sakit. Kepalanya kembali berdenyut. Ia tidak mengira sakitnya akan separah ini. Altair berjanji akan mengembalikan sakitnya pada orang yang berbuat jahat padanya berkali-kali lipat.
Gordon mulai sadar saat Altair memegangi kepalanya. Tangan kanannya terangkat dan memijatnya perlahan. Ketika hal itu dilakukan, Altair merasa kepalanya lebih baik.
"Apa kau merasa lebih baik?" tanya Gordon.
"Ini hanya penawar rasa sakit, tidak sepenuhnya mengobatimu. Itulah sebabnya kenapa aku masih memerlukan para tabib itu di sisimu. Lagipula aku tidak suka menggunakan itu untuk waktu yang lama."
Gordon berdiri setelah merasa anaknya sedikit lebih baik dari sebelumnya. Altair tahu apa yang dimaksud tidak ingin menggunakan suatu hal dengan terlalu sering. Meski begitu, ia diam saja.
"Aku akan memberi mereka waktu untuk bersamamu beberapa hari ini. Kuharap kau tidak benar-benar membenci mereka."
Setelah mengatakannya, Gordon pergi meninggalkan Altair dengan pamannya di kamar itu. Garnad memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. Ia memandangi Altair dengan mata yang menyipit, sedangkan Altair juga memandangnya dengan heran.
"Sepertinya ini bukan dirimu," ungkap Garnad dengan jelas. Ia sudah lama ingin mengatakannya, tetapi tidak jadi karena ingin Gordon memiliki waktu bicara dengan putranya. "Apa benar kau keponakanku?"
Altair mengangkat bahu. "Kalaupun paman tidak percaya, setidaknya ayah masih percaya padaku."
"Cih, kau berlagak seolah dia mengenalmu."
"Darah lebih kental daripada air, Paman. Bahkan meski aku orang asing, bukankah ayah bisa melihat ekspresiku?" Altair tertawa kecil.
Garnad berdecak. Ia tidak mengira bahwa keponakannya akan menjadi menyebalkan. Dia tidak pernah bicara dengan Altair sedikit pun walau mereka satu keluarga dekat. ia hanya mendengar rumor saja. Tapi sepertinya rumor itu terpatahkan melihat betapa mengesalkan keponakannya saat ini.
"Paman, bolehkah aku meminta sesuatu?"
Pertanyaan Altair membuat Garnad menjadi berpikir. Firasatnya mengatakan bahwa apapun yang dikatakan keponakannya tidaklah baik. Meski begitu, rasa penasarannya mengalahkan firasatnya. Bahkan Garnad merasa terkejut sebab baru kali ini dia mengbaikan firasatnya.
"Apa yang kau minta?" tanya Garnad setelah duduk di kursi sebelah kiri ranjang Altair.
"Aku ingin belajar ilmu beladiri."
Garnad tertegun sejenak. Ia tidak mengira bahwa permintaan Altair adalah sesuatu yang selama ini tidak ia suka.
"Kenapa begitu mendadak? Bukankah kau tidak menyukainya?"
"Mungkin aku salah menilainya saat itu," jelasnya. "Lagipula aku tidak mungkin meminta perlindungan ayah setiap saat, mengingat perseteruan antar wilayah dan bangsawan."
Berdasarkan ingatan Altair sebelumnya, ia adalah bangsawan tingkat dua dimana hal itu dianggap bangsawan tingkat tinggi dari lima keluarga bangsawan besar. Lima bangsawan besar dari manusia memiliki fungsi sebagai pelindung ras manusia. Tapi akhir-akhir ini terdapat konflik yang lumayan menyita perhatian daripada perbatasan yang dijaga ketat agar ras lain tidak mencoba meyerang. Konflik dalam memang lebih mematikan.
Altair berniat mempelajari beladiri dunia ini agar ia bisa melindungi diri sendiri serta memulai ulang pencapaian yang pernah ia raih di kehidupannya yang dulu.
Altair juga mempertimbangkan untuk mempelajari semua kekuatan ras dan menguasainya, mengingat di dunia ini terdapat lima ras berbeda. Apalagi ia ingat di kehidupannya dulu hampir semua jenis ilmu beladiri samapi bahasa dapat dipelajarinya.
Garnad menggosok dagunya, tenggelam dalam pikiran setelah mendengar alasan keponakannya ingin belajar beladiri. Apa yang dikatakan Altair memang ada benarnya. Konflik antar wilayah dan bangsawan bukan lagi masalah kecil. Apalagi banyak kompetisi tidak langsung dari para generasi muda yang sama degannya. Mengajarinya di umir delapan tahun ia rasa sangat cukup untuk mengejar ketertinggalan.
"Kalau begitu kau bisa latihan saat fisikmu membaik. Makanlah yang teratur juga jaga dirimu sendiri dari orang -orang uang ingin mencelakaimu."
"Tentu saja, Paman."
Garnad mengangguk tanpa menjawab. Ia memilih pamit untuk pergi menyiapkan latihan apa yang akan mereka jalani nanti.
Ruang kamar tuan muda yang cacat itu kembali hening. Ia melihat ke sekeliling ruangan guna menyesuaikan dirinya. Meski ingatan tuan muda lalu sangat lengkap, tetapi ingatan kehidupannya yang dulu membuat ia masih harus beradaptasi dengan tempatnya yang baru ini.
Setelah puas memandangi ruangan luas itu, Altair kembali melihat semangkuk bubur di atas meja. Tepat di sampingnya. Ia tersenyum lalu tangannya meraih mangkuk bubur itu dan memangkunya, bersiap untuk menyantapnya.
"Kebodohan apa yang kau lakukan Tuan Muda? Bahkan racun yang mudah diperiksa ini pun kau tidak tau. Tapi rasa buburnya lumayan enak." Altair tertawa sambil menyuapkan sendok bubur ke mulutnya.
###