Main King

Main King
Debat Harga



"Apa kau punya benang, jarum dan pisau?"


Pria itu mengangkat alisnya, merasa aneh dengan pertanyaan bocah nakal di depannya. Aldir di sisi lain memijat pelipisnya, merasa lelah mendengar pertanyaan yang sama. Saat Aldir ingin mengajak Altair pergi, respon pria itu berbeda dari resepsionis toko besar tadi.


"Benang seperti apa yang kau inginkan?"


Aldir yang mencoba meraih pundak Altair berhenti di tempat. Tubuhnya mematung, jelas terkejut dengan respon pria tua di depannya. Sedangkan Altair mulai terseyum lebar ke arah pria yang baru saja ia umpati dalam hati.


"Oh, kau tahu apa yang kumaksud?"


Pria itu tersenyum mengejek, "Tenanglah, Nak. Kau tidak seaneh orang-orang yang aku temui selama ini." Jawabnya sambil mengelus jenggot dengan bangga.


Altair menanggapi dengan mengangguk meski sedikit jengkel, "Kalau begitu, apakah kau punya benang terbuat dari logam? Lebih tipis lebih baik. Kalau bahannya hanya tebal sedikit tidak masalah."


Priabitu berpikir sejenak, "Apa yang kau maksud itu kawat? Apa bedanya itu? Bukankah itu untuk pagar kebun?"


"Bukan kawat," sanggah Altair. "Kawat terbuat dari logam yang agak tebal. Meski lentur, itu akan sangat sulit digunakan dalam keadaan mendesak dalam pertarungan. Aku perlu logam dengan ketipisan seperti benang."


"Kau ingin menggunakannya sebagai senjata?" tanya pria itu penasaran. Matanya melirik Aldir, meminta penjelasan. Aldir hanya menganggukkan kepala dengan canggung. Dia pun bingung dengan permintaan Altair.


"Ya, itu yang kupikirkan. Bagaimana? Apa kau punya itu?"


Pria itu sedikit ragu menanggapi bocah di depannya. Ia ragu karena melihat dari penampilannya, bacah di depannya ini belum memiliki kemampuan mumpuni. Lebih mengherankan lagi adalah senjata yang dia cari. Benang logam yang dia cari termasuk dalam senjata yang bisa membunuh secara instan kalau tidak digunakan untuk menjerat lawan.


Pria itu hanya menguji bocah di depannya dengan pertanyaan yang menjebak. Pertanyaan yang dia ajukan akan bermakna berbeda sesuai kebutuhan yang diperlukan.


Jika bocah di depannya ini menjawab jenis benang wol berwarna atau sejenisnya, maka dia akan mengira anak itu hanya khusus untuk menjahit pakaian dengan kemampuan energi alam di dalamnya, mengingat tokonya adalah toko senjata dan obat. Tapi mendengar bahwa itu digunakan untuk senjata, tidak ada pemikiran selain digunakan untuk menjerat atau membunuh.


Tidak ada yang tahu ketika mata tuanya sedikit bersinar di dalam tokonya yang temaram. Ada sesuatu yang membuatnya tertarik dengan bocah nakal ini.


"Sepertinya aku punya beberapa. Tunggu sebentar," jawabnya dan pergi ke pintu di belakangnya.


Aldir yang melihat interaksi itu tidak tahan untuk tidak bertanya.


"Benang yang kau cari itu untuk senjata?"


"Ya, untuk senjata. Memangnya aku akan mencari bahan untuk menjahit di toko senjata?" nada suaranya mengejek dengan menekankan kata terakhir yang dia ucapkan.


Aldir terdiam, bingung bagaimana menjawab perkataan tuannya. Altair di sisi lain kembali berkeliling, melihat senjata unik yang dipajang dalam toko.


Pria itu kembali dengan membawa sebuah kotak persegi dengan ukuran tiga puluh senti setiap sisi. Altair langsung mendekat saat dia melihatnya. Kotak kayu terbuka setelah pemilik toko membukanya dengan kunci khusus.


"Apa benang ini yang kau maksud?"


Benang berwarna segera terlihat di mata Altair. Dia meneliti dengan seksama sambil sesekali merasakan teksturnya. Pemilik itu di sisi lain masih ingin mendapat penjelasan dari Aldir yang sedari tadi mencoba berpaling darinya, sesekali menepuk udara kosong demi mengalihkan perhatian.


Altair mengangguk puas setelah melihat dan meraba benang dihadapannya. Di kehidupan sebelumnya, Altair menggunakan benang penghantar listrik sebagai senjata kejut untuk membuat korbannya tidak sadarkan diri. Hanya saja di dunia ini tidak maju seperti di dunianya dulu. Jadi mau tidak mau Altair harus membuatnya dengan pengetahuan yang ia tahu.


Altair sudah lama melepaskan tangannya dari benang-benang logam. Tangannya memegang dagu berpikir bagaimana membuatnya agar bisa menyatu dengan energi alam. Sebuah kebetulan, ide itu muncul saat pria di depannya batuk kecil.


"Apa kau punya benang yang bisa dialiri energi alam? Maksudku, benang yang kualitasnya lebih baik dari ini."


"Nak, berapa usiamu? Kenapa kau tahu hal-hal semacam ini?" Pria itu menyipitkan mata curiga.


Altair terdiam. Dia baru sadar bahwa usianya saat ini bukan usianya waktu dulu. Namun sayang, keterdiaman ini membuat pemilik toko semakin curiga. Sebelum semuanya menjadi canggung, Aldir bicara.


"Maaf, Tuan. Kami diperintahkan atasan kami untuk membeli benang itu."


Pria itu mengernyitkan dahinya, "Siapa atasanmu?"


"Atasan tidak memperbolehkan kami membuka identitasnya. Kuharap, Tuan bisa mengerti," ujarnya dengan nada agak dingin, walau tidak bisa menutupi ketakutannya. Dia melirik Altair yang tengah pura-pura melihat benang, membuatnya mengumpat dalam hati.


Dia mendecak, malas untuk berpikir. Akhirnya dia kembali ke pintu belakang dan mengambil benang yang bisa dialiri energi alam. Altair dengan semangat mengambil beberapa meter benang lalu menanyakan dua bahan lainnya.


Pria itu segera mengambilkan jarum dan pisau tanpa bicara. Keterdiamannya membuat Atair maupun Aldir curiga. Bedanya, Altair tahu bahwa pemilik toko sedang menelitinya sedangkan Aldir merasa orang di depannya marah karena sikapnya juga tuan mudanya.


"Ah, barang-barang ini sangat bagus. Berapa semuanya?" tanya Altair setelah mengambil beberapa pisau kecil tipis dengan tiga kotak jarum.


"Harganya lima ratus koin emas."


Altair menjatuhkan kotak jarum di tangannya hingga membuat seperempat isinya keluar. Aldir dengan tangkas mengambil kantong uang secara paksa yang tergantung di pinggang Altair.


Aldir merasakan oksigen seperti menjauhinya, membuatnya sesak setelah melihat jumlah uang yang mereka bawa. Di sisi lain, pria itu hanya mengamati jari-jari kukunya.


"Kau tidak bercanda, 'kan?" Altair bertanya dengan tatapan kosong.


Dari awal Altair sudah memperhitungkan semuanya. Saat di kereta, dia merasa kaya hanya dengan melihat kantong perbekalannya. Bekalnya berisi lima ratus lima puluh koin. Berdasarkan kebutuhannya, setidaknya dia bisa menyisakan dua sampai tiga ratus koin emas.


"Hmph, apa kau pikir dirimu yang tidak sopan ditambah dengan bahan berkualitas tinggi ini hanya beberapa koin emas?" raut wajah pemilik toko berubah keruh.


"Hei, jadi kau menghitung sikapku padamu? Bukankah kau yang tidak sopan terhadap pelanggan dengan tidak menghampirinya saat dia masuk? Apa aku juga harus menghitungnya?!" Altair berteriak tak terkendali.


"Kaulah yang tidak sopan, bocah tengik! Kalau aku membiarkan sikapmu ini, akan banyak orang yang tidak terdidik sepertimu!" pemilik toko juga melawan dengan keras.


Aldir maju dengan panik diantara mereka, mencoba untuk melerai, "Tolong, Tuan, jangan pedulikan dia. Dia hanya anak kecil. Biar aku yang membayarmu." Aldir segera mengambil koin di kantong kulit yang ia pegang.


Altair segera tersadar dan mengambil uang di tangan Aldir dengan cepat. Ia menatap tajam Aldir sebentar sebelum mengalihkan pandangannya pada pria yang berdiri di belakang meja resepsionis dengan pandangan provokasi.


"Aku akan membayarnya, tapi aku mengurangi beberapa bahan yang ku ambil tadi," ujarnya tak berdaya.


Setelah mengurangi beberapa bahan yang dia ambil, Altair menggigit bibirnya saat menyerahkan empat ratus koin emas pada pemilik toko. Pemilik itu tersenyum lebar atas kemenangan dalam memprovokasi dirinya.


"Siapa namamu, Nak? Mungkin aku bisa memberimu diskon kalau ke sini lagi," seringai licik terbentuk di bibir pria itu.


Altair mengumpat sebelum menjawab, "Kau bisa memanggilku Dani."


"Oh, salam kenal Dani, Aku Salazar."


Altair tak menjawab. Dia hanya menghela nafas lalu berbalik dan berjalan keluar toko tanpa berkata apapun. Aldir menggelengkan kepala dan hampir melangkah ketika suara tua di belakangnya menghentikannya.


"Tunggu dulu anak muda. Apa aku boleh tau siapa namamu juga?"


Aldir berbalik, memicingkan matanya pada pria yang baru saja ia ketahui namanya.


"Aku tidak punya nama. Tapi kau boleh memanggilku Denis."


Salazar mengangkat alis, jelas bingung pada dua anak muda yang ditemui waktu ini. Tapi dia menepis semua kekesalannya. Ada sesuatu yang membuatnya bergidik daritadi.


"Aku akan memberimu sedikit saran, Denis," ujarnya yang mendapat respon kepala miring dari Aldir. "Jangan pernah mencoba untuk kabur darinya saat ini. Aku harap kau mematuhi sampai dia percaya padamu. Jagan pula kau mengkhianati kepercayaannya, itu akan berakhir buruk."


Aldir terdiam sejenak setelah mendengarnya sebelum membalas, "Siapa yang tidak boleh aku khianati?"


"Tuanmu."


Aldir melebarkan matanya, merasa terkejut dengan pernyataannya. Dia tidak menyangka Salazar bisa menebak identitasnya. Sekarang tatapan Aldir berubah tajam padanya meski tahu kekuatan Salazar lebih tinggi darinya.


"Darimana kau tahu?"


"Caramu melindunginya serta simbol di punggung tangan kananmu."


Dengan cepat Aldir menutupi simbol tangannya dengan tangan yang lain. Reaksi itu membuat Salazar tertawa kecil.


"Tenang saja, aku tidak akan membongkar identitasmu. Pergilah, dia menunggumu. Ingatlah baik-baik saranku. Kalau kau dengan sabar mengikutinya, aku yakin dia juga punya rencana lain untukmu."


Aldir merenung sebelum pamit untuk pergi. Perasaannya sedikit bingung setelah mendengar perkataan Salazar, namun dia hanya diam untuk sekarang.


Setelah Aldir keluar, senyum tipis dari Salazar memudar. Digantikan dengan dahi berlipat menandakan ia sedang berpikir. Tiba-tiba suara wanita tua terdengar dari sudut tokonya.


"Anak itu benar-benar menarik," katanya.


Keluarlah seseorang dengan jubah merah dari sudut bayangan toko. Dia memegang tongkat panjang. Dilihat daru tangannya,orang yang berbicara tadi seusia Salazar.


"Dia bukan saja menarik,Tapi juga sesuatu yang istimewa ada padanya. Tapi aku tidak tahu apa itu." Salazar merespon.


"Kau benar," wanita itu mengangguk. "Sangat jarang anak sepertinya menggunakan senjata yang paling sering digunakan untuk pekerjaan tersembunyi. Senjata itu juga hanya diketahui bila dia seorang mata-mata."


Matanya yang kecil menatap Salazar yang mulai keluar dari mejanya, "Apa mungkin dia seorang mata-mata?" tanyanya.


Salazar menggeleng, "Aku rasa tidak. Anak yang bernama Denis adalah seorang budak. Tidak ada mata-mata memiliki rekan dalam misinya, Fara."


Wanita itu terkekeh, ia merasa ada yang lucu tapi dia tidak tahu apa itu. Kepalanya tertoleh pada pintu masuk toko.


"Semoga mereka baik-baik saja. Kalau takdir menginzinkan, aku ingin bertemu dengannya lagi."


Salazar juga berdiri diam di sana, memandangi pintu masuk toko juga. Mereka memikirkan hal yang sama.


###


Untuk selanjutnya, mungkin saya akan menggunakan nama Dani Dan Denis karena mereka menggunakan nama samaran. Takut kalian bingung, pas saya cerita tentang Altair sama Aldir, Dani sama Denis muncul juga. Liat aja dulu, saya juga bingung ngaturnya gimana.


Segitu aja sih, salam sehat dari saya...wkwk