
Berbeda dengan pertemuan mereka dalam sel yang diiringi suara tawa Altair, kali ini dia diam. Bahkan ketika memasuki kamarnya, Altair tidak mengucapkan sepatah kata pun jika anak budak itu tak berhenti di pintu masuk kamarnya.
"Kenapa kau tidak masuk?"
Anak itu mengernyitkan dahinya, merasa bingung.
"Masuklah, aku mau istirahat."
"Apa aku akan tidur denganmu?"
Altair berbalik, menatap aneh anak budak yang lebih tua empat tahun darinya. "Bukankah sudah kubilang kau temanku? Apa kau ingin kamar yang terpisah?"
Anak itu menggeleng, "Biasanya budak tak sekamar dengan tuannya." Jawabnya pelan.
Altair menanggapi dengan tawanya, "Aku bukan tuanmu. Tuanmu itu adalah Pamanku. Katanya aku belum boleh memilikimu dulu."
Altair berjalan mengitari ranjangnya lalu duduk di tepinya, menggaruk kakinya yang gatal daritadi. Setelah agak nyaman, dia bangkit dan keluar menuju balkon. Anak budak itu masih diam belum memasuki kamar ketika Altair berbalik ke arahnya.
" Masuklah, ini perintah."
Ada rasa sakit yang meremas jantung anak itu membuatnya meringis nyeri. Seorang budak di dunia ini memiliki setengah jiwa yang bebas dan setengahnya lagi dipegang tuannya. Para budak tidak serta merta keturunan. Melainkan orang yang menjual jiwanya untuk mendapat uang demi keluarga atau tidak memiliki kekuatan hingga dipaksa menyegel jiwanya pada penjual budak.
Kasus kedua dialamai anak itu. Saat itu dia ditemukan tak berdaya tapi dengan tubuhnya yang sehat membuat pedagang budak menyegel jiwanya.
Segel itu berguna untuk menaati perintah. Jadi bila budak tak mematuhi perintah, rasa sakit itu tergantung pada kekuatan perintah tuannya.
Suara Altair yang menyuruhnya masuk itu hanya bernada biasa. Tapi anak itu tidak tahu bagaimana dia bisa membuatnya jantungnya bereaksi. Karena semakin sakit salah satu organ, semakin kuat kata perintah atau kekuatan mental orang itu.
Anak itu berjalan perlahan. Matanya yang agak kusam memancarkan kewaspadaan. Meski begitu, yang terpancar darinya adalah hawa yang mencekik.
Berdiri di depan melihat Altair yang memandang bulan diatasnya. Senyum lebarnya menutupi sedikit hawa tak bersahabat dari budak disampingnya.
Anak itu membuka mulut untuk bertanya sebelun Altair mengangkat tangan mengehentikannya.
"Apa kau vertanya kenapa aku ke balkon bukannya istirahat atau kau mau bertanya kenapa aku bisa membuatmu patuh?" Altair menoleh ke arah budak di sampingnya.
Anak itu terdiam. Meski pertanyaan pertama tidak terlintas dibenaknya, namun pertanyaan kedua menghantuinya. Jadi dia hanya menganggukkan kepalanya.
Altair terkikik, "Sebenarnya aku ingin latihan. Tapi Pamanku terlalu menyayangiku hingga membuatnya mengirin orang untuk mengawasiku," ujarnya saat kepalanya tertoleh pada salah satu sudut gelap kamarnya.
"Oleh sebab itu aku hanya ke balkon," Altair melihat budak di sampingnya. "Untuk perintah itu, hanya seperempat jiwamu yang diberikan Paman padaku."
Anak itu sedikit bereaksi ketika mendengar hanya seperempat jiwanya yang dipegang bocah kecil dihadapannya. Jika seperempat jiwa bisa membuat janubgnya berdenyut sakit, bagaiamana kalau setengah?
Anak itu meneguk ludah.
"Oh, aku belum sempat bertanya," sampai pada bagian ini Altair bersemangat. "Siapa namamu?"
"Para budak mendapatkan nama berbeda dari setiap tuannya agar bisa lebih dekat dalam memerintah."
"Oh, begitu." Mata Altair ke atas dengan tangan menyendtuh dagu, berpikir. "Jadi aku harus memberi sebuah nama?"
"Benar."
"Siapa namamu sebelum menajadi budak?"
Wajah budak itu berubah. Tapi Altair menyeringai kecil melihat reaksinya.
"Karena kau tak menjawab, aku akan memberimu nama. Nama barumu adalah Aldir."
Aldir–budak itu–mengangguk pelan. Tiba-tiba pergelangan tangan kirinya memancarkan sinar samar meski menghilang dengan cepat. Altair mengangkat alis melihat kejadian itu lalu mengangkat bahu tak peduli.
"Hanya tau, belum memahami."
Altair tersenyum tipis mendengarnya. Menurutnya, Aldir pandai dalam menutupi sesuatu dengan kata-katanya. Dalam pikiran Altair–bahkan mungkin semua orang–seorang budak tidak akan berani bicara santai pada tuannya. Berbeda dengan Aldir yang berdiri dengan mata tertuju ke arahnya serta bicara santai dengannya jika melupakan fakta ada nada penghormatan dari suaranya.
Dia tidak salah memilih sekutu.
"Bagaimana kalau besok kita latihan?"
"Kita?" Aldir mengangkat alis.
Altair menangguk lalu menjawab, "Kau akan jadi temanku, 'kan?" jawabnya menyeringai.
***
Garnad memukul meja di depannya, mengejutkan pelayan yang berdiri dibelakangnya.
"Kau baru saja latihan tiga hari dan sudah izin untuk pergi ke tempat latihan terbuka?! Kau sungguh punya nyali Altair."
Altair menggaruk pipinya dengan canggung lalu menoleh ke arah Ayahnya yang berwajah suram, membuatnya menghembuskan nafas lelah.
Altair tahu ini akan terjadi, tapi tidak akan menyangka reaksi dua orang di depannya ini membuatnya berpikir keras untuk diam tak memprotes.
Aldir berdiri beberapa langkah dibelakangnya, memiliki reaksi sama terkejutnya namun memilih diam dan melihat situasi.
"Ada Aldir yang ikut denganku. Lagipula aku tidak akan lama," katanya membujuk.
"Aldir?" tanya Gordon.
"Kami membeli budak kemarin," Garnad mendecak. "Aku hanya mengambil seperempat jiwa, sisanya kuserahkan pada Altair. sekarang dia punya nama dan namanya adalah Aldir."
Gordon memiringkan kepalanya demi melihat Aldir di belakang Altair. Aldir hanya menganggukkan kepala sekali untuk penghormatan, tanpa senyum. Gordon sedikit tertarik terhadapnya namun hanya memilih diam.
"Apa kau yakin hanya kalian berdua?"
Nada Gordon yang dingin membuat kepercayaan diri Altair menurun.
"Aldir termasuk berbakat. Itu sebabnya bocah tengik ini membawanya." Garnad mendengus, lagi.
Gordon menghela nafas lelah, "Aku akan mengizinkanmu pergi tapi dengan satu syarat?"
"Apa itu?"
"Aku akan menempatkan pengawal bayangan untukmu."
Kali ini giliran Altair yang mendecak, "Aku akan latihan, Ayah. Bagaimana aku bisa tumbuh kalau ada yang mengawasiku? Aku tidak yakin mereka akan diam saat ada yang memprovokasiku."
Perdebatan panjang pun terjadi. Altair tidak mengalah sama sekali. Begitu juga dengan Garnad. Gordon hanya duduk di samping dan sesekali mendengarkan atau berpendapat pada waktu yang tepat mengingat perseteruan duo paman-keponakan itu panas.
Gordon tidak akan pernah menyangka Altair dengan berani meminta keluar mansion hanya untuk berlatih. Sebenarnya dia mendukung. Tapi mengingat konflik antar bangsawan membuatnya sulit mengambil keputusan.
Cara efektif agar tidak membuat Altair pergi adalah dengan membawa salah satu guru terbaik ke mansion. Tapi Altair dengan tegas menolak membuatnya adu mulut dengan Pamannya sekali lagi.
Pada akhirnya, Altair diizinkan berlatih di luar mansion jika Aldir memiliki kemampuan cukup untuk menjaganya. Altair segera menyetujuinya.
Demi meyakinkan paman dan ayahnya, saat bincang malam itu Altair membujuk Aldir agar mau bicara tentang identitas diri yang sebenarnya. Meski awalnya menolak, Aldir juga ingin berlatih di luar mansion.
Awalnya Gordon maupun Garnad tidak bisa mempercayainya. Namun Aldir membuktikan bahwa dia layak menjaga Altair–bangsawan generasi selanjutnya dari keluarga Gremory.
***