
Berdiri dua meter dari mereka berenam, sosok itu hanya memperlihatkan kakinya yang terkena cahaya bulan. Semua mata terarah padanya.
"Maaf menganggu pesta kalian, tuan-tuan. Tapi kalau kalian menyerahkan dia padaku, mungkin aku pergi dengan cepat," ucapnya dengan suara ramah.
Salah satu dari pria itu mendengus, "Kau pikir bisa seenaknya mengambil anak ini dariku?! Mimpi saja kau!"
"Tuan, jangan salah paham. Aku akan memberikan kompensasi yang setimpal. Untuk harganya, silakan tuan-tuan yang tentukan."
Mereka berlima saling pandang, merasa sulit mengambil keputusan.
"Jual saja," yang kurus bicara. "Lagipula kita akan mendapatkan yang lebih baik di tempat judi."
Ketika lima pria masih berdiskusi, pria di sudut menampakkan diri. Wajah usia kepala tiga terlihat. Jas warna coklatnya selaras dengan senyum hangat yang ia perlihatkan.
Maria hanya menggenggam sebuah balok kayu yang ia dapat tepat di sampingnya. Dia berencana menggunakan balok itu untuk memukul salah satu dari mereka atau jika bisa membuat semua yang ada di sana lumpuh.
Tapi sayang, tangannya yang kurus digenggam sebuah tangan. Ia berbalik dan melotot ngeri saat pria yang bernegosiasi dengan lima pria tadi di sampingnya tanpa ada suara sedikitpun.
Pria itu tersenyum hangat, tapi anehnya punggung Maria mengeluarkan keringat dingin.
"Kau salah satu yang kabur, 'kan?" tanyanya, masih dengan memegang erat tangan Maria.
Maria merespon dengan gemetar ditubuhnya. Ia sudah tamat sekarang. Jelas bahwa naungan yang memenjarakannya sudah menemukannya.
"Tenang saja," ujarnya licik. "Aku akan menyembunyikanmu kalau kau patuh padaku."
'Tidak,' batin Maria berteriak.
Tidak ada orang yang menginginkannya secara sukarela. Apalagi membayar mahal dirinya seperti yang dilakukan orang ini. Dia yakin karena kemampuannya lah semua orang menginginkannya.
Transaksi itu berjalan mulus yang diakhiri dengan merantai Maria yang sudah pasrah serta membawanya ke suatu tempat.
Tempat itu sebuah lorong dengan cahaya lampu temaram di setiap sisinya. Para penjaga memberi hormat sambil sesekali melirik penasaran pada Maria yang digeret menggunakan rantai.
Setelah melewati beberapa lorong, pria dengan senyum hangat itu membuka pintu besi yang ada di depannya.
Ketika dibuka, mata Maria melotot kaget. Gemetar tubuhnya semakin menjadi. Prasangka buruk yang ia tanam di palung hati menguap, membiarkannya ketakutan hingga batasnya. Ia tersentak maju saat rantai tangannya ditarik.
Lagi-lagi Maria berjalan di lorong gelap. Bedanya, setiap sisi terdapat sel-sel dingin. Maria sesekali bergidik ketika ia merasa ada aura mencekam dari beberapa sel yang ia lewati. Bahkan tanpa insting hewannya pun, ia bisa merasakan setiap tatapan dari sel yang berbeda itu.
Bertatapan dengan pintu yang hampir sama seperti sebelumnya, pria itu membukanya dengan menendang pintu hingga menimbulkan suara keras. Ketika lintu terbuka, terlihat pria dalam ruangan itu terlonjak kaget skala kecil. Ia menghela hanya napas melihat rekannya menendang pintu seenaknya.
Pandangannya segera beralih saat menemukan Maria di belakang pria yang hangat itu.
"Untuk secara khusus membawanya, aku yakin dia memiliki sesuatu." Suaranya dingin dan berat. Kacamatanya sesekali merosot ke bawah.
Pria yang masih memegang rantai Maria itu hanya diam tak merespon.
"Apa yang kau mau dengan datang ke sini? Sudah lama kau tak berkunjung, Dario."
Maria tersentak saat nama pria yang memegang rantainya disebutkan. Kini kebingungan yang menghiasi wajahnya.
Dario tersenyum tipis, "Aku ingin kau mengawasi anak ini dulu. Nanti aku akan mengambilnya di lain waktu."
"Apa yang kau rencanakan?" pria kacamata tadi meyipitkan matanya, bertanya.
Dario tidak menjawab, melainkan menarik rantai yang sejak tadi dia pegang. Maria tertarik ke depan. Tidak kasar, tapi membuat Maria menggigil ketakutan saat pria berkacamata mencelupkan kuas ke dalan tinta merah.
Maria berusaha melawan tapi tangan Dario segera menahannya, membuatnya tangan kanan yang akan di sentuh kuas tak bergerak sama sekali. Setelah menahan tangis dan takutnya secara lama, kali ini dia menyerah. Air matanya mengalir dengan rasa sakit saat simbol dari tinta merah itu melekat di kulitnya.
Maria berteriak sangat kencang hingga membuat para penghuni sel memegang jeruji besi masing-masing, merasa penasaran dengannya.
Kemudian malam itu menjadi sunyi saat teriakannya tak mengudara lagi.
***
Altair benar-benar kesal sekarang.
"Kau sebenarnya ingat tidak?! Kalau tidak ingat biar aku saja!" Altair berteriak dengan jari telunjuk teracung ke arah Aldir.
"Ini hutan, Al. Kau tidak akan tau jalannya. Berhentilah merengek!" teriak Aldir balik. Sayanngnya, perkataannya justru membuat Altair naik pitam.
"Merengek kau bilang?! Kalau bukan kau tanggung jawabku aku tidak sudi mengikutimu. Ayolah otak lembek, kau tidak bisa mengingat tempat ini, 'kan? Apa susahnya mengakuinya?! "
"Apa kau tau siapa yang jadi tanggungan di sini?! Untuk apa aku mengakui hal yang sudah jelas bukan kenyataannya."
Perkelahian saling berteriak itu bertahan beberapa menit sebelum akhirnya Altair menyerah yang membuat kakinya tersandung batu lalu terjatuh tengkurap di atas tanah.
Sudah jelas energinya terkuras banyak mengingat dia tak henti-hentinya mengoceh bahkan sebelum Aldir membalas rengekannya. Altair merubah posisinya menjadi telentang. Aldir masih sibuk menoleh kiri-kanan mencari jalan yang benar.
Merasakan suatu getaran, Altair memiringkan kelapanya. Telinganya mendengar suara roda bergerak di atas tanah. Mata Altaur melebar, ia tahu apa yang ia dengar saat ini.
"Hei, aku mendengar sesuatu," ucapnya pada Aldir.
Aldir tak menjawab. Ia mengira itu hanya mainan lelucon dari Altair. Altair mendecak sebelum melempar ranting ke arah Aldir.
"Hei, otak lembek, kalau aku sedang bicara perhatikanlah."
Aldir berbalik sambil mendesis sakit karena lemparannya. "Apa yang mau kau bicarakan? Kalau hanya merengek lebih baik jangan panggil aku karena aku masih konsentrasi."
Aldir hendak berbalik saat perkataan Altair membuatnya mengangkat alis mendengarnya.
"Kali ini aku yang akan mencari jalannya."
"Anak kecil sepertimu mana tau jalan yang benar." Ucap Aldir meremehkan.
Altair mendengus, "Pasti aku bisa menemukannya lebih baik darimu."
"Tidak," Aldir menolak tegas. "Kau baru keluar selama hidupmu hanya denganku, bagaimana kau tau jalannya?"
"Sudah kubilang ikuti saja arahanku."
Altair merasa kesal saat Aldir memperlihatkan punggungnya menyatakan ketidakpeduliannya. Dengan marah, Altair menarik kerah pakaian Aldir hingga membuat Aldir menunduk sejajar wajahnya dengan ekspresi terkejut.
"Kali ini aku yang akan memimpin jalan. Jadi kau harus menurutiku. Kalau tidak, kita akan keluar hutan ini paling cepat selama dua hari."
Altair melepaskan pegangannya, tapi tidak membuat Aldir kembali ke dunia nyata. Pikirannya melayang pada malam di mana Altair memberinya peringatan.
Aldur mulai lupa kedudukan Altair sebenarnya karena sikapnya yang seperti anak normal lainnya. Tapi saat tatalan Altair mendingin sebentar tadi membuatnya berpikir ulang.
"Ayo, aku mendengar suara kereta tidak jauh dari sini."
Altair memberi komando saat dia sudah berada di depan Aldir.
"Darimana kau tau?" Aldir menyusul setelah diam tak bergerak.
"Suara kereta melewati tanah dan telinga yang aku letakkan di tanah saat aku berbaring tadi membuatku mendengarnya dengan jelas."
Bukan bersyukur, Aldir malah menjadi bingung. Aldir tahu metode yang digunakan Altair. Masalahnya, sangat sulit membedakan setiap getaran di tanah apalagi di hutan yang dihuni banyak hewan.
"Bagaimana kau mengetahuinya?" Aldir bertanya karena penasaran dan jawaban Altair menjawab semua kebingungannya.
"Suara langkah kaki hewan maupun kereta itu punya perbedaan. Kabar baiknya, aku bisa membedakannya."
Meski kebingungannya sudah teratasi, namun sebagian masih dalam bentuk keheranan. Altair tahu reaksi Aldir akan menjadi seperti itu. Tapi dia tetap tidak mau membertahukan yang sebenarnya pada Aldir meski jiwanya ada di tangannya.
Setelah agak lama berjalan, akhirnya mereka menemukan beberapa kereta dengan belasan pengawal serta pelayan.
"Hei, Tuan. Apa kami bisa memintamu menunjukkan jalan menuju kota terdekat?" tanya Altair sambil melambaikan tangannya.
Semua mata menoleh padanya.
###