
Di sebuah tempat gelap nan sunyi. Bukit kecil di tengah hutan gelap sepekat arang, sebuah bangunan mirip seperti kuil berdiri diatasnya.
Seribu anak tangga berjejer lurus hingga keatas tempat tersebut. Tempat berbentuk persegi dengan empat pilar putih ditempatkan tepat searah mata angin.
Kuil itu tepat berada diatas bukit di tepi jurang. Dibawah jurang itu, belum ada yang bisa memastikan kedalamnya.
Ditengah kuil tersebut, terdapat batu persegi tebal,besar dan lebar. Sosok gadis terlihat duduk diatasnya. Menengadahkan kepala pada bulan diatasnya, membelakangi jalan tangga.
Gadis itu memejamkan matanya. Rambut putih panjangnya bermain dengan angin yang melambai. Rambutnya diikat dibagian kiri dan kanan dengan sebuah lonceng menghiasinya. Menyisakan rambut belakang yang panjang menyentuh meja batu yang Ia duduki.
Cahaya bulan purnama menambah kesan elegan pada wajahnya yang putih bersih. Melipat gandakan kecantikannya.
Tak lama, suara langkah kaki membuat kedua matanya terbuka. Sepasang mata berwarna putih susu terlihat misterius disana. Bibir merah mudanya terkatup rapat. Belum membuka suara meski langkah kaki itu berhenti tepat disampingnya.
Hening tercipta. Suara hewan malam terdengar sayup-sayup. Tiba-tiba gadis itu membuka percakapan.
"Dia akan datang."
Sosok disamping gadis itu tak merespon. Ia pun juga tak masalah di diamkan. Hingga sosok itu buka suara.
"Siapa?" Sosok itu mulai bertanya.
"Pemersatu semua ras."
Suara kekehan terdengar dari sosok disampingnya. "Aku tidak akan pernah percaya, kau tahu? "
Gadis itu melirik sekilas. "Sulit untuk menemukannya. Tapi aku yakin dia akan datang kemari."
"Datang? "
"Ya. Datang dan membuat seisi daratan gempar."
"Kenapa kau yakin? "
'Karena aku yang menginginkan kehadirannya .'
Gadis itu menjawab dalam hati. Tak menyahut lewat suara untuk memberi jawaban pada orang disampingnya.
Sosok itu tersenyum sinis melihat reaksinya. Detik berikutnya, suara angin kencang mewakili pergerakan sosoknya. Ia berdiri di depan gadis putih itu dalam sekejap. Tangan kanannya mencekik leher jenjang gadis di depannya.
Gadis rambut putih itu sedikit meronta karena kesakitan. Sosok di depannya seolah tak peduli. Aura membunuh menyeruak keluar dari tubuhnya.
Tapi sebelum gadis itu pingsan, sosok itu melepaskan tangannya. Gadis itu meraup rakus oksigen disekitarnya. Masih sosok yang sama, Ia tak peduli pada gadis di depannya. Sebuah suara dingin keluar dari mulutnya.
Gadis putih itu tak menyahut. Tangan kanannya masih memegang lehernya yang sudah membiru. Tubuh kecilnya masih bergetar oleh aura orang didepannya.
Sosok itu mendecih, lalu pergi bersama angin yang berhembus kencang. Tinggalah gadis itu duduk dibawah sinar bulan yang memandikan dirinya dengan cahaya.
Kepalanya menengadah, menatap bulan purnama dengan bulat besar diatas sana. Tangan kanannya teracung ke depan.
"Anda seharusnya tak melakukan ini semua sendiri."
Suara pria tua membuat fokusnya teralih. Ia menurunkan tangannya. Matanya memandang jauh ke depan. Ke depan jurang yang mitosnya tak punya kedalaman.
Tapi tak lama, Ia melebarkan matanya terkejut. Gadis itu berdiri, sekali lagi menatap bulan yang menggantung diatasnya.
Mata putih tanpa iris gelap itu menyipitkan matanya. Ia melihat energi seperti asap putih keluar dari cahaya rembulan yang saatini memancarkan cahya seperti biasanya.
Nafas gadis itu memburu. Berkali-kali Ia mengedipkan mata tapi tak ada perubahan pada bulan yang tengah Ia amati.
"Dia telah datang," ucapnya tak percaya. "Ini terlalu dini. Kenapa waktu tak memberi tanda? Pasti sesuatu telah terjadi."
Lonceng kecil dirambutnya berbunyi mengikuti getaran tubuhnya yang semakin menjadi. Gadis itu tak menyangka hari ini akan menjadi begitu cepat.
Pria tua disampingnya mengerutkan dahi. Sudah lama Ia tak melihat rekasi berlebihan gadis berambut putih didepannya ini.
"Apa ada yang salah?" tanya pria tua itu.
Gadis itu menggeleng. Senyum lebar tercetak di wajahnya. "Apa yang aku lihat telah datang."
"Siapa?" Pria itu bertanya lagi, merasa bingung dengan ucapannya. Tapi kemudian matanya ikut melebar lalu menoleh secara cepat ke arah gadis yang sudah memasang senyum lebar dengan binar dimatanya.
"Apakah..... "
"Ya." Gadis itu memotong ucapan pria itu. "Orang yang akan menyatukan semua ras sudah datang."
Pria itu pun menunjukkan raut bahagia di wajahnya. Ia memegangi dadanya yang tengah bereaksi dengan keras. Beberapa saat kemudian, Ia pamit undur diri ingin menyampaikan berita pada teman-temannya yang lain.
Gadis itu masih menengadah menghadap langit dengan senyum yang belum luntur dari wajahnya. Tak mendengar ucapan syukur pria dibelakangnya yang mulai menghilang ke arah tangga bawah.
Rembulan diatas sana seakan tahu kabar gembira, Gadis itu mendapat cahaya biru menghiasi tubuhnya membuat Ia memejamkan mata merasa nyaman. Dengan suara lirih Ia berucap.
"Selamat datang, Yang Mulia."
##