
Begitu keluar dari portal Jesslyn langsung berteriak memanggil ibu dan ayah-nya. Ia segera memberi tahu bahwa berhasil masuk ke akademi Malachite. Jesslyn sangat gembira karena perubahan itu.
"Ibu, Ayah tahu gak, ternyata yang diberangkatkan ke Akademi Malachite itu ngga jadi Leia tapi aku sama Camlyn" Jesslyn berkata dengan girang
"Seriously?!?! Selamat yaaa...." ibu dan ayah serempak sambil memeluk Jesslyn
Camlyn yang melihatnya dari belakang hanya tersenyum menahan sesak. Ibunya yang menyadarinya langsung menarik tangan Camlyn agar bergabung.
"Hah ngga nyangka ya kita bakalan jadi murid Akademi Malachite" Jesslyn sambil merebahkan tubuhnya
"Iya, katanya sih kita bakal satu akademi sama putra putri kerajaan, iya ga sih?"
"Maybe" jawab Jesslyn ragu-ragu
Merekapun mempersiapkan apa saja yang akan dibawa besok. Setelah itu mereka turun untuk membantu ibunya menyiapkan makan malam.
Hari ini ibu dan ayah Jesslyn ikut mengantar ke akademi karena hari ini Jesslyn dan Camlyn akan berangkat ke Akademi Malachite, mereka dijemput oleh prajurit kerajaan.
"Jaga diri kalian baik-baik di sana ya" kata ibunya mata yang berkaca-kaca
"Ikuti peraturan kerajaan, jangan nekat" kata ayah Jesslyn menasihati lalu mengusap rambut Jesslyn
Jesslyn dan Camlyn pun menaiki kereta kuda yang sudah sedari tadi menunggu. Ditengah perjalanan menuju istana tiba-tiba saja air mata Camlyn menetes entah mengapa, mungkin akan kerinduanku kepada orang tua kandungku. Jesslyn yang melihat Camlyn langsung memeluk untuk menghiburnya.
Saat mereka sampai di istana, mereka tidak hanya berdua tetapi juga banyak murid dari sekolah lain yang masuk dalam akademi Malachite. Banyak perwakilan murid yang masuk ke Akademi Malachite. Istananya begitu megah, para murid dituntun ke aula untuk mengambil nomor kamar dan mereka langsung diantar ke kamar masing-masing. Mereka mendapatkan kamar no 713, satu kamar berisi 3 orang.
"Hai, Aku Jesslyn Ravenala, salken" sapa Jesslyn pada teman sekamar
"Aku Elvara, salken juga"
"Aku Camlyn Ravenala" kata Camlyn cuek
"Maafkan Camlyn dia memang cuek di awal" kata Jesslyn sopan
Murid Akademi pun dipanggil untuk dikumpulkan di aula kerajaan. Aula penuh dengan percakapan para murid yang saling berkenalan, dan berbagai cerita bagaimana mereka bisa masuk ke akademi ini.
"Yang Mulia serta Permaisuri dan Putri mahkota dan pangeran datang" Teriak seorang prajurit sebagai tanda
Suasana langsung hening seketika.
"Selamat untuk kalian yang berhasil masuk Akademi Malachite. Pertama-tama saya ucapkan selamat, Saya ingatkan kalian semua disini adalah siswa siswi terpilih. Mungkin sebagian dari kalian nantinya akan mengabdikan diri kepada kerajaan ini" seorang pria paruh baya berkata didepan aula, dia adalah Axelle
"Mulai sekarang kalian akan belajar di akademi ini dan tinggal di asrama" sambung Gracia istri Axelle sambil mengarahkan jari berpendarnya ke udara
Tiba-tiba didepan murid yang tengah duduk muncul cahaya yang berubah menjadi kertas.
Jadwal Camlyn
Jadwal Jesslyn
Jadwal Elvara
"Arrrrgghhh.... kenapa sih aku harus beda kelas" geram Camlyn
"It's Okay, nanti kan tambah temen" kata Elvara mengelus pundak Camlyn
"Itu adalah jadwal kalian untuk besok dan seterusnya, sekarang kalian boleh kembali ke kamar masing-masing atau berkeliling" ujar Axelle
Sebagian murid pergi ke kamar masing-masing begitu pun mereka bertiga.
"Capek juga ya jalan bolak balik" ujar Jesslyn
"Namanya juga istana" sahut Elvara
Beberapa menit kemudian suasana menjadi canggung, tidak ada percakapan diantara mereka.
"Keliling yuk" ajak Camlyn untuk memecah keheningan
"Yuk, sama Jesslyn" Elvara
Tidak ada jawaban dari Jesslyn.
"Yah,, tidur tinggalin ngga apa-apa kan ?"
"Ga apa-apa, nanti juga nyariin"
"Ehh ada perpustakaan tuh kesana yuk" Elvara langsung menarik tangan Camlyn, Camlyn hanya bisa pasrah.
Mereka berdua langsung menuju perpustakaan. Rak-rak buku menjulang tinggi terbuat dari kayu yang kokoh, langit-langit yang dihiasi lukisan-lukisan kuno. Buku-buku yang ditata sedemikian rupa, lampu yang diletakkan di atas meja guna penerangan saat membaca, lantai yang terbuat dari batuan zamrud hijau yang memantulkan bayangan. Perpustakaan ini memberikan kesan hangat bagi siapapun yang membaca buku didalamnya.
"Waaaa gilaaa!, mewah banget" kata Camlyn takjub
Mereka berdua asyik mengelilingi istana dan akademi.
back to Jesslyn
Jesslyn bangun dari tidurnya. Saat membuka mata Jesslyn tidak melihat Elvara dan Camlyn. Dia akhirnya memutuskan untuk pergi mencari Camlyn dan Elvara. Tapi di istana yang sangat luas ini Jesslyn bingung harus memulainya dari mana. Setelah berkeliling Jesslyn sampai disebuah lorong sepi penjagaan, disepanjang lorong tersebut hanya ada sebuah pintu. Hal itu membuat Jesslyn penasaran, akhirnya Jesslyn memutuskan untuk membuka pintu tersebut. Pintu itu berdecit pelan saat dibuka.
Di depan mata Jesslyn terdapat sebuah tempat tidur berukuran besar dengan sandaran putih yang cukup lebar tidak lupa dengan bantalannya. Tirai emas menutupi jendela, permadani putih menghiasi lantai ruangan tersebut, dinding ruangan yang diukir elegan.
Ditengah ketakjuban Jesslyn ada seseorang pria yang keluar dari kamar mandi ruangan tersebut. Pria tersebut berdehem membuat Jesslyn kaget.
"Siapa kau berani masuk kesini"
"Saya Jesslyn murid baru di sini, Anda sendiri siapa?" jawab Jesslyn sedikit ragu dengan pertanyaan yang dilontarkannya
"Tchh.." Pria itu tersenyum jahat. "Kau tidak mengenaliku? Aku pangeran kerajaan ini" kata Edzard
"M-maaf kan atas kelancangan saya pangeran" kata Jesslyn ketakutan dan ingin menghilang. Tapi dia tidak bisa
"Kau mau kemana ha? Sihirmu sudah ku kunci. Kau mau minta maaf? baiklah ada syaratnya, kau harus menuruti perintahku sampai aku mengampunimu, bagaimana?"
Jesslyn bingung "B-baiklah" dia berkata tanpa berpikir dahulu
"Ok, deal" lagi-lagi dia melayangkan senyuman mengejeknya, lalu menjetikkan jarinya.
Jesslyn pun langsung menghilang tanpa pamit ataupun berterima kasih saking paniknya. Tanpa dia sadari dia berada di lorong tua yang sudah mau roboh. Dia berjalan menyusuri lorong tersebut. Nihil dia tidak menemukan jalan keluar melainkan cermin tua yang kusam dengan ukuran kayu dibagian tepi. Aneh, Jesslyn merasakan kejanggalan, cermin itu seperti dilindungi oleh kekuatan sihir yang besar.
"Permisi, Anda tidak boleh masuk ke sini tanpa izin Yang Mulia" kata seorang prajurit yang sedang berpatroli
"Mmm maaf saya tersesat"
"Baiklah akan saya antar ke luar"
"Terimakasih atas bantuannya"
Ternyata lorong tersebut bersebelahan dengan dapur istana.
"Jesslyn,,,," teriak Elvara disusul Camlyn
Elvara bingung kenapa Jesslyn bisa ada di sini "Dari mana kok ada disini?"
"Tadi kesasar, gara-gara nyariin kalian" balas Jesslyn kesal
"Makannya jangan tidur" ejek Camlyn
Mereka pun melanjutkan berkeliling sebentar lalu kembali ke kamar. Mereka langsung mandi dan berbincang. Cacing-cacing diperut mereka sudah berbunyi. Merekapun berjalan menuju ruang makan akademi untuk makan. Kantin akademi ramai akan murid. Terdapat beberapa meja bundar yang cukup untuk ditempati oleh tujuh orang. Ruangan tersebut bernuansa cokelat muda.
"Wih rame juga ya,," kata Jesslyn
"Ya iyalah kan ini jam makan malam, bodohnya~" sahut Jesslyn
"Kalian mau makan apa?" tawar Elvara
"Terserah, samain aja" jawab Camlyn
"Me too" Jesslyn
Elvara pun pergi meninggalkan mereka untuk mengambil makanan. Sebenarnya bisa saja mereka mengambil makanan dari jarak jauh menggunakan sihir, tetapi itu tidak sopan. Tak berselang lama putra putri datang untuk makan malam di ruang makan akademi.
Pandangan Jesslyn menyusuri setiap sudut kantin, hingga ada hal yang mengejutkannya "Duh gawat ada pangeran lagi"
"Emmm aku ke toilet dulu" kata Jesslyn panik
"Cepatlah" balas Camlyn
Jesslyn terburu keluar sambil menundukkan kepalanya. Edzard yang menyadari itu adalah Jesslyn langsung mengikutinya. Jesslyn yang sadar diikuti mempercepat jalannya.
"Hei! Jesslyn tunggu" Teriak Edzard
Jesslyn lantas berhenti lalu berbalik "Ya? Siapa ya?" tanya Jesslyn pura-pura tidak kenal
"Cih pake, pura-pura gak tau lagi, besok waktu istirahat temuin aku di kelas B" kata Edzard lalu pergi
"Mampus" batin Jesslyn diam membeku
Jesslyn lantas pergi ke kamar mandi dan kembali ke ruang makan akademi.
"Dari mana aja lama banget" tanya Camlyn
"Kamar mandinya agak jauh" Jawab Jesslyn asal
Mereka bertiga pun melanjutkan makan, dan kembali ke kamar. Mereka hanya berbincang hal-hal ringan, Jesslyn pun melupakan perkataan Edzard yang tadi.
Note: Di Akademi Malachite dan kerajaan
tidak boleh sembarang menggunakan
sihir.
Maybe : Mungkin
Tbc.
Maaf kalo ceritanya kurang seru. masih pemula.
Jangan lupa Like & Comment.