
"So, I need a little adventure, can you help me?"
"Sesuai keinginanmu tuan putri" "Ha?! penyelundupan manusia?"
.
.
.
.
.
.
.
Author POV
Tengah hari, jam satu lebih tepatnya. Aku dan yang lainnya hanya duduk melamun dikantin akademi. Elvara masih setia menyedot minumannya, entah berapa lama dia seperti itu. Keadaan kantin sedikit hening dan longgar. Ditengah kebosanan tiba-tiba bel pemberitahuan berbunyi.
"Panggilan kepada tim khusus untuk segera datang ke ruangan ketua troops"
Sontak kita semua yang dimaksud 'tim khusus' saling begidik. Tanpa aba-aba kita semua berdiri hal itu membuat pandangan semua orang yang ada di kantin menuju pada kami. Tapi mau bagaimana lagi sudah terlanjur berdiri, tidak mungkin kami duduk kembali. Itu akan aneh. Kami berjalan keluar dari kantin, diikuti oleh tatapan tatapan mata dari orang di kantin yang penasaran.
.
.
.
.
.
Sesampainya di ruang ketua, mereka langsung disambut dengan tatapan tatapan mengintimidasi dari para pasukan yang ada di ruangan.
Aletha menatap sebuah papan putih yang terletak di belakang kursi ketua "Owhh~ apa arti seminggu lagi disitu?" Aletha mengangkat sebelah alisnya bingung.
Seorang pria berbadan tinggi besar menghela nafasnya "Seminggu lagi kalian akan diberangkatkan menuju Chrysoberyl" kata ketua
Mereka yang mendengar ucapan tersebut saling bertatapan melempar pandangan terkejut bercampur bingung. Bagaimana mereka tidak terkejut, mereka belum mempersiapkan apapun.
"Dalam seminggu kalian akan mendapatkan pelatihan khusus, seperti teknik-teknik baru, cara menyusun strategi yang baik, dan juga pelajaran kerja tim" Ketua menjentikkan jarinya, dan muncul kertas di depan mereka "Itu jadwal kalian, disitu terdapat daftar kegiatan untuk seminggu kedepan, dan pembimbingnya, lalu,,, hmm~, ada sedikit kesalahan dijadwal" ketua menatap jadwal dengan tangan kiri bersedekap "Pengajar kalian pada Hide the magic sign bukanlah putri mahkota tetapi nona Aquila"
"Di gantikah?" tanya Stella
"Benar, ini sangat mendadak, Putri mahkota akan mengadakan tunangan tiga hari lagi" Ketua menghela nafas panjang "Kenapa tiba-tiba sekali, seharusnya tunangan ini masih lama, kurasa Axelle terlalu terburu-buru"
Camlyn mengangkat satu alisnya.
.
.
.
.
.
Hari pertama, mereka termasuk para pangeran, berlatih teknik mengunci sihir lawan dan melepaskan diri dari kuncian sihir. Edzard dan Lacerta melakukannya dengan mudah. Edzard melakukannya karena sudah berlatih sejak lama, bagaimana dengan Lacerta? mungkin itu adalah bakat tersembunyi-nya. Mereka merampungkan teknik ini dalam setengah hari. Dilanjutkan dengan kemampuan kecepatan teknik ini.
Hari kedua, mereka belajar teknik menyembunyikan magic sign. Hanya beberapa orang saja yang dapat melakukannya di istana ini, salah satunya adalah Fredelle. Teknik ini sedikit sakit bagi pemula, bagian tubuh yang ditempati magic sign akan terasa panas. Beruntung bagi para pemilik magic sign yang terdapat di punggung, karena leher mereka tidak akan terasa panas. Panas ini terjadi karena penggunaan mana pada bagian leher yang sensitif.
Hari ketiga, mereka melakukan tes otak, semacam cerdas cermat. Berisi tentang apa yang akan mereka lakukan jika terpisah dari rombongan. Bagaimana mereka akan beradaptasi dengan lingkungan baru. Soal-soal tes ini disusun dari sudut pandang musuh, agar ketua troops tahu sampai mana kemampuan mereka menyusun strategi. Hari ketiga ini tidak banyak menguras tenaga mereka, ini hanya membakar otak mereka. Seharian ini mereka dituntut untuk terus berpikir, berpikir, dan berpikir.
Hari keempat, mereka berlatih menggunakan senjata. Seandainya saja sihir mereka hilang secara tiba-tiba mereka masih bisa menggunakan senjata, walaupun kejadian itu jarang terjadi. Mereka juga dimasukkan ke Black forest untuk mengaplikasikannya kepada hewan-hewan liar selama sehari. Ini juga menguji kemampuan bertahan hidup mereka.
Hari kelima, tidak ada istirahat setelah mengelilingi hutan, mereka langsung ke pelajaran hari berikutnya yaitu, mengulang pelajaran-pelajaran selama mereka di akademi ini. Mempelajari sistem peraturan dunia yang akan mereka datangi.
.
.
.
.
.
flashback on
Adelle terduduk melamun didepan meja riasnya. Gaun putih yang sedikit mengembang mengitari tubuhnya. Riasan telah memenuhi wajahnya, dia terlihat lebih cantik dari biasanya, mahkota sederhana tetapi elegan bersarang di kepalanya. Tapi, pikirannya kosong.
tok tok tok
"Putri Mahkota..." Eunbi memanggilnya, tetapi tidak ada respon "Putri Mahkota..."
Lamunan Adelle pecah "Huh? apa?"
"Sudah ada yang menjemput"
tok tok tok
"Dimana? Siapa? Malaikat maut?"
"Untung ini hari penting,,, kalo bukan udah melayang tanganku"
"Ahh, iya iya, aku lapar, dari tadi cuma dikasih air, kasih makanan kek, biar vit"
"Ah sudahlah, jangan cerewet, nanti juga dapet makan disana"
Fredelle POV
Kereta kuda berdatangan, dapat dilihat jelas dari jendela. Ahh ini merepotkan. Orang-orang memenuhi ballroom yang luas. Suasana ini sedikit memuakkan bagiku. Tidak ada orang dari luar istana yang aku kenal. Beberapa menit aku memandangi ballroom dari ruang atas tiba-tiba acara sudah dimulai. Ayah menaiki anak tangga untuk menyambut para tamu, lalu disusul dengan Anderson. Ugh... rasanya ingin muntah. Ini saatnya bagiku untuk turun. Semua mata tertuju padaku.
"Apa? Kenapa? Aku cantik ya? kok ngeliatinnya sampe kaya gitu? ya iyalah aku cantik" batinku berusaha menenangkan diri dari tatapan-tatapan itu.
Selanjutnya adalah acara tukar cincin, lalu potong kue. Uhh,,, aku tidak ingin berpegangan tangan dengan Anderson. Setidaknya sarung tangan ini melindungiku.
"Ahh.... akhirnya selesai juga, sekarang tinggal makan"
Karena tidak ada orang yang aku kenal dan aku malas untuk berjalan menyambut tamu ditambah lapar aku hanya duduk menikmati makanan yang ada dimeja.
"Hei Eunbi kau mau?" kataku lirih
"Tentu saja aku mau" jawab Eunbi yang sedari tadi dibelakangku
"Kalau begitu tunggu aku selesai"
"Nye nye nye nye nye" Eunbi tetap menjaga ekspresinya agar tidak dicurigai oleh orang sekitar
Sudah banyak orang yang sudah selesai dengan makanannya, begitupun aku. Orangtuaku naik ke atas untuk berbicara menutup acara. Seperti orang pada umumnya mereka berterimakasih pada para tamu, dan juga keluarga 'tunangan'ku, dan bla bla bla bla. Tamu undangan mulai keluar dari ballroom dan menuju kereta kuda mereka masing-masing. Aku mengantar mereka sampai kedepan pintu. Lalu kembali ke mejaku.
"Eunbiii~" panggilku. "Tolong bawakan semua yang ada dimeja ini ke kamarku" kataku pada ketua pelayan "Ah tunggu sebentar aku akan buatkan portal supaya lebih cepat, lagi pula ayah dan ibu sibuk berbicara dengan tuan Louis diluar, panggil beberapa pelayan untuk membantu"
Ketua pelayan mengangguk mengerti "Baik putri mahkota" dia menepuk tangannya dua kali, lalu pelayan yang ada di ballroom berkumpul didekat ketua "Pindahkan ini" menunjuk makanan di meja "Kesana" dia menunjuk ke arah portal. Mereka semua langsung melaksanakannya.
Setelah selesai aku dan Eunbi langsung memasuki portal dan menutupnya.
"Ayo mukbang!" kataku dan Eunbi bersemangat
flashback off
...~o0o~...
Tbc.
Jangan lupa like, comment, share, add to favorites ♥️, vote juga kalo bisa. Makasih udah baca~