
"Duduklah" suruh ayah-nya
Aiden pun duduk. Mereka melanjutkan diskusi tentang rencana penangkapan tahanan yang kabur. Saat mendengar bahwa tahanan kabur para pangeran dan putri sangat terkejut karena orang itu bukan tahanan biasa.
...***...
Jesslyn POV
perpustakaan
Aku masih sibuk di perpustakaan dengan buku-buku yang menumpuk disekitarku. Mungkin hari ini aku tidak ada waktu untuk bersantai, karena setelah mencari informasi dari perpustakaan aku akan langsung menuju ruang laboratorium untuk membantu concoction yang lain membuat ramuan, walaupun aku tidak ikut meeting kemarin. Entah ada masalah apa tiba-tiba ketua healer menyuruh membuat banyak ramuan. Kondisi laboratorium sekarang sedikit sesak, cahaya berkelip memenuhi ruangan, banyak orang berlalu lalang dari lab menuju potion supplies.
"Jesslyn,, kau sudah selesai membuat ramuan untuk racun Foxglove ?"
"Belum, hanya kurang beberapa saja" jawabku tanpa melihatnya karena fokus pada ramuan-ku
"Mau di bantu ?"
"Boleh" akhirnya aku menoleh dan memberikan senyum, ternyata dia adalah Lisa yang juga merupakan concoction
Para concoction termasuk aku terus berada di dalam laboratorium sampai fajar terbenam, semua ramuan dapat diselesaikan dalam satu hari sehingga besok para concoction dapat beristirahat. Aku memutuskan untuk kembali ke asrama dan langsung mandi, badanku terasa lengket karena terus memakai jubah laboratorium. Selesai mandi kamar masih kosong Elvara dan Camlyn belum juga kembali dengan terpaksa aku akhirnya mencari mereka.
Menyusuri lorong akademi yang tidak ramai seperti biasa rasanya amat berbeda. Ruangan demi ruangan aku datangi tetapi aku sama sekali tidak menemukan mereka, tibalah aku diperbatasan akademi dan kerajaan. Aku melanjutkan pencarianku di lorong kerajaan, ada beberapa prajurit yang berjaga disepanjang lorong, memang agak aneh berjalan sendiri dan diawasi oleh prajurit tetapi demi mencari teman dan saudari apa yang tidak bisa dilakukan, aku mulai pencarian dari ruang latihan kerajaan, lalu ke ruangan senjata, dan ruangan-ruangan lain hingga sampailah aku di perpustakaan kerajaan, akhirnya kutemukan Elvara yang sedang duduk santai membaca buku dan beberapa orang disekitarnya.
"Elvara, dari tadi juga dicariin disini ternyata" kataku sedikit kesal
"Lha kan aku uda dari tadi disini, kan kamu sibuk di lab, Camlyn belum bangun pas aku balik ke kamar dia entah ngilang kemana, ya udah deh deh aku ke sini. Lu sendiri dari mana?"
"Habis kingdom tour tau ga" jawabku tambah kesal
"Wihhh... asyik ngga?"
"Bodoh atau apaan si kau, jelas-jelas nyariin kamu, lagian ngapain sih kesini kan ada perpustakaan akademi?"
"Disini tuh enak lebih sepiii, bukunya lebih lengkap, ruangannya lebih luasss..." jawab Elvara "Ngomong-ngomong lu tau ngga Pangeran Aiden lebih tua dari kita?"
"Bukti?"
"Nih" Elvara memberikan buku yang sedang dibacanya
"Wih iya lho, Pangeran Aiden sopan banget ya"
"Yaaa.... begitulah"
Setelah bercakap-cakap ringan kami keluar dari perpustakaan dan memutuskan untuk mencari Camlyn. Segala penjuru istana kami datangi tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Camlyn. Dapur ruangan terakhir yang kita datangi, dapur istana sedang sepi. Elvara melihat sebuah pintu tua dan mengajakku untuk masuk kedalamnya, aku menolak karena aku tahu pintu itu akan membawa kami kedepan cermin mengerikan itu.
"Balik yuk..." pintaku
"Lah kenapa kan kita belum masuk ke pintu itu?"
"Ngga usah, masa Camlyn ada di situ" tepisku
Elvara pun menuruti perkataanku, dan langsung berbalik untuk keluar dapur. Saat berjalan keluar dapur tiba-tiba saja Aiden memasuki dapur. Aku dan Elvara buru-buru mengucap salam pada Aiden dengan cara sedikit membungkuk.
"Aaaa... kebetulan sekali bertemu nona-nona disini, pasti sedang mencari nona Camlyn kan?"
"Kenapa pangeran bisa tau??" tanyaku
"Ikut aku dulu nanti nona juga tahu"
Aku dan Elvara mengikuti Aiden yang entah akan membawa kita kemana. Lorong-lorong yang dulu penjagaannya tidak terlalu ketat sekarang penjagaannya sangat ketat. Setelah melewati lorong-lorong yang panjang sepertinya ini jalan menuju kamar Aiden. Beberapa menit kemudian kami pun sampai di lorong kamar Aiden.
Pintu berdecit pelan saat dibuka.
"Dia kelelahan, karena berusaha menolongku dia jadi pingsan, energinya hampir habis" jelas Aiden
Aku berjalan menghampiri Camlyn yang terbaring ditempat tidur. Lalu kugenggam tangannya, dingin, wajahnya pucat.
"Mmmm.... nona tubuhku belum pulih total jadi aku tidak bisa membuat portal, lagi pula portal juga dilarang di istana ini. Karena perjalanan ke asrama agak jauh, jadi malam ini nona-nona tidur di kamar ku saja"
"Elvara?" tanyaku masih memegang tangan Camlyn
"Tidak, aku tidak bisa membuat portal" jawab Elvara
"Baiklah aku terima tawaranmu pangeran"
Lalu Aiden pun keluar entah kemana. Sepertinya dia akan tidur dikamar lain. Elvara menutup pintu kamar setelah Aiden keluar. Elvara berlari kecil menuju tempat tidur dan langsung merebahkan tubuhnya disebelah Camlyn.
"Aaahh... akhirnya bisa rebahan...." kata Elvara senang
...***...
Camlyn POV
Ruangan ini gelap, lampu menyala remang-remang. Aku terpaksa harus menggunakan jari berpendarku untuk menerangi sekitar. Banyak barang yang ditutup dengan kain putih, aku tidak tahu apa itu. Perlahan aku berjalan mengelilingi ruangan ini, ada satu kursi kosong ditengah ruangan, kursi itu tidak ditutupi dengan kain, terlihat seperti kursi tua yang sudah lama diduduki, tetapi tidak berdebu. Aku mencoba membuka salah satu benda yang tertutup kain. Cermin, benda itu adalah cermin panjang yang diletakkan begitu saja. Tunggu, saat aku bercermin, mata kiri-ku menjadi lebih terang warna oranye-nya lebih terlihat, kucoba mematikan jari berpendarku. Aku mulai menyentuh bagian bawah mata kiri-ku perlahan, aneh mengapa mataku tiba-tiba begini. Pandangan-ku perlahan mulai turun ke leher begitu pula tanganku, magic sign-ku berubah menjadi putih.
"Gadis kecil..."
Begitu mendengar suara itu aku langsung berbalik, kali ini aku mengepalkan tanganku dengan cahaya yang lebih terang. Dia duduk di kursi tengah tadi, suara laki-laki yang berwibawa.
"Jangan takut, aku tidak akan memakanmu. Kau heran bukan melihat mata kiri-mu lebih terang"
"Siapa kau?!" tanyaku dengan posisi siaga
"Kau juga bingung kan, mengapa magic sign-mu berwarna putih?"
"Sekali lagi kutanya! Siapa kau!" kali ini aku memasang ancang-ancang untuk menyerang
"Tak perlu kekerasan gadis kecil..."
"Cih tidak usah banyak bicara" batinku.
Aku langsung melesat dengan cepat kearahnya, untuk melayangkan pukulan. Kosong, aku hanya meninju udara kosong, dia berpindah di belakangku.
"Sudah ku katakan tidak perlu kekerasan tetapi kau tetap saja melakukannya"
Tiba-tiba tanganku dikunci kebelakang oleh pria tersebut. Kakiku diikat lalu ditendang membuatku berlutut, tanganku diikat, sihirku dikunci. Aku hendak memberontak tetapi itu tak gunanya.
"Hei, hei, hei, biarkan anak ini kembali jangan sakiti dia"
Suara wanita, sepertinya niatnya buruk, dari nada kata-katanya saja sudah terlihat. Entah dia datang dari mana tetapi dia seperti mendukung pria bertopeng didepan-ku ini.
"Aku tidak perlu belas kasihmu" balasku kesal
"Hhmmm,,, begitu yaa..." jawab laki-laki didepan-ku
Dia mengambil sebuah pisau dari saku jubahnya, menggoreskan-nya kebahu-ku. Goresan itu cukup dalam, aku menahan rasa sakitnya, tak lama kemudian dia mengubah pisau itu menjadi sebuah pedang. Dia menusukkan-nya dengan sekuat tenaga keperut-ku hingga tembus.
"Aaakhhh!!!" jeritku
Tubuhku ambruk, darah keluar dari perut dan bibirku, samar-samar aku melihat pria itu membuka topengnya, wanita yang tadi berbicara perlahan mendekat entah apa yang akan dia lakukan.
...***...
Jangan lupa, like, comment, add to favorites, and vote. 💜