
"Oh? Ok" jawabku singkat. Pasti tentang itu. Ahh... aku malas datang...
"Kakak,,, kau tak apa?" tanya Matteo khawatir melihat wajahku yang sedikit gelisah
"Hhmm?. Ahh tidak apa-apa" jawabku spontan "Aku kembali keruangan ku dulu"
...***...
Kamar Fredelle
"Hah... padahal baru saja bersenang-senang, masa sudah mau stres lagi" kataku saat memasuki kamar
"Mau berendam air hangat putri?" tanya Choi Eunbi maid yang sudah lama melayaniku
"Hmm boleh"
Eunbi 1 tahun lebih muda daripadaku, dia putri dari Viscount Choi Minho dan Viscountess Vela. Entah apa yang membuatnya mau untuk dijadikan pelayanku di usianya yang masih 14 tahun. Dia juga belajar di akademi Malachite sampai sekarang, itupun karena permintaanku, rata-rata orang yang menjadi pelayan kerajaan berhenti sekolah.
"Airnya sudah siap putri" kata Eunbi
"Ahh,, sudah?" aku beranjak dari tempat tidur ke kamar mandi.
Eunbi adalah teman pertama yang aku miliki setelah debut sosialku-ku. Itu membuatku percaya pada Eunbi, walaupun kadang dia menyebalkan.
"Ahh... berendam air hangat memang menenangkan"
.
.
.
.
keesokan harinya
"Tuan putri,,, bangunlah anda ada jadwal pagi ini" kata Eunbi membangunkan ku seraya membuka gorden.
"Hah~ lima menit lagi aku masih ngantuk, aku juga malas untuk bertemu dengannya" balasku menenggelamkan diri ke dalam selimut.
"Anda tidak bisa seperti itu, atau nanti akan tersebar rumor buruk tentang-" kata Eunbi yang tiba-tiba berhenti "Hubungan Putri Mahkota dengan calon tunangannya tidak baik" Bisik Eunbi yang tiba-tiba ada didekatku. "Lagi pula diruangan itu ada beberapa maid yang suka menggosip" nada bicara Eunbi kembali normal tetapi seperti mengejek
Aku membuka mata secara tiba-tiba dan langsung duduk.
"Iya iya aku akan segera kesana" Aku langsung berjalan menuju kamar mandi.
.
.
Author POV
"Ini gaunnya, akan ku bantu memakaikan"
"Kenapa harus memakai gaun seperti ini, aku tidak terbiasa, lebih nyaman memakai kemeja dan jubah, seperti seragam sekolah" kata Jiwoo memutar mata malas
"Jangan lupa gunakan etika kerajaan yang telah putri pelajari"
"Ahh! iya iya!"
.
.
.
.
ruangan raja
Adelle memasuki ruangan didampingi oleh Eunbi.
"Oh lihatlah anak kita," kata raja tekagum-kagum
"Ahh, putri kita sangat cantik" puji permaisuri
"Ayah,,,Ibu,,,kalian berlebihan!" kata Adelle kesal
Mereka bertiga keluar dari ruangan dan menuju ke ruang tamu kerajaan. Disana tampak dua orang pria yang mencolok daripada yang lainnya. Saat Raja, Ratu, dan Adelle memasuki ruangan, mereka berdua berdiri untuk menyambut. Setelah mereka berhadapan, dua pria tersebut tampak menunduk memberi hormat dan dibalas oleh Adelle.
"Silahkan duduk..." Axelle mempersilahkan
"Terimakasih Yang Mulia" balas seorang pria yang nampak lebih tua "Ah~ Perkenalkan ini anakku Anderson Louis"
"Salam Yang Mulia" kata Anderson menunduk
Anderson, anak dari duke Aston Louis. Dia sudah menggantikan posisi ayahnya sebagai duke diusianya yang masih 18 tahun. Semua orang tahu siapa itu Anderson, bahkan orang diluar negaranya. Dia terkenal karena ketampanan dan kemampuannya dalam berpikir dan berperang. Pada saat Anderson berusia sekitar 12 tahun di negaranya terjadi perang saudara, Anderson turut andil dalam perang tersebut, dan akhirnya kekuasaan dimenangkan oleh pihak dari Anderson. Paman Anderson diangkat menjadi raja.
"Anderson... Aku sudah mendengar sedikit tentangmu, kudengar saat kau masih belia kau sudah ikut berperan, dan juga, sekarang kau sudah menjadi Duke muda benar bukan?" kata Axelle sambil melirik cincin yang dipakai Anderson
"Anda berlebihan Yang Mulia" balas Anderson tersenyum
Adelle menunduk sopan kearah mereka berdua.
"Arrghhh! gaun ini membuatku tidak nyaman, aku tidak bisa duduk dengan benar!" batin Adelle mengeluh
"Saya merasa terhormat, karena proposal lamaran anak saya diterima, dari sekian banyak orang" kata tuan Louis membanggakan diri sendiri
"Diterima apa?! Nerima proposal aja nggak!" omel Adelle dalam hati sambil menyesap tehnya
"Adelle bagaimana pendapatmu nak?" tanya Gracia lembut
"Boleh, Aku akan menerima lamaranmu, tetapi jika kau bisa memenuhi permintaanku"
Kedua orangtua Adelle terkejut, tidak hanya mereka satu ruangan terkejut, mereka pikir anak mereka akan langsung menerima lamaran ini. Karena sepanjang hidup Adelle, dia selalu menuruti apa keinginan orangtuanya. Baru kali ini Adelle melawan keinginan orangtuanya.
"Aku permisi" setelah itu Adelle pergi meninggalkan ruangan
Sekali lagi seisi ruangan dibuat terkejut oleh Adelle. Kaki Anderson di tekan menggunakan tongkat yang dipegang oleh tuan Aston. Anderson mengangguk.
"Saya permisi keluar sebentar" sela Anderson diantara keterkejutan seisi ruangan
"Tolong maafkan anak kami"
"Tidak apa-apa anakku juga begitu ketika didatangi oleh wanita yang ingin melamarnya, mungkin putri terkejut karena ini pertama kali baginya bukan?" Tuan Aston berkata untuk menenangkan Axelle dan istrinya
.
.
.
.
.
Adelle berjalan menyusuri lorong menuju kamarnya. Setelah sampai di kamarnya, ia langsung meminta Eunbi mengambilkan gaun yang lebih mudah untuk digunakan. Karena dia pikir tidak sopan bila masih ada tamu dan dia hanya memakai baju asal-asalan. Eunbi mambantu Jiwoo memakai gaunnya.
"Apakah pria tadi mengikuti ku?"
"Selesai" Eunbi menyelesaikan ikatan yang ada di punggung Adelle
"Setelah ini kau boleh istirahat, tidak perlu melayaniku lagi"
"Ah ok," Eunbi menunjukkan wajah lesunya "Kau bilang tidak perlu melayanimu lagi, lalu beberapa menit kemudian kau kembali dan memintaku untuk melayanimu cih!" gerutu Eunbi dalam hati
"Tak usah menggerutu tidak baikk~" ejek Adelle "Ada keributan apa diluar?"
Adelle bejalan dan membuka pintu kamar, diluar kamar terlihat dua penjaga yang berusaha menghalangi Anderson masuk.
"Bukankah tidak sopan memaksa masuk kedalam kamar wanita, apa lagi wanita itu memiliki tingkat sosial yang lebih tinggi dari mu?. Kurasa rumor yang aku dengar selama ini salah."
Setelah Adelle membuka pintu kedua penjaga itu kembali tenang.
"Maafkan saya tuan putri"
Adelle berjalan keluar menuju ke arah yang tidak seharusnya diketahui oleh orang lain.
"Jadi kenapa kau mengikuti ku?"
Anderson hanya bisa diam tak berkutik.
"Ah~ iya aku memberimu syarat, jadi syaratnya adalah, ah sebentar masih jauh, haruskah aku menggunakan portal? Hmm~ tidak ada orang bagus, mari kita gunakan portal" Adelle mengarahkan jarinya ke udara kosong dan terbentuklah portal.
"Harusnya tidak apa kan? Yah, aku hanya ingin melakukan apa yang ingin kulakukan kali ini, seharusnya tidak apa, lagi pula ini baru pertama kalinya kan?" Batin Adelle mempertimbangkan keputusannya
"Apa yang akan dilakukannya? Dia akan membawaku kemana, tapi tak apalah demi ayah" Batin Anderson tampak ragu
"Silahkan masuk Tuan Louis, tolong jaga keseimbangan badanmu" Kata Adelle memperingatkan "Nah kita sampai, ini lebih mempersingkat waktu kita daripada jalan bermeter-meter, itu akan lama. Seperti yang kau lihat Tuan Louis, kita berada di ruangan kosong yang kumuh, kemarilah"
Adelle membuka kain yang menutupi kaca. Kaca itu memancarkan sihir yang kuat, bila orang biasa berada di dekatnya pasti dia akan terkena radiasi, dan jika melewatinya kemungkinan saat keluar dia tidak akan utuh.
"Portal?" kata Anderson bingung
"Ya benar, aku akan menerimamu jika kau bisa menyelundupkan ku, tentu saja kau juga akan ikut. Dalam waktu dekat beberapa anak akademi akan dikirim ke luar Malachite, untuk menangkap buronan kerajaan, mungkin kau sudah tau dari ayah atau pamanmu tentang buronan ini jadi aku tidak akan menjelaskannya. Aku pasti tidak diperbolehkan untuk ikut bersama mereka karena akan segera bertunangan, dan pasti akan membosankan jika terus-menerus berada dalam kurungan raksasa ini, So, I need a little adventure, can you help me?"
.
.
.
.
.
Tbc.
Jangan lupa like, comment, share, add to favorites ♥️, vote juga kalo bisa. Makasih udah baca~
Borahae 💜