Little Do You Know

Little Do You Know
ZAKI



"Kau yakin tidak ingin pulang bersamaku?" Rara kembali menawarkan tumpangan kepada Diba.


"Kak Rara tahukan jika arah rumah kita berlawanan" Rara terkekeh dan keduanya beriringan keluar restoran.


"Kau yakin tidak apa pulang sendiri? Ini sudah lebih dari pukul 10 loh Di"


"Aku sudah terbiasa kak. Lagi pula tempat tinggalku yang sekarang lebih dekat"


"Kau yakin?" Rara benar benar khawatir membiarkan Diba pulang sendiri selarut ini.


"Kak Rara tenang saja. Lagi pula rumah temanku di sebrang sana. Jika ada apa apa aku akan lari kerumahnya"


Rara mengikuti arah yang di tunjuk Diba, sebuah rumah mewah dengan gerbang tinggi di depan restoran.


"Baiklah, aku percaya padamu"


Diba tersenyum menenangkan, Rara pun akhirnya pamit dan pergi dari hadapan Diba. Adiba menatap rumah yang ia tunjuk tadi, itu memang rumah teman kelasnya, tapi ia tidak yakin jika akan lari kesana. Ia menggelengkan kepalanya dan melangkahkan kakinya melewati sebuah motor yang masih terparkir di parkiran restoran


'Mungkin milik salah satu karyawan yang belum pulang'


Ia tidak memperdulikan pemikirannya dan tetap berjalan menuju terotoar, tetapi alangkah terkejutnya ia ketika seseorang menepuk bahunya dari belakang. Perlahan ia memutar tubuhnya.


"Ah maaf. Aku telah mengejutkanmu"


Diba menghela nafas dan menggeram bersamaan ketika menemukan Allan-lah yang mengejutkannya.


"Ada apa lagi? Apa yang kau inginkan tuan?"


Diba bener bener kesal dengan pemuda di hadapannya ini. Ia sudah tidak bisa sabar lagi menghadapi pemuda satu ini.


"Sekarang kau sudah tidak bekerja bukan? Jadi kau bisa mengamatiku dengan jelas"


Diba mengepalkan tangannya kesal, entah apa yang ada dalam pikiran pemuda yang baru ia temui itu.


"Maaf, tapi sebaiknya aku pulang ketimbang meneliti wajahmu"


"Kenapa? Bukankah aku tampan?"


"Terserah, tidak ada gunanya aku meladeni orang tidak waras sepertimu"


Diba berbalik dan meninggalkan pemuda yang ia tahu bernama Allan itu.


"Hei kau belum memberi tahukan namamu, namaku Allan Xander"


Diba menghiraukan teriakan Allan dan terus berjalan menjauhinya. Ia tidak perduli dengan nama dan apa pun tentang pemuda kurang waras itu. Pemuda itu benar benar membuatnya kesal, bahkan di pertemuan pertama mereka.


"Tidak tidak. Aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi"


Adiba terus merapalkannya. Ia benar benar tidak mengharapkan pertemuan berikutnya dengan mahluk bernama Allan itu.


Tiitt Tiitt


Diba mengerjap dan menyingkir ketika lampu kendaraan menyorot silau padanya. Sebuah motor berhenti di sebelahnya.


"Adiba"


Diba memperhatikan si pengendara motor tersebut. Sedikit terperanjat ketika mengetahui jika Zaki-lah yang memanggil namanya.


"Ah ternyata Zaki"


"Dari mana? Kenapa kau berjalan sendirian selarut ini?"


Baru Diba akan menjawab, sebuah motor lainnya berhenti di dekat keduanya.


"Zak sedang apa?"


Si pengendara melepaskan helmnya


"Menyapa temanku"


"Siapa?"


Zaki mengedikan kepalanya, menunjukan pada teman dengan kepalanya.


"Hei, kau mengingatku?"


Diba mencoba mengingat wajah teman Zaki ini. Setelah beberapa saat akhirnya Diba tersenyum dan mengeleng kikuk.


"Aku yang menabrakmu di rumah sakit tempo hari, ingat"


"Ah ya, aku ingat"


"Apa yang kau ingat?"


Diba sedikit menunduk dan memainkan jarinya.


"Seseorang aku tabrak, eh entah dia yang menabrakku. Tapi tidak ingat siapa dan bagai mana rupanya"


Pemuda yang tidak lain Derel itu terkekeh, sedangkan Zaki tertawa renyah mendengar jawaban jujur Adiba. Sedangkan Diba hanya diam melihat keduanya tertawa, ah lebih tepatnya ia hanya memperhatikan Zaki yang tertawa di hadapannya. Walau pun dengan penerangan yang kurang, ia tetap bisa melihat wajah Zaki yang terlihat berkali lipat lebih tampan dari sebelumnya.


"Aku tidak pernah menyangka, ternyata kau sejujur itu Sel"


Diba mengernyit mendengar nama yang di sebutkan Zaki.


"Sel?"


Diba mengulangi panggilan Zaki, membuat pemuda itu berhenti tertawa dan menatapnya lembut dengan senyum.


"Selina. Adiba selina. Itu namamu bukan?"


Diba mengangguk membenarkan.


"Jadi, boleh aku memanggilmu Selina?"


Diba kembali mengangguk dengan senyum.


"Jadi namamu Adiba selina?"


Diba kembali mengangguk ketika Darel menanyakan namanya.


"Kenalkan, Derel"


Derel menjulurkan tangannya dan di sambut hangat oleh Diba.


"Jadi kau akan pulang? Kerumah Arkan?"


Diba mengernyit.


"Bagai mana kau tahu?"


"Tadi pagi Arsen memberi tahuku"


"Kenapa?"


"Karena Arkan yang marah marah padanya karna membawa mobil dan meninggalkan bunda"


Zaki terkekeh di akhir kalimatnya.


"Tapi tadi siang Arkan yang membawa mobil"


Zaki mengedikan bahu.


"Mau aku antar?"


"Tidak usah. Aku bisa sendiri"


Jujur saja. Diba sangat ingin di antar oleh Zaki. Apa lagi bisa satu motor dengannya. Hanya saja ia tidak ingin Arkan marah karna Zaki mengantarnya pulang. Arkan pasti akan sangat malu walau pun Zaki sudah tahu jika mereka tinggal dalam satu rumah yang sama. Ah! Tepatnya Diba menumpang di rumah Arkan.


"Aku tidak yakin kau bisa sendiri. Sekarang saja kau mengambil arah yang salah"


Diba mengerjap mendengar ucapan Derel.


"Seharusnya kau mengambil arah yang sebaliknya Sel"


Diba memperhatikan sekitar setelah mendengar penuturan Zaki. Ia kemudian menepuk jidatnya ketika menyadari jika ia mengambil jalan yang salah. Ini semua karna Si Allan Allan itu. Diba benar benar merutuki kecerobohannya dan mengutuk Allan dalam hati.


"Biar aku yang mengantarmu. Lagi pula kami juga ada urusan dengan Arkan"


"Selarut ini?"


"Iyah. Sepertimu yang masih kelayapan selarut ini"


Diba mengusap sikutnya dengan cengiran khasnya.


"Sudah ayolah. Si Arkan sebentar lagi ngamuk ini. Adiba sebaiknya kamu naik ke motornya Zaki"


Diba mengangguk ragu. Dengan bantuan Zaki akhirnya Diba duduk di belakang Zaki.


"Sebaiknya kau berpegangan. Kita sudah sangat terlambat"


Diba mengikuti intruksi dan memegang bahu Zaki. Zaki terkekeh dan menurunkan kedua tangan Diba dan di lingkarkannya kedua tangan mungil itu di pinggangnya.


"Seperti ini. Jika kau memegang bahuku yang ada aku tidak bisa mengendarai motor dengan benar"


Diba benar benar gugup saat ini. Untuk pertama kalinya ia menaiki motor besar dengan Zaki. Di tambah kecepatan laju yang tidak main. Jantungnya bergemuruh antara takut dan senang secara bersamaan. Tidak ada percakapan sepanjang perjalanan sampai akhirnya ketiganya sampai di rumah Arkan. Diba turun dari motor di bantu oleh Zaki, Zaki pun ikut turun dan berdiri di hadapan Diba. Ia memperhatikan gadis yang tengah menunduk di hadapannya dan tersenyum. Tubuh mungil itu menggigil entah karna dingin atau takut, dengan refleks ia mengusap puncak kepala Diba dan bisa di rasakannya jika tubuh itu kini berhenti menggil dan malah menegang.


"Kau kedinginan?"


Diba menggeleng masih dengan kepala yang menunduk.


"Takut?"


Mesih menundukan kepalanya, ia mengangguk membenarkan.


Zaki mensejajarkan tinggi mereka, ia mengangkat dagu Diba lembut membuat kedua permata itu menatapnya.


"Maafkan aku ya, aku terlalu terburu buru tadi"


Diba terpaku dengan perlakuan Zaki yang lembut padanya, ia hanya bisa tersenyum kaku menanggapi ucapan Zaki. Zaki ikut tersenyum dan merangkul pundak Diba yang lebih pendek darinya.


Lagi lagi Diba hanya mengikuti Zaki yang membawanya masuk kedalam rumah. Ia hanya berharap semoga Zaki tidak mendengar debaran jantungnya yang terus berpacu dengan kencang dari awal ia menaiki motor pemuda tersebut.


Zaki tidak melepaskan rangkulannya sampai keduanya sampai di lantai atas, dimana Arsen, Arkan dan Derel yang tadi langsung masuk meninggalkan Zaki dan Diba di luar.


"Untung aku masuk terlebih dulu. Jika aku menunggu kalian yang ada aku hanya akan menjadi lilin penerang saja"


Arsen dan Arkan mengalihkan tatapan mereka pada 2 remaja yang baru saja sampai di hadapan mereka. Diba meringsut dan melepaskan tangan Zaki dari bahunya, akan tetapi bukannya lepas Zaki malah beralih merangkul pinggang Adiba dan memperdekat jarak keduanya. Diba yang terkejut dengan perlakuan Zaki hanya bisa diam memandang Zaki yang juga mendangnya dengan senyum.


"Astaga, pantas saja aku tunggu kak Diba tidak kunjung pulang. Ternyata sedang berkencan"


Semua mata kecuali Arkan beralih menatap Cindy yang berdiri di depan pintu Arkan.


"Kalian berkencan?"


"Tidak, bukan seperti itu"


Diba dengan panik menggeleng dan melambaikan tangannya menjawab pertanyaan Arsen dan menyangkal tudingan Cindy. Ia beralih menatap Zaki memperlihatkan mimik memohon agar Zaki membatu menjelaskan dan melepaskan rangkulannya. Diba tidak ingin jika Cindy, Arsen dan Arkan menilainya tidak tahu diri, setelah menumpang di rumah mereka sekarang ia mendekati Sahabat dari saudara kembar itu.


Air muka Zaki berubah lesu, ia melepaskan rangkulannya dan berjalan meninggalkan Diba yang masih berdiri di tempatnya.


"Tanyakan saja pada bang Der"


Diba menghela nafas lega, Zaki memainkan ponselnya lesu, Derel dan Cindy tersenyum geli, Arsen mengernyitkan alis dan Arkan yang berfokus pada film yang ia putar dari DVD.


"Zak, kau-"


"Diamlah bang"


Derel menautkan alisnya karena Zaki memotong ucapannya. Kini tatapannya beralih pada Arsen.


"Sen, apa kau juga..."


Derel menggantung perkataannya ketika sadar jika Diba masih belum beranjak dari tempatnya. Arsen mengedikan bahu dan kembali berfokus pada TV di hadapannya.


"Kan kau tidak-"


"Jangan harap"


Arkan ikut memotong perkataan Derel yang sudah ia pastikan akan menanyai hal serupa.


"Bang der, kau jangan ikut ikutan juga"


Cindy berujar seraya berjalan kearah ke empat pemuda itu dan duduk di karpet depan Arsen yang duduk di sofa bersama ke tiga pemuda lain.


"Kenapa? Kau cemburu?"


"Jangan harap, aku masih menyukai kak Delta. Hanya saja jika bang der ikutan akan sangat rumit ceritanya"


"Tentu saja tidak. Clara masih jadi yang utama"


"Baguslah"


Diba hanya berdiri kikuk masih di tempatnya berdiri tadi. Ia benar benar orang asing disini. Kelima orang itu sangatlah dekat, sedangkan dirinya hanya orang baru yang entah di anggap atau tidak.


"Aku akan membuatkan kalian minum, mau apa?"


Sudah seharusnya ia tahu diri, setidaknya membuatkan mereka minum. Itu yang Diba fikirkan.


"Tidak perlu, Arkan yang akan mengambilkannya. Kau bersihkan tubuhmu dan bergabunglah bersama kami"


Zaki berujar tanpa menatap Diba di belakangnya.


"Jika ingin sesuatu ambil sendiri"


Arkan memperotes tanpa memalingkan fokusnya dari layar tv di hadapannya.


"Tap-"


Kini Zaki menatap Diba yang tidak bergerak dari tempatnya.


"Kau betah di sana?"


Diba mengernyit, menatap bingung pada Zaki.


"Pergilah ke kamar dan bersihkan dirimu, lalu bergabung bersama kami jika kau tidak merasa lelah"


Semua memandang Arkan yang bersuara termasuk Diba. Dan kali ini Arkan menatap Zaki yang juga tengah menatapnya.


"Itu yang akan kau katakan bukan"


Arkan tersenyum sinis melihat Zaki yang mendengus setelah mendengar tebakan Arkan.


"Sel, pergilah kekamarmu"


Diba mengangguk dan pergi menuju kamarnya meninggalkan kelima manusia yang hanya diam setelah mendengar penuturan Arkan.


"Bang Zaki menjadikan kak Diba target?"


Cindy sesekali memandang pintu kamar Adiba, takut takut jika kakak angkatnya itu mendengarkan ucapan mereka.


"Kau kehabisan target Zak?"


Arsen tersenyum sinis setelah melontarkan pertanyaan itu.


"Dia terlalu polos dan baik Zak"


"Cupu, bodoh, miskin, lemah, dan merepotkan"


Arkan menimpali ucapan Derel dengan nada merendahkan.


"Kau memiliki masalah dengannya? Kau terlalu membencinya Arkan"


"Aku memang membencinya Zak, sangat sangat membencinya"


"Kau membencinya aku tidak perduli, tapi berhentilah menyakitinya"


"Apa yang telah dia perbuat padamu? Bukankah selama ini kau selalu diam saja? Kenapa sekarang kau menghentikanku?"


Cindy, Derel, maupun Arsen hanya diam menyaksikan perdebatan antara kedua sahabat itu. Arsen yang mengerti dengan apa yang mereka bicarakan merasa bingung antara harus mengatakan apa yang Zaki lakukan di belakang Arkan atau tidak, berdeda dengan Derel dan Cindy yang tidak mengerti bagian dimana Arkan menyakiti Diba hanya bisa diam memperhatikan.


"Aku diam karna masih menghargaimu sebagai sahabatku. Apa tidak cukup semua yang kau lakukan? Masih haruskah kau menghinanya?"


"Bukankah benar jika dia merepotkan? Tapi bukankah kau tidak membenci semua gadis itu? Lalu apa yang kau lakukan itu tidak kejam?"


Zaki diam tidak bisa menjawab ucapan Arkan yang ini. Arkan tersenyum sinis dan merebahkan punggungnya di sandaran sofa.


"Aku tidak melarangmu untuk menjadikannya targetmu yang selanjutnya. Jika bisa hancurkan dia"


"KAK ARKAN"


Cindy menjerit memprotes ucapan Arkan yang menurutnya keterlaluan. Sedangkan Zaki menatap Arkan nyalang, dan Arsen sadar akan itu.


"Zak, apa maksudmu selalu memberikan tissu dan air mineral padanya setelah Arkan dan yang lain pergi?"


Arkan menyipitkan matanya pada Zaki setelah mendengar penuturan Arsen. Penasaran dengan jawaban Zaki yang jujur saja ia sendiri tidak tahu jika Zaki selalu melakukan hal sepele itu pada Diba di belakangnya.


"Bukankah sudah jelas?"


Arkan menegakan tubuhnya dan tersenyum miring pada Zaki.


"Kenapa baru sekarang kau berani?"


"Karna aku masih menghargaimu untuk tidak merusak kesenanganmu dan menghibur gadis itu di belakangmu. Tapi bukankah seharusnya sekarang kau lebih menghargainya? Bukankah sekarang dia saudara angkatmu?"


"Dia tetaplah gadis yang sama di mataku. Dan aku tidak pernah menganggapnya sebagai Saudaraku"


Suasana semakin memanas karna perdebatan antara kedua sahabat itu masih berlanjut. ketiga remaja itu hanya mampu diam menyaksikan tanpa tau harus berbuat apa. kali pertama untuk ketiganya melihat Arkan dan Zaki yang selalu kompak berdebat hebat karna seorang gadis yang sebenarnya sudah lama teelibat dengan mereka.


"Terserah padamu mau menganggapnya atau tidak. Tapi yang jelas aku akan menghentikanmu menyakitinya mulai sekarang"


"Benarkah? Aku ingin melihat apa yang akan kau lakukan untuk menyelamatkannya"


"Kita buktikan"