
Diba duduk di kursi kantin, ia menunggu Zaki yang tengah memesankan makanan untuk mereka. Belakangan ini ia sering mengunjungi kantin. Zaki datang dengan 2 puring batagor dan 2 air mineral botol.
"Makanlah"
Diba tersenyum mulai memakan makanannya dengan tenang. Ia sesekali melirik Zaki yang berfokus pada makanannya. Wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya, mata sayunya seperti kehilangan binar walau masih indah seperti biasa. Kalau diperhatikan lagi hari ini Zaki memang terlihat sedikit lemas.
Zaki yang merasa diperhatikan ikut menatap Diba yang langsung memalingkan wajahnya. Bibirnya di tarik keatas secara tiba tiba. entahlah, gadis dihadapannya ini benar benar telah merebut hatinya. Dari hari itu gadis bernama Adiba ini telah merebut semua perhatiannya, memporak porandakan perasaannya. Kalau saja bukan karna Arkan, mungkin sudah sedari dulu ia memiliki gadis ini.
"Mmm... Zaki"
"Ya"
Zaki menatap Diba lamat lamat, membuat Diba gugup di tempatnya. Ingin rasanya Diba memaki Zaki agar tidak menatapnya seperti ini, itu membuat jantungnya berdetak tidak normal didalam sana. Diba mencoba menguasai dirinya, bagai mana pun Diba harus menanyakan keadaan Zaki yang tidak seperti biasanya.
"Mm...itu... kau baik baik saja?"
Zaki menaikan alisnya bingung.
"Memang aku kenapa?"
"Kau terlihat tidak seperti biasanya"
"Benarkah?"
Diba mengangguk dan meminum airnya.
"Wajahmu pucat, dan kau terlihat lebih lemas dari biasanya"
Zaki tersenyum dan mengacak rambut Diba dihadapannya.
"Kau perhatian sekali"
"Eh apa? Bukan seperti itu. Aku-aku hanya. Kau hanya terlihat berbeda itu saja"
Zaki tertawa melihat Diba yang salah tingkah dengan wajah yang memerah di tempatnya. Gadis ini benar benar...
"Kau ini lucu sekali ketika gugup"
"A-aku tidak gugup. Berhentilah tertawa, tidak ada yang lucu disini"
Zaki semakin keras tertawa melihat Diba yang berkata seakan percaya diri tapi akhirnya menundukan kepalanya.
Karena suara tawa Zaki yang kencang membuat para siswa yang berada dikantin kini menatapnya, termasuk Arkan dan Arsen yang baru memasuki kantin.
"Berhentilah tertawa, semua orang memperhatikanmu"
Zaki berusaha menghentikan tawanya, ia berdehem untuk menetralkan suaranya. Ternyata tertawa bisa membuat lelah juga, ia segera meminum air mineralnya sampai habis setengah. Lalu kembali menatap Diba yang menunduk memakan makanannya.
—
Adiba turun dari motor Zaki ketika sudah sampai di resto tempatnya bekerja. Ia memberikan helmnya pada Zaki.
"Terima kasih"
Zaki menerima helm itu dan menyimpannya.
"Tidak masalah. Nanti pulang aku jemput ok"
"Ah tidak perlu, kau terlalu sering mengantar jemputku. Sudah seperti driver pribadiku saja"
Zaki tersenyum melihat Diba yang terkekeh. Zaki benar benar menyukai situasi ini. Ia mengacak rambut Diba gemas.
"Tidak masalah menjadi driver pribadi. Asalkan itu kau"
Diba tersenyum seraya menundukan kepalanya ketika merasakan kulit pipinya yang menghangat. Zaki mengangkat dagu Diba, ia sangat suka melihat wajah gadis di hadapannya ini memerah karna malu, manis.
"Baiklah aku pergi. Semangat bekerjanya"
Diba mengangguk dan tersenyum. Zaki memakai helmnya kembali dan menstater motornya. Diba melaikan tangan mengiringi kepergian Zaki sampai hilang berbaur dengan kendaraan lain. Kemudian berjalan masuk kedalam restoran. Seketika senyumnya menghilang ketika melihat wajah tengil menyambut kedatangannya.
"Kau selalu menolak ketika aku akan mengantarmu. Tapi dia selalu kau biarkan"
Diba memutar bola matanya malas. Ia berjalan melewatinya begitu saja.
"Kenapa kau selalu menolakku?"
Pemuda yang hobinya menganggu Diba itu terus mengikuti langkah Diba sampai kelokernya.
"Kau menyukainya?"
Diba menulikan telinganya. Ia membuka lokernya untuk mengambil seragam dan menyimpan tasnya. Berusaha tidak perduli dengan pemuda yang tengah mengoceh seraya bersender kepala di sebelahnya.
"Astaga, bukankah aku lebih tampan dari dia? Laki laki brengsek seper-"
BRAAAKK
Allan, pemuda itu terperanjat kaget karena Diba menutup pintu lokernya dengan keras. pemuda itu memegangi dadanya karna suara dentuman yang sangat keras menembus paksa gendang telinganya.
Diba menatap sengit Allan yang lebih tinggi darinya, ekspresi datar dan mata yang menatapnya nyalang membuat nyali Allan ciut seketika. Tatapan mata Diba begitu tajam memusuknya, seakan tengah menggulitinya saat ini. Allan menelan ludahnya yang memdadak terasa pahit dengan susah payah.
"A-apa?"
Diba menggerakan kepalanya kearah kanan, tidak melepaskan pandangannya dari pemuda tengil yang tengah mematapnya kaku.
Allan yang mengerti mengerti isyarat itu pun langsung pergi dari hadapan Diba dengan cepat.
"Gila, ternyata gadis semanis dia bisa sangat menakutkan juga ternyata"
Tentu Diba masih bisa mendengar gumaman Allan karna jarak mereka belum terlalu jauh. Dan itu membuatnya tersenyum puas. Ternyata ada manfaatnya juga ia selalu berhadapan dengan Arkan yang dingin dan kasar padanya. Sepertinya Diba harus berterima kasih pada Arkan lain kali.
Dua hari yang lalu ketika Diba masuk kerja kembali ia sempat terkejut karna ternyata Allan juga bekerja paruh waktu di resto itu. Benar benar kesialan untuknya.
"Di tolong layani meja no8"
"Baik kak"
Diba mengambil buku menu dan menghampiri meja yang di tunjukan tadi.
"Silahkan"
Diba memberikan buku menu tersebut.
"Kau!"
"Ya?"
Pelanggan itu mengacungkan jari telunjuknya kearah Diba yang menatapnya bertanya.
"Aku tidak ingin Allan"
Pelanggan gadis yang sepertinya seumuran dengannya itu memalingkan wajahnya pada buku menu di hadapannya. Diba yang bingung mengerutkan dahinya, apa mungkin pendengarannya bermasalahkan.
"Mm...Maaf?"
Gadis itu menutup buku menunya dan kembali menatap Diba.
"Aku ingin Allan"
Diba menggaruk sikutnya yang tidak gatal.
"Tolong panggilkan saja Allan kesini, aku ingin dia yang melayaniku"
"Baik, saya permisi"
Diba mundur beberapa langkah, lalu memgedarkan pandangannya mencari keberadaan Allan. Setelah menemukannya ia lalu menghampiri Allan dan menepuk pundaknya.
"Apa? Kau rindu padaku?"
Diba memutar bola matanya.
"Meja no.8 ingin dilayani olehmu"
"Kenapa?"
"Mana ku tahu"
Allan melihat pada pelanggan yang di maksud Diba lalu menghela nafas ketika mengetahui siapa yang dimaksud Diba.
"Kenapa tidak kau saja?"
"Sudah, tapi katanya dia ingin dilayani dirimu"
"Aku tidak mau"
Diba berpindah kebelakang Allan dan mendorong punggungnya.
"Sana layani saja apa susahnya"
"Kau tidak tahu bagai mana gadis itu"
"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Terserah padamu yang penting layani dulu dia. Dia itu tetap pelanggan restoran ini"
Diba memberikan buku note miliknya dan pergi meninggalkan Allan.
Allan menggelengkan kepalanya, di masukannya note milik Diba kedalam kantong apronnya, kemudian berjalan pada meja no.8.
"Bisa saya tuliskan pesanan anda?"
Allan bertanya sopan seperti pada pelanggan lain, seakan ia tidak mengenal gadis itu.
Pelanggan gadis itu tersenyum manis kepada Allan, ia beetopang dagu seraya menatap Allan dihadapannya.
"Aku ingin hatimu"
"Maaf tapi itu tidak ada dalam menu"
"Kalau begitu aku ingin dirimu"
Allan menghela nafas kasar, gadis ini benar benar membuatnya jengah.
"Maaf nona, jika tidak ada yang ingin kau pesan sebaiknya kau keluar saja, masih banyak pelanggan kami yang ingin duduk disini"
"Ais kau mengusirku? Jahatnya"
Allan sudah memutar tubuhnya ketika gadis itu menyebutkan pesanannya Allan terpaksa kembali menghadap gadis itu untuk menuliskan pesanannya.
"Aku ingin spaghetti carbonara dan lemon tea dengan tambahan cinta darimu"
Allan memutar matanya, setelah mengulang pesanan gadis itu Allan langsung berlalu.
Diba membuang tatapannya pada Allan yang berjalan mendekat padanya, tanpa menoleh ia bertanya seraya menahan senyumnya.
"kekasihmu?"
"Kenapa? kau cemburu?"
Diba menempelkan telunjuknya pada kening Allan dan mendorongnya perlahan.
"Dalam mimpimu"
kemudian berjalan mengambil nampan yang berisi pesanan salah satu pelanggannya.
—
"pulang denganku?"
Diba yang berdiri didepan resto mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap Allan yang berdiri tegap di depannya. Ketika akan menjawab sebuah motor berhenti dihadapan keduanya. Dengan otomatis Diba menggelengkan kepalanya pada Allan dan berjalan mendekati motor tersebut.
Zaki memberikan helm pada Diba, setelah mengenakannya Diba langsung naik keatas motor dan tanpa sepatah kata pun keduanya langsung melaju meninggalkan Allan yang hanya menatap keduanya pergi.
Zaki memacu kuda besinya dengan kecepatan sedang. Tidak ada percakapan pada keduanya, bahkan sampai motor itu berhenti di sebuah taman. Keduanya turun dari motor, Zaki menuntun Diba menuju ayunan yang berada di taman. Keduanya duduk disana, Zaki yang mulai mengayunkan tubuhnya seraya menutup matanya, dan Diba yang menatapnya bertanya. Lama keduanya berada di taman dengan posisi yang sama, sampai akhirnya Diba memberanikan diri bertanya.
"Ada apa?"
"Hanya ingin agar malam ini berjalan lebih lama"
"maksudmu?"
"Aku tidak ingin malam ini cepat berlalu dan berganti dengan hari esok"
"Kenapa?"
Zaki membuka matanya dan menatap Diba lembut. Hanya dengan penerangan yang minim di taman itu Diba tetap bisa melihat senyum tipis dibibir yang lebih pucat dari tadi siang.
"kau tidak apa apa?"
Diba menempelkan telapak tangannya pada kening Zaki. Zaki semakin mengembangkan senyumnya, ia meraih tangan Diba dan meuntunnya pada pipinya, Sedikit membuat Diba gugup. Dengan susah payah Diba mencoba mengontrol dirinya agar tidak berbuat konyol sekarang.
"Tidak panas, tapi kau terlihat lebih pucat dari tadi siang. ada apa?"
"Boleh aku memelukmu?"
"Hah?"
Diba mengerjapkan matanya beberapa kali. Berusaha mencerna ucapan Zaki yang begitu tiba tiba.
"Berdirilah"
Dengan polosnya Diba berdiri mengikuti intruksi dari Zaki agar berdiri dihadapannya yang masih duduk di ayunan. Zaki melingkarkan tangannya dipinggang Diba, dengan kepalanya bersender diperut gadis yang menurutnya berharga itu.
"E-eh Zaki"
"Sebentar. Biarkan seperti ini sebentar"
Diba yang terkejut berusaha melepaskan tangan Zaki yang melingkari tubuhnya pun berhenti. Bingung depan apa yang terjadi pada pemuda itu sampai bersikap seperti ini.
"Ada apa?"
Zaki menggeleng tanpa suara. Diba memberanikan diri mengusap rambut Zaki yang hitam tebal itu perlahan, berusaha menguatkan Zaki yang sepertinya tengah memiliki masalah yang tidak ingin ia ceritakan. Lagi pula baru satu minggu ini mereka sangat dekat, sudah tentu Zaki tidak mungkin menceritakan masalah yang dihadapinya pada Diba. Atau mungkin hanya Diba saja yang merasa berteman dekat dengan Zaki, sedangkan Zaki sendiri tidak menganggapnya apa apa.
Pelukan Zaki mengendur dan ia sedikit menjauhkan wajahnya, dengan perlahan Diba melepaskan tangan Zaki dan berlutut dihadapan Zaki untuk mensejajarkan tinggi keduanya. Diba mengamati wajah Zaki yang tengah menatapnya. Cahaya lampu taman tepat menyorot wajah Zaki yang membuat Diba leluasa melihat keadaannya. Kulit berwarna Tan itu kini lebih pucat dari tadi siang, matanya memerah dengan mata yang semakin sayu. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Zaki. Diba memberanikan diri menggenggam kedua tangan Zaki, ia mentap pemuda itu lembut dengan sedikit senyum.
"Ada apa? hmm"
Zaki memperhatikan setiap jengkal wajah gadis dihadapannya. Mata bulat, pipi sedikit chubby, hidung kecil yang bangir, kulit putih dan bibir mungil yang selalu membuatnya jatuh ketika tersenyum.
"Apa salah jika aku ingin malam ini terus berlanjut tanpa adanya siang?"
"tentu, karna itu sangat mustahil"
"jadi jika sesuatu yang aku inginkan mustahil itu adalah sebuah kesalahan?"
"keinginannya tidak salah, hanya saja kemustahilan itu yang membuatmu salah menentukan keinginan"
"bukannya didunia ini tidak ada yang mustahil?"
"Tidak bagi sang pencipta, tapi manusia juga harus mengukur batas kemampuannya yang terbatas"
"Kalau begitu aku ingin agar hari esok bisa cerah"
Diba tersenyum menanggapi ucapan Zaki yang sebenarnya tidak ia mengerti sama sekali. Pemuda ini seperti tengah menyembunyikan sesuatu sehingga membuatnya terganggu seperti sekarang. Jika Zaki tidak ingin memberitahunya Diba akan menunggu sampai Zaki mengatakannya langsung, atau jika tidak mengatakannya juga tidak apa selama pemuda itu baik baik saja tidak masalah.
—
Diba memasuki rumah dengan mengucap salam seperti biasa dan melangkahkan kakinya keruang tengah bertepatan dengan Arkan yang keluar dari dapur. Diba menatap Arkan yang berjalan melewatinya begitu saja menaiki tangga. sepertinya Arkan telah dari luar melihat pakaianya yang di kenakannya. Diba memutar kakinya yang akan menaiki tangga ketika melihat Cindy yang tengah menonton Tv dan ikut duduk disebelahnya.
"Kau belum tidur? ini sudah malam"
"Belum. lagi pula besok libur karna kelas 9 akan menjalani ujian tengah semester"
Diba mengangguk mengerti.
"Kakak sendiri baru pulang? dengan kak Arkan?"
"Iyah kakak baru pulang, tapi diantar Zaki bukan dengan Arkan"
"Oo. Aku kira dengan kak Arkan karna tadi Kak Arkan bilang akan menjemput kakak karna pulang terlambat"
Diba menatap Cindy dengan kening berkerut.
"Dan kak Arkan juga lumayan lama diluar, dan pulangnya hampir bersamaan dengan kakak, jadi aku kira kalian bareng"
"Arsen dimana?"
"Tadi setelah makan malam langsung tidur"
"kakak Kekamar dulu"
Cindy mengangguk dan membali berfokus pada acara Tvnya.
Diba berjalan cepat menaiki tangga, ketika sudah berada di pintu kamarnya ia melihat Arkan yang baru keluar dari kamar mandi. Diba meremas knop pindu kuat, berusaha memberikan keberanian pada dirinya sendiri.
"mm Arkan"
Arkan menahan tangannya yang akan mendorong pintu kamarnya. Diba berbalik menghadap Arkan yang membelakanginya. Ia benar benar gugup saat ini, bahkan telapak tangannya terasa basah karna keringat.
'oh ayolah, ini hanya Arkan bukan mahluk buas atau pun hantu'
"Apa?"
Diba meremas ujung bajunya ketika mendengar nada dingin dari Arkan. Bahkan pemuda dingin itu tidak mengubah posisinya.
'ok ini lebih menakutkan dari mahluk buas'
"Ci-Cindy bilang tadi kau me-nyusul ku?"
"Ya, disuruh bunda"
"Ta-tapi tadi a-aku-dengan Zaki ke-"
"Aku melihatnya, karna itu aku kembali"
Arkan langsung masuk kedalam kamar meninggalkan Diba yang masih berdiri di tempatnya.