
Sedikit perdebatan di pagi hari ini antara Arkan yang tidak ingin satu motor dengan Diba, dan Bunda yang memaksa Arsen untuk mengantarkannya ke resto yang di kepalanya. Sedangkan Diba dan Arsen hanya diam melihat adegan drama picisan yang tengah tayang live di hadapan mereka.
"Ayolah Bun, kalau begitu Bunda biar Arkan saja yang mengantar ya bun"
"Tidak, kamu itu pasti akan mengoceh sepanjang perjalanan"
Dan perdebatan pun masih berlanjut dengan Arkan yang merengek pada Bundanya yang keras kepala.
"Cih, sudahlah, Bunda tetep denganku tapi naik motor dan Arkan dengan Diba menggunakan mobil bunda. Dan berhentilah bertengkar"
"Enak saja, Bunda tidak ingin naik motor, lihatlah bunda menggunakan rok."
"Bunda ganti saja roknya dengan celana panjang dan pakai jaket juga jadi bisa tetap pergi dengan Arsen"
"Tidak, Bunda tidak bisa ganti dengan celana, lama lagi nanti"
"Is bunda ayolah, bunda bawa ganti rok saja, nanti setelah sampai ganti celananya dengan rok lagi"
"Ais, ribet Arkan. Apa salahnya sih satu motor dengan Diba"
"Masalahnya Diba juga menggunakan rok selutut bunda, tubuhnya juga kecil, aku takut jika nanti dia terbawa angin"
Arsen memutar bola matanya, sedangkan Diba mendendengus pelan mendengar penuturan Arkan yang menyebalkan.
"Jika seperti ini terus, yang ada malah kesiangan"
Mendengar keluhan Diba, Tanpa basa basi Arsen langsung menarik Diba masuk kedalam mobil dan menjalannya tanpa memperdulikan Bunda dan kakak kembarnya yang masih asik berdebat.
"Bagai mana dengan bunda? Bukankah seharusnya kau mengantarnya menggunakan mobil ini?"
"Biarkan mereka berdebat sepuasnya, setelah sadar jika kita dan mobilnya sudah tidak ada, pasti mereka akur lagi"
"Maksudmu, terpaksa akur karna harus pergi bersama"
Keduanya tertawa beberapa saat. Diba tidak pernah menyangka jika ia akan bisa tertawa bahkan satu mobil bersama Arsen. Walau pun Arsen tidak pernah ikut campur dengan bullyan Arkan terhadapnya. Tapi ia pernah berpikir 'mungkin saja Arsen tidak suka menggunakan tangannya langsung' itu memang pemikiran negatif, tapi memang benar adanya karena mereka kembar, sudah bisa di pastikan jika mereka bersifat sama.
—
Terdiam, hanya itu yang keduanya lakukan di sisa perjalan mereka. Lampu lalu lintas menyala merah, Asren pun memberhentikan mobilnya. Diba melihat sekeliling, ia tahu jalan ini, dengan segera ia membuka sabuk pengamannya.
"Aku turun di sini Arsen"
"Mengapa? Ini belum sampai sekolah"
"Aku tidak mungkin turun di sekolah, apa lagi bersamamu. Aku masih sayang nyawaku"
"Tapi jarak sekolah masih jauh"
"Hanya 15 menit berjalan kaki"
"Tetap saja, itu jauh Adiba"
"Tak apa. Ini sama saja dengan aku berjalan dari rumah orang tuaku ke sekolah"
Walau pun merasa ragu, akhirnya Arsen mengizinkan, ia tahu betul apa yang akan terjadi bila para Siswa tahu jika Diba datang kesekolah bersama sama dengannya.
"Baiklah hati-hati, pulang sekolah aku tunggu kau disini"
"Um, baik. Aku pergi, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Diba pun keluar dari mobil, ia berjalan menyusuri trotoar menuju sekolahnya. Melelahkan memang, tapi setidaknya ini lebih baik dari pada harus di gunjingkan oleh seisi sekolah, percayalah! Itu bukan hal yang bagus. Setelah 10 menit berjalan cepat akhirnya ia sampai di halaman sekolah, dengan segera ia menuju kalasnya. Diba pun langsung duduk di kursi dan merebahkan kepalanya di meja dengan tas sebagai bantalan. Selalu saja, tidak ada yang memperhatikan.
Amel masuk kedalam kelas dengan langkah panjang, mulutnya tidak berhenti bergumam, terlihat dari raut wajahnya jika ia sedang kesal. Amel melemparkan tasnya ke atas meja dengan kasar, lalu duduk melipat tangan di dada tanpa memperdulikan sekitar.
Adiba tersentak katika mendengar suara bantingan dan sesuatu yang mengenai kepalanya. Ia mendongak dan memberalak ketika melihat tas hitam yang selalu berisi penuh buku itu kini bertengger nyaman di hadapannya. Refleks ia memegang kepalanya yang mungkin saja nyaris terkena hantaman meteor perpustakaan. Diba memalingkan wajahnya ke kursi disebelahnya, di sana Amel tengah menatap kosong ke arah pintu. Ia mengikuti arah pandang Amel, tapi tidak ada apa apa di sana, lalu ia mendekatkan wajahnya ke sisi wajah amel.
"I can see you Amelia, aku berada tepat di sebelahmu"
Tubuh Amel seketika menegang karena hembusan angin di pipi dan suara bisikan yang sangat jelas terdengar. Perlahan ia memutar kepalanya dan
"Boo"
"AAAAAAAAAAAAAAA"
Amel menjerit terkejut sampai ia jatuh ke lantai. Siswa kelas yang tadinya tenang kini menatap ke arah bangku Amel dan Diba. Sedangkan Diba sendiri tertawa puas melihat Sahabatnya yang ia kerjai.
"Astaga. Apa yang kau lakukan bodoh. Kau hampir membunuh jantungku"
Amel bangkit dari lantai dan kembali duduk di kursinya, sedangkan Diba tengah mengatur tawanya agar reda.
"Salah kau sendiri melamun di pagi hari. Dan kau juga hampir membuatku gegar otak karna perpustakaan berjalanmu itu"
Amel memanyunkan bibirnya dan menarik tas miliknya. Tanpa sadar kini mereka telah di kerubungi oleh para siswa kelasnya.
"Adiba apa kau baik baik saja?"
"Aku turut berduka cita atas kepergian ibumu"
"Jadi sekarang apa kau tinggal hanya berdua dengan ayahmu?"
"Kau tidak masuk beberapa hari, pasti kau sedih bukan?"
"Aku dengar ibu mu terkena penyakit parah"
"Kau harus tabah Diba, aku yakin kau kuat"
Dan banyak lagi pertanyaan dan ucapan semangat yang di lontarkan teman teman sekelas yang membuatnya bingung harus menjawab yang mana terlebih dahulu.
Sedangkan Amel
"ASTAGA, ALHAMDULILLAH AKHIRNYA KAU SEKOLAH JUGA. HOBBY SEKALI KAU MEMBUATKU KHAWATIR, KAU TIDAK MASUK SEKOLAH, TIDAK ADA DI MINIMART, AKU BAHKAN MENCARI MU KETEMPAT KERJA BARU MU KAU TIDAK ADA. SAAT AKU KERUMAH MU BAPAKMU BILANG KAU TIDAK TINGGAL LAGI DI SANA. ASTAGA ADIBA... KAU TAHU! AKU DAN DAN KAK EL HAMPIR GILA MENCARIMU"
Diba dan semua siswa di sana menutup telinga sekuat yang mereka bisa. Sudah tidak di ragukan lagi, suara cempereng milik Amel bisa merusak gendang telinga mereka jika tidak di lindungi dengan benar.
"Astaga Amel. Kecilkan suaramu. Kau berbicara seperti kereta api saja. Cepat dan berisik. Kau tahu sendirikan jika teman kita yang satu ini agak loading. Kau malah merusak pendengaran kami"
Amel kembali cemberut mendengar teguran bella teman sekelas mereka.
"Benar, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, tapi yang jelas kami jadi harus memeriksakan telinga kami gara gara suaramu"
Kini Amel lebih memajukan bibirnya karena sahabatnya yang sangat ia khawatirkan juga malah ikut menyalahkannya.
Setelah beberapa saat berkumpul di meja Adiba untuk melakukan tanya jawab, semua siswa kembali ketempatnya masing masing ketika guru yang mengajar hari ini telah tiba di kelas. Sama seperti sebelumnya, sang guru yang menyadari kehadiran Diba pun turut mengucapkan bela sungkawa.
Ah! Hanya mereka yang tidak menganggap Adiba rendah. Beruntungnya dia memiliki teman sekelas yang selalu care padanya.
—
Bel tanda istirahat baru 10 menit berbunyi, tapi kelas telah kosong di tinggalkan. Hanya tersisa beberapa siswa yang tengah merebahkan kepala mereka di atas meja, seperti biasa menunggu parkiran kosong agar tidak berdesakan. Seperti Diba yang baru saja menutup bukunya, soal hari ini sangat mudah baginya, jadi ia bisa menyelesaikannya dengan cepat.
Setelah merapihkan kembali mejanya, ia beranjak dari kursi dan menepuk bahu Amel yang tengah merebahkan kepalanya dengan bantalan tas.
"Kau sudah selesai?"
Diba mengangguk sebagai jawaban.
"Cepat sekali, aku bahkan baru menutup mataku"
"Sudah, ayolah. Atau kau ingin aku tinggal?"
Amel mencebik lalu bangkit dan berjalan beriringan bersama Diba.
"Kau akan langsung pulang?"
"Tidak, aku harus ketempat kerja dulu"
"Ke minimart?"
"Bukan"
"Aku kira kau akan kembali kesana"
Amel menghela nafas dengan raut wajah kecewa. Diba tersenyum dan merangkul pundak sahabatnya.
"Aku akan ke toko roti untuk mengundurkan diri, dan ke restoran juga, aku akan melanjutkan pekerjaanku di sana. Setidaknya hanya restoran itu yang dekat dengan tempatku tinggal sekarang"
"Ah benar, sekarang kau tinggal di mana? Apa aku boleh berkunjung?"
Adiba sedikit berfikir sebelum menjawab. Tidak mungkin ia mengatakan jika saat ini dirinya tinggal bersama keluarga Arkan dan Arsen.
"Aku tinggal bersama saudara ibuku. Mungkin kau bisa berkunjung lain kali, tidak mungkin kan aku membawa teman ketika aku baru saja pindah kesana"
"Ah kau benar. Baiklah lain kali kau harus mengajakku kesana ok"
"Iyah baiklah"
Diba menghela nafas lega. Untunglah Amel percaya dengan perkataannya. Setelah beberapa saat berjalan beriringan, akhirnya keduanya berpisah di gerbang, karna jalan yang mereka lalui bertolak belakang.
Diba kembali menyusuri trotoar menuju persimpangan jalan, sepanjang perjalanan ia beberapa kali bersenandung sampai pada akhirnya ia sampai di depan mobil yang terparkir di dekat warung kecil pinggir jalan. Sedikit ragu ia mengetuk kaca bagian pengemudi, ketika kaca di turunkan ia sedikit terkejut.
"Arkan?"
"Ck, lama sekali"
Adiba menghela nafas, entahlah! Ia sudah mulai terbiasa dengan sikap ketusnya Arkan, Bahkan lebih dari itu. Sebenarnya ia bingung, kenapa jadi Arkan yang menunggunya, bukan Arsen seperti janjinya tadi pagi.
"Cepatlah naik. Aku bukanlah supir pribadi yang harus selalu menunggumu"
Diba menghela nafas sebelum akhirnya menjawab.
"Kau duluan saja. Aku harus melakukan sesuatu sekarang"
"Kenapa kau tidak menghubungiku dari tadi? Jadi aku tidak harus menunggu lama seperti ini"
"Maaf"
Tidak berkata apa apa lagi. Arkan langsung menginjak pedal gas, memacu mobilnya dengan kencang meninggalkan Diba yang hanya menatap kepergiannya. Adiba mengelengkan kepalanya sebelum pada akhirnya berjalan menyeberang jalan untuk sampai ke toko roti tempatnya bekerja.
Diba akhirnya sampai di tempai tujuan. Di depannya toko yang menjadi tempat kerjanya beberapa hari, ia memasuki toko tersebut dan menemui menejernya untuk memberitahukan niatnya. Sempat di beri beberapa pertanyaan akhirnya dengan berat hati sang menejerpun menyetujui keputusan Adiba dan memberikan gajih plus dengan bonusnya.
Diba keluar dari toko tersebut setelah berpamitan dengan semua karyawan yang ia kenal. Dan melanjutkan berjalan kesalah satu restoran kecil yang tidak jauh dari toko roti tersebut. Cukup 15 menit berjalan ia pun sampai ditujuannya.
"Hai Diba. Kau bekerja hari ini?"
Diba tersenyum mendapatkan sapaan ramah dari salah satu karyawan.
"Aku ingin menemui menejer Mo. Ada yang harus aku bicarakan"
"Dia di ruangannya, tapi di sana juga ada Bu Bos"
"Ah, benarkah? Apa mungkin nanti saja"
"Ku rasa tidak apa. Bu Bos biasanya hanya control saja. Kau temui dulu saja menejer Mo, dia akan memberi tahumu jika sedang tidak bisa di ganggu"
"Baiklah. Aku naik dulu ya kak"
Diba berjalan menaiki tangga khusus karyawan menuju lantai atas dimana menejernya berada. Benar saja, ketika ia melewati ruangan menejernya yang hanya di batasi kaca, di sana juga ada seorang wanita yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Adiba mengetuk pintu yang juga terbuat dari kaca itu. Setelah di beri isyarat, Diba pun masuk menemui menejer restoran tempatnya bekerja.
"Adiba, kau datang hari ini?"
Seorang perempuan dengan potongan rambut sebahu dan pakaian kasualnya menyapa Diba dengan ramah.
"Iyah kak Mo, saya ingin meminta maaf karna tidak ada kabar beberapa hari kemarin"
"Tak apa, saya mengerti. Saya turut berduka cita"
Diba tersenyum seraya mengangguk.
"Khmm"
Suara deheman di belakang Mo mengejutkan keduanya.
"Ah iya, Diba perkenalkan, ini pemilik restoran ini. Namanya Bu Sarah. Dan Bu Sarah ini Adiba, karyawan yang tadi Saya ceritakan"
Perempuan bernama Sarah itu tersenyum hangat dan menjulurkan tangannya yang di sambut hangat oleh Diba.
"Aku turut berduka atas kepergian ibumu"
"Terima kasih"
"Kak Mo, Bu Sarah saya pamit untuk bekerja kembali. Permisi"
"Ya silahkan"
Diba berjalan keluar ruangan dan menghilang di belokan menuju tangga, gerak geriknya tidak luput dari penglihatan Sarah.
"Dia gadis yang baik dan sopan"
"Anda benar bu, saya sudah sering mendengar tentang dia dari para pelanggan yang satu sekolah dengannya. Dia anak yang baik dan berprestasi di sekolahnya. Walau pun kerap di bully dan tidak pernah melawan, tapi prestasinya cukup mengagumkan. Dan kinerjanya sangat bagus dan bersemangat"
"Benarkah? Anak yang mengagumkan"
Sarah tersenyum di akhir kalimatnya.
-
"Di tunggu sebentar, kami akan menyipkan pesanan anda"
Diba berlalu membawa buku menu dan notes di tangannya, ia menuju bagian pemesanan dan memberikan kertas notes yang berisi pesanan dari pelanggannya beberapa saat lalu.
"Kelelahan?"
Diba menggeleng menanggapi ucapan Rara, karyawan yang tadi siang menyapanya.
"Beberapa hari tidak datang, Restoran semakin ramai saja ya kak"
"Alhamdulillah Di. Semenjak kau bekerja disini restoran menjadi semakin ramai"
"Ah kak Rara bisa saja. Restoran ini memang bagus dan makanannya juga sangat enak. Harganya juga sangat terjangkau untuk mahasiswa, apa lagi anak sekolah sepertiku"
"Hahahaha kau bener juga"
"Pesanan meja 17"
"Aku mengantarkan pesanan ya kak"
Diba membawa nampan berisi makanan dan minuman itu dengan hati hati. Dengan keadaan restoran yang ramai cukup menyusahkan untuk membawa nampan berisi penuh ke meja tamu yang memesan.
"Ini pesanan anda, selamat menikmati"
Diba berlalu membawa nampan kosong, ketika berada di dekat pintu seseorang menabraknya dari belakang, cukup kuat untuk membuatnya terhunyung beberapa langkah kedepan.
"Kau lihat apa yang kau lakukan, aku menabrak seseorang karnamu"
Diba mengurungkan niatnya untuk meminta maaf walau pun bukan ia yang salah. Melihat pasangan di hadapannya tengah bertengkar.
"Itu salahmu sendiri menghalangi jalanku"
Diba berbalik dan berniat meninggalkan pasangan itu, tetapi niatnya harus ia urungkan karna sebuah tangan menahannya.
"Baiklah jika itu maumu. Kita selesai sampai di sini"
"Apa? Bukan begitu maksudku Allan"
Diba berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan laki laki bernama Allan itu.
"Kau pergi sekarang atau aku yang menyeretmu keluar"
"Allan"
"pergi sya"
Allan mengusir gadis tadi dengan penuh penekanan, tidak memperdulikan rengekannya dan tangan yang senantiasa tetap mencekal lengan Diba kuat. Setelah kepergian gadis tadi Diba menyentakan tangan Allan dengan keras membuat tangannya terbebas dari cekalan Allan.
"Maaf tuan, saya harus kembali bekerja"
Diba menunduk sopan pada pelanggannya sebelum pergi.
"Ah tunggu"
Diba kembali berhenti karna tangannya yang kembali di tahan Allan. Diba berbalik dan menarik tangannya. Masih menatap Allan ramah.
"Maaf karna tadi menabrakmu dan maaf aku telah menyentuhmu sebarangan"
'dan lama'
"Tidak apa saya mengerti. Maaf tapi saya harus kembali bekerja"
"Tunggu"
Diba mengepalkan masing masing tangannya yang berada di kedua sisi tubuhnya.
"Ya tuan? Ada yang bisa saya bantu?"
Dengan sekuatnya ia mempertahankan senyumnya.
"Aku sepertinya mengenalmu. Apa kau mengenalku?"
"Maaf tuan tapi saya tidak mengenal anda. Jika tidak ada lagi saya harus kembali bekerja"
"Tapi kau tidak mengamatiku dengan benar"
Diba menghela nafasnya.
"Maaf tuan tapi saya tidak ada waktu untuk itu. Saya harus kembali bekerja"
"Kalau begitu aku akan membayar waktumu untuk mengobrol dan mengamatiku dengan benar. Aku yakin kita saling mengenal"
"Maaf tuan. Tapi saya benar benar sibuk sekarang, anda bisa lihat sendiri restoran kami sedang penuh. Jadi saya harus pergi, jika tidak tuan saja yang pergi tidak apa jika anda telah membayar pesanan anda. Permisi"
Adiba kembali menghentakan tangannya ketika lagi lagi di cekal Allan.
"Kalau begitu aku akan menunggumu di luar"
"Terserah"
Timpalnya penuh penekanan. Diba berjalan menuju tempat pemesanan untuk menyimpan nampan yang sedari tadi ia bawa.
"Ada apa dengan pelanggan yang tadi. Sepertinya dia menahanmu terus"
"Entahlah kak. Orang itu benar benar menyebalkan"
Rara terkekeh melihat wajah Adiba yang terlihat kesal.
"Dia pelanggan?"
"Mungkin"
"Kalian saling mengenal?"
Diba menggeleng
"Kalian tampak seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar tadi"
Diba memutar bola matanya.
"Sudahlah. Ada tamu, aku kesana dulu"