
Adiba mengaduk udang asam manisnya dengan pelan, tatapannya kosong kearah wajan di hadapannya. Fokusnya menghilang entah kemana, yang ia pikirkan hanyalah kejadian semalam, dimana Arkan dan Zaki memperdebatkan dirinya. Ia terus saja bertanya apa yang membuat Azka begitu membencinya dan kenapa Zaki bersikukuh untuk melindunginya.
'Apakah aku membuat mereka bertengkar? Apa aku telah menghancurkan persahabatan mereka? Tapi kenapa? Kenapa Zaki ingin melindungiku? Dan kenapa Arkan begitu membenciku?'
Pertanyaan demi pertanyaan itu terus berputar di pikirannya. Ia benar benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi di antara keduanya.
"Kak Di"
Diba tersentak dan ketika berbalik untuk menghadap orang yang memanggilnya tidak sengaja ia menyenggol mangkuk kaca di dekatnya.
"Astagfirullah"
"Astaga"
Diba langsung berjongkok untuk membersihkan kekacauan yang ia perbuat.
"Kak maaf. Aku mengejutkanmu?"
Cindy dengan segera mendekati Diba dan membantu memunguti pecahan mangkuk yang berserakan.
"Sshh"
"Agh"
"Astaga Kakak"
Karna kurang berhati hati membuat telapak tangan Diba tergores pecahan gelas, dan ketika ia melangkah mundur tidak sengaja ia menginjak pecahan mangkuk yang cukup besar.
"Astaga Tangan dan kaki kakak berdarah"
Cindy histeris melihat darah dari telapak tangan dan kaki Diba. Diba dengan hati hati menarik pecahan kaca yang menancap di kakinya, membuat Cindy bergidik ngeri melihat darah yang semakin banyak keluar.
"Tak apa, ini hanya luka kecil"
"Kau bercanda? Itu pasti sangat menyakitkan"
Cindy benar benar tidak habis pikir dengan kakak angkatnya ini. Ia tetap bersikap tenang walau pun darah yang keluar dari tubuhnya begitu banyak.
"Lagi pula kenapa kakak melamun? Apa yang kakak pikirkan?"
"Tidak ada. Apa kau bisa mengambilkan P3K untuk ku?"
"Baiklah. Tapi aku bantu kakak duduk di kursi dulu?"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri"
"Baiklah kakak tunggu sebentar, aku ambilkan P3K untukmu"
Diba mengangguk dan Cindy pun berlari mengambilkan P3K untuknya. Diba berdiri dan menemukan kompor yang masih menyala, dengan segera ia mematikan kompor. Dilihatnya masakan yang ia buat telah setengah gosong. Diba menghela nafas, ia merutuki dirinya yang terlalu memikirkan kejadian semalam dan sekarang membuatnya kehilangan fokus. Diba berjalan mengambil air yang di tambahkan es batu untuk membersihkan luka dan menghentikan pendarahannya.
Diba duduk di lantai yang bersih dari pecahan mangkuk kaca, ia mulai membersihkan lukanya perlahan. Luka yang ia dapat cukup dalam di bagian telapak kaki dan tangannya, pantas darah yang keluar begitu banyak. Cindy datang dengan kotak putih di tangannya, ia segera menghampiri Diba.
"Kenapa kakak duduk di bawah?"
"Jika di kursi akan sulit mengobati luka di kaki"
"Ah benar juga. Biar aku yang mengobati lukamu"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Di bandingkan itu, kau memiliki sereal untuk sarapan? Masakanku gosong"
Diba memelankan suaranya di akhir kalimat, ia benar benar tidak enak pada Cindy.
"Ada kakak tenang saja. Aku akan membersihkan itu dulu. Kakak selesaikan mengobati lukanya"
"Maaf marepotkanmu. Salahku karna melamun ketika memasak"
"Tentu saja tidak. Ini semua juga karena aku yang mengejutkanmu tadi"
Diba benar benar bersyukur karna Cindy begitu baik padanya. Berada di tengah keluarga ini menjadi sesuatu yang sangat membahagiakan baginya. Terlepas dari Arkan yang sangat membencinya, Diba benar benar bersyukur bisa bertemu dan hidup di antara keluarga sahabat ibunya ini.
Diba membalutkan perban di kaki dan tangannya, ia kemudian membereskan kotak P3K dan wadah bekasnya membersihkan lukanya. Ia berjalan menuju wastafel, bertepatan dengan Cindy yang juga baru selesai menyuci wajan bekas Diba masak.
"Kak biar nanti saja menyiapkan sarapannya hanya sereal ini. kakak bersiap siaplah kesekolah, aku juga akan mandi dulu"
Diba mengangguk, keduanya berlalu dari dapur menuju kamar mereka masing masing. Diba sempat melirik jam yang dipajang di dinding lantai atas. Ia berjalan menuju kamar Arsen dan mengetuk pintu untuk membangunkan si pemilik seperti pesannya kemarin pagi.
"Arsen kau sudah bangun? Sekarang sudah pukul 05:36"
Diba terus mengetuk pintu namun tidak kunjung di buka oleh si pemilik.
"Arsen, kau di dalam?"
Sekali lagi Adiba memanggil Arsen namun tidak ada jawaban. Ketika ia akan membuka pintu untuk memastikan, pintu di belakangnya terbuka membuatnya berbalik dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar Arsen.
"Berisik, Arsen tidak ada. Mengganggu saja"
"Maaf telah menggang-"
Blam
Arkan menutup pintu dengan keras, tanpa membiarkan Diba menyelesaikan ucapannya. Diba menghela nafas, perlakuan dingin Arkan benar benar membuatnya tidak nyaman. Tapi setidaknya semenjak ia tinggal di sini Arkan berhenti membully-nya di sekolah.
—
Diba berjalan mendekat pada Cindy yang tenah menyiapkan mangkuk dan sereal untuk sarapan ketiganya. Kemarin sore orang tua Cindy pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan. Dan selama mereka tidak ada urusan memasak di pindahkan pada Cindy dan Adiba, sedangkan membereskan rumah sudah di urusi pekerja yang datang pukul 6 pagi dan pulang pukul 5 sore.
Diba ikut bergabung bersama Cindy dan memulai sarapan, tidak lama Arkan turun dan ikut duduk di hadapan Diba. Ia menatap menu sarapan pagi ini yang hanya sereal.
"Kau tidak masak Cin?"
"Aku kesiangan. Dan tadi kak Diba mengalami kecelakaan"
Arkan hanya diam tidak menanggapi, ia mulai menuangkan sereal pada mangkuk dan memakannya tanpa susu. Diba yang telah tau kebiasaan Arkan ini sudah tidak terkejut melihatnya.
Setelah menyelesaikan sarapannya Arkan mengantarkan Cindy kesekolahnya dengan mobil, tentu Diba yang juga ikut dengan mobil yang sama. Tidak ada percakapan di antara ketiganya, Cindy yang sibuk dengan ponselnya di kursi belakang, Arkan yang berfokus pada jalanan, dan Diba yang hanya menatap keluar jendela penumpang depan.
Cindy turun dari mobil setelah sampai di depan pintu gerbang sekolahnya. Setelah berpamitan pada Arkan dan Diba gadis yang duduk di kelas 2 smp itu pun melenggang masuk kedalam sekolah bersama beberapa temannya.
"Keluar"
Diba mengerjap menatap Arkan bingung karna terlalu fokus melamun membuatnya tidak mendengar ucapan Arkan yang terdengar sebagai gumaman samar di telinganya.
"Keluar, aku tidak ingin satu mobil berdua dengan orang miskin sepertimu"
Diba mengangguk dan keluar dari mobil yang ia tumpangi bersama Arkan. Setidaknya ia tahu jalan pintas dari sini menuju sekolahnya. Ketika pintu baru saja di tutup pintu mobil, Arkan langsung menginjak Gas dan melesat cepat meninggalkan Diba yang hanya menghela nafasnya.
Gadis itu berjalan menyusuri terotoar menuju jalan pintas yang selalu ia lalui untuk menuju sekolah.
"Adiba"
Diba menghentikan langkahnya ketika mendengar seseorang mendengarnya. Sebuah motor metik berhenti di sebelahnya, melemparkan senyum ketika membuka kaca helmnya. Wajah Diba yang tenang berubah sumbringah ketika menemukan Delta di hadapannya.
"Kak El"
Diba menghambur kepelukan El yang masih duduk di motornya dan di sambut pemuda itu dengan senang.
"Kau apa kabar?"
Diba melepaskan pelukannya masih dengan senyum sumbringahnya.
"Baik, kabar kakak bagai mana?"
"Kakak baik. Beberapa hari tidak melihatmu membuatku rindu anak ayamku ini"
El berujar seraya mencubit hidung Diba dan menariknya perlahan, meninggalkan warna merah disana.
"Aihs kak El. Tapi aku tidak merindukanmu"
El kembali menarik pipi Diba gemas, membuat Diba mengaduh mengusap pipinya.
"Kenapa kau ada disini?"
"Karena aku ada disini"
"Maksudku kenapa kau lewat jalan ini?"
"Karena aku tidak lewat jalan sana"
Tak
"Aaw"
"Kata Amel rumah barumu berlawanan dengan arah rumah lamamu. Jadi kenapa kau berada disini?"
"Oo itu karena aku tid-"
Tak
"Ais"
"Kembali kau mengatakan 'karena tidak berada disana' maka akan aku jitak kepalamu menggunakan kunci inggris"
Diba menunjukan cengirannya seraya mengusap keningnya yang di kembali mendapatkan hadiah dari jari El.
"Kak El antarkan aku kesekolah ya. Sepertinya aku akan terlambat"
"Naiklah"
Diba berseru riang dan langsung naik keatas motor. El menggelengkan kepala melihat tingkah sahabat adiknya ini yang selalu membuatnya gemas sendiri. Keduanya bersenda gurau dan sesekali tertawa sepanjang perjalanan sampai akhirnya sampai di depan gerbang sekolah Diba. Diba turun dari motor, El merogoh tas punggungnya dan memberikan dua buah buku catatan pada Diba.
"Tanganmu kenapa?"
El baru menyadari jika tangan kanan Diba di perban
"Hanya tergores pecahan kaca ketika membereskan manguk yang pecah karena ulahku"
El mengacak rambut Diba. Dan tentu saja mendapatkan perotesan dari sang pemilik.
"Makanya lain kali berhati hatilah. Dasar ceroboh"
"Iyah iyah. Sudah sana pergilah. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi"
"Apa hubungannya denganku? Kau bersekolah kenapa aku yang harus memperdulikan bel sekolah"
"Sudahlah kakak pergi saja. Dah"
"Kau yang mengusirku, tapi kau yang pergi"
El menggeleng melihat Diba yang berlalu pergi seraya melambaikan tangannya. Langkah Diba yang pincang dan sedikit menyeret kaki kirinya, membuat El mengernyit penasaran. Ada apa dengan gadis itu?
-
Diba berjalan menuju Amel yang tidak jauh dari gerbang. Ia memberikan buku yang tadi di titipkan El padanya.
"Hei, ada apa dengan kakimu? Kau berjalan pincang?"
"Ah, hanya tidak sengaja menginjak pecahan kaca"
"Tanganmu?"
"Tergores pecahan kaca"
"Menyakitkan?"
"Sedikit"
Amel hanya mengangguk seraya meringis membayangkan luka yang miliki sahabatnya itu, bahkan ia tidak tahu separah apa luka itu, tapi seakan ia bisa merasakan sakit dan linu nya melihat cara jalan Diba yang sesikit menyeret kakinya.
"Sini ku pegangi"
Amel meralih memegangi tangan kiri Diba untuk membantunya menumpu tubuhnya.
"Terima kasih"
Amel hanya mengguk dan tersenyum, keduanya berjalan menyusuri koridor yang masih ramai. Seperti biasa, tidak ada yang memperhatikan keduanya sampai akhirnya seseorang menabrak Diba dari belakang dengan keras, membuat gadis itu terhunyung kedepan terlepas dari Amel dan jatuh dengan tangan keduanya sebagai tumpuan.
Diba meringis merasakan nyeri di telapak tangannya yang berbenturan keras dengan lantai. Sebelah lututnya juga ikut merasakan nyeri, yang ia yakini akan membiru. Dan ingatlah dengan semua siswa yang kini telah menatapnya. Apa lagi dengan kehadiran Arkan di sana. Beberapa bisikan mulai terdengar di telinganya.
"*Gadis itu lagi"
"Si miskin yang malang"
"Selalu mencari gara gara"
"Dia selalu mencari perhatian Arkan"
"Si bodoh itu tidak pernah jera*"
Dan beberapa bisikan lainnya yang kebanyakan menyudutkannya.
Diba langsung berusaha bangkit dengan bantuan Amel. tidak ingin lebih mempermalukan diri, apa lagi setelah mendengar nama Arkan di sebutkan tadi. Penderitaannya hari ini akan di mulai. Diba benar benar tidak sedikit pun berharap tidak akan lagi menjadi bullyan Arkan di sekolah karna ia telah tinggal satu atap bersamanya.
"Ma-maaf kak"
Diba menatap seorang pemuda dengan kaca mata kotak membingkai wajah yang menurut Diba tampan walau pun terlihat culun karna baju yang di kancing sampai atas dan rambut yang rapih khas Nerd.
Ia mengangguk dan sedikit tersenyum pada pemuda yang menabraknya dengan tumpukan buku yang kini berhamburan di lantai. Walau pun Diba tahu jika pemuda yang ia tebak adalah adik kelasnya itu menunduk takut. bukan kepadanya, melainkan Arkan yang berdiri di sebelahnya.
"Kau pergilah"
Pemuda itu mengguk dan berjalan mundur menuruti perintah suara datar nan dingin di sebelahnya.
"Kau! Rapihkan buku itu kembali dan ikuti aku"
Arkan melangkahkan kaki jenjangnya melewati Diba yang langsung berlutut untuk merapihkan buku yang berserakan di bantu Amel tentu saja. Lebih dari 10 buku dengan berbagai judul yang berbeda dan lumayan tebal kini berada di tangan Diba.
"Biar aku membantumu"
Amel baru akan mengambil beberapa buku dari tangan Diba sebelum gadis itu mengeser tangannya dari hadapan Amel.
"Tidak perlu, aku bisa membawanya sendiri"
"Tapi itu berat Di, tangan dan kakimu sedang terluka"
"Tidak apa. Dari pada kau terkena juga"
"Tapi Dib-"
"Jangan terlalu khawatir padaku Amel"
"Tapi kau yang selalu membuatku khawatir"
Diba terkekeh melihat wajah sebal Amel. Beberapa siswa yang masih berada di sana terkejut melihat Diba yang terkekeh ringan, pemandangan langka mengingat Diba yang pendiam dengan wajah tenangnya. Begitu cantiknya melihat gadis yang mereka tahu karna selalu jadi bullyan Arkan itu tersenyum tanpa beban, apa lagi di kalangan kaum Adam yang tidak kunjung memalingkan tatapannya dari wajah Diba.
"Sudahlah, aku harus segera pergi mengejarnya sebelum dia marah lagi padaku"
Diba berlalu dengan kaki yang ia paksakan berjalan cepat menyusul Arkan yang sudah jauh di depannya. Sedikit meringis merasakan nyeri di kaki dan tangannya, akan tetapi ia tetap memaksakan langkahnya menyusul Arkan yang berbelok menuju perpustakaan.
Diba meletakan buku yang ia bawa dimeja penjaga.
"Aku mengembalikan semuanya"
Tasya, penjaga perpustakaan menatap Arkan dan Diba yang tampak kelelahan bergantian.
Diba yang merasa tidak enak pun pamit dan berlalu dari hadapan keduanya.
"Kau tidak memperhatikan atau tidak perduli dengan langkahnya seperti itu?"
Tasya memeriksa buku yang di bawa Diba tadi dan buku catatannya sendiri.
"14 buku. Itu tidaklah ringan"
"Apa perduliku?"
Tasya mendongak menatap Arkan dari balik kaca mata tebal miliknya yang menjawabnya dingin. Ia kembali memeriksa buku buku di mejanya sekarang.
"Masih karna masalah dulu?"
"Bukan urusanmu"
Tasya menghela nafas mendapat jawaban sakras dari Arkan. Ia menatap Arkan yang berdiri di hadapannya tanpa menapnya.
"Aku ingatkan padamu. Dia tidak tahu apa apa Arkan, hanya kesialanya karna memiliki wajah yang mirip dengan 'Dia'. Bukankah kau melihatnya sendiri bahwa sikap dan wataknya tidak sama dengan 'Dia'. mereka berbeda? Berhentilah Arkan, sebelum kau menyesali semuanya"
Arkan mendengus dan menatap tajam Tasya yang masih menatapnya tenang.
"Bukankah aku sudah mengatakan jika ini bukan urusanmu. Urusi saja urusanmu. Beritahu aku jika ada yang kurang nanti"
Arkan melenggang pergi meninggalkan perpustkaan dengan langkah panjangnya. Meninggalkan Tasya yang menghela nafas panjang menatap kergian Arkan.
"Kau hanya perlu menyadarinya Arkan"