Little Do You Know

Little Do You Know
SAHABAT IBU



"Adiba kau dari mana saja? Kau ingin membunuhku, hah? Sudah dua hari kau mengilang. Aku tidak bisa menemukanmu di sekolah, di minimart, juga di rumah sakit pun aku tidak menemukanmu. Apakah aku harus bermalam di rumahsakit seperti sekarang untuk bisa menemuimu? Apa yang terjadi padamu? Apa yang sedang kau pikirkan? Harusnya kau menjaga Ibumu. Kenapa kau pergi tanpa memberitahu siapa pun? Astaga Diba, aku dan kak Delta hampir mati karena kau"


Adiba mengerjap beberapa kali. Ia mencoba mencerna setiap kata yang ia tangkap dari ucapan Amel yang panjang dan cepat itu. Diba merasa sangsri jika ia mendegar semuanya. Sekarang Ia malah meringis melihat temannya yang cerewet ini tengah terengah engah selepas berbicara panjang × lebar ×tinggi ×luas keseluruhan. Ingin rasanya ia bertepuktangan dengan bakat temannya itu jika saja ia tidak melihat situasi sekarang.


"Kau khawatir padaku?"


Hanya itu yang mampu di pahami oleh otaknya, membuat Amel gemas sendiri. Amel mengakat tangan dan mengepalkannya di hadapan wajah Adiba yang memang sedikit lebih pendek darinya, Amel juga mengatukkan giginya, sedangkan Diba meringis dibautnya.


"Kau... menyebalkan"


Diba semakin dibuat heran, apa lagi melihat Amel yang langsung pergi dari hadapannya setelah mengatainya menyebalkan. Apa yang salah dengannya?. Diba tersentak ketika merasakan dingin di pipinya, reflek ia menjauhkan pipinya dan langsung memalingkan wajahnya. Di lihatnya sebuah minuman kaleng mengantung di hadapannya, ia pun memiringkan wajahnya, lalu tersenyum ketika mendapati wajah tampan Delta yang terhalang kaleng minuman di hadapannya, tidak tertinggal dengan senyum manisnya. Diba meraih kaleng tersebut yang langsung di tarik kembali oleh Delta.


"Aku tidak ingin melihat darah menetes keminuman ini"


Delta menyerahkan kaleng minuman yang telah ia buka pada Diba yang semakin mengembangkan senyumnya. Adiba memang Tidak bisa membuka kaleng minuman sendiri jika tidak maka jarinyalah yang akan terluka.


"Terima kasih kak"


El mengangguk dan mengacak rambut Diba gemas, lalu keduanya duduk di kursi yang disediakan pihak rumah sakit. Tidak lama berselang, Amel datang dengan kantong belanjaan yang berisi beberapa makanan di tangannya. Ketiganya makan dengan di selingi canda gurau dan tawa, bahkan mereka sampai mendapat teguran dari beberapa suster yang melintas.


El menghentikan kegiatannya sejenak ketika merasakan ponselnya bergetar. Ia menjawab panggilan telpon itu seraya memperhatikan dua gadis di sebelahnya yang tengah tertawa.


"Apa anda keluarga dari Ibu Riri?"


"Ya benar, ini dengan siapa? Dan ada apa ya?"


"Saya dari pihak rumah sakit tempat Ibu Riri dirawat, saya ingin mengabarkan jika saat ini Ibu Riri tengah dalam keadaan kritis. Beliau baru saja di bawa ke ICU."


"Ba-baik. Saya sedang berada di rumah sakit juga saat ini. Saya akan kesana segera"


Sambungan telpon terputus. El menatap kedua gadis yang juga tengah menatapnya penuh tanya.


"Kita harus ke ICU sekarang, ibumu sedang dalam keadaan kritis"


*****


Adiba menatap kosong gundukan tanah merah di hadapannya. Bunga yang baru saja selesai ia tabur terlihat segar menutupi bunga layu yang selalu ia tabur 3 hari belakangan berturut turut. Hampir 2 jam sudah ia duduk melamun disana, tidak memperdulikan rintik hujan yang mulai menderas di pagi hari seperti ini. Suara petir pun tidak cukup untuk menggerakan tubuh yang semakin kurus dan melemeh itu.


RIRI RIANITA. Nama yang tertera pada papan putih di ujung gundukan yang memandajang itu. Nama yang tidak pernah hilang di ingatan, pikiran, dan hati gadis cantik itu. Senyumnya, marahnya, khawatirnya, tangisnya, ketegarannya selalu menjadi kenangan yang paling Diba rindukan. Selalu, selalu ingin mengulang semuanya bersama sang ibu.


Perlahan air matanya kembali membasahi pipinya yang pucat. Tidak ada pesan terakhir atau pun senyum yang ia lihat untuk trakhir kalinya sebelum sang ibu menutup mata Membuat dadanya semakin sesak. Jika saja Diba tahu waktunya bersama sang ibu sudah tidak lama lagi, ia tidak akan berkerja sampai larut malam, bahkan sampai membiarkan sekolahnya terbengkalai. Jika saja Diba tahu, ia akan terus bersama sang ibu tanpa pergi selangkah pun dari dekatnya. Jika saja ia tahu, ia akan lebih memperhatikan ibunya ketimbang kerjaannya. Ya! Jika saja ia tahu, mungkin ia sudah mempersiapkan diri dan tidak akan merasa sesedih ini dan merasa bersalah seperti ini.


Air mata bercampur air hujan yang semakin deras membasahi seragamnya, dan isakannya semakin keras bersamaan dengan petir yang saling menyambar, menenggelamkan tangisan pilu bagi orang yang mendengarnya. Seakan langit pun merasakan kesedihannya.


"M-maafkan Di-ba karn-na tidak men-nemani ibu kala i-i-tu"


Nafasnya semakin berat ketika berusaha berbicara.


Adiba beranjak dari tempatnya ketika merasa dadanya semakin sesak karena dingin yang kian menyiksanya.


"A-adiba pulang se-karang ya b-bu. D-diba har-us memas-ak untuk bap-ak. Assalamual-al-alaikum"


Adiba menghembuskan nafas sebelum membuka pintu rumah. Langkah kakinya perlahan membawanya menuju kamar yang selama ini ia tempati untuk mengganti seramnya yang basah. Setelahnya ia menuju dapur, di lihatnya makanan yang pagi tadi ia buat masih utuh tidak tersentuh. Diba menyelipkan rambutnya yang basah ke belakang telinganya sebelum mengambil semua makanan yang ada di meja dan memanaskannya.


15 menit berlalu, Diba telah menyelesaikan pekerjaannya. Setelah menyusun semuanya, ia pun menuju kamar orang tuanya untuk memanggil sang ayah yang pasti belum makan sedari pagi.


Tok tok tok


"Pak. Makan bareng Diba yuk"


Diba membuka pintu kamar itu karna tidak mendapatkan jawaban apa pun dari dalam sana. Ia mengernyitkan dahi karna tidak menemukan sang ayah di dalam kamar, ia kembali menutup pintu dan mencari ke kamar mandi juga halaman rumah seraya terus memanggil sang ayah, namun ia tidak menemukannya di mana pun. Diba kembali menuju dapur dan duduk di kursi memandangi makanan di hadapannya.


Tidak jauh berbeda dengannya, sang ayah pun merasa sangat kehilangan sosok Riri, istrinya. Diba tahu jika pria yang selalu ia panggil Bapak itu sangat menyayangi ibunya, walau pun terkadang dia selalu bertindak kasar pada sang Ibu. Ia selalu mendengar dari dokter dan perawat di rumah sakit selalu mengatakan jika ayahnya itu sering kali datang dan menemani sang ibu ketika ia sedang bekerja.


Diba menegakan tubuhnya dan beranjak menuju pintu depan ketika mendengar seseorang mengucap salam. Di lihatnya sang ayah yang memasuki rumah, akan tetapi ia tidak sendiri, melainkan bersama 2 orang lainnya.


"Bapak dari mana saja? Kenapa Bapak tidak makan terlebih dahulu tadi?"


Efendi memandang putri semata wayangnya itu sejenak, mata dan hidung yang memerah. lalu tersenyum dan mendekati Diba.


"Bisa tolong buatkan minum untuk tamu kita?"


Diba mengamati 2 tamu yang sepertinya pasangan suami istri, Ia mengernyit, merasa tidak asing melihat sajah sang wanita yang juga membalas tatapannya dan tersenyum.


"Diba?"


Diba menatap Bapak-nya dan mengerjap beberapa kali, membuat bapaknya kembali tersenyum. Lalu ia mengangguk dan beranjak menuju dapur. Tidak lama ia kembali ke ruang tamu dan menyimpan minuman yang di buatnya di hadapan tamu.


"Jadi ini yang namanya Adiba? Kemarilah. Cantik selali, persis seperti Riri ketika muda dulu"


Adiba menyunggingkan senyum ketika wanita yang sepertinya seumuran ibunya itu menarik tangannya dengan antusias dan menuntun Diba untuk duduk di tengah tengah mereka. Ia sedikit mengamati wanita itu, merasa tidak asing dengan wajah dan senyuman itu.


"Ah! Kau pasti bingungkan?"


Diba kembali mengunggingkan senyum kakunya.


"Perkenalkan, namaku Elmira, kau bisa memanggilku tante Mira dan ini suamiku kau boleh memanggilnya om Dimas. Aku sahabat ibumu dari semenjak smp dulu"


Diba memberalak dan langsung melepaskan kalung liontin yang ia kenakan di balik pakaiannya, Ia memberikannya pada Mira. Mira menerimanya denagn senang hati, dia pun mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan mengeluarkan kalung liontin yang sama persis dengan milik Diba.


"Ibumu masih menyimpannya ternyata"


Diba memperhatikan kedua kalung yang tampak mirip itu, perhatiannya beralih pada wanita paruh baya di sebelahnya. manik mata indah milik Mira menatap foto di liontin itu penuh dengan kerinduan yang mendalam. Diba mengerti, ia tau bagai mana rasanya merindukan seseorang yang sangat ingin kita temui. Ia memeluk Mira dari pinggir, membuat Mira tersentak dan buru buru mengusap air matanya yang entah sejak kapan telah mengalir di pipinya, lalu membalas pelukan Diba erat.


moment itu tidak lepas dari perhatian kedua pria dewasa di sana. Dimas mengelus kepala anak gadis di pelukan sang istri dengan sayang, kedua perempuan itu tengah menyalurkan perasaan mereka satu sama lain.


"Nak Adiba"


Kedua perempuan cantik itu melepaskan pelukan mereka. Diba kini beralih pada Dimas yang masih mengelus kepalanya.


"Mulai hari ini kamu akan tinggal bersama kami"