
Bel tanda istirahat beru saja berbunyi. Diba menelungkupkan kepalanya di antara tangan yang ia lipat di atas meja. Kepalanya terasa berat saat ini.
"Di, mau nitip sesuatu?"
"Air mineral saja"
Amel mengangguk dan beranjak menuju kantin. Diba tidak pernah menginjakan kakinya lagi di kantin setelah ia menjadi bahan bullyan Arkan. Terlalu menyakitkan menurutnya mendengar bisikan tajam dari beberapa siswa penggemar Arkan.
Suasana kelas yang ricuh berubah sepi seketika. Diba yang merasa aneh pun mendongakan kepalanya, alangkah terkejutnya ia ketika mendapati Zaki kini berada didepannya.
"Zaki"
Zaki tersenyum lembut dan mengelus kepala Diba. Sedangkan gadis itu refleks menjauhkan kepalanya ketika merasakan usapan dipucuk kepalanya.
"A-ada apa?"
Ah sungguh Diba merasa was was sekarang. Karna biasanya dimana ada Zaki maka di situ ada Arkan dan Arsen. Gadis itu mengedarkan tatapannya keseluruh penjuru kelas, tapi yang ia dapatkan hanya para siswa kelas yang menatapnya tidak percaya. Hampir semua siswi menahan nafasnya karena Zaki menangkup pipi Diba, mengarahkan gadis itu untuk menatapnya.
"Aku sendiri. Tidak ada 'dia' bersamaku sekarang ini"
Keduanya saling bertatapan. Seolah mencari sesuatu di balik netra masing masing. Jujur saja, Diba bingung dengan yang terjadi saat ini. Bagai mana tidak, Zaki salah satu the most wanted sekolah tiba tiba berdiri di hadapannya, menangkup pipinya, dan menatapnya begitu intens. Astaga jantungnya benar benar tidak bisa tenang di dalam sana. Debaran jantungnya begitu cepat sampai ia merasakan nyeri dan sensasi lain yang sulit ia jelaskan.
"Diba"
Entah sejak kapan suara Zaki begitu merdu di telinganya ketika menyebutkan namanya.
"Di"
"Y-Ya"
"Adiba"
Diba mengernyit, sepertinya Zaki tidak mendengarnya menjawab.
"Ya Zaki"
"Diba bangunlah. Ayo bangun-".
"BANGUN WOY"
Diba tersentak. Segera ia menegakan tubuhnya dan celingukan mencari keberadaan Zaki. Akan tetapi yang ia dapatkan hanya Amel dan kelas yang kosong. Ia menghela nafas dan sedikit tersenyum.
"Kau sakit"
"Tidak"
"Wajahmu memereah"
Diba menangkup pipinya sendiri yang terasa menghangat. Ingatannya kembali pada kejadian dalam mimpinya barusan.
Amel menatapnya selidik, sekaligus bingung dengan yang terjadi pada temannya ini.
"Kau baik baik saja?"
"Ah ya. Aku ketoilet dulu"
Diba berusaha sekuatnya pergi dari hadapan Amel. Langkahnya semakin pelan seiring menjauhnya ia dari kelas tempat Amel berada. Sungguh ia merutuki wajahnya yang memerah hanya karna mengingat mimpi sekilasnya. Benar benar mimpi indah.
Senyum simpul terus terpatri sepanjang koridor menuju toilet, otaknya terus saja memutar kejadian dalam mimpi itu tanpa jeda. Ah sepertinya ia mulai gila, atau tergila gila pada Zaki. Entahlah.
Sebuah tarikan kuat di bahu kiri menuntunnya untuk mundur beberapa langkah membuat punggungnya menabrak dinding dengan keras. Dan jangan lupakan kakinya yang di paksa melangkah dengan cepat. Diba meringis merasakan sakit di kaki dan punggungnya, juga bahu yang di tekan begitu kuat. Diba menundukan kepalanya melihat netra gelap itu kembali menatapnya tajam. Dan tentu saja pandangan dari siswa yang menyaksikan mereka. Ah lebih tepatnya melihat Adiba yang sebentar lagi menderita.
"Kau mengabaikanku?"
Diba hanya mengeleng pelan.
"Kau tidak merespon panggilanku"
Diba yang masih diam membuat arkan geram. Ia meremas bahu diba sedikit lebih kuat, sedangkan sang gadis hanya menggigit bibir dalamnya.
"A-aku tidak men-dengar-mu"
Arkan melepaskan tangannya dari bahu Diba. Ia menatap beberapa saat setelahnya menyunggingkan senyum miringnya.
"Ikuti aku"
Diba mengangguk lalu mengikuti Arkan yang berjalan cepat di hadapannya. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menyamakan langkah besar arkan yang kini berbelok memasuki kantin. Seisi kantin kini menatap keduanya penuh tanya. Arkan yang tidak pernah menampakan diri di kantin kini memasuki kantin, Di tambah dengan gadis yang selalu ia bully mengikutinya. Akan tetapi kebingungan mereka terjawab sudah ketika Arkan memberikan nampan berisi 3 juice dan piring berisi nasi goreng kepada Diba. Sedangkan Ia sendiri membawa kantung keresek berisi makanan ringan.
Keduanya keluar dari kantin, Diba benar benar tidak habis pikir, bagai mana bisa Arkan memberikannya nampan berat itu dengan keadaan tangan dan kakinya yang cedera. Dan Diba semakin terkejut melihat Arkan yang menaiki tangga saat ini. Bagai mana mungkin ia bisa menaiki tangga sekarang, tanpa membawa apa pun Adiba kesulitan naik turun tangga, apa lagi sekarang dengan nampan penuh. Jika oleng sedikit saja maka isi nampan itu akan berceceran di lantai tangga. Dan ia bisa menjamin jika Arkan tidak akan suka itu.
"Cepatlah"
Diba menelan ludah, ia merapalkan doa ketika menginjakan kakinya di undakan tangga pertama. Ingin rasanya Diba mengatai Arkan gila saat ini juga. Anak tangga pertama berhasil Diba taklukan. Tinggal berpuluh puluh anak tangga yang mungkin akan ia daki.
Langkah demi langkah Diba ambil dengan hati hati. Rasa sakit di kakinya ia tahan sekuat tenaga sampai akhirnya ia berhasil menginjak lantai Rooftop dengan selamat. Diba menjerit dalam hati. Arkan benar benar gila. 4 lantai harus ia lewati dengan keadaan seperti ini. Bahkan Diba bisa merasakan sepatunya yang kini terasa lembab dan kepalanya mulai berdenyut.
Arkan membuka pintu Rooftop dan menampakan 2 pemuda yang tengah berbincang di sisi lantai, tidak menyadari kedatangan keduanya. Sampai pada akhirnya Arsen mengalihkan tatapannya ketika sebuah keresek mendarat di sebelahnya. Ia mendapati kembarannya dan seseorang yang mendekat kearah mereka.
"Adiba"
Zaki memutar tubuhnya ketika mendengar nama itu di gumamkan Arsen. Diba sedikit tersenyum dan menundukan kepalanya. Arsen langsung mengambil alih nampan yang Diba bawa ketika menyadari langkah gadis itu yang sedikit menyeret kakinya.
"Kau tak apa?"
Diba menggeleng pelan.
Zaki ikut bangkit dan menghampiri Diba, ia menarik tangan Diba yang di perban.
"Apa yang terjadi pada tanganmu?"
"Ha-hanya tergores"
"Bagai mana bisa?"
Baru Diba akan menjawab, tapi Arsen lebih dahulu bertanya.
"Lalu ada apa dengan kakimu?"
Zaki berlutut di hadapannya.
"Biar aku lihat"
Diba yang terkejut melangkah mundur sebelum tangan Zaki meraih kakinya. Akan tetapi naas, tidak sengaja ia menginjak kerikil besar tepat di kaki kirinya, membuatnya hilang keseimbangan dan jatuh terduduk di hadapan Zaki. Zaki dengan segera bangkit dan mendekat pada Diba. Begitu pun dengan Arsen yang juga mendekati keduanya.
"Kau tidak apa apa?"
"Ya aku ba-sstt"
Diba meringis ketika mencoba berdiri. Zaki menahan pergerakan Diba, menyuruh gadis itu tetap dalam posisinya. Zaki membuka sepatu kanan yang di kenakan Diba.
"Yang kiri bodoh. Kau tidak melihat langkahnya tadi?"
Arsen memukul kepala Zaki gemas. Zaki hanya menatap Arsen sesaat, dan langsung membuka sepatu kiri Diba. Keduanya terkejut melihat telapak kaus kaki putih yang di kenakan diba kini berwarna merah pekat. Bisa di tebak jika tidak sedikit darah yang telah keluar dari telapak kaki itu.
"Apa yang terjadi? Bagai mana bisa seperti ini?"
Pekikan Arsen membuat Arkan penasaran. Pemuda itu pun bergerak mendekat, tapi belum sempat ia melihat apa yang terjadi Zaki sudah lebih dahulu berbalik dan mencengkeram kerah Arkan.
"Apa yang kau lakukan sampai membuatnya seperti itu?"
Arkan menaikan alisnya. Ia melirik gadis yang terduduk lantai kotor Rooftop, dan menaikan bahunya acuh.
"Ini bukan salah Arkan. Aku hanya mengalami kecelakaan kecil di rumah. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan Arkan"
Diba mencoba menjelaskan agar Zaki tidak salah paham.
"Di rumah?"
Diba mengangguk membenarkan ucapan Arsen.
"Bukankah seharusnya kau tahu? Tapi kenapa kau masih menyuruhnya menaiki tangga BODOH"
Zaki benar benar terlihat marah, ia mencengkram kerah baju seragam Arkan dengan kencang. Sedangkan Arkan hanya menatap Zaki datar. Diba yang hanya bisa menundukan kepala dan Arsen yang menghela nafas melihat tingkah keduanya.
"Dari pada berkelahi lebih baik cepat bawa Diba ke UKS atau Rumah sakit"
Lantang Arsen menatap jengah kedua pemuda yang begitu dekat dengannya itu. Ia memalingkan pandangannya menatap Diba seraya bergumam.
"Kalian ini bisa tidak kalau bodoh di tempat lain saja"
Diba yang terkejut dengan tindakan Zaki reflek melingkarkan tangannya di leher jenjang pemuda itu.
"Za-zaki! Aku masih bisa berjalan se-"
"Dengan keadaan kakimu yang seperti ini?"
Diba menundukan kepalanya tidak menjawab pertanyaan Zaki. Ia hanya mengeratkan tangannya. Takut melihat Zaki yang hanya meluruskan pandangannya dengan rahang yang masih mengeras.
"Maaf"
Zaki hanya mendengarkan cicitan gadis dalam pangkuannya, masih berpokus pada anak tangga yang ia pijak.
"Maaf karna telah menyusahkanmu"
"Dirimu"
Diba mendongak mentap zaki dari bawah. Rahang yang tegas, hidung bangir, bibir berwarna pink pucat, alis tebal dan ya! Mungkin tuhan sedang senang ketika menciptakan hambanya yang satu ini.
"Haa?"
Zaki berhenti sejenak. Ia melembutkan tatapannya kala menatap wajah cantik di pangkuannya.
"Kau menyusahkan dirimu sendiri, kau tau itu?"
Senyum tipis terbit di bibirnya tatkala melihat raut bingung dari Diba. Ia kembali berjalan menuruni setiap undakan anak tangga.
"Jika kau tidak bisa menghindari Arkan di sekolah, setidaknya tetaplah di rumah sampai kau baik baik saja"
"Aku baik baik saja"
"Lalu luka ini apa? Hiasan? Hm"
"Ini hanya luka kecil, aku bisa mengatasinya"
"Dan nyata kau membiarkannya berdarah"
"I-itu, aku tidak menyadarinya"
"Itu artinya kau tidak bisa mengatasinya"
Diba diam, ia tidak menjawab ucapan Zaki karna memang benar adanya. Ia belum bisa mengatasi dirinya sendiri. Dan juga karna sekarang Zaki mulai berjalan di lorong yang masih ramai karna bel masuk belum berbunyi. Diba mengeratkan pelukannya pada leher Zaki dan menelusupkan wajahnya pada dada pemuda yang tengah menggendongnya ini. Ia benar benar malu karena beberapa siswi membicarakan Zaki yang menggendong seorang Siswi yang tidak lain adalah Adiba selina.
"Kau akan membawaku kemana?"
"Rumah sakit"
"Itu berlebihan"
"Melihat lukamu yang seperti ini? Aku rasa tidak"
"Tapi-"
"Aku tidak menerima penolakan nona"
Zaki mendudukan Diba di kursi penumpang depan mobil Arkan. Setelah menutup pintu ia segera memutari mobil dan duduk di kursi pengemudi, memposisikan diri menyalakan mesin mobil dan menancap gas. Melesat membelah keramaian jalanan kota.
-
Arkan dan Arsen hanya mentap kepergian Zaki dan Diba yang telah menghilang dari pandangan keduanya. Arsen berjalan mendekati Arkan, ia menepuk pundak saudara kembarnya itu.
"Ku rasa itu keterlaluan?"
Arkan menaikan alisnya.
"Bukankah sudah biasa aku memperlakukannya seperti itu? Lagi pula aku tidak mengetahui lukanya"
"Apa kau tidak melihat cara berjalannya yang pincang?"
"Apa perduliku?"
"Berhentilah bersikap seperti ini Arkan. Mereka berbeda, kau tahu itu"
Arkan membuang muka seraya berdecih. Arsen berjalan kepinggir lantai dan duduk di tempatnya semula. Ia menatap punggung Arkan.
"Aku hanya tidak ingin kau menyesalinya di kemudian hari. Apa lagi melihat Zaki yang tidak main main dengan ucapannya"
Arkan berbalik, melipat kedua tangannya di depan dada dan menaikan alisnya.
"Apa perduliku"
Arsen tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Kau benar. Kau memang tidak perduli"
Arsen sedikit terkekeh dan kembali menatap Arkan lurus.
"Aku yang perduli. Karna aku juga menyukainya"
Masih dengan keadaan tenang, Arkan membalas tatapan Arsen tak kalah dinginnya. Entah apa yang sedang keduanya pikirkan. Akan tetapi jika di lihat dari tatapan keduanya. Bukanlah hal yang menyenangkan.
-
Diba menatap bingkisan dipangkuannya, beralih menatap Arsen yang duduk di soffa sebelahnya.
"Apa ini?"
"Lihat saja"
Diba membuka bingkisannya lalu mengeluarkan sebuah kotak dari dalamnya. Ia sempat terkejut mengetahui kotak apa itu.
"Ini?"
"Pakailah. Agar aku mudah menghubungimu"
"Tapi ini pastilah sangat mahal. Aku tidak mungkin bisa membayarnya"
Arsen menautkan Alisnya menatap Diba yang masih tidak percaya.
"Aku membelikan ponsel ini untukmu. Bukan ingin menjualnya padamu. Pakailah, tidak ada penolakan."
Diba tersenyum tulus. Ia benar benar tidak percaya bisa tinggal bersama keluarga yang sangat baik padanya, minus dengan Arkan tentunya.
"Cobalah pakai. Aku sudah memasukan No telponku, Ayah, Bunda, Arkan, dan Cindy kedalamnya"
"Kalau Zaki?"
"Kau menginginkannya?"
Diba mengangguk atusias.
"Baiklah akan aku masukan"
Arsen mengambil alih kotak handpone itu dari tangan Diba, ia mengeluarkan ponsel di dalamnya dan mulai sibuk mengutak atiiknya.
"Bagai mana dengan kakimu?"
"Baik, tadi Zaki membawaku kerumah sakit. Dokter bilang lukanya tidak terlalu parah kemungkinan satu minggu juga sudah pulih, tapi untuk sementara harus menggunakan tongkat dulu untuk berjalan agar tidak memberi beban pada lukanya"
Arsen memberikan ponsel itu kembali pada Diba. Dengan senang hati Diba menerimanya.
"Maafkan sikap Arkan yang tidak baik padamu. Aku tahu dia keterlaluan"
Diba menggeleng masih tersenyum.
"Tidak apa. Arkan memang tidak tau tentang lukaku"
Arsen tersenyum menatap Diba yang tengah sibuk dengan ponsel barunya. Ia tidak pernah menyangka jika ada manusia sebaik ini walau pun selalu di perlakukan buruk oleh orang lain. Arkan akan menyesal karna telah menyakiti dan menyianyiakan gadis sebaik ini hanya karna masalalunya dengan gadis lain. Sungguh tidak adil untuk Diba yang tidak tau apa apa tapi harus menanggung semuanya.
"Bertahan ya"
Diba menatap Arsen yang tengah mengusap kepalanya dengan polos.
"Mm?"
"Bertahanlah untuk menghadapi Arkan, aku yakin suatu hari nanti dia akan berubah padamu dan untukmu"
"Selama aku masih tinggal disini aku akan berusaha"