Little Do You Know

Little Do You Know
BERKUNJUNG



Pagi ini Diba telah bersiap dengan outfit sederhananya. Hanya sebuah jeans panjang berwarna hitam, kaus Putih polos dan cardigan hitam. Setelah memastikan ikatan rambutnya benar Diba bergegas turun menemui Zaki yang telah menunggunya di ruang tamu bersama Bunda, Cindy dan Arsen.


"Sekarang?"


Zaki mengangguk dan keduanya berpamitan.


"Hati hati dijalan ya. Maaf Bunda belum sempat kesana lagi, salam juga untuk ayahmu"


"Iyah bunda tidak apa apa. Nanti Diba sampaikan salamnya"


"Kak Diba, kalo kak Zaki macem macem telepon Cindy ya! Nanti aku teleponin kak Delta untuk kakak"


"Modus saja kamu, Jangan pulang malam malam, jaga Diba ya Zak"


"Baik kalau begitu kamu pamit, Bunda, Cindy, Arsen, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Diba dan Zaki berjalan keluar beriringan menuju motor Zaki yang di parkir dihalaman rumah.


"Arkan tidak ada?"


Zaki naik keatas motor dan memberikan helm pada Diba, yang langsung di terima dan di kenakan.


"Entah! Tadi pagi masih sarapan bersama"


Zaki memgangguk dan memakai helm fullpacenya. Diba naik dibantu Zaki dan keduanya segera menjauhi rumah, Arkan yang baru sampai sempat berhenti sebentar melihat Zaki yang pergi bersama Diba, sebelum akhirnya memasukan motornya kehalaman.



Setangkai bunga mawar putih Diba letakan di atas tanah pemakaman sang ibu. Tidak terasa sudah hampir satu bulan Riri meninggalkannya, kehidupannya memang telah membaik setelah tinggal dengan keluarga Ayah Dimas dan Bunda Elmira, mereka menjaga dan mencukupi kebutuhannya. Perihal ia yang masih bekerja itu keinginannya untuk mengisi waktu luang.


"Ibu apa kabar?"


Setelah berdoa Diba mencabuti beberapa rumput liar yang mulai tumbuh di bantu Zaki. Diba berbicara seakan Riri tengah bersamanya dan menjawab ucapannya.


"Maaf Diba baru kesini. Ini teman Diba, namanya Zaki, dia baik, pintar, dan sepertinya tampan"


Diba menahan tawanya ketika melihat Zaki yang menautkan alisnya bingung. Dengan wajah jenakanya ia bertanya.


"Kau tidak ingin memperkenalkan dirimu?"


"Ah, Assalamualaikum tante. Saya Zaki temannya Diba, maaf karna baru bisa berkunjung. Dan saya memang tampan bukan hanya 'sepertinya'".


Zaki menatap sinis Diba, membuat gadis itu terkekeh melihat tingkah Zaki yang tidak terima karna Diba tidak mengakui ketampanannya.


"Baiklah, Zaki memang tampan karna dia laki laki"


Diba semakin tertawa melihat Zaki yang cemberut dihadapannya. Ah, ekspresi seperti ini sangat jarang Zaki perlihatkan. Diba beruntung bisa melihat sisi lain dari Zaki.


Setelah dirasa cukup lama, akhirnya Diba memutuskan untuk pergi dari area pemakaman. Keduanya berjalan beriringan seraya berbincang.


"Kau betah tinggal bersama keluarga Arkan?"


Diba tersenyum dengan manisnya sebelum menjawab pertanyaan Zaki.


"Ya tentu. Mereka baik, ramah, Aku nyaman bersama mereka"


"Jika Arkan?"


"Entahlah. Aku tidak begitu mengenalnya. Selain dia dingin dan suka membullyku, aku tidak tahu lagi mengenai Arkan. Dia terlalu membatasi dirinya dariku, dan aku menghormati itu."


"Kau tidak ingin tahu kenapa Arkan selalu membullymu?"


"Tentu aku sangat ingin tahu kenapa dia melakukan itu padaku. Aku yakin jika Arkan memiliki alasan, tapi aku tidak tau apa itu"


"Karna masa lalunya berkaitan denganmu"


Diba menghentikan langkahnya, tentu di ikuti Zaki yang juga berhenti dan menatap Diba yang tengah menatapnya bertanya.


"Kau bercanda? Aku baru bertemu dengannya ketika masuk sma kalian tahun lalu, bagai mana bisa aku berkaitan dengan masa lalunya"


Diba menggelengkan kepalanya seraya tersenyum dan melanjutkan langkahnya. Zaki menatap Diba yang berjalan dihadapannya, benar apa yang dikatakannya. Diba tidak ada kaitannya dengan mereka. Hanya saja nasibnya yang buruk karna harus bertemu dengannya dan kedua temannya diwaktu yang salah.


Zaki dan Diba meninggalkan pemakaman. Tujuan selanjutnya adalah rumah ayah Diba, Effendi. Sebelumnya Diba menyempatkan mampir keminimart tempatnya bekerja dulu. selain untuk membeli makanan sebagai buah tangan untuk Effendi, juga untuk bertemu Delta tentunya.


Setelah memarkirkan motor, keduanya memasuki toko dan langsung di sambut oleh sapaan Amel.


"Selamat siang, selamat berbelanja di mini-..."


Diba dengan segera menempelkan telunjuknya dibibir sebelum Amel meneriakan namanya dengan keras. Ia menghampiri Amel di meja kasir, sedangkan Zaki telah berkeliling mencari sesuatu yang ia inginkan.


"Kau dari mana bersama Zaki?"


"Pemakaman. Kak El dimana?"


"Di bagian minuman tengah membereskan susu kotak"


Diba mengangguk dan menaikan alisnya jenaka. Amel yang mengerti hanya menggelengkan kepalanya melihat Diba yang pergi menemui kakaknya tersayang.


Diba berjalan perlahan dibelakang Delta yang tengah membereskan minuman kotak disebelah lemari pendingin. Setelah dekat Diba sedikit berlari dan melompat kepunggung Delta yang setengah membungkuk.


"Hayo kak El sedang apa"


"Astagfirullah"


El yang terkejut hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya. Beruntung tangannya dengan cekatan memegang rak dihadapannya, menahan tubuhnya yang hampir terjatuh karna tingkah konyol Diba. Setelah tenang ia menegakan tubuhnya membuat menghentikan aksinya yang tengah menertawakan Delta dan Diba melingkarkan tangannya pada leher Delta karna hampir merosot dari punggungnya.


Delta menahan kaki Diba agar tidak jatuh, kemudian ia melihat pada kaca lemari pendingin yang memantulkan bayangan keduanya.


"Kau ini senang sekali mengejutkanku"


Diba menunjukan deretan giginya yang rapih, terlihat lucu dengan mata yang terpejam dan pipi yang naik karna senyum lebarnya. El menarik hidung Diba yang berada di sebelah wajahnya dengan gemas.


"Kau merindukanku adik manis?"


"Ya, aku rindu menjahilimu"


Delta menurunkan Diba kemudia berbalik agar keduanya berhadapan dan Delta memeluk Diba erat. Ia sungguh merindukan gadis cantik dihadapannya ini. Diba yang telah berteman lama dengan Amel dan sipat keduanya yang selalu bermanja pada dirinya membuat Delta tidak lagi membedakan Amel dan Diba.


"Kau dari mana? Dengan siapa?"


"Dari pemakaman dengan temanku"


"Kau memiliki teman selain Amel?"


Diba mengangguk. Ia membuka lemari pendingin dan mengambil benerapa minuman, kemudian beralih pada snack di rak belakangnya.


"Iyah. Dia teman sekolahku, orangnya baik juga"


"Kau yakin?"


Diba berbalik menatap Delta yang lebih tinggi darinya, ia dapat melihat dengan jelas raut wajah khawatir dari pemuda yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Diba tersenyum dan memberikan beberapa bungkus camilan pada Delta karna tangannya telah penuh dengan botol minuman. Sangking tidak sabarnya untuk bertemu Delta ia sampai lupa dengan tujuan awalnya, dan keranjang pun tidak ia bawa.


"Tenanglah kak. Dia benar benar baik. Amel juga mengenalnya. Kau tidak perlu khawatir denganku"


"Bagai mana aku tidak khawatir. Kau berada jauh dari jangkauanku, tentu aku mengkhawatirkan dirimu"


"Aku akan berusaha menjaga diriku dengan baik. Lagi pula disana banyak yang sayang padaku, aku yakin mereka juga akan menjagaku. Sudahlah ayo, aku harus pergi kerumah Bapak sebelum terlalu sore"


Diba memarik Delta menuju kasir. Dimana Amel tengah menghitung belanjaanya Zaki.


"Totalnya 39.000"


Setelah Zaki membayar belanjaanya kini giliran Diba yang meletakan belanjaanya dimeja kasir.


"Aiss. Kenapa tidak menggunakan keranjang? Kau ini"


Diba hanya menunjukan deretan giginya pada Amel yang menatapnya sebal.


"Lupa"


Delta menahan camilan milik Diba yang memenuhi meja kasir agar tidak jatuh.


"Kau terlalu bersemangat menemuiku sampai lupa membawa keranjang. Menyusahkan saja dasar."


"Is. Kak El ini seperti tidak senang bertemu denganku"


El mengusap kepala Diba gemas. Gadis ini benar benar telah membuatnya merasa memiliki 2 adik perempuan.


Sedangkan Zaki hanya menonton interaksi antara ketiga manusia dihadapanya. Sedikit terkejut dengan sisi lain Diba yang baru ia ketahui.


"Sudahlah berapa total punyaku?"


"Buru buru sekali?"


"Aku sudah lama tidak bertemu bapak"


"Aku juga terakhir kesana ketika mencarimu sebelum tahu kau pindah"


"Aku juga terakhir bertemu ketika meninggalkan rumah. Ah aku sungguh merindukan Bapak mel"


"Cepatlah temui dia kalau begitu. Mungkin dia akan memintaimu uang, hahaha"


"Aku sudah menyiapkannya"


Delta yang tengah menghitung belanjaan Diba hanya menyimak percakapan kedua gadis itu. Pun dengan Zaki yang setia berdiri disebelah Diba.


"Ini belajaanmu"


"Aku yang bayar. Hitung hitung hadiah ulang tahunmu"


Diba mengecek ponselnya untuk memastikan tanggal berapa hari ini.


"Tapi itu minggu depan"


"Tak apa. Aku takut melupakannya"


"wah terima kasih. Harusnya sering sering kak El mentraktirku"


"Kau ini"


Diba mengaduh kesakitan ketika Delta menjitak kepalanya cukup keras.


"Aku tidak akan memberikan mu hadiah apa pun"


"Ah Amel, kau selalu seperti itu"


Diba memajukan bibirnya beberapa senti. Terlihat menggemaskan bagi mereka yang melihatnya.


Diba melirik Zaki yang hanya diam sedari tadi. Mungkin pemuda itu merasa tidak nyaman.


"Terserah padamu. Aku harus pergi, daaah"


Zaki mengikuti Diba yang menariknya keluar minimart. Keduanya menaiki motor lalu melaju kembali ke jalan raya.


"Kapan kau berulang tahun?"


"Tanggal 7 besok"


"Kau tidak memberi hatuku?"


"Untuk apa? Lagi pula aku tidak pernah merayakannya"


"Kenapa?"


"Aku tidak memiliki waktu untuk itu. Terkadang ibu, Amel dan kak El yang memgucapkan selamat dan mendoakanku. Selebihnya hanya hari biasa menurutku"


"Kalian sangat dekat ya"


"Maksudmu Amel dan kak El?"


Zaki mengangguk.


"Amel itu temanku waktu aku masuk sd dan sampai sekarang. Sedangkan kak El adalah kakaknya Amel, dulu aku sering bermain kerumahnya Amel, jadi sering bertemu kak El dan menemani kami bermain. Kak El juga sering memgantarkan aku pulang, dia benar benar kakak yang baik"


Zaki kembali mengangguk tidak melanjutkan percakapan mereka. Jujur saja Zaki merasa iri pada El karna dia lebih dahulu mengenal Diba. Mendengar bagai mana Diba menceritakan Delta dengan semangat tadi membuatnya sedikit kesal. Cemburu? Mungkin saja. Tidak ada lagi percakapan diantara keduanya sampai akhirnya sampai ditujuan.


Diba yang baru akan melangkah menuju rumahnya ketika seseorang memanggilnya.


"Kak Diba"


Diba berbalik dan menemukan seorang gadis seumuran Cindy yang langsung menghambur kepelukannya.


"Eh, Lita, apa kabar"


"Baik, kakak apa kabar? Setelah kakak pergi aku jadi tidak memiliki teman curhat lagi. Aku ingin menghubungimu tapi tidak tahu no mana yang harus aku hubungi. Ah kakak ternyata menyebalkan"


Diba terkekeh mendengar penuturan gadis yang masih setia memeluknya ini. Entahlah, ia merasa bingung, bagai mana bisa dirinya di kelilingi oleh orang orang yang mampu berbicara dengan cepat sedangkan dirinya sendiri jarang mengerti dan menangkap semua yang mereka ucapkan. Diba melepaskan pelukan mereka dan menatap Lita dengan senyum.


"Maafkan kakak karna baru berkunjung, sebagai permintaan maaf aku akan memberikan no ponselku padamu agar kau bisa mengoceh sesukamu lagi"


"Kakak sudah memiliki ponsel sekarang?"


Diba mengangkat tangannya yang sedari tadi memegang ponselnya. Lita memberalakan mata dan menggapai tangan Diba.


"Wah, bahkan ini sangat bagus. Pasti sangat mahalkan?"


"Sepertinya memang mahal, bisa dibilang aku bisa mendapatkannya sebagai hadiah"


"Waaahh, kakak beruntung sekali, Aku iri padamu. Kira kira berapa ya harganya?"


"Mm, entahlah. Zaki, kau tahu berapa harga ponselku?"


Zaki mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap Diba yang bertanya padanya. Sedikit berpikir karna dia terlalu memperhatikan ponselnya sehingga tidak begitu mendengarkan. Diba yang menyadari kembali mengulangi pertanyaannya.


"Kau tahu harga ponselku?"


"Mm entahlah, aku tidak yakin"


Diba kembali menatap Lita dan mengangkat bahunya.


"Dia kekasihmu?"


"Temanku, Zaki namanya"


"Apa ponsel ini darinya?"


"Bukan, ini dari sodara angkatku"


"Laki laki?"


"Ya"


"Apa dia tampan?"


"Tentu"


"Seumuran denganmu?"


"Kami satu angkatan"


"Waah, boleh aku berkenalan dengannya?"


"Tentu akan aku kenalkan padamu"


"Boleh aku meminta no ponselnya?"


"Entahlah"


"Ayolah"


"Sebelum itu lebih baik kau memasukan no ponselmu terlebih dahulu"


Diba menyerahkan ponselnya dan di terina oleh Lita dengan malu dan membuka slock screen dan menuliskan no nya


"Kakak tidak mengunci ponselmu dengan password?"


"Tidak hanya merepotkan saja"


"Bagai mana jika ada yang membuka ponselmu"


"Tidak ada yang istimewa dengan ponselku"


"Jika ada yang menggunakannya tanpa sepengetahuanmu"


"Biarkan saja"


Lita mengenbalikan ponsel itu pada pemiliknya.


"Terserah padamu"


"Sudahlah. Karnamu aku jadi membiarkan temanku menunggu dimotornya"


"Ah sebentar, aku akan memanggil ibu dulu sebentar"


"Eh"


Diba hanya menatap bingung pada Lita yang telah berlari menuju rumahnya. Ia beralih pada Zaki yang masih berfokus pada ponselnya.


"Kau memotretku?"


Zaki mematikan ponselnya dan segera memasukannya kedalam kantong jaket yang ia kenakan. Dia berjalan mendekati Diba yang masih diam di tempatnya bersama Lita tadi.


"Aku tidak tahu jika kau akan bisa sepercaya diri ini"


"Kau memegang ponsel seperti sedang mengambil gambarku"


Zaki menggelengkan kepalanya dan tersenyum


"Kau terlihat berbeda jika berada di luar area sekolah"


"Maksudmu"


"Di sekolah kau adalah gadis pintar yang pendiam. Tapi diluar kau adalah gadis aktif yang ceria dan banyak bicara apa lagi jika sudah bersama temanmu"


"Kau tahu alasanku"


"Akan aku pastikan tidak akan ada yang mengganggumu"


"Terima kasih untuk semuanya"


Keduanya saling bertatapan dan melempar senyum satu sama lain untuk beberapa saat sampai seseorang memanggil Diba dan membuat keduanya memutuskan kontak mata dan berpaling dengan malu malu.


"Adiba"


"Tante Ima"