
Diba yang tengah menayandarkan punggungnya ditembok luar restoran dengan tangan yang ia lipat didada dan tatapan kosong yang terus mengarah pada kakinya. Kepalanya tengah penuh dengan hal hal membingungkan yang tengah ia pikirkan. Setelah kembali dari rumah orangtuanya tadi siang Diba menjadi diam, sering melamun dan kehilangan fokusnya ketika bekerja. Karena apa yang dikatakan Tante Ima benar benar membuatnya bingung sekaligus tidak mengerti dengan jalan fikir ayahnya sendiri.
*FLASHBACK ON
"Adiba?
Adiba dan Zaki kompak melirik Lita dan seorang wanita paruh baya yang memanggil Diba tadi, tengah berjalan cepat kerah mereka.
"Tante Ima"
Diba yang baru menyadari siapa wanita itu langsung memeluknya erat ketika wanita bernama Ima itu telah berdiri dihadapannya. Tante Ima membalas pelukan Diba tak kalah erat dan tangannya mengelus kepala dan punggung Diba lembut.
"Apa kabar nak?"
"Alhamdulillah Baik tante, tante juga baikkan disini?"
"Alhamdulillah Baik juga sayang. Gimana disana? Betah?"
Diba melepaskan pelukan mereka, ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Diba betah banget disana. Keluarnga Bunda Mira baik dan sayang sama Diba, mereka juga sangat perhatian pada Diba"
Tante Ima menangkup sebelah pipi Diba dan mengelusnya dengan ibu jarinya secara halus. Senyumnya terus mengembang melihat Diba yang bercerita dengan semangat.
"Alhamdulillah kalau begitu. Kamu kesini ada perlu apa?"
"Ingin bertemu Bapak. Sudah lama Diba pergi dari rumah dan belum berkunjung"
"Bapakmu tidak menghubungimu?"
Diba menggeleng polos
"Dia bilang akan memberitahumu nanti. Tapi sampai sekarang dia belum mengabarimu?"
Diba menautkan alisnya tampak bingung.
"Memangnya ada apa dengan bapak tante?"
"Setelah kamu pergi tiga hari kemudian Bapakmu juga pergi. Dia menitipkan kunci rumah, katanya takut kamu pulang untuk mengambil barang barangmu. Ketika tante tanya dia akan pergi kemana yang dia katakan 'Hanya ingin memenuhi kewajiban dan menjauhkanmu dari masalah yang mungkin bisa bapakmu timbulkan dia juga mengatakan akan menghubungi nanti dan memberitahumu alasan dia pergi*"
FLASHBACK OFF
Diba sangat terkejut dengan penuturan Ima. Ayahnya sama sekali tidak memberi tahu perihal kepergian dirinya. Bahkan sepertinya Efendi juga tidak memberi tahu tante Mira atau Om Dimas, mengingat tadi pagi Tante Mira menitipkan salam kepadanya.
"Kau tidak pulang?"
Diba terperanjat ketika Rara menepuk pundaknya pelan.
"Apa aku mengejutkanmu? Maaf"
"Tidak apa kak. Aku hanya sedang melamun tadi"
Diba tersenyum kala melihat Rara yang juga terkejut ketika ia terkejut tadi dan merasa bersalah karna telah mengejutkan Diba.
"Dari tadi aku perhatikan kau lebih sering melamun dan kurang fokus dalam bekerja, tidak biasanya. Kau ada masalah?"
"Ya, hanya sedikit masalah yang menggangguku"
"Apa kau baik baik saja?"
Terlihat jelas raut kekhawatiran diwajah cantik Rara Ketika bertanya.
"Ya! Aku baik. Kakak tidak perlu khawatir"
"Ah baiklah! Mm, Kau tidak dijemput temanmu itu?"
Rara sedikit mengeringkan matanya dan sedikit menekan kata "teman" membuat Diba tersenyum malu
"Apasih kak. Dia sedang ada urusan jadi tidak bisa menjemputku"
"Kalau begitu aku saja yang mengantarkanmu"
Rara dan Diba mengalihkan pandangan mereka secara bersamaan kearah Allan yang entah sejak kapan berada di sebelah mereka.
"ASTAGFIRULLAH"
"YA ALLAH"
Refleks keduanya memukul pundak Allan bersamaan, membuat Allan mengaduh sakit.
"Ais. KDRT ini namanya"
Rara dan Diba hanya memutar bola mata dan kembali sibuk mengobrol berdua. Allan menghela nafas karna tidak dihiraukan.
"Kau ingin aku antar?"
"Tidak terima kasih"
"Lebih baik kamu di antarkan Allan saja."
"Tidak perlu, lagi pula rumahku dekat dari sini. Sebelumnya aku juga selalu pulang sendiri, Kak Rara juga tahukan"
"Iyah aku tahu, tapi apa salahnya jika Allan mengantarkanmu"
"Benar, kenapa kau selalu menolak bantuanku?"
Entahlah, Diba selalu merasa tidak nyaman jika berada didekat Allan dalam kurun waktu yang lama. Ketika sedang bekerja pun Diba selalu berusaha untuk menghindari Allan secara halus. Baru saja Diba akan berbicara sebuah mobil yang berhenti didepan mereka mengalihkan perhatian. Ketika kaca mobil diturunkan semua tampak terkejut tidak terkecuali Allan yang sedikit memberalakan mata dan menahan nafasnya. Diba yang sedikit membuka mulutnya, Sedangkan Rara yang langsung memegangi dadanya kirinya dramatis, dan menyikut Diba lalu berbisik.
"Astaga, dia tampan sekali, kau kenal?"
Diba yang tersadar karena mendapatkan sikutan dari Rara segera menatapnya dengan tatapan bingung.
"Cepatlah"
Diba kembali memutar kepalanya melihat pemuda yang menatapnya datar dari dalam mobil.
"Dia berbicara pada siapa?"
Rara kembali berbisik karna tidak ada yang menjawab ucapan pemuda didalam mobil itu.
"Kau ingin membuatku menunggu berapa lama? Atau kau akan pulang sendiri?"
Pemuda itu kembali menaikan kaca mobilnya, tapi sebelum sampai setengah Diba dengan segera menyahut.
"Arkan tunggu"
Arkan, si pengemudi mobil itu berhenti menaikan kaca mobil dan kembali mematap Diba datar.
"Kak Rara, Allan aku duluan yah, Assalamualaikum"
Diba mengurungkan niatnya melangkahkan kaki ketika sebuah tangan menahan pergelangannya. Ia berbalik kemudian menemukan tangan Allanlah yang menahanya.
"Berhati hatilah"
Diba mengangguk dan melepaskan tangan Allan sebelum akhirnya masuk kedalam mobil dan melambaikan tangannya dari jendela mobil. Arkan melepas rem tangan dan menjalankan mobilnya meninggalkan lestoran tersebut.
Dihalaman lestoran Rara dan Allan masih berada ditempatnya, menatap mobil yang telah berbaur dengan keramayan jalanan malam.
"Kenapa harus selalu dia"
Rara beralih kepada Allan yang bergumam disebalahnya.
"Kau mengatakan sesuatu?"
Allan yang tersadar segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Kakak mau aku antar pulang?"
"Tidak perlu, aku membawa motor sendiri"
"Kalau begitu aku akan mengikutimu, tidak baik jika perempuan pulang sendiri pada malam hari"
"Terserah padamu"
Keduanya pun berjalan menuju motornya masing masing dan bersiap untuk pergi.
Sedangkan yang terjadi didalam mobil hanyalah keheningan. Tidak ada percakapan diantara keduanya, bahkan radio pun tidak dinyalakan, menjadikan suasana canggung bagi Diba.
"Jauhi dia"
Diba yang tengah memandang keluar jendela pun memutar kepalanya ketika mendengar ucapan Arkan.
"Jauhi laki laki yang bersamamu tadi"
_'Laki laki? Allan!'_
"Kenapa?"
Arkan melirik Diba sekilas tanpa mejawab.
"Kenapa aku harus menjauhinya? Apa yang salah dengan Allan?"
"Kau tidak perlu tau, kau hanya perlu menjauhinya"
"Maka aku tidak akan menjauhinya"
Entah datang dari mana keberanian Diba untuk menjawab ucapan Arkan. Mungkin karena pikirannya penuh dengan masalah sang ayah membuat otaknya tidak berjalan seperti biasa. Dan, apa masalahnya jika ia dekat dengan Allan? Ah mungkin Diba akan menyesal nanti karna telah membela Allan sekarang.
Arkan melirik Diba sinis, dan mengeratkan pegangan tangannya pada stir mobil.
"Ku bilang jauhi dia"
"Kami bekerja ditempat yang sama, dan lagi pula Allan itu baik, perhatian, ramah, dia jug-YA ALLAH"
Arkan yang menginjak rem secara mendadak membuat Diba terhempas kedepan, tentu gadis itu terkejut dengan apa yang dilakukan Arkan.
"Apa ya-"
Diba mematap Arkan yang juga tengah menatap lurus kepadanya, suara Arkan yang berat dan penuh penekanan tidak membuatnya gentar sedikit pun.
"Lalu apa masalahnya? Aku dekat atau menjauhi siapa pun itu urusanku, bukan urusanmu. Bahkan kau tidak memberiku alasan mengapa aku harus menjauhi Allan yang jelas jelas lebih baik darimu"
"Kau membandingkanku? Kau mulai berani padaku?"
"Ya aku berani padamu. Aku lelah selalu tunduk padamu, aku lelah dipermalukan olehmu, aku lelah bertindak bodoh karna selalu membiarkanmu berlaku seenaknya kepadaku."
Wajah Diba memerah kala ia mengutarakan isi hatinya dengan emosi yang meluap.
"Kehidupanku disekolah yang awalnya baik baik saja menjadi bencana setelah aku bertemu denganmu. Kebebasanku kau rampas dengan mudah, anak anak sekolah jadi mengenalku sebagai sampah yang kau buang. Teman teman sekelasku tidak berani berintraksi denganku karna takut jadi sasaranmu, bahkan disekolah aku harus menjauhi sahabatku sendiri agar tidak mendapatkan masalah darimu"
Arkan tidak menyala sedikit pun, ia hanya mendengarkan dengan ekspresi datar.
"Jangankan untuk perduli dengan keadaanku, kau bahkan tidak memikirkan akibat dari tindakanmu. Membuatku tersungkur dilantai, menyiramkan air es, menghinaku, bahkan kau menjadikanku tontonan untuk para penghuni sekolah. Apa salahku padamu sampai kau berbuat seperti ini padaku?"
Arkan menatap Diba yang tiba tiba melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil.
"Aku tahu sekarang pun kau terpaksa menjemputku karna Zaki yang memintanya. Terimakasih, dan maaf karna telah merepotkanmu"
Diba keluar dari dalam mobil lalu berjalan kaki menjauh. Dan Arkan hanya diam membiarkan Diba pergi darinya. Arkan menumpukan siku diatas setir dan mengusap rambutnya prustasi, lalu memukul setir dengan keras. Dia merasa sangat marah, entah pada dirinya atau pada Diba yang telah lancang kepadanya. Ada rasa sesak pada rongga dadanya begitu terasa ketika Mendengar ucapan Diba yang begitu menderita karena dirinya.
Memang benar, Diba tidak memiliki masalah apa pun dengan dirinya sebelumnya
Arkan berusaha mengontrol diri dan kembali menjalankan mobilnya untuk menyusul Diba, karna bagai mana pun ia tidak akan membiarkan gadis itu pulang sendiri dimalam hari. Arkan melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah seraya memperhatikan sekitar, tapi tidak ditemukannya Diba dimana pun sampai akhirnya ia sampai dihalaman rumahnya. Arkan turun dari mobil lalu berjalan menuju pintu.
'Dikunci'
Itu artinya Diba belum pulang kerumah. Rasa cemas seketika mengerubungi dirinya, tapi ia tepis rasa itu dan berusaha untuk tidak perduli dengan perasaan perasaan yang timbul setelah pertengkaran mereka tadi.
—
Diba keluar dari dalam minimarket dengan sebotol air mineral. Ia duduk dikursi yang tersedia didepan minimarket lalu meminum minumannya. Diba mengecek ponselnya yang sedari siang tidak ia mainkan. Terdapat 5 pesan masuk untuknya, ia membaca dan membalas semua pesan yang masuk.
Amel
Bagai mana keadaan Bapak? ¹⁶'⁰⁴
-entahlah, bapak selalu membuatku pusing ²²'⁵⁷ ✔
*Bunda*
Malam ini bunda akan menemani Ayah
lembur dikantornya, baik baik dirumah ¹⁷'¹²
-iyah ²²'⁵⁷ ☑
Cindy
Kak malam ini aku nginep dirumah teman ya ¹⁸'⁰¹
-baiklah ²²'⁵⁸ ✔
Arsen
Tolong katakan pada Arkan aku menginap dirumah
Hito. No nya tidak aktif. ²⁰'¹⁰
Cindy, bunda dan ayah juga tidak ada rumah ²⁰'¹⁴
Jika nanti kau sudah sampai dirumah bisakah kau membuatkan Arkan makanan? ²¹'⁰⁰
Dia tidak akan makan jika tidak ada makanan baru ²¹'⁰⁰
Dia juga tidak akan mau delivery sendiri dan makan sendirian ²¹'⁰⁰
Dan akhir nya dia tidak akan makan sampai pagi ²¹'⁰¹
-m, baiklah ²³'⁰³ ☑
Zaki
Kau sudah pulang? ²²'¹⁵
-ya sudah ²³'⁰³ ☑
Diba menghela nafas, ia beranjak dari sana dan berjalan kaki pulang. Sebenarnya Diba kaget sendiri setelah mengatakan semua pada Arkan, bahkan secara terang terangan melarang Arkan untuk memperdulikannya.
Diba mempercepat langkahnya ketika melihat pedagang nasi goreng.
"Pak nasi gorengnya dua"
"Yah neng maaf, tapi nasinya hanya cukup untuk satu"
"Tidak apa apa, satu saja"
"Di tunggu sebentar ya neng"
Drrtt Drrtt
"Iyah pak"
Diba mengecek pesan yang baru saja masuk sambil menunggu pesanannya selesai.
Zaki
Kau belum tidur? ²³'¹⁰
-sebentar lagi ²³'¹⁰
Jangan tidur terlalu malam ²³'¹⁰
-iyah ²³'¹¹
Sepertinya besok aku juga tidak bisa menjemputmu ²³'¹¹
-tidak masalah, aku bisa mengatasinya ²³'¹¹
Baiklah, sampai bertemu di gerbang sekolah ²³'¹²
-baiklah ²³'¹² ✅
"Ini neng nasi gorengnya"
"Oo iyah pak"
Setelah membayar Diba kembali melanjutkan perjalanannya sampai akhirnya tiba dirumah. Melihat mobil yang sudah terparkir di halaman rumah membuatnya yakin bahwa Arkan telah tiba di rumah. Adiba melangkah masuk ke dalam rumah, ia meletakan bungkusan nasi goreng tadi dimeja makan, kemudian berlalu menuju kamarnya.
Ketika akan memutar knop pintu kamarnya, suara deritan pintu dan seseorang yang berucap dibelakangnya membuat Diba berhenti sejenak.
"Dari mana saja kau?"
Diba menghembuskan nafas tatkala suara berat dan dingin itu tertangkap indra pendengarannya.
"Aku membeli nasi goreng untukmu. Makanlah"
Diba membuka pintu kamarnya, tapi sebelum ia benar benar melangkah masuk Arkan kembali mengintrupsi.
"Kau belum menjawab pertanyaanku"
"Apa pedulimu tentang itu?"
Arkan yang mulai geram langsung menarik bahu Diba agar berbalik menghadapnya, kemudian ia mendorong gadis itu sampai punggungnya membentur tembok dengan cukup keras.
"Dengan kau bertindak seperti ini apa menurutmu aku akan meminta maaf padamu?"
Diba hanya diam menahan nyeri dibahunya yang diremas oleh Arkan cukup kuat. Sorot mata tajam pemuda itu seakan tengah menguliti tubuhnya saat ini.
"Seharusnya aku tidak pernah melembut padamu, tidak perduli Zaki, Arsen, Cindy, Ayah, atau pun Bunda yang memintanya. Kau tetaplah gadis miskin yang kotor dimataku"
Wajah Diba yang awalnya pucat, kini memerah seiring dengan air mata yang mulai menetes dari kelopak matanya. Hatinya sudah tidak tahan lagi ketika mendengar penghinaan dari Arkan langsung di depan wajahnya untuk kesekian kalinya. Tangannya yang ikut mengepal menunjukan jika ia tengah diambang batas kesabarannya.
Diba menepis tangan Arkan dan mengusap air matanya dengan kasar, mengontrol nafasnya yang memburu karena emosinya yang meluap. Senyum sinis Arkan yang tidak hilang sedari tadi membuat Diba semakin mengeratkan kepalan tangannya.
"Kau bahkan tidak pantas untuk Zaki. Seharusnya kau sadar akan hal itu. Kau hanyalah gadis murah, miskin, tidak berguna, ibumu meninggalkanmu bahkan ayahmu juga pergi dari hidupmu"
Diba menatap Arkan bengis. Ini sudah benar benar keterlaluan.
"Bahkan jika bukan karna orang tuaku, kau sudah menjadi gelandangan dijalanan sana. Atau mungkin gadis malam disebuah cl-"
PLAK
Diba mengepalkan kembali tangannya yang terasa panas setelah bersentuhan dengan pipi halus milik Arkan. Perkataan Arkan sudah tidak bisa di tolelir lagi, Dia sudah melampaui batasnya.
"TAU APA KAU TENTANGKU? APA YANG KAU TAHU TENTANG HIDUPKU?"
Diba meluapkan emosinya, tidak perduli dengan siapa ia berhadapan sekarang, Diba sudah mencapai batas kesabarannya untuk Arkan.
"KAULAH BERENGSEK YANG MASUK DAN MERUSAK HIDUPKU. KAU YANG PERTAMA BERURUSAN DENGANKU LALU KENAPA SEKARANG AKU YANG DISALAHKAN, KENAPA KAU BEGITU MEMBENCIKU YANG BAHKAN TIDAK MENGENALMU SEDIKIT PUN."
Adiba menundukan kepalanya yang mulai terasa pening, mengatur nafasnya dan berusaha menekan emosinya sendiri.
"Apa yang telah aku lakukan padamu?"
Diba kembali mengangkat wajahnya menatap Arkan yang diam tanpa ekspresi.
"Apa yang telah aku lakukan sehingga membuatmu begitu membenciku?"
Arkan tetap diam tidak berniat menjawab ucapan Diba sedikit pun. Diba memalingkan wajahnya dengan senyum getirnya.
"Jika keberadaanku disini menganggumu aku akan pergi. Karna tanpa bantuan dari keluargamu pun aku masih bisa tetap hidup. Bahkan mungkin akan lebih baik jika tidak ada kau dalam hidupku"
Setelah mengatakan semua, Diba langsung pergi masuk kedalam kamarnya tanpa menghiraukan Arkan yang masih diam ditempatnya.