Little Do You Know

Little Do You Know
PENJELASAN



Arkan keluar dari kamarnya dengan pakaian lengkap dan tas yang menggantung di bahunya. Ia menuruni tangga dengan santai menuju meja makan. dilihatnya menu sarapan yang sudah tersedia sana, sadar akan sesuatu Arkan mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan tidak di temukan siapa pun disana, sudah bisa di pastikan jika gadis itu telah pergi. Arkan mengepalkan tangannya tatkala mengingat pertengkaran mereka semalam, gadis itu masih saja menyiapkan sarapan untuknya.


"Sialan"


Arkan pergi begitu saja tanpa menyentuh makanannya.


_


Diba dan Amel berjalan menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi karna jam sekolah sudah berakhir 20 menit yang lalu. Keduanya berjalan beriringan seraya membicarakan suatu hal.


"Kau akan tinggal dirumahmu sendirian?"


"Tentu saja tidak, kan ada kau yang menemaniku"


"Ais, kenapa jadi aku?"


Diba hanya tertawa menanggapi protesan amel.


"Ah iyah! seharian ini aku tidak melihat Zaki dimana-mana, bahkan bahkan dia tidak ada menemuimu. Apa kalian bertengkar?"


"Tidak. Semalam Zaki bilang tidak bisa menjemputku, tapi tidak mengatakan kalau dia tidak akan sekolah. Bahkan dia tidak membalas pesanku"


"Apa terjadi sesuatu padanya?"


"Entahlah, akan aku tanyakan itu pada Arsen nanti"


Amel menyipitkan mata untuk menggoda temannya ini.


"Oow, apakah sekarang kau juga dekat dengan Arsen?"


"Ah tidak, itu- aku hanya pernah bertegur dengannya beberapa kali. Ya hanya itu"


Diba sedikit gugup karena berbohong pada amel, tapi syukurlah sepertinya Amel percaya pada perkataanya.


"Tapi bukankah sekarang lebih baik. setelah kau dekat dengan Zaki Arkan telah berhenti menindasmu dan Arsen semakin akrab denganmu"


Benar, setelah Diba pindah kerumah Arkan ia menjadi dekat dengan Zaki, Arkan yang berhenti membullynya dan Arsen yang selalu baik padanya. Tidak lupa Cyndi yang begitu perhatian dan ayah bunda yang selalu memanjakannya. Kehidupannya telah berubah dengan keluarga barunya. Lalu apa lagi yang Diba harapkan? Perubahan sikap Arkan? Bukankah itu berlebihan? Kebahagian yang Ia dapat dari keluarga itu sudah lebih dari cukup untuknya, tidak perlu menjadi tamak dengan mengharapkan Arkan akan menerimanya sebagai bagian dari keluarga atau kehidupannya. Ya! Ini semua sudah lebih dari cukup.


"Ya! Kau benar! Ini sudah lebih dari cukup untuk aku memulai melukis kenangan indah di sekolah"


Senyum Diba merekah sempurna dengan aura kebahagian terpancar di wajahnya yang cantik, membuat amel ikut tersenyum dibuatnya. Tanpa sadar mereka telah sampai gerbang sekolah.


"Jadi kapan kau akan kembali kerumah orang tuamu?"


"Entahlah, aku masih memikirkannya. Akan aku kabari kau nanti untuk itu. Aku harus pergi sekarang"


"Baiklah"


Keduanya saling melambaikan tangan dan akhirnya berpisah pada jalan mereka masing masing.


Si perjalanan menuju resto Diba menyempatkan diri untuk mengirimi pesan pada Zaki.


ZAKI


'Apa kau baik baik saja?'⁰⁷'³¹☑


'Kenapa tidak datang kesekolah?'⁰⁷'³¹☑


Setelah mengirim pesan itu Diba memasukan ponselnya kedalam tas dan mulai menyebrang jalan untuk sampai ke restauran tempatnya bekerja.


Diba masuk kedalam restauran lewat pintu belakang dan menyapa semua pegawai yang ada disana dan berjalan menuju lokernya untuk mengambil seragam kerjanya dan menukar pakaian di ruang ganti. Setelah selesai Diba bergegas untuk melayani pelanggannya.


Ketika Diba baru sampai di meja kasir seseorang memanggilnya. Dilihatnya seorang pemuda tinggi yang berjalan menghampirinya.


"Loh, kak Derel? Kenapa kakak disini?"


"Baru saja aku akan menanyakan hal yang sama padamu. Tapi melihat seragam yang kau pakai sepertinya kau bekerja disini."


"Ya kau benar, aku memang bekerja disini"


"Sejak kapan?"


"Sudah lebih dari satu bulan yang lalu"


"Ah, sudah cukup lama ternyata"


"Iyah. Lalu apa yang kakak lakukan disini?"


"Aku ingin bertemu tante Sarah. Apa dia ada?"


"Tidak tau, aku baru saja datang disini"


"Ah benarkah?"


Diba mengangguk sebagai jawaban.


"Baiklah aku akan memeriksanya. Kalau begitu aku pergi"


Derel pergi setelah mengelus kepala Diba.


"Kau mengenalnya?"


Diba terperanjat kala mendengar suara seseorang di sebelahnya.


"Kau terkejut?"


Diba mencebik ketika mendengar pertanyaan Allan, orang yang mengejutkannya barusan.


"Lama lama kau seperti hantu"


"Tentu. Yang selalu menghantuimu hu~"


Diba berdecak dan kembali pada pekerjaannya. Allan mengikuti kemana pun Diba pergi.


"Berhentilah mengikutiku dan kembali pada pekerjaanmu"


"Tapi kau belum menjawab pertanyaanku"


Diba menghela nafas kesal. Ia menghentikan pekerjaannya dan mengubah intensitasnya pada Allan.


"Yang mana?"


"Kau mengenal laki laki tadi?"


"Derel? Ya aku mengenalnya. Apa itu mengganggumu?"


"Tentu saja tidak. Tapi kau mengenalnya dimana?"


"Dia temannya Zaki dan Arkan"


"Ah! Tentu saja"


Diba menatap Allan ragu. Sebuah pertanyaan yang menghantuinya sejak semalam.


Merasa ada yang aneh dengan tatapan gadis dihadapannya, Ia merasa jika Diba


"Ada yang ingin kau tanyakan?"


Diba tanpak berfikir sejeenak sebelum akhirnya melontarkan pertanyaan yang sangat ingin ia tau jawabannya. Diba menarik nafasnya dalam, berharap jika ini tidak akan membuat Allan emosi seperti Arkan tadi malam.


"Berjanjilah jika kau tidak akan marah setelah mendengar pertanyaanku"


Allan sedikit membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan Diba, ia menatap kedua manik Diba dengan serius, meyakinkan pada gadis itu bahwa dia takan emosional setelah mendengar perkataan apa pun yang dilontarkannya.


"Aku berjanji! Katakanlah, tidak perlu merasa takut"


Diba membalas tatapan Allan, lalu mengangguk setelah merasa yakin pada Allan.


"Apa ka-"


"Sedang apa kalian?"


Baik Diba mau pun Allan, keduanya tampak terkejut ketika mendengar teguran Derel yang telah berada di samping keduanya. Diba langsung menghadap Derel dengan salah tingkah seperti seorang pacar yang tertangkap basah sedang berduaan dengan lelaki lain, di tambah dengan Sarah yang berada disamping Derel. Sedangkan Allan hanya mendengus setelah menegakan tubuhnya.


"Sedang apa kalian?"


Diba semakin dibuat mati kutu setelah mendengar nada serius dari Derel. Membuatnya tidak bisa berkata-kata. Diba menundukan kepalanya tidak ingin melihat raut wajah Darel. Sudah bisa dipastikan jika raut wajah Derel sangat menyeramkan sekarang, bahkan aura disekitarnya pun terasa suram sekarang. Ini lebih menegangkan jika di bandingkan dengan Arkan semalam.


Allan yang menyadari keadaan Diba hanya mendengus dan kembali menatap Derel santai.


"Kami hanya sedang mengobrol"


Derel menatap Allan tajam seakan memberi peringatan jika dia tidak di perbolehkan menyentuh Diba sedikitpun.


"Kalian berhenti mengobrol dan kembalilah bekerja"


Diba mengangguk setelah mendengar perintah sarah, sebelum akhinya pamit undur diri dan mengerjakan pekerjaannya kembali.


"Kau juga kembalilah bekerja, Dan kau Derel sebaiknya cepat pergi kekampusmu jika tidak ingin terlambat"


Tanpa mengatakan apa pun Allan langsung pergi menyusul Diba. Sedangkan Derel hanya mendengus kesal.


"Berhentilah bersikap keras padanya, mau bagai mana pun dia adikmu"


"Aku tidak pernah menganggapnya adikku. Aku hanya memiliki 1 adik perempuan, hanya itu"


"Jika kau tidak menganggapnya adik, maka kau tidak bisa menganggapku ibu"


Derel tersenyum miring mendengar penuturan Sarah.


"Aih, kau ini tega sekali. Hanya memanfaatkanku ketika kau perlu saja, benar benar jahat"


Derel menatap Sarah merendahkan, senyum miringnya tak kunjung luntur tatkala berhadapan dengan Sarah.


"Haruskah aku ingatkan, siapa yang membuat ibuku pergi dari rumah? Siapa yang telah menghancurkan keluargaku dan membuat Ibu dan adikku sengsara?"


"Hei apa apaan tatapan itu? Kenapa kau terus menyalahkanku? Aku juga merasa bersalah dan menyesal. Ayahmu juga bersalah dalam hal ini. Kenapa kau tidak memintanya mencari adik dan ibumu? Apa kau pernah bertanya pada ayahmu? Apakah dia perduli pada adikmu?"


"Lakukan saja tugasmu jika kau benar benar merasa bersalah. Anggap saja jika kau sedang membayar kesalahanmu padaku dimasa lalu, mengerti"


Derel pergi begitu saja meninggalkan Sarah yang tengah kesal padanya.


"Ais~"


Sarah kembali keruangannya dengan perasaan kesal dan marah. Selalu seperti ini, selalu saja ia yang disalahkan dan selalu kalah beradu argumen. Derel benar benar mirip Ayahnya yang tidak pernah mau kalah dan tidak pernah ingin mengalah.


Sarah duduk dikursinya mencoba menenangkan diri. Setiap kata yang terlontar dari mulut Derel benar benar penuh emosi. Amarah dan kesedihan yang tersirat disetiap katanya selalu berhasil mengusik dirinya.


BRAK


Sarah menggebrak meja dengan kuat. Sampai membuat Mo yang berada di ruangan sebelahnya terkejut tapi tidak sedikit pun membuat Mo merasa penasaran atau khawatir, seakan sudah terbiasa jika Derel datang ke resto maka Sarah akan selalu seperti ini.


Sarah menumpukan kedua sikutnya di atas meja dan menundukan kepalanya, menjambak pelan rambutnya frustasi. Sarah tidak pernah merasa baik baik saja setelah menikahi ayah Derel, bahkan kebahagiaannya pun hanya sebatas Allan anak kandungnya. Hidupnya hanya penuh dengan penyesalan dan rasa bersalah yang semakin hari semakin membebaninya. Apa lagi melihat Derel tumbuh hanya dengan rasa benci pada ayah dan dirinya. Begitu pun dengan Allan yang selalu di benci Darel dan kurang perhatian dari ayahnya yang selalu mendahulukan Derel walau pun tidak pernah dianggap oleh anak sulungnya itu sekali pun.


Sarah beralih menatap gelang bintang pemberian Ibu Derel dulu ketika mereka masih menjadi teman dekat ditempat bekerja mereka. Tak terasa air mata mengalir dipipinya, hatinya metasa disayat ketika mengingat moment kebersamaan mereka dulu sebelum bahkan sesudah temannya itu berumah tangga. Jika saja kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin saat ini ia bisa melihat sahabatnya itu bahagia dengan keluarganya. Bukan malah menyaksikan anak malang yang tidak tau apa apa menderita karena dirinya.


_


Diba terus saja mengecek ponselnya, ia sedang menunggu pesan atau telpon dari Zaki yang tidak mengabarinya dari tadi pagi. Bahkan pesan darinya pun tidak kunjung dijawab oleh Zaki.


"Masih belum mendapat kabar darinya?"


Diba mendongak dan menggeleng sebelum akhirnya menerima minuman kaleng yang di sodorkan Allan padanya. Allan duduk dikursi taman sebelah Diba.


"Sudah mencoba menghubunginya terlebih dulu?"


"Aku sudah mengiriminya pesan tapi tidak ada jawaban, panggilan pun tidak dapat tersambung. Aku benar benar mengkhawatirkannya"


"Aku penasaran. Apa akan ada yang mengkhawatirkanku ketika aku tidak ada kabar?"


"Tentu saja. Jika orang itu menyayangimu tentu ia akan mengkhawatirkanmu"


Allan beralih menatap Diba sebelum akhirnya kembali mengeluarkan suara.


"Apa kau akan mengkhawatirkanku jika aku tiba tiba tidak ada kabar seperti itu?"


Diba yang tengah memandangi minuman kaleng ditangannya, tersenyum mendengar pertanyaan yang dilontarkan Allan padanya.


"Entahlah. Ada kemungkinan aku akan merasa khawatir. Tapi sepertinya aku akan merasa senang jika kau menghilang. Karna saat ada, kau benar benar menjengkelkan"


Allan terkekeh dan menggelengkan wajahnya mendengar jawaban spontan dari Diba.


"Aw"


Diba yang mencoba membuka kaleng minumannya sendiri. alih alih terbuka sempurna , tangannya malah tergores pinggiran mulut kaleng yang baru terbuka sedikit sampai berdarah. Allan yang melihat itu langsung meraih tangan Diba dan tanpa berkata apa pun ia langsung menyedot darah yang keluar dari jari Diba dengan mulutnya.


"Apa kau punya plester luka?"


Diba mengangguk, gadis itu menyimpan minumannya lalu merogoh kantong depan tas sekolahnya untuk mengambil plester luka dan memberikannya pada Allan. Dengan cekatan Allan membalut luka Diba dengan plester. Setelah selesai dengan luka ditangan Diba, Allan beralih meraih minuman Diba dan membuka minuman yang baru setengah terbuka itu.


"Jika kau tidak bisa melakukannya meminta tolonglah"


Diba menerima minumannya dengan tersenyum malu seraya menggumamkan terima kasih pada Allan. Hanya menggelengkan kepala lalu meminum minumannya kembali.


"Jadi apa yang ingin kau tanyakan tadi?"


Diba tampa perfikir sebelum akhirnya menepuk jidatnya sendiri.


"Ah benar, aku melupakan itu"


"Jadi apa?"


"Tapi perjanjian yang tadi masih berlaku loh ya"


"Iyah. Cepat katakan"


Diba mematap Allan serius.


"Apa kau memiliki masalah dengan Arkan?"


Allan tampak bingung dengan pertanyaan Diba, sadar akan itu Diba memberikan sedikit penjelasan.


"Kenapa Arkan begitu membencimu? Bahkan dia sampai memarahiku karna bekerja ditempat yang sama denganmu"


"Kau dimarahi hanya karna itu?"


"Ya! Dia benar benar marah saat itu"


Kini Allan mengerti kenapa Diba memintanya berjanji untuk tidak marah.


"Yah! Dulu kami memang terlibat masalah dengannya karna seorang gadis"


Diba mendengarkan penjelasan Allan dengan seksama.


"Saat itu aku masih smp kelas 2. Awalnya aku hanya mengenal Arkan sebatas teman kakakku, sampai akhirnya seorang gadis yang sangat mirip denganmu datang dihidupku"


"Eh, apa? Yang mirip denganku?"


Diba menunjuk dirinya sendiri, ia benar benar tidak percaya jika ada seseorang yang mirip dengannya. Allan meneliti wajah Diba sambil tersenyum.


"Yah. Matanya. Alis. Hidung. Bibir dan dagunya. Tingginya. caranya berbicara dan tawa benar benar sangat mirip denganmu."


Diba memalingkan wajahnya karna Allan tak kunjung berhenti memperhatikan wajahnya. Sedangkan Allan hanya tertawa kecil melihat tingkah gadis dihadapannya ini. Allan merogoh dan mengitak atik ponselnya lalu menyodorkan ponsel itu pada Diba. Diba menerima ponsel tersebut dan terkejut dengan apa yang dilihatnya dalam ponsel tersebut.


"A-apa ini? Apa dia gadis yang kau sebut mirip denganku?"


Allan tersenyum da mengangguk menanggapi pertanyaan Diba.


"Nyaris susah untuk di bedakan jika saja rambut kalian memiliki warna yang sama."


Masih dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya, Allan mengalihkan pandangannya kedepan, mengingat kembali kejadian beberapa waktu yang lalu.


"Itulah sebabnya kenapa aku langsung mengganggumu di restoran waktu itu"


"Pantas saja kau bertingkah menyebalkan"


Diba menggerutu membalas ucapan Allan, membuat pemuda itu tertawa karenanya


"Lalu apa yang terjadi sehingga membuat Arkan begitu membencimu?"


Allan berdehem untuk menghentikan tawanya, lalu melanjutkan ceritanya.


"Nama gadis itu Ariana, ah! Bahkan namanya saja mirip denganmu. Ria bersekolah di Smp yang sama dengan Arkan. Dari yang ki tau, Ria adalah gadis cantik dan pintar disekolahnya, banyak anak laki laki yang menyukainya baik didalam sekolah mau pun di luar sekolah. Itu termasuk Arkan dan aku, beberapa kali aku mencoba mendekatinya tapi selalu gagal dan berakhir aku yang hanya bisa jadi teman nya, Karna Ria telah berpacaran dengan Arkan. Aku sempat merasa iri pada Arkan, tapi tak pernah sedikit pun terbersit rasa ingin merebut Ria dari Arkan. Karna hanya menjadi teman Ria pun itu sudah cukup untukku.


Ketika kami baru duduk dikelas 3 smp, Ria mengatakan padaku jika sebenarnya dia mengidap penyakit kanker otak stadium akhir. Dia memintaku untuk merahasiakan penyakitnya dari siapa pun bahkan Arkan sekali pun. Semakin lama tubuhnya semakin melemah, Ria semakin jarang masuk sekolah karna harus dirawat dan dia selalu memintaku untuk menemaninya. Dia mengatakan jika dia tidak ingin Arkan sedih dan terpukul jika ia pergi nanti, karna dari itu Ria memintaku untuk berpura pura menjadi kekasih gelapnya. Permintaan yangcukup egois bukan?"


Diba mengangguk membenarkan pertanyaan Allan.


"Tapi yang aku pikirkan saat itu hanyalah kebahagian Ria, apa pun permintaannya aku akan melakukannya selama bisa membuatnya bahagia di sisa akhir hidupnya. Maka dari situ Ria selalu memposting foto kami berdua di akun instagramnya. Dan itu berhasil membuat Arkan cemburu dan emosi. Bahkan Ria menulis buku Diary palsu yang berisikan tentang aku dan dirinya. Ria juga pernah memintaku untuk menemaninya ke sebuat coffe, disana kami bertemu dengan Arkan. Dan apa kau tau apa yang terjadi?"


Diba menggeleng, masih berfokus pada cerita Allan.


"Arkan meninju wajahku, Dia membentak dan memarahi Ria dihadapan semua orang. Ah! Kontrol emosinya benar benar buruk saat itu. Aku yang membela Ria saat itu semakin membuatnya marah dan aku hampir terlibat baku hantam dengan Arkan, jika saja Arsen dan Zaki tidak melerai kami. Disana Ria memutuskan hubungannya dengan Arkan dan kami pun kembali ke rumah Ria. Malamnya Ria dibawa kerumah sakit, ia dirawat disana selama 1 bulan penuh, dan yang Ria lakukan hanya menulis Diary palsu dan tarus saja memosting foto kami di akun instagramnya, sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.


Arkan sempat datang kepemakanan Ria. Dia yang melihatku memegang buku diary yang di penuhi tulisan tangan Ria memintaku untuk memberikannya padanya. Aku sempat menolaknya karna takut jika tulisan bodoh yang di tulis Ria akan membuatnya semakin terluka. Tapi Arkan besikukuh dan terus maksaku memberikan buku itu, dan akhirnya aku pun memberikannya. Dan seperti yang sudah di perkirakan oleh Ria jika Arkan akan membencinya dan tidak akan sedih karenakehilangannya. Tapi satu hal yang tidak Ria sadari dari awal, jika Arkan akan hancur karna ulahnya sendiri"


Kini Diba mengerti kenapa Arkan begitu membenci Allan. Semua karna Ria yang menjadikan Allan tameng sekaligus senjata untuk Arkan.


"Apa kau tidak mencoba menjelaskan yang sebenarnya pada Arkan?"


"Untuk apa? Arkan tidak akan percaya padaku. Lagi pula semua sudah berlalu, Ria sudah pergi dan kami akan beranjak dewasa. Melupakan semua masalalu yang kelam dan memulai dengan yang baru. Aku harap begitu"


Diba mengangguk mengerti atas keputusan Allan. Melihat sipat Arkan yang sekarang, pasti akan sulit untuk membuatnya mengerti situasi saat itu. Jangankan untuk situasi yang pernah membuatnya kecewa, bahkan pada dirinya yang tidak tau apa pun Arkan begitu benci.


"Dari yang kulihat kemarin, sepertinya hubunganmu dan Arkan cukup baik"


Diba menautkan alisnya, menatap Allan bingung.


"Melihatnya kemarin menjemputmu, sepertinya hubungan kalian cukup baik. Tidak seperti yang ku bayangkan"


"Apa yang kau bayangkan tentangku dan Arkan?"


Allan tersenyum, pandangannya lurus kedepan menatap jalanan yang lenggang.


"Aku berfikir jika Allan bertemu denganmu yang memiliki wajah mirip dengan Ariana mungkin dia akan membencimu, atau yang terparah Arkan akan membuat hidupmu tidak pernah tenang demi membalas Ria. Tapi ternyata aku salah, Arkan tidak bertingkah kekanak-kanakan"


Diba tertawa menanggapi ucapan Allan.


"Kenapa kau tertawa? Apa aku mengatakan sesuatu yang lucu?"


"Tidak~"


"Lalu kenapa kau tertawa? Atau apakah dugaanku sebelumnya benar. Jika Arkan mengganggumu?"


_Uhuk uhuk~_