
Diba mengerjap beberapa kali, menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya. Ia menggeliat sesaat di atas kasurnya sebelum bangun, berjalan keluar kamar menuju dapur. Diliriknya seonggok tubuh yang bersender di pintu masuk dengan mulut yang tak henti hentinya meracau tidak jelas. Helaan nafas kasar Diba hembuskan, sudah biasa baginya melihat sang ayah Pulang dalam keadaan mabuk seperti ini.
Diba mengernyit ketika mendapati seseorang tengah berada di dapur. Suara wajan yang bergesekan dengan spatula menandakan jika orang itu tengah memasak di sana. Perlahan Diba mendekatinya, di amatinya tubuh itu dari belakang. Daster, kardigan, kaus kaki panjang, syal, kupluk. Diba tersenyum sebelum akhirnya memeluknya dari belakang.
"Alhamdulillah Ibu sudah sehat"
Riri membalikan tubuhnya, membalas dekapan sang anak
"iyah Alhamdulillah"
"Sini biar Diba saja yang teruskan, ibu istirahat yah. Kan tidak boleh kelelahan"
Diba mencoba mengambil alih pekerjaan sang ibu. Namun sebelum ia meraihnya, Riri berujar.
"Biar ibu saja. Sana kamu siap-siap kesekolah"
Diba menatap ibunya ragu.
"Tidak apa-apa ibu masak?"
"Ibu itu hanya sakit. Bukan lumpuh"
Diba terkekeh melihat ibunya yang merajuk. Mungkin ibunya memang sudah tidak apa apa. Diba mengecup Pipi ibunya singkat sebelum berlalu.
"Ya sudah. Diba siap-siap dulu ya bu"
tiga puluh menit berlalu, akhirnya Diba selesai dengan kegiatannya di dalam kamar. ia berjalan kembali ke dapur untuk menemui sang ibu yang telah duduk di meja makan.
"Bapak gak ada bu?"
Diba ikut duduk di hadapan sang ibu dan mulai memakan sarapan yang sudah lama ia rindukan.
"kekamar mungkin"
Diba mengangguk dan kembali memakan makanannya sampai tidak bersisa dan meminum air yang telah di tuangkan ibunya.
"Adiba?"
"ada apa bu?"
"duduk di sebelah ibu sayang"
Diba beranjak dari kursinya berpindah kekursi disebelah sang ibu yang kosong.
"Simpan baik baik ya"
Diba mengernyit seraya menerima sebuah kalung perak bergandul liontin bulat dan sebuah gelang bintang senada dengan kalung itu.
"cantik"
Diba merengut ketika melihat bagian belakang kalung liontin itu. di sana terdapat sebuah photo berukuran sangat kecil yang menampilkan dua orang gadis tengan tersenyum cerah. tanpa sadar Diba pun ikut tersenyum melihatnya, di pandangnya bergantian antara photo dan ibunya yang tengah tersenyum padanya. ia tahu jika salah satu gadis di photo itu adalah sang ibu.
"mereka siapa bu?"
"teman baik ibu dari masih SMP dulu. nanti jika terjadi sesuatu pada kamu setelah ibu tiada, kamu maukan cari dia dan menceritakan semua yang terjadi pada kita"
Diba menatap ibunya tidak suka. ia merasa seakan sang ibu tengah memberitahukan permintaan terakhirnya. dan apa tadi Riri bilang? ketika ia tiada? Diba sungguh tidak menyukai kata-kata itu.
"apa yang ibu katakan? ibu akan terus bersama Dibakan? setidaknya sapai Diba cukup kuat untuk menghadapi dunia"
Riri tersenyum mendengar ucapan sang anak yang lebih terdengar seperti rengekan. ia menggapai kepala Diba dan mengusapnya sayang.
"kamu itu gadis terkuat yang pernah ibu tau. tidak perlu takut dengan hidupmu, allah memang tidak menjajikan kemudahan dalam hidup, tapi allah memberikan nyeselaian dan jalan di setiap hambanya kesusahan"
Diba memeluk sang ibu dengan erat. seakan ia tidak akan lagi melakukannya di masa mendatang.
"ingatlah ini Diba. bahwa allah tidak akan memberikan cobaan kepada hamabanya melebihi batas kemampuannya. jadi seburuk apa pun hidup kita, kita harus selalu semangat, bersukur dan berusaha untuk sesuatu yang lebih baik lagi"
Diba mengangguk dan melepaskan pelukannya.
"iyah, insyaallah Diba akan selalu ingat kata-kata ibu. Diba berangkat ya, assalamualaikum"
"waalaikumsalam. jadi anak baik dan rajin ya, banggakan ibu dan bapak dengan frestasi dan kebaikanmu di mana pun kamu berada"
"insyaallah"
Diba berjalan menyusuri gang, ia berdiri di pinggir jalan menunggu angkutan umum. tangannya merogoh saku rok sekolahnya dan mengeluarkan dua buah benda cantik pemberian ibunya tadi. ia tersenyum memandangi keduanya, tangannya bergerak memakai kalung liontin itu dan di masukannya kedalam kemeja seragam sekolahnya. kini menyisakan gelang perak bergandul bingang. tangannya bergerak kembali untuk memakainya, tapi niatnya ia urungkan ketika sebuah angkutan kota berhenti di dekatnya. Diba memasukan gelang itu kedalam saku kemejanya sebelum ia menaiki angkutan kota tersebut untuk mengantarnya sekolah.
Diba memberikan beberapa lembar uang kertas pecahan kecil pada sang supir ketika ia telah sampai di pertigaan dekat sekolahnya. Gadis itu harus kembali berjalan sejauh 7 meter untuk mencapai gerbang sekolah. tidak butuh waktu lama, kini ia telah sampai di gerbang sekolah. kepalanya terus tertunduk melewati beberapa siswa/i yang bahkan tidak menghiraukannya sama sekali.
Diba berjalan lebih cepat semakin mendekati pintu ruang kelasnya. Tapi sialnya ketika ia melewati kumpulan Kikan dan teman temannya Diba tersandung kaki Merry yang di rentangkan secara sengaja, membuat Diba harus tersungkur di lantai dengan keras. Suara tawa beberapa siswa menggelegar seketika, menertawakan kemalangan Diba.
Adiba sedikit meringis, merasakan tubuhnya yang terasa sakit di sana sini karena posisi jatuhnya yang tengkurap sempurna di atas marmer yang keras. Ia mendongak dan memberalakan matanya ketika melihat gelang pemberian ibu yang ia simpan di kantung seragamnya kini berada di antara dua pasang sepatu yang sudah sangat Diba hafal. Ia terus melihat gelangnya, berharap tidak ada yang melihat benda itu.
Salah satu dari sepatu itu kini menginjak gelang bergandul bintang berwarna silver milik gadis yang masih setia dalam posisinya. perlahan Diba mendongakan kepalanya, ia menghela nafas lega karena tau siapa pelakunya.
"Menyingkir dari jalanku"
Diba langsung bangkit berlutut dan meringsut dari hadapan tiga pemuda yang berdiri di hadapannya. Zaki, si pemilik sepatu yang menginjak gelang milik Adiba itu sedikit menendangkan kakinya ke arah gadis yang berlutut di sebelahnya. menggeserkan benda silver itu yang masuk kebawah rok Diba, tersembunyi di sana. Tindakannya tak luput dari penglihatan teman di sebelahnya, yang mengernyit tapi tanpak tidak perduli.
"Arsen? Zaki? mau sampai kapan kalian disana?"
Tanpa menghuraukan teguran tajam Arkan, keduanya langsung melanjutkan langkahnya mengikuti Arkan yang telah terlebih dulu meninggalkan kerumunan. Akan tetapi sebelum pergi, Zaki mengedarkan pandangannya pada semua siswa yang masih disana.
"BUBAR SEKARANG"
Semua siswa berhamburan meninggalakan tempat mereka sebelumnya ketika mendengar teriakan Zaki yang selalu terdengar mengerikan. sedangkan Arsen hanya melanjutkan langkahnya tidak perduli, Dan Arkan menghela bosan di tempatnya. Setelah semua siswa benar-benar bubar, Zaki pun bergerak mengikuti kedua teman kembarnya. menyisakan Diba yang masih tetap berada di posisinya.
Gadis yang akan menginjak umur 17 tahun pada akhir tahun itu mulai bangkit dari duduknya. sebelum benar-benar berdiri, Diba mengambil gelangnya tadi dan memasukannya dalam tasnya, lalu kembali berjalan menuju kelasnya sebelum bel pertama berbunyi.