
Bel pulang telah berbunyi 45menit yang lalu. Kelas yang tadinya ramai dengan urusan para pelajar pun kini sudah sepi. Hanya tinggal beberapa siswa yang tersisa karena nyaman di bangkunya.
Seperti Diba, gadis berambut hitam panjang itu juga salah satu dari siswa yang tengah nyaman di sebangkunya, hanya saja ia berbeda dengan yang lain. Jika mengedarkan pandangan keseluruh kelas, bisa di dapati ada 3 siswa laki-laki dan 1 siswa perempuan tengah tidur di bangku mereka masing masing. Berbeda dengan Gadis satu ini, ia menegakan duduknya seraya mengetukan pensil kedagunya beberapa kali. Ia kembali menunduk dan berfokus pada buku catatan di hadapannya, mengerjakan tugas yang baru di terimanya pada jam pelajaran terakhir tadi. tenggang waktu yang di berikan untuk mengumpulkan tugasnya pun masih minggu depan, tapi Diba langsung berkutat memeras otaknya. Tak ada waktu lagi baginya.
Diba melirik jam yang di gantung di depan kelas. Ia sedikit tersentak ketika melihat jam yang sudah menunjukan pukul 15:11 WIB. Ternyata sudah cukup lama ia berkutat dengan tugas yang sayangnya belum rampung ia kerjakan. Dengan cepat Diba membereskan mejanya, ia sudah terlambat masuk bekerja sekarang. Ia berdiri berjalan kedepan dan berhenti di meja urutan ke2 dari depan. Diba mendekat pada satu-satunya siswa perempuan yang tidur disana dengan cara mengguncang bahunya pelan.
"Mel bangun, ayo pulang"
Amelia, Gadis itu menggeliat di posisinya. Perlahan ia membuka mata dan menatap Diba agak kesal.
"Sudah selesai?"
"Sebenarnya belum. tapi kita terlambat ke minimart"
"Jadwal kitakan pukul 14;00, aku baru baru saja tertidur 15 menit yang lalu, kau lanjutkan saja mengerkerjakan tugasmu. kita masih memiliki waktu 30 menit lagi."
Gadis yang akrab di panggil Amel itu kembali merebahkan kepalanya dan terpejam. Diba mencebik dan memukul kepala satu-satunya teman yang ia punya di sekolah ini.
"Bodoh. Coba lihatlah ini jam berapa! kita bahkan sudah telat lebih dari 30 menit"
Amel melirik jam di tangannya. sedetik kemudian ia memberalak dan mengebrak meja dengan keras, membuat Diba dan 3 siswa laki-laki yang tidur dikelas pun terlonjak kaget.
"ASTAGA. MENGAPA KAMU BARU MEMBERITAHUKU?"
"Ck. Aku sudah memberitahumu tadi kalau kita sudah terlambat"
"Sudahlah kita tidak punya banyak waktu"
Diba hanya pasrah mengikuti langkah kaki Amel yang berlari menarik tangannya.
"Pelan-pelan Amel"
"Kita sudah sangat terlambat bodoh. ini semua gara-gara kamu"
"Kenapa aku?"
"Ck. Jika kamu tidak mengerjakan tugasmu di kelas, kita tidak akan terlambat"
"Jika kamu tidak bersikeras menungguku, kau tidak akan ikut telat, Bodoh"
"Ah sudahlah. Kita sama-sama bodoh"
"Hei. Kau saja aku tidak"
"Terserah padamu"
Diba hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah temannya ini.
"Mel tidak perlu berlari. pelan-pelan saja"
Amel berbelok ke arah kiri dengan cepat. Ia sempat menundukan kepalanya ketika berpapasan dengan tiga siswa laki-laki.
"Diba, Kita harus cep_"
BUGH
"Eh"
Amel sempat tertarik keras kebelakang bebarapa langkah hingga tangan keduanya terlepas. Ia berbalik hendak memprotes Diba, akan tetapi ia malah menutup mulutnya terkejut.
.
Arsen dan Zaki, kedua pemuda yang tengah berjalan beriringan itu terkejut ketika melihat Arkan terhunyung kebelakang dengan tiba-tiba, kompak keduanya menahan tubuh itu agar tidak menyapa lantai. dan keduanya semakin terkejut mendapati penyebab dari ketidak setabilan tubuh Arkan.
Dan Arkan sendiri pun tidak kalah terkejutnya ketika di tabrak sesuatu sangat keras. Tangannya reflek memeluk sesuatu yang menabraknya. Ia mendapati seorang gadis tengah menutup mata rapat-rapat dalam pelukannya. di lihatnya gadis itu kini membuka matanya dan mendongak menatanya. mata bulatnya memberalak sempurna, mulut mungilnya sedikit terbuka serta bibir dan wajahnya berubah pasi. Arkan melihat semua perubahan itu.
"eh. tunggu? hangat? nyaman? dipeluk?"
Diba langsung membuka matanya ketika menyadari semua keganjilan itu. Hal pertama yang ia lihat adalah kain putih dengan bet berlogo sekolahnya di bagian kantong. Ia segera mengangkat kepalanya karena merasakan hembusan nafas diatas kepalanya. matanya langsung memberalak sempurna ketika menyadari apa yang tengah terjadi. Sepasang mata tajam kini tengah menatapnya, hidung bangir, bibir tipis, dan rahang tegas, sungguh maha karya tuhan yang begitu indah dalam ekspresi datar itu.
sedetik kemudian, Diba melepaskan diri dari pelukan Arsen, tubuhnya sedikit bergetar menahan rasa gugul, malu, dan terkejut secara bersamaan.
"m-ma-ma-af"
Arkan menegakan tubuhnya yang masih di tahan Arsen dan Zaki, seulas senyum miring terpatri di bibirnya ketika melihat gadis itu yang hampir tak pernah bersuarabsaat berhadapan dengannya. ia melangkah mendekati gadis yang tadi menabraknya, perlahan ia mengangkat dagu Diba agar menatapnya. Di telitinga raut wajah gadis itu, tak ada tatapan takut dari pancaran mata coklatnya. Di hempaskannya dengan kasar dagu gadis di hadapannya. Arkan sedikit kesal karna tak pernah sekali pun melihat tatapan takut dari gadis yang bahkan ia tidak tau namanya walau pun sudah hampir setengah tahun ini jadi bahan bully-annya. Intuisinya kini beralih pada gadis yang menarik gadis yang berakhir di pelukannya.
Amel menundukan wajahnya yang pucat ketika melihat Arkan berjalan mendekatinya. tangannya saling bartaut, raut wajahnya menunjukan rasa takut ketika mendapati sepasang kaki telah berhenti di hadapannya.
"Kau temannya?"
Amel hanya diam, tak menjawab pertanyaan Arkan.
"Hei! kau teman si miskin, hah?"
Arkan mencengkeram rahang Amel mengangkatnya dengan kuat, membuat Amel meringis menahan perih.
"AKU BERTANYA KAU TEMA-"
"BUKAN"
Diba merutuki tindakannya yang reflek menjawab dengan lantang.
"Dia bukan teman saya. Dia hanya menarik saya menuju tempat kerja karna saya sudah sangat terlambat. Ini salah saya yang tidak memperhatikan jalan dan menabrak anda dengan keras, maafkan ketidak hati-hatian saya. Dan saya mohon untuk anda melepaskannya"
Amel, Arsen, dan Zaki terperangah mendengar kalimat panjang yang di lontarkan Diba untuk pertama kalinya. Suaranya yang lembut dan pembawaannya yang sopan dan formal membuat kesan baru untuk Zaki dan Arsen. Adiba adalah pribadi yang tertutup dan pendiam, ia akan mengeluarkan suara jika di perlukan saja. Ia tidak memiliki teman untuk mengobrol karna semua siswa/i di kelasnya takut jika mereka akan ikut di bully jika berdekatan dengan Diba.
Mungkin kebanyakan orang akan mudah memiliki teman jika mempunyai paras yang cantik, suara yang lembut, dan otak yang pintar, akan tetapi samua itu tidak berlaku baginya jika tidak memiliki harta dan jabatan tinggi. terbukti dengan dirinya yang selalu di anggap remeh oleh sebagian besar orang yang ia tahu atau jumpai.
Diba berjalan mendekati Amel yang masih dalam cengkeraman Arkan. Ia menatap Arkan, lalu menundukan kepalanya hormat.
"Saya mohon maaf, tapi jika kami tidak bergegas, saya takut orang tuanya marah karna dia terlalu lama membawa saya ketempatnya"
Diba menarik Amel beberapa langkah mundur sampai cengkeraman Arkan terlepas darinya.
"Sekali lagi saya mohon maaf. Kami permisi"
Tanpa menunggu waktu lama, Diba langsung berbalik dan menarik Amel menjauhi pemuda kasar dan arogan itu.
Arkan memandang kedua gadis yang semakin menjauh dari pandangannya. senyum miring terukir dibibirnya.
"Bukan teman? lalu untuk apa kau melawan?"
"Kau sungguh-sungguh gila Diba. bagai mana jika Arkan semakin membully-mu?"
Amel benar-benar tidak habis pikir dengan Diba yang berani melawan Arkan.
"Setidaknya dia tidak pernper bermain fisik padaku"
"Tapi tetap saja, para fans-nya sangatlah ganas. Tanpa di mintapun mereka dengan senang hati akan melukaimu"
"Sudah biarkan saja. Aku yakin jika semakin lama mereka akan bosan sendiri, atau tidak mungkin akan berakhir dengan aku mati"
Amel kembali terperangah mendengar Diba yang dengan santainya berbicara tanpa beban sedikit pun.
"Sudahlah, kita harus bergegas keminimart untuk menemui orangtuamu"
"Ck. Kau ini"