Little Do You Know

Little Do You Know
prolog



Adiba Selina, atau gadis yang akrab di panggil Diba itu kini hanya bisa diam tak berdaya di hadapan banyak siswa yang tengah menertawakan kemalangannya saat ini.  Dengan seragam sekolah yang telah basah, lutut memar, rambut acak acakan, tubuh bergetar karena dingin, dengan posisi berlutut dan tertunduk lemah.


Malu? Pasti.


Sakit? Bukan lagi.


Manggis? Tidak.


Bagi Diba di perlakukan seperti ini masih di anggap biasa. Ia pernah merasakan yang jauh lebih sakit dari ini. Jadi untuk apa menangis, meminta belas kasihan? Yang ada hanya akan memperburuk penindasan.


Melawan? Hanya akan membuatnya sengsara. Diba cukup tahu diri untuk tidak membuat hidupnya semakin menderita. Gadis itu sudah merasa sangat-sangat cukup untuk penderitaan yang ia alami selama ini.


"Orang sepertimu itu memang cocoknya di bawah"


Diba hanya diam mendengarkan ucapan pemuda angkuh di hadapannya yang menghentakan sebelah kakinya di lantai, seolah tengah menginjak sesuatu.


"Seharusnya kamu sadar diri untuk tidak membuat malu sekolah karena ada sampah sepertimu"


"Sudah miskin, jelek, lemah, hidup lagi"


Diba tetap saja diam, tidak perduli dengan cacian yang di lontarkan berapa siswa lainnya. Menjawab Pun percuma. Bahkan untuk mengepalkan tangan sebagai tanda kesal pun urung ia lakukan. Diba masih sayang nyawa dan beasiswa.


"Ayo pergi. Sudah muak aku melihat tampang sampahnya" imbuh pemuda angkuh yang menjadi dalang dalam penderitaannya di sekolah ini.


Selepas kepergian pemuda itu, kini semua siswa yang mengelilinginya pun ikut bergerak pergi meninggalkannya yang masih berlutut di lantai basah dengan beberapa butiran es yang mulai mencair. Diba menghela nafas lega, walau pun ia tahu jika itu tidak akan berlangsung lama. Tapi setidaknya ia bisa merasa tenang sesaat.


Diba kembali menahan pergerakannya ketika mendapati sepasang kaki berhenti di hadapannya. Tanpa melihat wajahnya pun, Diba sudah tahu siapa yang selalu datang di akhir acara bully-annya.


Sebuah tissue berukuran saku mendarat mulus di pangkuannya.


"Arkan itu aslinya baik, hanya saja lingkungan yang menjadikannya sebagai pemain antagonis tanpa hati seperti ini" imbuhnya, lalu pergi dari hadapan Diba.


Selalu saja seperti ini. Pemuda bernama Zaki itu selalu saja datang memberinya tissu dan mengatakan jika Arkan —pemuda yang selalu membully Diba— itu orang yang baik. Seakan tidak memperbolehkan Diba berpikir buruk tentang si pembully itu.


Diba menatap tissu yang masih berada di pangkuannya itu. Seutas senyum tipis ia sunggingkan tanpa sadar. Satu bungkus tissu ukuran saku ini mana cukup untuk mengeringkan tubuhnya yang basah kuyup tanpa ada yang terlewat. Di ambilnya tissu itu lalu memeluk tubuhnya sendiri tatkala angin datang menghembus tubuh, membuatnya merasa dingin kembali.


Diba bangkit dari posisinya, berjalan menuju loker untuk mengambil seragam cadangan yang selalu ia siapkan sebelum akhirnya pergi ke toilet guna mengganti pakaiannya. Sepanjang perjalanan, Diba terus saja menundukan kepalanya, tidak berani menatap para siswa yang menatapnya sinis, bahkan mencacinya secara terang terangan.


_______________


_________


Diba melirik sekilas jam yang menempel di dinding Minimart tempatnya bekerja paruh waktu yang Sudah menjadi rutinitasnya dari dua tahun terakhir ini. Ia akan bekerja setelah Pulang sekolah sampai jam 8malam. Ini ia lakukan untuk makan, membeli obat sang ibu, dan keperluan sekolahnya.


"Pak, Diba pulang dulu yah" pamit Diba.


"Oo iyah sebentar" titah pak Indra pemilik minimart. "Ini gajih kamu bulan ini, dan juga bonusnya" ucap pak Indra memberikan amplop coklat berisi uang itu pada Diba.


"Alhamdulillah. Makasih banyak pak"


"Iyah, sama sama. Cepat pulang sana, nanti kemalaman" Diba mengangguk, lalu pamit undur diri.


Diba berjalan memasuki gang kecil menuju rumahnya dengan kantong keresek berisi obat yang tadi ia beli dari apotek sewaktu perjalanan pulangnya. Langkah gadis yang sebentar lagi menginjak usia 17 tahun itu semakin cepat tatkala mendengar suara orang yang Berteriak dari dalam rumahnya.


Setengah berlari, Diba menabarakan diri pada pintu rumahnya agar cepat terbuka. Ia memberalakan matanya tatkala netranya melihat seorang wanita yang terbaring di lantai terisak pelan Dan seorang pria yang sedang menendangnya tanpa ampun.


"IBUMU INI TIDAK MAU MEMBERI BAPAK UANG"


"kan Ibu lagi sakit pak. mana punya uang kalau gak kerja"


"MAKANYA IBUMU INI GAK GUNA" teriak efendi kembali menendang kaki sang istri.


"BAPAK BERHENTI SAKITIN IBU" teriak Diba histeris.


"BERANI KAMU BENTAK BAPAK?"


"TERSERAH BAPAK" Diba beralih pada sang ibu. "Ibu istirahat yah. Terus minum obat" ucap Diba lembut. Riri mengguk lemah, mencoba berdiri dengan di bantu Diba.


"Kamu beli obat? Berarti punya duit. Mana kasih ke bapak" pinta Efendi.


"Tapi pak, ini uang buat kita makan" jawab Diba.


"UDAH SINIIN DUITNYA. NANTI BAPAK PASTI MENANG, JADI BAPAK GANTI" bentak Efendi menarik tas Diba tidak sabar.


"BAPAK TUH KENAPA SIH MAIN JUDI TERUS? DOSA PAK, CUMA NGANBISIN UANG" teriak Diba berusaha mengambil kembali tas miliknya.


Dengan sekali hentakan Efendi mendorong Diba sampai terjatuh bersama sang istri. Pria itu tersenyum culas ketika mendatkan amplop coklat berisi uang 200.000 di dalamnya.


"Nih, bapak balikin tasnya" ujarnya melemparkan tas itu kepada sang pemilik lalu melenggang pergi meninggalkan rumahnya.


Diba bangkit dan membantu Riri masuk kedalam kamar. Ia baringkan tubuh lemah itu dengan hati hati. Entah apa yang terjadi pada Riri, sudah dua bulan ini sang ibu terbaring lemah tak berdaya. Ingin membawa sang ibu berobat ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif, akan tetapi semua kembali lagi pada kemampuan keuangan keluarganya yang tidak mencukupi. Untuk makan dan tebusan obat pun hanya mengandalkan hasil kerja Diba yang tak seberapa, pun hanya satu bulan sekali ia dapatkan.


"Maafkan ibu yang sudah menyusahkan kamu ya Di" lirih Riri, menggenggam tangan sang anak.


"tidak apa apa, Diba tidak merasa di susahkan ibu. Diba ikhlas rawat ibu. Ibu cepat sembuh agar bisa ajak Diba ke pasar malam lagi"  Riri mengangguk seraya tersenyum menanggapi ucapan sang anak yang lebih ke merengek.


"Ya sudah ibu minum obat dulu yah, lalu istirahat" ujarnya seraya membantu Riri meminum obat yang ia berikan.


"Ibu sudah shalat isya?" Riri menganguk.


"Bagai mana dengan uang kamu?" Tanya Riri lirih.


"Ada kok bu. Diba lebih pintar menyembunyikan uang dari bapak di banding ibu" jawab Diba terkekeh di akhir kalimat. Riri hanya tersenyum menanggapi ucapan anak putrinya ini.


"Sudah ah, Ibu istirahat ya. Diba juga mau istirahat. Assalamualaikum" Diba mengecup pipi ibunya sebelum berlalu.


"Waalaikum salam" jawab Riri tersenyum hangat.


Diba keluar dari kamar orang tuanya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelahnya ia menuju kamarnya sendiri. Diba menghempaskan tubuhnya ke kasur yang sudah ia tempati lebih dari 10 tahun. Terasa keras memang, tapi kasur buluknya inilah yang selalu membuatnya merasa nyaman dalam beristirahat.


Pandangannya menatap lurus langit-langit kamarnya. Ingatannya tentang hari ini kembali berputar di otaknya. Helaan nafas berat terus ia hembuskan, sampai pada akhirnya perlahan kedua kelopak matanya terpejam, dengan harapan yang selalu ia nantikan di setiap malamnya.


Berharap hari esok akan lebih baik dari hari ini.


_______________


__________