
Diba berjalan menyusuri lorong sekolah dengan langkah cepat. Ia mengedarkan pandangannya dengan was was. Sekolah tampak sudah lenggang, hanya ada beberapa siswa yang masih terlihat di area sekolah. Hal ini memang kebiasaan Diba yang selalu pulang ketika siswa lain telah berkurang. Langkah diba semakin cepat ketika melihat gerbang sekolah tidak jauh darinya, bahkan ia setengah berlari agar bisa melewati gerbang dan pulang dengan selamat, Tanpa halangan. Ia ingin segera sampai kerumah untuk merawat ibunya yang kembali parah.
Diba menghentikan langkahnya ketika mendapati Zaki dan Arsen tengah berjalan beriringan di depannya. gadis itu langsung bersembunyi di balik tembok di sisi kanannya, ia memejamkan mata kuat-kuat, ia benar benar merutuki kebodohannya kemarin. Bahkan temannya itu sekarang malah membolos dengan alasan sakit karena takut berhadapan dengan Arkan. Sedangkan ia mati-matian bersembunyi dari mereka, bahkan sampai meninggalkan ibunya di rumah hanya untuk mengejar pelajaran. Ah, entah siapa yang bodoh disini.
Eh, tapi tunggu dulu! Bukankah tadi hanya ada Ares dan Zaki saja saja disana? Dimana Arkan? Seharian ini ia belum melihat pemuda itu, hanya beberapa kali melihat Arsen dan Zaki saja dari kejauhan. Mungkinkah jika pemuda itu tidak bersekolah hari ini?. Diba menghela nafas lalu berlahan membuka matanya dan langsung memberalak seketika. Darahnya mendesir hebat membuat jantungnya memompa dengan cepat, Nafasnya tercekat di tenggorokan, tubuhnya membeku ditempat.
Arkan, pemuda itu kini tengah berdiri dihadapan Diba dengan tangan kiri yang ia tumpukan disisi kanan atas kepala Diba, dan tangan lainnya di dalam saku celananya. Ia menunduk memperhatikan gadis yang tengah menutup matanya rapat rapat. Perlahan kelopak itu membuka dan memperlihatkan manik itu yang kini membola sempurna dan tubuh mungil itu menegang seketika.
"Mencari ku?"
Sepertinya disini bukanlah Diba yang memperhatikan Arkan, karena sedari pagi ia tidak melihat tanda-tanda adanya pemuda itu di sekitarnya. Melainkan Arkanlah yang memperhatikan gadis ini, sedari tadi ia melihat gadis didepannya ini selalu bersembunyi ketika melihat Arsen dan Zaki, sedangkan dengan dirinya! Seperti kehadirannya tidak disadari oleh 'mainannya' ini.
"Kau... merindukanku"
Diba semakin merapatkan tubuhnya kedinding, wajahnya pucat seperti mayat ketika mendapati wajah Arkan yang semakin mendekat padanya. Kakinya terasa kebas karna menahan tubuhnya yang tiba-tiba terasa berat. Diba memalingkan wajahnya kesamping kanan dan kembali menutup matanya rapat. Ia bisa merasakan hembusan nafas Arkan membelai pipinya.
"Ayo bermain denganku"
Diba semakin menegang dan merapat pada dinding ketika merasakan hembusan nafas Arkan ketika berbisik di telinganya.
"Seperti janjimu kemarin"
Ya Allah tolong Diba, siapa pun tolong jauhkan mahluk ini
Arkan semakin gencar melancarkan aksinya ketika melihat raut ketakutan di wajah gadis 'mainan'nya itu. Jika di ingat, ini adalah kali pertamanya melihat gadis yang bahkan tidak ia ketahui namanya walau pun sering ia bully itu ketakutan. Gadis yang biasanya hanya pasrah ketika ia permainkan kini terlihat benar-benar ketakutan, seperti tengah melihat setan. Tubuhnya sedari tadi kaku itu kini mulai bergerak tidak karuan, menggigil. Arkan menyunggingkan senyum sinisnya, tetap dalam posisi yang sama.
"Jika tidak sanggup, jangan pernah janji, meng_"
"Adiba"
Arkan melirik seorang pemuda yang telah menyela ucapannya. Begitu pun dengan Diba yang langsung membuka mata dan memalingkan wajanya kesisi lain ketika mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. sial baginya, karna bukan mendapati sipenyebut namanya, ia malah melihat wajah Arkan dari samping. Pemuda itu membalikan wajahnya mengabaikan orang tadi ketika merasakan angin hanyat di telinganya. Ia sedikit terkejut karna kini posisi mereka yang tidak seharusnya. Dan Diba kembali memberalakan matanya ketika Arkan berbalik dan hal yang membuat keduanya terkejut adalah posisi keduanya yang membuat keduanya terdiam di tempat.
Bagai mana tidak! ketika Arkan berbalik tadi jarak wajah keduanya sangat dekat dan bahkan membuat hidung keduanya menyatu. Baik Diba maupun Arkan, keduanya hanya diam merasakan hembusan nafas yang mengenai satu sama lain. Sampai akhirnya panggilan itu kembali terdengar membuat keduanya tersadar. Diba memalingkan wajahnya terlebih dahulu sedangkan Arkan masih diam di tempatnya.
"Kau, memiliki hutang janji padaku"
Arkan mengetuk kepala Diba dengan telunjuknya sebelum akhirnya menjauh dan pergi dari hadapan Diba.
"Adiba"
Diba melihat pemuda yang sedari tadi memanggilnya dengan senyum kaku, Ia benar-benar malu kali ini.
"Iyah kak el, ada apa?"
El, yang tadi menyaksikan adegan 'tidak di sengaja' itu menatap lurus pada gadis yang lebih muda 3 tahun darinya itu. Ia tidak menyukainya, benar-benar tidak menyukai siapa pun yang berani mendekati Diba-nya.
"Kak El?"
Delta a.k.a El mengerjap lalu menggelengkan kepalanya. Ia harus menekan egonya ini, ada hal yang lebih penting saat ini.
"Ikut aku. Ibumu di larikan kerumah sakit 30 menit yang lalu"
Diba menutup mulutnya kaget. El bergegas menarik Diba keparkiran sekolah.
"Aku sudah menunggumu sedari tadi, tapi kau tidak datang juga. Awalnya aku berniat menyusulmu kekelas, tapi ternyata kau sedang berpacaran, cih"
El memakaikan helm pada Diba, sedangkan gadis itu sepertinya tidak mendengarkan gerutuannya.
"Bagai mana keadaan ibu?"
Diba naik keatas motor El, ia hanya diam saat tangannya di tuntun El untuk memeluk pinggangnya.
"Ibumu masih di ICU, tadi waktu Amel kesana untuk menjenguk. Dia malah menemukan ibumu tidak sadarkan diri"
El menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi ketika memasuki jalan raya yang lenggang. Diba semakin menguatkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di punggung lebar El. Perasaan khawatir terus membesar di hatinya, Diba hanya berdoa, dan terus berdoa untuk kesembuhan ibunya. Setetes air matanya mengalir dari mata kanannya, ia memejamkan matanya kuat kuat agar sisa air mata yang menumpuk ikut keluar dan menahan yang lainnya.
Adiba tidak boleh menangis, ibunya tidak boleh melihat jejak air matanya, ia harus kuat dan tegar untuk ibunya, untuk semangat yang harus ia tularkan pada ibunya.
.
Adiba menatap lurus kedepan, gadis ini terus saja meneliti setiap jengkal wajah malaikatnya yang baru saja tertidur beberapa saat lalu, Kedua tangannya menggenggam tangan kanan sang ibu yang tidak di infus. Ia kembali teringat dengan percakapannya bersama sang ibu tadi,
"*ibu mau pulang saja ya, ibu baik baik saja"
"Ibu harus di rawat disini bu"
"Tapi bagai mana dengan biayanya? Lebih baik kita pulang yah"
Diba menghela nafas, sudah sedari tadi ibunya merengek ingin pulang.
"Ibu tidak perlu memikirkan tentang biayanya, ibu cukup fokus saja dengan kesehatan ibu. Biar nanti Diba yang pikirkan uangnya"
"Tapi nak ib_"
Diba menggenggam erat tangan sang ibu lalu memotong ucapannya.
"Diba akan mencari cara agar mendapatkan uangnya, Diba akan berkerja keras, jadi ibu percaya saja sama Diba ya"
Riri menatap sang anak dalam, ia sungguh tidak ingin membebani putrinya ini, apa lagi ia merasa sudah tidak bisa bertahan lama, mau di rumah atau di rumah sakit pun ia merasa tetap akan pergi. Tapi melihat permohonan putrinya ini ia merasa tidak tega, sudah terlalu banyak beban yang di pikulnya, tapi ia sendiri pun tidak bisa memberi harapan. Tidak ada cara lain selain menyetujuinya. Pada akhirnya Riri mengangguk dan tersenyum, seraya balas menggenggan tangan Diba erat.
"Bekerja keraslah, tapi ingat! Kamu juga harus menjaga kesehatan, jangan terlalu memaksakan dan jangan tinggalkan sekolahmu"
Adiba mengembangkan senyumnya dan mengangguk cepat.
"Janji*"
Diba menghela nafas berat. Pikirannya melayang kesegala arah.
'Sekarang harus bagai mana?'
"Diba keluar dulu sebentar ya bu"
Diba melangkahkan kakinya keluar ruangan tempat ibunya di rawat, menutup pintu kembali, berbalik dan...
BRUUKK
...Menabrak seseorang.
Gadis itu mundur beberapa langkah akibat tabrakan tersebut, yang lumayan keras. Sepertinya ia harus menyisihkan sedikit uang jajannya untuk membeli spion agar tidak menabrak orang lagi.
"Hei. Kau tidak apa apa?"
Diba mendongak, menatap seorang pemuda yang menjulang tinggi darinya. Ia mengangguk dan tersenyum tipis.
"Tidak apa apa, maaf karna tidak memperhatikan jalan"
"Ah tidak. Seharusnya aku yang meminta maaf, karna terlalu fokus dengan ponsel jadi tidak melihatmu"
Keduanya saling melempar senyum beberapa saat.
"Kalau begitu saya pergi dulu, permisi"
Diba pun berlalu setelah pemuda itu menganggukan kepalanya. Langkah demi langkah terus pemuda itu amati sampai akhirnya gadis itu menghilang terhalang tembok. Masih tersenyum ia bergumam.
"Cantik"
Kemudian ia memasuki ruangan di sebelahnya, ia berjalan mencari seseorang. Setelah menemukannya, senyumnya kembali mengembang ketika mendapati orang yang di carinya berada di berangkar paling ujung dari pintu, terhalang 3 berangkar lainnya yang di tutupi gorden karenantelah di tempati. Kemudian ia duduk di kursi sebelah pasien wanita tua.
"Eyang"
Ia menggenggam tangan berkeriput itu lembut. Perlahan mata wanita yang ia panggil 'Eyang' itu terbuka. Dan mendapati sang cucu tengah berada di sisinya.
"Kamu di sini nak?"
"Iyah. Eyang kenapa sih tidak mau pindah kamar saja?"
Sang Eyang tersenyum menanggapi rengekan cucunya ini.
"Disini Eyang tidak merasa kesepian, banyak teman yang bisa di ajak mengobrol. Lagi pula besok juga Eyang sudah bisa keluarkan, Arel jangan khawatir.
Arel, atau bernama lengkap DEREL SAMANTHA ZICKRI ini menghela nafas. Ia menatap sang nenek sendu.
"Maaf karna Arel tidak selalu bersama Eyang"
Eyang melepaskan genggaman tangan Varel dan mengelus kepalanya sayang, senyuman tidak luntur dari wajah tuanya.
"Tidak apa apa. Ada suster dira yang menjaga Eyang, Kamu fokus saja pada sekolah dan tujuanmu"
Varel menunduk dan menghela nafas.
"Arel menemukan alamat tinggalnya, tapi sayang, Ibu sudah pindah dan entah kemana. Arel sempat putus asa karna kehilangan jejak tentang Ibu, tapi ketika Arel kembali kesana dan menanyakan perihal siapa saja yang dulu tinggal bersama Ibu"
Eyang masih mempertahankan senyumnya ketika Varel mengangkat wajahnya dan tersenyum.
"Eyang tahu? Ternyata Eyang benar. Arel memiliki adik perempuan bernama Elin, tetangga lama Ibu yang memberitahuku. Juga ternyata Ibu telah memiliki suami baru. Arel juga menanyakan nama sekolah Elin dulu. Tapi ketika mendatangi sekolahnya, ternyata Elin keluar ketika baru kelas 2 SD, dan pihak sekolah tidak tahu kemana Elin berpindah. Mereka juga tidak memberikan Arel berkas tentang Elin, dengan alasan jika berkas tahun ajaran tersebut telah tidak ada."
Varel kembali menundukkan kepalanya, perasaan putus asa kembali menggerogoti hatinya.
"Terus sekarang Arel harus bagai mana Eyang? Ibu, Elin. Arel ingin bertemu mereka"
Pemuda itu mulai menitikan air mata. Perasaan rindu yang teramat sangat pada sang Ibu dan Adiknya yang bahkan belum pernah ia temui. Jika saja saat itu ia telah besar, maka ia bisa mencegah semua ini terjadi. Jika saja saat itu ia bisa memilih, mungkin ia akan memilih ikut dengan ibunya. Tapi apa daya, ketika semua itu terjadi, ia hanyalah bocah berumur 2 tahun yang belum mengerti apa apa. Bahkan ketika sang ayah membawanya untuk meninggalkan sang ibu pun ia dalam keadaan tidur.
Satu satunya orang yang harus disalahkan disini adalah Ayahnya. Seorang suami yang tega mengusir sang istri dari rumah karna kesalah pahaman, bahkan sampai memisahkan sang anak dari ibunya. Membawa putra mereka sejauh mungkin dari jangkauan ibu kandungnya.
"Sudahlah Nak. Tenangkan dirimu dulu, lalu setelah itu pikirkan lagi cara untuk menemukan ibu dan adik cantikmu"
Arel menghapus air matanya, menghela nafas dalam dan menyunggingkan senyum kepada sang nenek. Eyangnya benar, ia tidak boleh menyerah begitu saja.
"Eyang tidur yah. Sudah larut, Eyang harus banyak istirahat"
"Memangnya siapa yang datang membangunkan Eyang untuk curhat?"
Varel menggaruk tengkuknya salah tingkah.
"Iyah maafkan Arel yah Eyang. Eyang tidar lagi, Arel temankan"
"Kamu pulang saja, besok harus sekolah. Lagi pula disini ada suster yang mengontrol"
"Eyang yakin"
"Tentu, sana pulang"
Varel tersenyum dan mengangguk patuh. Setelah berpamitan ia pun keluar dari ruang inap sang nenek.
.
Jalanan malam yang lumayan ramay dengan kendaraan menjadi obyek yang menarik bagi Diba saat ini, tatapannya lurus kedepan dengan pikirannya yang berkecamuk luar biasa. Pertanyaan yang sama terus terulang di benaknya.
'Sekarang harus bagai mana?'
Hanya itu, dan itu terus yang ia pikirkan. Memikirkan biaya yang harus di keluarkan untuk kesembuhan sang ibu. Tidak pernah terlintas sedikit pun di benaknya tentang kemungkinan penyakit apa yang di derita Riri. Karna sang ibu tidak pernah mengeluhkan sesuatu yang serius atau merasa sangat kesakitan. Atau mungkin Ia sengaja menutupi semua dari putrinya.
HIPERTENSI, atau gangguan pada tekanan darah yang terlalu tinggi dan mempengaruhi dinding arteri. Penyakit ini tidak menampakan gejala yang serius, seperti yang di alamai Riri, ia hanya mengeluhkan kepalanya yang sakit dan tubuhnya yang selalu lemas tidak berdaya.
Akan tetapi Hipertensi juga bisa langsung menyerang jantung dan mengakibatkan struk bila pembuluh darah sampai pecah. Dan dokter yang menangani Riri tadi mengatakan, jika pasien mengalami serangan jantung ringan yang mengakibatkan dirinya tidak sadarkan diri.
Adiba mendongakan kepalanya ketika merasakan air matanya yang sedari tadi menggenang semakin banyak dan siap untuk terjun bebas di pipinya, walau pun percuma karna cairan sebening crystal itu tetap meluncur ketika Diba tidak sengaja mengedipkan matanya.