Little Do You Know

Little Do You Know
RUMAH BARU



Setelah melewati beberapa obrolan dengan sang ayah, akhirnya Diba pun memenuhi permohonan terakhir almarhumah Ibunya yang ia tulis dan berikan pada efendi sebelum Riri menghembuskan nafas terakhirnya. Saat didalam mobil menuju kediaman Dimas dan Mira, Diba hanya diam memandang keluar jendela. Sungguh, ia tidak ingin meninggalkan bapaknya sendirian setelah Ibunya meninggal. Dimas dan Mira beberapa kali mengajaknya berbicara dan Diba hanya menanggapi seadanya saja. Ia masih merasa canggung terhadap mereka, walau pun Mira adalah sahabat Ibunya dulu, tapi tetap saja mereka adalah orang asing baginya.


Karna kediaman mereka lumayan jauh dari tempat tinggal Diba, butuh waktu 1 jam 30 menit perjalanan, di tambah dengan kemacetan dibeberapa titik jalan, membuat mereka sampai di tujuan selepas Maghrib. Dan, disinilah Adiba sekarang. Di tengah tengah keributan yang di timbulkan oleh para penghuni rumah yang tengah memperdebatkan kepindahannya kerumah itu. Ah, lebih tepatnya Arkanlah yang mendebat keputusan kedua orang tuanya. Iya, Arkan! Pemuda yang selalu membully Diba itu ternyata anak dari Mira dan Dimas.


Tentu Diba sempat terkejut ketika mengetahui Arkan dan Arsen adalah anak pemilik rumah ini, dan mereka pun sama terkejutnya setelah mengetahui jika gadis pendiam itu akan tinggal di rumah ini. Entah ini sebuah keberuntungan karna Diba tinggal dirumah yang besar ini, atau sebuah petaka karna harus satu rumah dengan sikembar, Arkan lebih tepatnya.


"Bukankah dia masih memiliki Ayah tiri? Kenapa tidak biarkan saja dia tinggal bersama Ayah tirinya?"


Diba hanya menunduk mendengar ucapan Arkan. Memang benar ia masih memiliki Ayah tiri yang seharusnya masih bisa dijadikan tempat bernaung, tapi entah apa yang terjadi sehingga membuat Riri menyerahkannya pada sahabatnya.


"Kan sudahlah, ini sudah menjadi keputusan Ayah dan Bunda. Lagi pula ini wasiatkan"


"Benar apa yang di katakan Arsen, Bunda dan Ayah telah mengambil keputusan"


"Tapi bun-"


"Cukup Arkan Danial Lutfi, ini sudah menjadi keputusan kami. Jika kau tidak suka, kau saja yang keluar dari rumah ini"


Semua tersentak mendengar penuturan Dimas, seketika Diba melirik Arkan dan Arsen, mereka pun bereaksi sama sepertinya. Tidak lama Dimas melenggang pergi di ikuti Mira di belakangnya setelah meminta Arsen mengantarkan Diba kekamar yang akan tempatinya.


Diba menundukan kepala kembali ketika merasa tengah di perhatikan. sedikit ia melirik Arkan yang berada di hadapannya, dan benar saja, pemuda itu tengah menatapnya tajam. Membuat gadis lugu itu semakin menundukan kepala.


Habislah aku setelah ini T-T


"ASSALAMUALAIKUM, DIDIE YANG PALING CANTIK PULANG"


Seketika ketiga remaja itu mengalihkan pandangan mereka pada pintu tempat suara itu datang. Disana muncul seorang gadis tengah melangkah memasuki ruang tengah, tempat ketiganya saat ini. Seketika itu pula Diba memberalakkan matanya.


Kenapa dia juga ada disini? astaga


Diba memalingkan wajahnya dan menunduk kembali.


"Ah! Ternyata sedang ada tamu. Siapa kak? Mm didie tau... ini pasti kekasih salah satu dari kalian kan?"


'Astaga, apa yang dia katakan.'


Diba merapatkan matanya mendengar ucapan ucapan gadis yang kerap di panggil Didie itu.


"Bukan"


"Enak saja"


'Tentu saja bukan'


Jawab si kembar bersamaan dengan Diba yang menjawab didalam hati.


Gadis bernama lengkap Cindy Diandra itu adalah pelanggan setia minimart tempat Diba bekerja. Tentu ada alasan tersendiri mengapa dia sering mengunjungi minimart itu, padahal lokasinya sangat jauh dari rumahnya sendiri. Bukan hanya karena lokasi sekolahnya yang memang berhadapan dengan minimart, juga karna El. Iyah! Bisa di bilang Cindy adalah salah satu fans Delta, si tampan penjaga minimart, begitu para siswa sekolah Didie memanggilnya.


"Hai kak, kenapa menunduk seperti itu?"


Diba sungguh terkejut ketika sadar jika gadis itu telah duduk di sebelahnya tanpa ia sadari. Dengan perlahan ia memalingkan wajahnya dan menyunggingkan senyum kaku tatkala melihat mata Didie yang membola sempurna.


"ASTAGA. JADI KAK DIBA ADALAH KEKASIH KAKAK KU?" Teriak Didie kaget.


Refleks Diba menutup telinganya, terkejut dengan ucapan tidak terduga Cindy, di tambah dengan nada suaranya yang naik melengking menyakiti dendang telinga siapa pun yang bedara di dekatnya.


"Kakak kekasih siapa? Kak Arkan atau kak Arsen? Ah sepertinya tidak mungkin jika kak Arkan yang arrogant itu jadi kekasih kakak. Pasti kak Arsen ya...!" Cindy menunjuk Diba dan Arsen bergantian, dengan ekspresi menjengkelkan.


"Aku kasih tau ya kak! walau pun kakakku ini kembar, tapi sifat keduanya sangatlah berbeda. Kak Arsen itu sudah tampan, pintar, baik, juga ramah loh. Tidak seperti kak Arkan yang arrogant, jutek, kasar pula. Jadi aku sangat bersyukur jika ternyata kakak adalah kekasih kak Arsen"


Diba mengerjap beberapa kali mendengar penuturan Cindy yang panjang × lebar × tinggi × luas bangunan dengan kecepatan menyerupai cahaya. Ternyata bukan hanya Amel yang bisa berbicara secepat itu. Belum sempat Diba mencerna keseluruhan dari ucapan Cindy tadi, sebuah bantal sofa meluncur kehadapannya membuatnya kembali mengerjapkan mata beberapa kali.


"Aww, apa sih kak"


"Hentikan ocehanmu, Tidak sopan mengatai kakakmu sendiri seperti itu, apa lagi pada gadis seperti dia" Arkan, pelaku pelempar bantal itu menatap Cindy jengkel. Di katai seperti itu oleh adiknya sendiri di hadapan gadis rendahan seperti Diba membuat harga dirinya terinjak.


"Bukankah memang seperti itu, ya kan kak arsen?" Arsen hanya mengangkat kedua tangannya, tanda tidak ingin ikut campur dengan perdebatkan kedua saudaranya.


"Ish! Kak Arsen gitu deh. Kak Diba satu sekolahkan dengan kakak-kakakku? Pasti kakak taukan bagai mana tingkah kak Arkan di sekolah"


Diba memundurkan duduknya dan mengangkat kedua tangannya di atas dada lalu menggelengkan kepalanya cepat. Sesekali ia melirik Arkan yang tampak tidak perduli. Oh ayolah, saat ini Diba takut melakukan sesuatu atau berkata salah, bisa-bisa habis dirinya.


"A-aku tidak tau apa apa soal Arkan, bahkan kami tidak pernah bertegur sapa sebelumnya"


Memang benar apa yang di katakannya. Jika bertemu di sekolah yang Arkan lakukan hanya membully diba, tanpa ada sapaan.


"Benarkah? Ternyata kau tidak se-popular yang aku bayangkan" Cindy menatap remeh Arkan yang hanya acuh tidak perduli.


"Sudahlah Die, tolong antarkan Adiba kekamarnya" pinta Arsen


"Kakak saja, aku langsung pergi lagi setelah mengambil laptopku, ini juga sudah di tunggu. Lagi pula kamar kosong itu dilantai atas, satu arah dengan kamar kakak" tolak Cindy merebahkan punggungnya de sandaran kursi.


"Tapi kakak juga akan pergi sekarang, ada janji bersama Derel sekarang" jelas Arsen


Diba menatap Cindy dan Arsen bergantian dengan bingung.


"Bisa tunjukan saja kemana arahnya? Aku bisa sendiri" putus Diba.


Arsen dan Cindy saling bertukar pandang lalu beralih pada Arkan yang hanya berfokus dengan ponselnya dan menyumpal telinga dengan handset, entah sejak kapan. Dan tidak memperdulikan sekitarnya.


"Percuma. Sudah beritahu arahnya saja. Aku kekamar sekarang, Nuri sudah menanyaiku." ujar Cindy beranjak dari kursi.


"Baiklah Adiba, kau tinggal menaiki tangga lalu kesebelah kiri, nanti ada pintu 4 berhadapan, pilih pintu putih yang berhadapan dengan pintu warna coklat. Itu kamarmu." Intruksi Arsen.


"M, baiklah. Terimakasih"


"Aku sudah terlambat dari 30 menit yang lalu Derel pasti akan marah marah padaku. Aku pergi dulu ok" Arsen beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar tidak lama setelahnya Cindy pun keluar dari kamarnya sambil menenteng tas laptop mikiknya.


"Kak Arsen mana kak?"


"Baru saja keluar" jawab Diba.


"Astaga. Aku pergi dulu ya kak Diba, bye. Kak Arkan aku pergi, Assalamualaikum. KAK ARSEN TUNGGU, CINDY IKUT"


"Waalaikumsalam" balas Diba.


Setelah kepergian Cindy, Diba pun beranjak juga dari kursi dan menghampiri koper kecil miliknya. Sebelum pergi ia menatap Arkan yang masih berpukus pada ponselnya.


"Arkan, aku naik dulu"


Tidak ada jawaban dari sang tuan rumah, Diba pun menyeret koper lusuh milik almarhumah sang ibu menaiki tangga. Setelah sampai di lantai atas Diba mengedarkan pandangannya seleluruh penjuru. Di sebelah kanannya sebuah ruangan lengkap dengan soffa dan tv, juga peralaran bermain game. Ia menyeret kembali kopernya menuju arah kiri, sebuah lorong yang memiliki empat pintu, dua di sisi kanan berwarna putih dan dua di sisi kiri berwarna putih dan coklat. Sesuai instruksi, Diba membuka pintu berwarna putih yang berhadapan dengan pintu berwarna coklat Dan tampaklah isi kamar dengan nuansa warna putih dan peach, lengkap dengan lemari, meja belajar, meja rias dan kursi panjang dekat jendela.


BRAK


"Bunda menyuruhmu makan malam"


Setelah mengatakannya arkan pun pergi meninggalkan Diba dan koper yang ia buat tergeletak begitu saja.


Diba mengehela nafas, lalu mengambil kopernya dan meletakannya dengan benar, sebelum akhirnya turun dan menemui keluarga barunya.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Pagi sekali Diba telah berkutat dengan peralatan dapur, suara sepatula dan wajan yang beradu terdengar samar, wangi dari rempah yang bercampur menyeruak keseluruh penjuru ruangan. Menu sarapan yang ia buat kali ini hanyalah nasi goreng dengan telur goreng. sederhana memang, tapi setidaknya menu inilah yang bisa ia siapkan dengan cepat.


"Wangi sekali. Bunda jadi merasa lapar, apa yang kamu masak?"


Diba terhenyak ketika mendapati Bunda telah berdiri di sebelahnya.


"Ah! Bunda mengejutkanku saja. Aku membuat nasi goreng dan telur goreng Bun"


Diba memindahkan nasi goreng buatannya kedalam mangkok besar dengan perlahan.


"Wah, sepertinya enak. Kau tahu, nasi goreng telur itu makanan kesukaannya Ayah Dimas dan Arkan loh, apa lagi jika telurnya di taburi parutan keju"


Bunda berjalan menuju meja makan untuk menyusun piring dan menuangkan susu kedalam gelas, juga nasi goreng buatan Diba ke atas piring. Dan Diba melanjutkan mengoreng telurnya.


"Benarkah! Jika Arsen dan Cindy sukanya apa Bun?"


Diba menaburkan keju keatas telur buatannya.


"Cindy suka makanan pedas, dan sangat membenci sayur, sedangkan Arsen apa pun dia makan kecuali keju dan susu. Dia memiliki alergi parah untuk keju dan susu"


Diba menghentikan pergerakannya yang akan menaburi keju ke atas telur terakhirnya.


"Arkan dan Arsen itu sangatlah berbeda. Dari sifat, kesukaan, bahkan makanan. Jika Arkan begitu menyukai keju dan susu, maka Arsen alergi dengan itu. Pun dengan makanan pedas yang sangat di gilai Arsen, Arkan tidak bisa memakannya sedikit pun. Perutnya tidak akan tahan"


Diba meletakan telur yang telah selesai ia masak keatas piring berisi nasi goreng tadi.


"Sudah biar Bunda yang selesaikan, sebaiknya kau cepat bersiap siap, ini sudah siang"


Diba mengangguk dan memberikan pekerjaannya kepada Bunda.


"Diba keatas ya Bun"


Diba menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya. Ia melenggang santai sampai mencapai pintu, Diba memutar knop pintu tanpa memperdulikan suara pintu di belakangnya terbuka. Baru saja ia akan melangkah, suara serak khas orang baru bangun tidur menyapanya.


"Pagi"


Adiba membalikan tubuhnya menghadap si pemilik suara. Ia sedikit tertegun melihat pemandangan di hadapannya. Arsen, tengah berdiri di ambang pintu kamarnya dengan kaos pas badan berwarna hitam dan kolor pendek, rambut yang berantakan dan wajah bantalnya sedikit menghipnotis Diba pagi ini. Kini ia percaya dengan Novel yang selalu ia pinjam dari perpustakaan, bahwa laki laki tampan akan terlihat berkali lipat ketampanannya jika bangun tidur.


"Dari mana?"


Diba tersadar dari lamunan singkatnya, ia tersenyum sedikit lebar hingga gigi putihnya sedikit terlihat.


Kini giliran Arsen yang tertegun melihat gadis bullyan saudaranya itu tersenyum untuk pertama kalinya, dan benar benar manis menurutnya.


"Pagi juga. Aku baru dari bawah, kau baru bangun?"


Diba mengernyit mendapati Arsen yang melamun memandanginya seraya tersenyum.


"Arsen"


Ia melambaikan tangannya di hadapan Arsen, membuat pemuda itu tersadar dan salah tingkah.


"Ah iyah aku baru bangun. Ini mau mandi"


"Baiklah! aku masuk dulu"


Arsen mengangguk, dan Diba pun berlalu masuk kedalam kamarnya. Arsen memegangi dadanya seraya menghela nafas.


"Astaga, asupan energi pagi hariku. Senyumnya itu Astaga"


Arsen masih memandangi pintu putih di hadapannya dengan senyum yang terus mengembang, sampai pada akhirnya ia tersadar kembali dan menggelengkan kepalanya sambil menepuk pipinya pelan.


"Sadarlah Arsen"


Diba menutup pintu kamarnya seraya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia mengambil seragam di lemari dan mengganti pakaiannya dengan seragam lengkap, lalu menguncir tinggi rambut panjangnya.


"Arsen cepatlah"


"Sabar, tinggal keramas"


"Cepatlah, ini sudah siang"


Diba memgernyit mendengar keributan di luar kamarnya, dengan segera ia menyampirkan tasnya di bahu, berjalan menuju pintu dan membuka.


"Astaga. cepatlah Arsen"


"Iyah ini sudah"


Arsen keluar dari dalam makar mandi bertepatan dengan Diba yang baru keluar dari dalam kamar.


"Lama sekali, kau tahu ini sudah siang hah?"


"Salahmu kenapa suka sekali bangun telat"


"Jika kau tahu aku suka bangun siang, mengapa kau tidak mandi lebih pagi"


"Baiklah, mulai besok aku akan di bangunkan oleh si cantik"


Arkan mengernyit, sedangkan Diba terdiam bingung.


"Tolong ya Diba. Bangunkan aku setiap paginya mulai besok"


Diba tersentak kaget mendengar ucapan Arsen, apa lagi ketika Arkan berbalik dan menatapnya datar.


"Terserah, lalu sampai kapan kau akan menghalangi jalan. Ini sudah sangat siang?"


Arsen menyingkir membiarkan Arkan masuk dan menutup pintu.


"Aku turun terlebih dahulu"


Diba pamit lalu pergi dari hadapan Arsen menuju ruang makan.