Little Do You Know

Little Do You Know
MASALAH



"Ini kembaliannya, terima kasih"


Huft, Diba menganbil air mineral yang ia simpan di bawah meja kasir. Ia berjalan ke pintu gudang minimart.


"Kak el, aku istirahat sebentar ya"


Delta, atau lebih sering Diba panggil kak el itu tersenyum dan mengangguk.


"Baiklah, kakak juga selesai menyusun minuman ini, dan jangan lupa panggilkan Amel untuk menggantikanmu"


"Mm Baik. Dia menanyakanmu tadi "


Diba masuk dan menutup pintu kembali ia menaiki setiap undakan anak tangga menuju lantai atas, menuju gudang penyimpanan dan ruang istirahat karyawan. Ia memasuki ruangan bertuliskan R.istirahat di pintunya. Didalam ruangan itu hanya ada satu kasur busa besar, sebuah tv, kipas angin dan karpet yang di gelar. Ia berjalan menuju kasur dan berdiri di sebelahnya, lalu membungkukkan tubuh, memposisikan bibirnya di deket telinga Amel.


"GEMPA GEMPA, MAU ADA TSUNAMI"


Diba segera menjauhkan kepalanya ketika melihat Amel membuka mata, tanpa menghentikan teriakannya.


"GEMPA GEMPA TSUNAMI"


"AAA TSUNAMI. CEPAT KELUAR"


Amel meraih tangan Diba, menariknya dengan panik. Akan tetapi Diba tidak bergeming dari tempatnya, membuat Amel kembali melihat kebelakang. Dilihatnya gadis itu tengah menunjukan deretan giginya yang rapih. Ia mengerutkan dahi berfikir, sebelum kemudian matanya memberalak dengan mulut sedikit terbuka.


"ASTAGA DIBA. BAHKAN WILAYAH KITA JAUH DARI PANTAI"


Amel memegang kepalanya yang terasa berdenyut karena langsung berdiri ketika tidur tadi. Diba menarik Amel untuk duduk di tepi kasur, tatapannya penuh kekhawatiran.


"Kau tidak apa apa?"


"Karnamu kepalaku menjadi sakit, bodoh"


Di pukulnya kepala Diba keras, membuat sikorban mengaduh kesakitan.


"Kau ini sangat jahil dan menyebalkan sekali, tapi kenapa begitu cupu di sekolah"


Diba tersenyum dan menundukan kepalanya sebelum menjawab.


"Aku hanya merasa siswa disana bukanlah orangku"


"Memang bukan orangmu, memangnya kau bisa menciptakan orang?"


"Tentu saja bisa. Hanya perlu mencari benihnya"


"Aih bicaramu itu. Sudahlah, kau kesini mau istirahatkan.(diba mengangguk) kalau begitu aku temani kak Delta, kasihan jomblo kesepian"


"Kau juga jomblo Mel"


"Kau pun sama"


Keduanya terkekeh sebelum akhirnya Amel pergi kelantai bawah, membantu delta menjaga minimart.


'entah aku atau kau yang munafik disini'


Diba merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tangan kirinya ia letakan di dahi, pikirannya melayang kembali ke kejadian tadi sore di sekolah.


"Argh, bodoh"


Diba mengacak rambutnya. Ia benar benar merutuki kebodohanya saat itu yang berani berbicara pada Arkan dan bahkan menatapnya secara langsung.


"Habislah sudah"


Diba berguling kekanan dan kekiri dengan gelisah. Ia pun bangun duduk dan mengacak rambutnya frustasi. Bagai mana bisa ia menghadapi hari selanjutnya di sekolah, sudah bisa dipastikan jika ia takan bisa selamat.


"Astagfirullah"


Diba mengalihkan intuisinya pada El yang berada di ambang pintu.


"Kak El"


El dengan segera mendekati Diba yang mulai berkaca-kaca. Jarang sekali melihat gadis ini merengek, apa lagi sampai menangis. Karna itu El begitu terkejut dengan sikap Diba yang tiba-tiba berubah seperti ini, padahal waktu di bawah tadi ia masih baik-baik saja. Di tambah dengan penampilan Diba saat ini, rambut acak-acakan, muka muram dan mata berkaca-kaca, sungguh membuatnya terkejut.


"Kenapa hm?"


"Kak El sekarang Diba harus gimana?"


El semakin dibuat terkejut karna Diba menghambur kedalam pelukannya. Walau pun telah mengenal Diba cukup lama, tapi sikapnya yang satu ini sangat jarang Diba tunjukan. Semua orang yang mengenalnya tahu bahwa dia adalah gadis yang kuat dan ceria walau kadang jahil. Mungkin hanya pada El saja Diba selalu meluapkan segala yang ia rasakan.


"Ada apa? Kak El tidak mengerti jika kamu tidak menceritakannya"


Suara serak khas El terdengar menenangkan di telinga Diba.


"Aku dan Amel, OH ASTAGA AMEL. Ya Allah apa yang harus aku lakukan"


Air matanya semakin deras keluar, ia semakin panik ketika mengingat Amel juga terlibat.


"Ada apa? Apa yang terjadi padamu dan Amel? Ada yang jahat pada kalian? Katakan pada kakak siapa?"


El melepaskan pelukan Diba, ia mengguncang bahunya dengan cepat, membuat Diba mengerjap dan diam seketika.


"Eh, eng itu. Mm, gak ada apa apa"


"Diba"


"Mm, Tadi Diba mimpi deh kayanya, iyah mimpi"


Diba merengut ketika melihat El mengangkat tangannya. Diba tau bahwa El bukanlah orang yang ringan tangan, tapi melihat raut wajah datarnya membuat Diba sedikit takut. Diba kembali membuka matanya ketika merasakan usapan di kepalanya.


"Kalau ada apa apa bilang sama kakak ya. Kalau bisa nanti kakak bantu, apa lagi kalau ada yang gangu kamu, nanti kakak beri dia pelajaran"


"Aih kak El bikin aku deg degan tau"


El mengacak rambut Diba gemas.


"Masih kecil jangan cinta cintaan."


"Ih siapa yang cinta. Kan Diba bilang deg-degan. Lagi pula kak El bukanlah tipe ku"


"Sudah kamu istirahat, kakak mau kembali kebawah. Nanti Amel mengamuk karna di tinggal sendiri"


Diba menganguk setelah terkekeh. El pun keluar dan menutup pintu, meninggalkan Diba sendiri.


"Huft, hampir saja. Bodoh Diba"


*****


Waktu telah menunjukan pukul 22:20. Diba dan Amel tengah jalan beriringan di trotoar, Keduanya tertawa karna candaan yang masing masing mereka lontarkan.


"Eh Diba. Tadi kak Delta menanyakan kabar kita di sekolah"


Diba menghela nafas, kesalahannya hampir mengatakan semuanya.


"Terus kau jawab apa?"


"Baik-baik saja! Terus dia juga bertanya perihal teman, dan musuh kita"


"Jawabanmu?"


"Aku tidak berbohong. Hanya saja aku tidak menceritakan tentangmu"


Kali ini, Diba menghela nafas leganya.


"Ah, baguslah. Tadi secara tidak sadar aku hampir menceritakan semua yang terjadi pada kita tadi sore, aku takut kau akan di apa-apakan mereka"


Amel tersenyum menanggapi. Diba memang seorang teman yang baik, ia rela terluka untuk melindungi temannya.


"Kau seharusnya menghawatirkan dirimu sendiri. Bukankah kau yang selalu menjadi bulan-bulanan mereka. Ah maafkan aku yang tidak bisa melindungimu dan malah bersembunyi"


"Memang seharusnya begitu. Jika kau tidak aman, lalu siapa yang akan menghiburku nanti"


"Kau benar juga"


Sejujurnya Amel tak pernah merasa aman ketika melihat temannya di perlakukan secara tidak berperasaan di hadapannya. apa lagi ini semua adalah kesalahannya yang membiarkan Diba menggantikan posisinya.


FLASHBACK


*Amel menghentakan kakinya sepanjang perjalanannya menuju kelas, saat ini ia sangat kesal pada sang kakak, Delta. pasalnya kakak laki-lakinya itu meninggalkannya di rumah, padahal ini adalah hari pertamannya masuk sekolah, untunglah gerbangnya belum di tutup, jadi ia masih selamat.


Amel terus saja mengumpati Delta. Ia menendang tempat minuman cup yang masih berisi sedikit, ah Amel benar benar kesal saat ini.


"HEI. PERBUATAN SIAPA INI?"


Amel melebarkan matanya ketika melihat seorang pemuda yang berteriak tidak jauh di depannya. kemeja seragam pemuda itu berwarna biru di bagian bahunya karena terkena cairan yang ada di dalam cup yang di tentangnya tadi. Jantungnya berdebar kencang ketika melihat pemuda yang ia tahu bernama Arkan itu berjalan kearahnya, akan tetapi ia dibuat heran karena Arkan hanya melewatinya begitu saja. Amel mengikuti arah langkah arkan yang berhenti beberapa langkah di belakangnya, tepat di hadapan gadis yang sangat ia kenal baik yang kini tengah menunduk dalam.


"Kau yang melemparkan ini padaku?"


Amel bergidik mendengar suara Arkan yang dingin nan tajam. Amel baru saja akan buka suara ketika Diba bersuara.


"maafkan saya, tadi saya sedang kesal jadi menedang bekas minuman itu. saya tidak tau jika itu akan mengenai seseorang. saya minta maaf sekali lagi"


Amel benar-benar terperangah dengan apa yang di katakan Diba. Kesalahan yang seharusnya ia akui malah di akui temannya, bahkan penjelasannya pun sama dengan yang seharusnya ia jelaskan.


"saya benar-benar minta maaf. saya tidak sengaja melakukannya, bahkan sepatu saya pun terkena cairannya"


Tatapan Amel beralih pada sepatu kanan Diba yang memang sedikit basah disana.


"Jadi kau menyesal karna sepatu jelekmu itu juga terkena cairan menjijikan ini?"


"bu-bukan bukan seperti itu. saya benar-bener menyesal"


Amel menutup mulutnya ketika melihat Arkan menyiram Diba dengan minuman berwarna yang ia ambil dari salah satu siswi berada disana.


"kau tidak akan pernah bisa tenang disini gadis bodoh"


Amel tahu jika itu sebuah peringatan juga pertanda buruk yang akan menimpa teman baiknya itu. Satu hal yang Amel lupa tentang Arkan. Bahwa pemuda itu bukanlah tipe orang yang akan memaafkan tanpa balasan yang keji*.


FLASHBACK OFF


Amel benar-benar merasa bersalah karna itu. Dan satu hal yang tidak bisa ia lupakan adalah, ketika Diba dengan santainya berkata 'jangan lakukan hal bodoh Mel. Belajarlah dengan tenang dan jadilah penenangku. Dan bersikaplah tidak mengenalku ketika di sekolah, jangan biarkan aku menyesal kali ini' Adiba mengatakan itu ketika Amel menemuinya di toilet dan meminta maaf padanya. Awalnya Amel akan mengakui kesalahnya pada Arkan dan menejalaskan yang sebenarnya.


Amel tahu jika Diba dengan sengaja menggantikan posisinya. Karna jika di perhatikan lagi, noda di baju Arkan itu berwarna biru, sedangkan noda basah di sepatu hitam Diba terdapat warna kuning di tali sepatunya yang berwarna putih. Amel benar-benar tidak habis pikir dengan temannya yang satu ini.