Limerence

Limerence
First Meet



“Hari ini, Yang?” Khansa bertanya dengan nada sangsi. Rio baru saja menyampaikan kepadanya bahwa band cowok itu akan tampil sebagai peserta audisi yang diadakan oleh sebuah manajemen musik ternama tanah air. Kabarnya jika Rio berhasil memenangkan audisi ini, band-nya berkesempatan untuk memulai debut pertama mereka. Tidak tangggung-tanggung, debut yang direncanakan untuk memperkenalkan band mereka ini akan digelar di beberapa negara Asia Tenggara sekaligus.


Rio mengangguk kemudian menyipit curiga saat menatap Khansa. “Jangan bilang, kamu lupa.”


Khansa menggigit lidahnya sendiri, hampir saja ia mengatakan bahwa apa yang dikatakan Rio adalah suatu kebenaran. Dia bahkan tidak ingat nama audisi yang akan diikuti Rio, Khansa juga tidak tahu di mana audisi tersebut akan dilaksanakan.


“Aku ingat, kok,” bohong Khansa lancar. “Kamu berangkat barengan temen-temen kamu, kan? Kalau begitu, aku sama Naila aja.”


“Sebenarnya aku ingin mengajak kamu sekalian, tapi peserta harus datang satu jam lebih awal. Naila dan yang lainnya udah mengatakan kalau mereka akan sedikit terlambat. Kalau kupaksa ngajak kamu, aku khawatir kamu akan mati bosan. Belum lagi, aku nggak tau mau menitipkan kamu di mana, kamu, kan, suka cemas sendiri di tempat ramai dan asing.”


Khansa tertegun, tidak menyangka bahwa Rio sangat memikirkannya.


“Jadi, ya udah, kamu datang barengan Naila aja, barengan Esme dan Rafisqy juga.”


“Yo.” Elfan langsung menyapa begitu masuk ke kelas. “Ayok, udah jam sebelas,” katanya sambil melihat jam tangannya sendiri.


“Kau duluan aja, aku mau mengantar Khansa dulu.”


Elfan melirik kepadanya sejenak, lantas tersenyum sebelum bertanya, “Datang, kan, Nca?”


“Iya.”


“Sip lah, aku duluan, ya,” pamit Elfan, “Aku duluan, Yo. Kau jangan sampai terlambat!” katanya mengingatkan Rio.


Setelah Elfan meninggalkan mereka berdua, Khansa berbicara kepada Rio. “Kamu nggak perlu nganterin aku dulu, kalau kamu terlambat gimana?”


“Masih jam sebelas, masih sempat kalau aku mengantar kamu dulu.”


Khansa akan menolak lagi, tapi rasanya sangat tidak adil bagi Rio. Pemuda itu sudah sangat baik memperhatikan dirinya, sementara apa yang dilakukan Khansa selama ini rasanya sudah keterlaluan, rasanya dia tidak pantas lagi berdiri di samping Rio.


“Ya, udah, pulang sekarang aja.” Ajak Khansa, “Nanti nggak keburu kalau kamu makin lama.”


Rio menurut, dia berdiri, langsung mengenggam tangan Khansa, mengajak gadis itu berjalan bersisian hingga ke parkiran.


“Yang.” Rio memanggil namanya pelan.


“Ya?”


“Kamu nggak ada yang sedang disembunyikan dari aku, kan?”


Pertanyaan yang dilemparkan terlalu tiba-tiba itu membuat jantung Khansa berpacu lima kali lebih cepat dari detak normal. Berdebar-debar hingga rasanya bisa copot sangking kuatnya rasa takut yang dirasakan Khansa.


Khansa masih diam, memikirkan jawaban terbaik yang bisa ia berikan tanpa memberi celah untuk Rio kembali menyudutkannya dengan pertanyaan.


“Memangnya apa yang bisa kusembunyikan dari kamu?”


Rio berhenti melangkah, memberikan seluruh perhatiannya kepada Khansa, membuat Khansa panas dingin sebelum senyum Rio menenangkan debar jantungnya.


“Iya, juga, ya? Orang kayak kamu mah, lurus-lutus aja. "


Khansa tersenyum.


“Ya udah, lupakan aja pertanyaanku tadi. Kayaknya aku terlalu gugup karena audisi ini.”


Khansa meremas tangan Rio yang sedang menggenggam tangannya, “Jangan gugup, karena itu hobi aku,” kelakar Khansa. Dan sepertinya berhasil membuat Rio lebih tenang, karena cowok itu tertawa lepas.


“Kamu aneh, gugup aja dijadiin hobi.”


Khansa tertawa saja diejek begitu, senyumnya makin lebar ketika Rio mengusap puncak kepalanya lembut.


“Aku sayang kamu.”


“Sayang kamu juga.”


*


Jika seseorang bertanya kepada Khansa, tentang kapan datangnya kiamat? Maka Khansa akan menjawab, saat ini. Tepat saat ini, ketika Agam berdiri di depan pintu rumahnya dan dia yang baru saja turun dari boncengan Rio.


Khansa merasa udara berhenti memasuki paru-parunya, darah berhenti mengaliri tubuhnya, dan waktu berhenti bergerak untuknya. Otak Khansa tidak mampu berpikir ketika Agam menatapnya dengan mata yang berkilat cemburu. Sementara Rio berdiri di sampingnya dengan dahi yang berlipat.


Pertanyaan Rio mengubah bentuk tatapan Agam kepadanya. Agam seolah menantangnya untuk mengakui sesuatu.


“Yang?” Rio masih bersuara penasaran.


Khansa terlonjak, nyaris melompat begitu Rio agak berbisik di telinganya.


“Ha? Kamu ngomong apa?”


“Kamu kenapa? Ngelamunin apa? Aku tanyain dari tadi.”


Khansa menggeleng, “A..ku, aku baru ingat, kayaknya aku ketinggalan sesuatu di kampus.”


“Apa yang ketinggalan? Kamu kenapa ceroboh banget, sih, Yang.”


“Catatan.” Khansa mnejawab cepat. “Aku ketinggalan catatan," sambungnya terdengar yakin.


“Ya udah, biar aku mampir ke kampus lagi, nanti kuambilkan.” Jawaban Rio tidak terlalu dihiraukan oleh Khansa. Matanya hanya menatap Agam yang mengulum senyum penuh ejekan terhadapnya.


“Ngomong-ngomong, siapa itu?” Rio kembali bertanya, kali ini dia memperhatikan Agam dengan seksama.


Agam masih menatapnya, menunggu jawabannya sambil mempertahankan senyum penuh tantangan kepadanya.


“Yang?”


“Ha?”


“Siapa?”


Khansa tahu ia harus memberikan jawaban, tapi otaknya terasa buntu. Tidak ada satu pun jawaban yang melintas di benaknya, hingga kemunculan Fay di belakang Agam menghidupkan lampu dalam kepala Khansa.


Seperti mendapat oase di tengah padang pasir, Khansa tersenyum lebar ketika berkata, “Pacar Fay.”


Fay mengumpat pelan, menatapnya seolah ingin membunuh Khansa. Sementara Agam hanya mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi.


“Dia punya pacar?” Rio berbisik pelan di telinganya, takut suaranya terdengar oleh Fay.


“Iya.”


“Si muka jutek itu?”


Kalau tidak ingat nyawanya sedang diujung tanduk, maka Khansa akan tertawa terbahak-bahak karena perkataan Rio.


“Kenapa memangnya kalau aku punya pacar?” Rupanya Fay tahu pembicaran mereka, sepertinya gadis itu memiliki pendengaran yang setara dengan kelelawar.


Rio tersenyum, menggaruk tengkuknya salah tingkah. “Kamu mau datang Fay?” Rio berhasil mengalihkan pembicaraan pada akhirnya. “Abang ada audisi hari ini, sekalian ajak pacar kamu.”


“Nggak mau.” Fay langsung menjawab terus terang. “Pacarku pasti juga nggak mau di ajak ke sana.”


Mengabaikan semua hal yang sedang terjadi, Agam justru berjalan ke arah Khansa dan juga Rio. “Baru pulang, Kak?” tanyanya sambil menekankan kata ‘kak’.


“Rio.” Rio mengulurkan tangan kepada Agam. “Pacar Khansa.”


Agam mengabaikan tangan itu, ia hanya menatap sekilas lalu tersenyum miring sebelum kembali berjalan ke teras rumah Khansa. Benar-benar meninggalkan Rio dengan tangan yang masih menggantung di udara.


“Pantes aja si jutek punya pacar.” Rio menggerutu pelan setelah menaruh kembali tangannya di sisi badan, “Kelakuan mereka sebelas dua belas.”


Khansa tersenyum tipis, menatap horor ke arah rumahnya. Bahkan ketika Rio pamit pun, Khansa tidak memperhatikan lagi, karena dia sibuk memikirkan keselamatan nyawanya yang akan dieksekusi oleh dua orang jelmaan Lucifer.


*


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.


Semoga ibadahnya lancar😄😄


*


Happy Reading😊😊