
Di depan pintu rumahnya, Khansa tertegun. Napas Khansa rasanya tertahan di tenggorokan. Sosok yang berada di depannya membuat perempuan itu kehilangan kalimat untuk diucapkan. Agam Pratama berdiri di hadapannya dengan seringai yang menyebalkan.
“Hai,” sapa Agam membuka percakapan. “Apa kabar, Anca?”
Khansa mengerjapkan matanya perlahan, lalu berdehem, “Agam?” tanyanya tidak percaya. Ia masih bingung dengan kehadiran Agam yang terlalu tiba-tiba.
“Iya, ini aku.” Lelaki itu mengulum senyum simpul. “Bagaimana kabar kamu, Anca?”
“Aku masih bernapas.” Khansa berusaha terdengar dingin. Tapi gagal dengan sangat menggenaskan, karena Agam justru terkekeh merasa geli dan lucu mendengarnya.
“Astaga, Anca, dari mana kamu belajar menggunakan nada seperti itu, hm?”
Khansa tidak menjawab. Ia sibuk menenangkan hatinya yang telah lancang berdebar tidak karuan.
“Tidak menawariku masuk?” tanya Agam masih dengan senyum gelinya.
Khansa berusaha mencairkan kebekuan kakinya, lalu perlahan menyingkir agak ke tepi, memberi jarak supaya Agam bisa berjalan memasuki rumahnya. Agam melangkah melewatinya, Khansa mengikuti, mereka berjalan ke arah sofa yang ada di ruang tamu Khansa.
Khansa melarikan matanya ke mana saja, menghindar agar tidak menatap Agam. Sosok laki-laki dengan tubuh tinggi menjulang yang sedang duduk di hadapannya itu adalah cobaan terberat dalam hidupnya. Agam adalah orang yang dulu pernah mengisi hatinya dan sejujurnya sampai saat ini Agam masih menempati ruang khusus di hatinya.
“Aku merindukanmu.” Ucapan Agam membuat Khansa menoleh kepada laki-laki itu. Lalu ketika mata itu mengunci tatapannya, Khansa menemukan mata Agam masih menatapnya penuh cinta, kehangatan, dan rindu yang memberontak minta dilepaskan.
Khansa tercengang. Lidahnya kelu. Agam masih menatapnya, lalu kembali bicara. “Aku tahu siklus kita selalu sama. Aku selalu datang ketika kamu sedang bahagia. Membuat kamu bimbang lalu menghilang.”
Agam berdiri, lalu melangkah menyebrangi meja dan duduk di sampingnya. “Tapi ini.” Agam mengambil tangan Khansa dan meletakkan tangannya di atas dada pria itu. “Ini selalu mau kamu. Cuma kamu.”
Khansa hampir terisak, mukanya memerah, matanya berair, dan napasnya tercekat. Diapun merasakan hal yang sama, tapi bayangan Agam ketika meninggalkannya tanpa penjelasan berhasil menguatkan.
“Aku sadar telah menyakiti kamu dengan sikapku yang seperti itu, aku minta maaf, Anca.” Agam mengenggam tangannya hangat.
“Kamu selalu minta maaf untuk hal yang akan kamu ulangi.” Untuk pertama kalinya Khansa bersuara lebih banyak.
“Kali ini ….”
“Hentikan,” potong Khansa gusar. Hatinya lemah, apalagi jika sedang berhadapan dengan pemiliknya seperti ini. Khansa bahkan berani bertaruh kalau ia akan kembali luluh. Tapi mumpung kesadarannya masih tersisa, Khansa ingin sekali saja ia bersikap berdasarkan logikanya.
“Aku sudah memiliki kekasih. Lagi pula, seperti katamu, siklus kita selalu sama. Dan aku sudah lelah.”
“Aku melakukan kesalahan.”
“Anca,” erang Agam. “Jangan membohongiku, aku bahkan yakin sampai sekarang kalau di sini.” Agam meletakkan tangannya di atas dada kiri Khansa, “Masih aku yang bertahta,” sambungnya.
“Aku bukan lagi orang yang sama. Aku sudah berubah. Hubunganku baik-baik saja dengan kekasihku, aku bahagia. Jangan mengusikku, Agam. Aku mohon,” desah Khansa tak lagi mampu menahan air matanya.
“Khansa… aku ke sini bukan untuk membuatmu menangis. Aku hanya ingin memastikan rumahku baik-baik saja.”
“Rumah?”
“Kamu,” jawab Arkan cepat. “Kamu adalah rumahku, akan selalu menjadi tempatku pulang. Tidak masalah dengan siapapun kamu sekarang, karena tamu tidak akan menetap lama.”
“Agam.”
Agam menghapus air matanya, “Aku tidak ingin melihat ini keluar dari mata kamu.” Kemudian Agam menariknya dan mendekapnya erat. “Miss you so much until it hurt, Anca.”
Dan Khansa tahu, bahwa sekali lagi ia kalah oleh rindunya.
***
Halo, selamat malam.
Aku Dee, baru belajar menulis dan ini karya pertamaku.
**
Semoga kalian suka, dan terima kasih jika meninggalkan like dan komentar.
**
Happy Reading.
**
Salam sayang.