
Khansa membanting ponselnya ke atas kasur ketika suara operator kembali menyahut sambungan teleponnya. Ini sudah satu bulan berlalu dan telah berapa ratus kali ia mencoba menghubungi Agam. Namun, tidak satu kali pun Agam yang mengangkat teleponnya, semuanya disambut oleh operator yang membuat Khansa melemparkan handphone-nya karena merasa keki.
Pesan singkat juga tidak dibalas, chat WhatsApp hanya centang satu, semua akun sosialnya terkunci. Agam sungguh seperti jin dalam kehidupan manusianya. Jika Agam memutuskan pergi, maka dia benar-benar menghilang. Meninggalkan Khansa yang kembali meradang karena kesulitan untuk mengobati rindunya. Betapa pun parahnya Khansa merindu, ia tidak akan mendapatkan penawarnya. Dia tidak akan menemukan Agam di mana pun, dia juga tidak akan bisa menghubungi Agam dalam bentuk apa pun. Yang bisa Khansa lakukan adalah menggeram kesal, merapalkan mantra setiap hari sebagaimana yang selama ini ia lakukan.
Mantra pertama, dia tidak akan memaafkan Agam kalau pria itu kembali muncul di kehidupannya. Mantra kedua, dia tidak akan jatuh lagi dalam pelukan Agam, persetan dengan pria sialan itu. Khansa tidak akan peduli.
Dan seharusnya, jika ia sudah khatam dengan semua perangai Agam, Khansa juga harus khatam akan dirinya sendiri. Bahwa selama apa pun Agam menghilang dan sebanyak apa pun dia merapalkan mantra, Khansa akan tetap kalah dan membiarkan rindu mengambil alih setiap kali Agam berdiri di depannya. Seperti yang terjadi saat ini.
“Hai.” Agam tersenyum lebar di depannya, bertingkah seolah pria itu tidak pernah melakukan dosa terhadap hatinya yang malang. “Miss you, Anca.”
Khansa masih memastikan penglihatannya ketika Agam sudah menariknya ke dalam pelukan pria itu. “I really miss you.”
Khansa meronta, kemudian berhasil lepas dari kukungan tangan Agam. “Persetan dengan kamu.”
Bukannya sakit hati, Agam justru tertawa terbahak-bahak. “Kamu memang menakjubkan, baby. Mengalami peningkatan lagi, huh?”
“Ngapain kamu ke sini lagi?” Khansa bertanya ketus.
“Kasihan sama rumah aku.”
“Apa?”
“Merindu lama-lama, nanti kamu nggak kuat.”
Khansa mendelik, Agam ini sungguh pria sialan. “Pergi! Aku nggak mau ketemu kamu lagi.”
Agam masih tertawa, kemudian dia mengangguk sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Tubuhnya bersandar ke dinding di belakangnya. “Aku yang ingin melihat kamu.”
“Aku benci kamu, jadi kamu nggak boleh ngelihat aku. Pokoknya aku nggak mau dilihat sama kamu!" Khansa setengah berteriak kepada Agam. Tidak peduli jika posisi mereka saat ini sedang berdiri di depan pintu rumah Khansa dan banyak tetangga julid yang sedang memperhatikan.
“Oke, benci aku sepuas kamu.” Agam membuka sepatunya, “Aku masuk ya.”
Khansa sudah meledak karena emosi, tetapi Agam justru bersikap sangat santai. “Agam, pergi!” Khansa berkacak pinggang di depan Agam yang sudah mencari sisi faforitnya di sofa. “Aku nggak mau bertemu kamu!” Khansa masih berteriak untuk menyamarkan suaranya yang hampir bergetar karena rasanya dia ingin menangis.
Agam berdiri, mendesah pelan sebelum berkata dengan nada yang sangat menyebalkan. “Come on, Anca. Kenapa kamu nggak membiarkan aku membayar utang penantian kamu? Kamu punya pilihan untuk menuntaskan rindu tapi memilih menahan air mata seperti itu.”
Agam berdiri menjulang di depannya, lalu mendekapnya. Khansa membiarkannya kali ini, bukankah sudah ia katakan, bahwa sebanyak apa pun Khansa bertekad, dia tidak akan bisa menolak Agam. Hatinya yang malang sudah terpaku hanya pada Agam.
*
“Jadi, kemana kamu selama ini?” Khansa baru bisa menormalkan suaranya setelah hampir setengah jam dia hanya menangis dalam pelukan Agam.
Agam berdecak. “Huh, padahal kukira kamu akan terus memelukku dan melupakan pertanyaan itu.”
“Aku belum mengarang alasan, Sayang. Bisa nggak besok aja kamu menanyakan pertanyaan itu?”
Khansa memukul Agam sekuat tenaga. Meninjunya bertubi-tubi, “Jadi, kamu mengarang semuanya?”
“Ya.” Agam mengangguk kalem.
“Sialan.” Khansa kembali memukul Agam.
“Aku nggak masalah kalau kamu semakin berani, tapi jangan mengumpat.” Agam menangkap tangannya. “Nggak masalah kalau cewek di luar sana mengumpat kiri kanan, tapi kamu nggak akan kubiarkan.”
“Kamu mengarang cerita untuk menjawab pertanyaanku. Apa lagi yang bisa kulakukan? "
Khansa mengernyitkan dahinya ketika Agam tertawa, “Astaga, sebenarnya kamu mengalami peningkatan atau nggak? Masih saja nggak tau mana yang bercanda mana yang bukan.”
Khansa sudah akan memukul lagi ketika Agam berkata, “Aku cemburu. Aku butuh pergi untuk nenangin diri sendiri.”
Khansa menahan senyumnya untuk tidak terbit, tapi gagal karena kenyataan kalau Agam cemburu terhadapnya membuat Khansa melayang ke angkasa.
“Jadi boleh kulihat daftar tamu yang datang ke rumahku?”
“Maksudnya?”
Agam tidak menjawabnya melainkan mengutak-ngatik ponselnya. “Jadi, masih sama dia?”
“Menurut kamu?” Khansa bertanya kesal. “Aku bukan kamu yang suka gonta-ganti.”
“Apa salahnya berpetualang?” Agam tersenyum menggoda, “Toh, aku udah pasti pulang ini.”
“Aku benci kamu.”
Jawaban Arkan hanya tertawa, merasa geli dengan ucapannya yang jelas berkebalikan dengan apa yang dirasakannya.
*
Selamat pagi, Semuanya😊😊
Happy Reading 😊
*