
Khansa baru saja mengantarkan Agam sampai ke pagar rumahnya. Hari sudah hampir larut ketika Khansa berhasil mengusir Agam dari rumahnya. Memang ketiadaan orang tuanya di rumah, membuat Khansa lebih leluasa untuk menerima tamu sampai tanpa memperhatikan batas jam malam.
“Siapa?” Suara itu mengagetkan Khansa yang baru saja menutup pintu besar rumahnya. Khansa menoleh dan mendapati Fay, perempuan berwajah dingin yang telah diutus semesta untuk menjadi sepupu jauhnya.
“Sejak kapan kamu berdiri di sana?” Khansa bertanya.
“Cukup lama untuk ngelihat acara lovey dovey kakak,” balas Fay yang membuat Khansa ingin mencekik adik sepupunya itu. Kalau Agam selalu bertanya-tanya tentang perubahan signifikan Khansa dalam berucap sarkas, maka Fay adalah jawabannya. Sejak dititipkan oleh orang tuanya enam bulan yang lalu, Fay berhasil membuat Khansa mulai sedikit akrab dengan segala bentuk sarkas yang menjadi ciri khas gadis itu.
“Kamu nguping?”
“Ruang tamu ini terletak persis di depan pintu kamarku. Aku bisa apa kalau suara kakak sangat cempreng dan memekakkan telinga.”
Sudahkah, Khansa mengatakan kalau ia ingin mencekik Fay? Kalau sudah, maka Khansa tidak keberatan untuk mengatakannya lagi, meskipun dalam hati.
“Harus banget kamu menghina suara kakak?”
“Aku?” Gadis tengil itu menunjuk dirinya sendiri, “Bagian mana dari perkataanku yang menghina?”
Khansa baru akan menjawab saat tersadar jika apa yang dikatakan Fay tidak bisa dikatakan menghina. Suaranya memang cempreng, hampir seperti suara tikus terjepit. Apa yang dikatakan Fay adalah fakta, hanya saja nada perempuan itu menyampaikan membuat Khansa merasa dirinya dihina.
“Terserah kamulah.” Khansa berjalan melewati Fay dan menuju kamarnya.
“Kak.” Suara Fay membuat Khansa berhenti di depan pintu, “By the way, kakak belum jawab pertanyaanku.”
“Yang mana?”
“Siapa?” ‘Dia?’ Khansa menambahkan sendiri objek dalam kalimat pertanyaan Fay yang sangat amat membuat guru bahasa Indonesia merasa keki karena tidak menggunakan SPOK (Subjek, Prediket, Objek, dan Keterangan) dengan baik.
“Teman.”
Fay mengangguk. Setelah itu ia melangkah ke kamarnya, sehingga Khansa pun membuka pintu kamarnya sendiri. Namun, baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, Fay kembali berbicara.
“Untuk ukuran orang seperti kakak, cara berteman kakak cukup ekstrim, ya.”
Sengaja atau tidak, tapi perkataan Fay mampu membuat Khansa tertohok begitu dalam. Ada alasan kenapa pada namanya tersemat gelar introvert akut. Jumlah teman Khansa bisa dihitung dengan jari, oleh karenanya meskipun Fay terhitung baru hidup bersamanya, pastilah gadis itu mengetahui hal tersebut. Ketidakmauan Khansa keluar dari zona nyamannya, membuat Naila, Rio, Esme, Rafisqy, dan Elvan sesekali berkumpul di rumahnya. Sehingga, gadis tengil itu mengetahui bagaimana caranya berteman.
Seolah perkataan Fay tidak cukup untuk membuat Khansa merasa buruk, panggilan masuk ke ponselnya turut menambah kesuraman pada Khansa sepanjang sisa malam itu.
“Halo, Yang,” sapanya ketika menempelkan telepon genggam itu ke telinga kirinya.
*
“Yang.”
“Hm.”
“Pinjem hape kamu.”
“Buat?” Khansa bertanya heran ketika Rio tiba-tiba meminjam ponselnya, tapi tangannya tetap merogoh tas kuliahnya. “Nih,” katanya sambil memberikan handphone-nya kepada Rio.
Rio menerimanya sambil tersenyum penuh rahasia. Khansa yang sedang menikmati makan siangnya di kantin kampus, hanya mengangkat bahu acuh. Mengabaikan apa pun yang dilakukan Rio pada handphone-nya.
“Nih.” Rio mengembalikan handphone-nya tak lama setelah itu.
“Buat apa sih?”
Rio hanya tersenyum sambil mengangkat bahunya.
Khansa awalnya biasa saja, tapi ketika Naila muncul di hadapan mereka sambil membawa makan siangnya dan segelas es teh manis, Khansa merasa gugup luar biasa. Dia remas handphone yang masih digenggamnya dengan erat.
“Udah?” tanyanya begitu saja kepada Rio.
“Udah. Thanks ya.”
Khansa menatap keduanya bingung, berbagai pikiran buruk bermunculan di kepalanya.
“Lho, Nca, muka kamu kok pucat begitu?” Naila bertanya kepadanya sengaja memberinya senyum penuh rahasia sehingga Khansa semakin merasa was-was.
“Kamu sakit lagi?” Rio ikut bertanya setelah memperhatikan Khansa.
“Nggak.” Khansa menggeleng. “Kalian lagi bahas apa?”
“Terus apanya yang udah?”
“Itu tugas untuk mata kuliah pak Edo, kamu tau sendiri pak Edo nggak mentolerir keterlambatan. Jadi, tadi setelah ketemu Naila di parkiran aku langsung lari-lari ke ruangan pak Edo baru ke sini,” terang Rio yang membuat Khansa bernapas lega. “Kenapa?”
“Nggak papa.” Khansa tersenyum. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Naila tersenyum geli sambil meminum es tehnya.
“Aku duluan ya, ada latihan sama anak-anak. Kamu ada kuliah lagi, kan?”
“Iya.”
“Ntar, kalau udah mau selesai, kabarin, biar kujemput.”
“Ng ….”
“Mau pulang pake ojek online lagi?”
“Kamu kan latihan, Yang. Kejauhan kalau kamu harus bolak-balik menjemputku.”
“Kujemput.” Setelah memakai jaketnya dengan benar, Rio mengusap puncak kepala Khansa. “Jangan tungguin di tempat yang panas, kamu sering sakit kepala belakangan ini.”
Khansa hanya bisa mengangguk, menatap sendu pada punggung Rio yang semakin menjauh.
“Makanya jangan selingkuh.” Komentar sinis itu serta merta membuat Khansa menatap Naila. “Aku diam aja, bukan berarti aku dukung kamu, ya, Nca. Kamu salah, kamu tau itu, kan?”
Khansa hanya mengangguk pasrah. Mau bagaimana lagi, apa yang dikatakan Naila memang benar adanya. Tidak seharusnya ia masih menyimpan rasa untuk mantan kekasihnya apalagi sampai menikmati kebersamaan dengan mantannya tersebut disaat dirinya sendiri telah memiliki komitmen dengan orang lain.
“Satu-satunya alasan yang membuatku bungkam adalah karena aku tau, aku nggak punya hak. Kewajiban kamu untuk mengatakannya kepada Rio.”
“Aku belum memiliki waktu yang tepat.”
“Waktu yang tepat untuk memutuskan hubungan kamu dengan Rio?”
“Nggak seperti itu ….”
“Kamu pernah ngelakuin hal yang sama ke Hamzah.”
Khansa menunduk lesu, diingatkan kembali akan dosanya yang telah lampau membuat Khansa tidak berselera lagi untuk melanjutkan makan.
“Kalau kamu memang nggak bisa lepas dari Agam, jangan memberi kesempatan kepada orang lain.”
“Aku ….”
“Nggak bisa kalau nggak ada pacar?”
Khansa terdiam.
Naila mendengus, “Gimana bisa orang kayak kamu mendapat gelar introvert sejati?” Naila menatap Khansa serius, “Aku serius, Nca. Kamu harus menentukan sikap. Kamu nggak bisa tetap bersama Rio sementara dibelakang dia kamu jalan sama Agam.”
Hening, sampai Khansa memanggil pelan Naila yang sudah serius menikmati makanannya.
“Nai.”
“Hm.”
“Makasih, ya.”
Naila tidak menjawab ucapan terima kasihnya, Khansa mengerti. Pasti sulit berada di posisi Naila. Naila berada ditengah-tengah dirinya dan Rio, menutupi kebusukan Khansa berarti dia membiarkan sahabatnya dibohongi. Namun, berterus terang kepada Rio juga berarti dia menyakiti Khansa, sahabatnya juga.
*
Halo, semuanya.
Jam berapa pun kalian membaca ini, happy reading😊😊
*
Luv you, All. 😍😍
*