Limerence

Limerence
Exchange



Khansa memasuki rumahnya dengan perasaan campur aduk. Cemas sekaligus marah. Cemas karena sudah melibatkan Fay dalam masalahnya tanpa persetujuan gadis itu. Marah karena dia tahu, Agam sengaja memperlihatkan dirinya kepada Rio. Lelaki itu sengaja datang setelah Khansa sudah menegaskan bahwa ia akan pulang dengan Rio.


“Hai, Kak.” Sapaan itu kental dengan nada mengejek. Agam menatapnya geli bercampur kesal. Sementara Fay sudah tidak terlihat batang hidungnya.


“Kamu sengaja?” Khansa tidak bisa menahan dirinya untuk tidak langsung menuduh Agam.


“Apa maksud kakak?” Agam justru mempermainkannya.


“Agam.”


“Iya, Kak?”


Khansa memijit keningnya ketika kembali berbicara, “Apa yang ingin kamu dapatkan setelah semua ini?”


Ekspresi Agam berubah, matanya menatap tajam, suaranya terdengar tegas ketika mengatakan, “Udah saatnya kamu memutuskan dia.”


“Agam.” Suara Khansa terdengar sangat putus asa ketika meminta pengertian.


“Tamu nggak seharusnya berlama-lama, Anca.”


“Ini nggak akan adil buat dia.”


“Lalu, menurut kamu, ini adil buatku?”


“Itu konsekuensi untuk kamu. Kamu yang memilih pulang disaat seperti ini.”


“Kamu yang akan menyuruhnya pergi dengan baik-baik atau aku yang akan turun tangan untuk mengusirnya?” Agam tidak menghiraukan ucapan Khansa.


“Aku nggak punya alasan untuk menyakitinya, Agam. Tolong, mengertilah.”


“Jadi, menurutmu, kamu memiliki alasan untuk menyakitiku? Apa karena masa lalu kita? Kamu mau membalas dendam?”


“Nggak.” Khansa menggeleng putus asa. “Aku nggak pernah dendam sama kamu.” Air mata sudah menggenang di pelupuk mata gadis bertubuh mungil itu. “Tapi aku masih memiliki komitmen sama dia.”


“Komitmen yang kamu bangun untuk kamu hancurkan?” Agam bertanya sinis.


Khansa memejamkan matanya. Kepalanya berdenyut dan pandangannya berkunang-kunang. “Jangan sekarang.”


“Kapan?”


“Kenapa kamu mendesak aku?” Khansa menjerit, “Kamu tau? Kalaupun ada orang yang berhak meminta seseorang untuk pergi, itu bukan kamu. Tapi, dia.”


“Begitu?” Agam yang sudah terpancing emosi sejak Khansa menolak untuk dijemputnya mendadak langsung tersulut begitu cepat. “Kamu lebih memilih aku yang pergi, begitu maksud kamu?”


“Nggak.” Khansa langsung menggeleng. Bayangan ketika Agam pergi membuatnya didera rasa takut. Bertahun-tahun, meskipun acap kali Agam tidak berperasaan terhadapnya, meninggalkannya, lalu kembali, pergi, dan pulang lagi, Khansa tetap tidak siap harus menahan rindu lagi. Sebutlah dia bodoh, tapi yang hatinya mau hanya Agam.


Agam mendengus, “Kamu mau aku, tapi nggak mau melepaskannya? Kamu sadar kalau kamu sangat egois?”


Ucapan Khansa membuat Agam kalah telak, cowok itu tidak lagi bersuara, ia hanya menatap kepada Khansa yang sudah terisak. Mereka saling tidak bicara sampai akhirnya Khansa memilih untuk menenangkan dirinya ke dalam kamar. Meninggalkan Agam yang masih membeku karena ucapannya.


*


“Kamu mau ke mana?”


Khansa terkejut begitu mendengar suara Agam bertanya kepadanya ketika baru saja melewati ruang tamu untuk pergi ke kamar Fay. Pikirnya Agam sudah pulang sejak ia meninggalkan pria itu tiga jam yang lalu.


“Kamu dengar, kan, tadi?” tanya Khansa tanpa menjawab pertanyaan Agam.


“Kamu pergi ke audisi dia?”


“Aku nggak punya alasan untuk menolak, kan?”


Agam sudah akan membalas ketika suara klakson mobil terdengar dari luar, disusul dengan teriakan Naila yang memanggil namanya. Khansa menyahut meskipun tidak yakin Naila bisa mendengarnya.


Fay membuka pintu kamar tak lama setelah Khansa selesai berteriak. Air muka gadis itu bisa dikatakan baik-baik saja, Fay terlihat sangat kesal dan ingin mencekik orang. “Kenapa kakak berteriak di depan kamarku?”


“Kakak mau keluar.”


“Ya udah.” Fay menjawab singkat.


“Jangan lupa kunciin pintu kalau mau keluar.”


“Aku cuma lupa sekali, Kak.” Fay berujar kesal, “Kakak nggak harus setiap hari juga mengingatkan aku.”


Khansa menggigit lidahnya, menahan diri untuk tidak mengumpati Fay. “Pokoknya kalau mau pergi-pergi jangan lupa kunci pintu.” Khansa langsung berbalik badan begitu selesai memberi ultimatum sekali lagi.


Dia berjalan melewati Agam, tidak menoleh saat pria itu berbicara, mengabaikan larangan Agam, bahkan menyentak tangannya yang sempat ditahan Agam. Pertama kalinya dalam hubungan mereka, posisi berganti. Bukan Agam yang pergi melainkan Khansa yang meninggalkan.


*


Hola, selamat siang 😊


Gimana Khansa sejauh ini? Masih bisa menghibur kamu, kah?


*


Please, vote dan komennya ya, biar aku tambah semangat😊😊


Love you, All.


*