
Mereka sampai di sebuah hotel, tulisan Princess Hotel yang tertulis besar-besar di depan gedung hotel tadi membuat Khansa mengeryitkan dahi. Sepertinya Rio tidak bergurau ketika mengatakan jika label rekaman besar tanah air ingin mencari warna baru dalam industri mereka. Terbukti dari pemilihan tempat audisi mereka yang tidak main-main.
“Nai.” Khansa berbisik, sengaja menarik Naila untuk berhenti agar suaranya tidak terdengar oleh Esme dan Rafisqy yang berjalan di depannya. “Sebenarnya ini acara apa?”
Naila melebarkan matanya, menatap Khansa seolah dirinya tidak waras. “Kamu sangat keterlaluan, Nca.”
“Nai.”
“Seharusnya kamu lepaskan aja Rio.” Naila berujar marah, “Bahkan hal sepenting ini aja, kamu nggak peduli.”
Khansa menutup kembali bibirnya yang hendak membalas perkataan Naila. Ucapan Naila membuatnya sadar diri, kalau selama ini Khansa memang sudah keterlaluan.
“Kalian ngomongin apa?” Tahu-tahu, Esme sudah berbalik dan berdiri di depan mereka. Sementara Rafisqy menunggu di depan sana, dekat pintu masuk ke ruangan audisi.
Naila tidak menjawab, dia hanya memalingkan wajahnya dan langsung melanjutkan langkah sehingga Esme menatap Khansa penasaran. “Ngomongin apa sampai dia marah begitu?”
Khansa hanya tersenyum, tidak tahu harus menjawab apa.
“Kalian bertengkar?” Esme tetap bertanya selama mereka menyusul Naila.
Seseorang mengatakan, jika kamu memulai suatu kebohongan, maka kebohongan lain akan menyusul satu demi satu. Seperti itulah yang saat ini sedang terjadi kepada Khansa. Dia melakukan kebohongan pertama, lalu semakin lancar untuk melakukan kebohongan berikutnya sampai kelihatannya ia ketagihan.
“Hanya salah paham.”
Esme mengangguk. “Cepatlah baikan, aneh melihat kalian saling melempar muka kesal seperti itu.”
Khansa ikut mengangguk, kemudian dengan senyum yang sudah menghias wajahnya, Khansa menyusul Naila yang masih menatap kesal kepadanya.
*
Penampilan Elang’s Band, nama grup band Rio dan teman-temannya sukses membuat wajah puas terpatri di wajah sang juri. Sekarang ini Khansa sedang menyimak obrolan mereka, Rio dan teman band-nya, juga Naila, Esme dan Rafisqy yang membahas tentang tempat yang akan mereka datangi sebagai bentuk perayaan telah selesainya Elang’s Band tampil.
“Fay?” Suara Rio mengejutkan Khansa, sehingga gadis itu dengan cepat menoleh dan hampir mengumpat ketika menemukan Agam sedang menikmati wajah terkejutnya. Cowok itu berdiri di samping Fay yang wajahnya tertekuk sepuluh sehingga tidak sedap dipandang mata.
“Makasih, udah datang, ya.” Rio beramah-tamah. “Kami mau pergi makan, ikut, yuk.”
Khansa menggeleng, memberi isyarat supaya Fay menolak, tetapi Agam terlebih dahulu menjawab, “Kalau Fay diperbolehkan membawa pacarnya.”
Rio mengamati Agam sejenak, sementara teman-teman Khansa saling melirik kemudian berbisik.
“Tentu.” Rio menjawab mantap. “Kalau kau tidak keberatan.”
Ketika mereka semua berjalan menuju area parkir, Khansa menarik tangan Fay, dia menahan Fay lalu berbisik pelan, “Kenapa kamu bisa di sini?”
*
Dua jam sebelumnya ….
Fay menatapnya heran, bolak-balik memperhatikan pintu utama dan wajah Agam. Kemudian seakan mendapatkan pengertian sendiri, Fay bertanya dengan datar. “Ada apa abang di depan kamarku?”
“Bantuin abang.”
Fay mengernyit sebentar, “Aku sibuk.”
“Please.”
“Kita nggak sedekat itu, jadi aku nggak punya keharusan untuk bersedia.”
Sebenarnya ingin sekali Agam mencekik Fay kalau bisa, tetapi prempuan itu benar adanya. Mereka tidak sedekat itu sehingga mengharuskan Fay untuk mau menolongnya. Perkenalan mereka pun terjadi secara tak langsung, Agam kebetulan mengetahui nama Fay dari cerita Khansa, sementara gadis itu, Agam bahkan ragu kalau Fay mengetahui namanya.
“Sekali ini aja dan abang akan kasih apa yang kamu mau.”
“Ada banyak hal yang aku mau.” Fay langsung menyahut, sebenarnya gadis itu tengah dalam usahanya untuk menghindar dari membantu Agam.
“Abang usahain semuanya, abang kasih ke kamu.”
Gadis itu terdiam sejenak, terlihat menimbang-nimbang sebelum menganggukkan kepalanya. “Okay. Semua hal yang aku mau."
Agam tersenyum, “Sekarang siap-siap, kita akan menyusul Khansa.”
“Pertama-tama, abang bisa penuhin dulu kulkas aku dengan es krim.” Begitu balas Fay.
“Nanti, Fay. Kita harus buru-buru.”
“Aku bisa bersiap-siap sementara abang ke minimarket depan kompleks, kan?”
Agam menghela napasnya berat, “Okay. Kamu siap-siap, abang akan beliin kamu es krim.”
*
Halo, semuanya.
Bagaimana keadaannya, kuharap baik-baik ya😊😊
*
Hari ini Khansa menyapa lagi, bagaimana kesan kalian?
*
Jangan lupa komentar ya 😊🙏
*