Limerence

Limerence
Mencoba Biasa



Khansa Hannan Aisy, memiliki arti seorang wanita pejuang yang penuh cinta, menjadi kesayangan dan penuh berkah. Nama yang bagus, pemberian orang tuanya, juga menjadi harapan mereka. Namun, sepertinya kedua orang tua Khansa tidak terlalu beruntung, karena sejatinya seorang pejuang adalah orang yang berani, sementara Khansa tumbuh menjadi pribadi yang penakut.


Khansa takut jika harus berinteraksi dengan orang baru. Khansa juga takut tidak memiliki teman meskipun sejatinya dia tidak bisa mencari teman, beruntungnya Naila mengerti sehingga gadis itu mau mencarikan teman untuknya. Kendati demikian, Khansa tetap merasa kurang nyaman jika harus berkumpul dengan mereka. Khansa juga takut sendiri, meskipun ia seorang yang penyendiri, oleh karena itu juga dia tidak pernah bisa sendiri, Khansa selalu merasa jika ia harus memiliki pasangan. Hal itulah yang mendorongnya untuk selalu mencari pengganti Agam setiap kali cowok itu meninggalkannya.


Pertama Hamzah, cowok pertama yang menawarkan kenyamanan kepadanya setelah ditinggal pergi oleh Agam. Awalnya Khansa tidak terlalu menanggapi, karena dia pikir hatinya sudah ikut terbawa pergi bersama pemiliknya. Namun, perhatian Hamzah lambat laun meluluhkannya. Mereka bahkan bertahan lama sampai suatu saat Agam muncul, lalu Khansa sadar jika ia masih menyimpan rasa untuk Agam.


Sekarang Rio, bukan juga orang yang membuat Khansa tergila-gila, tetapi Khansa menginginkannya karena cowok itu memperlakukannya seperi putri kerajaan. Memberinya cinta tanpa bersyarat, menghujaninya dengan kasih sayang juga mentolerir segala kesalahan Khansa dengan cara yang tidak masuk akal. Namun, lagi-lagi Agam muncul, membuatnya kembali berteman dengan dosa yang sama.


Agam Pratama, menjadi yang pertama bagi Khansa dalam segala hal. Cowok pertama yang ia sayang selain anggota keluarganya. Orang pertama yang ia hujani dengan cinta dan rindu yang membara. Juga orang pertama yang mematahkan hatinya.


Agam telah berulang kali membuatnya patah, hingga rasanya Khansa mulai terbiasa dengan pola mereka. Meskipun rasanya sangat menyakitkan, tapi Khansa tahu bahwa suatu waktu nanti, Agam akan kembali. Dengan keyakinan seperti itulah, akhirnya setelah berkubang dalam kegalauan yang tidak tertanggungkan, hari ini Khansa memutuskan untuk kembali kepada dirinya yang biasa. Tersenyum hangat pada dunia dan tetap tersenyum untuk dirinya sendiri.


“Aku senang liat kamu kayak gini.”


“Kayak gini?” Khansa menatap Rio yang saat ini balas menatapnya sambil tersenyum.


“Terlihat bahagia dan lepas.” Rio menyelipkan anak rambut Khansa ke belakang telinga. “Belakangan ini aku ngerasa kehilangan kamu.”


Khansa tersenyum, manis dan sangat lembut.


“Kalau kamu ada masalah, kamu bisa berbagi sama aku.” Rio masih berbicara, mengabaikan kertas-kertas mereka yang berserakan di atas rumput. Saat ini Khansa memang sedang meminta bantuan Rio untuk mendiskusikan tugasnya, karena hari ini ia bertugas memberikan presentasi. “Kalau sakit, bilang sama aku, jangan ditahan. Aku nggak suka liat kamu kayak yang kemarin-kemarin itu.”


Khansa tersenyum, menatap Rio kemudian mengangguk.


“Kamu tau, kan, kalau aku sayang banget.”


“Aku juga sayang kamu,” balas Khansa malu-malu.


*


“Jadi, udah kamu putuskan?” Naila berbisik setelah Khansa selesai menyampaikan materi. Sekarang kesempatan untuk audiens memberikan pertanyaan, sehingga ada waktu bagi mereka saling berbisik seperti ini.


“Apa?”


“Kita lagi diskusi.”


“Kamu hanya mengelak dari pertanyaanku.”


“Nai.”


“Kamu ditinggalkan lagi.” Naila tersenyum tipis, cendrung mengejek.


Khansa ingin berteriak, tapi dia tahu, ia tak akan bisa. Sampai kapan pun, Khansa tidak akan pernah meluapkan kemarahannya dengan benar. Dia tidak cukup berani untuk balas meneriaki orang yang berteriak kepadanya. Dia lebih memilih menangis sendirian di kamar jika seseorang berkata ketus padanya. Khansa hanya bisa diam jika ia merasa sangat terluka. Sejauh ini, hanya Agam satu-satunya orang yang bisa membuat Khansa mengeluarkan kemarahan meski tak banyak. Hanya di depan pria itu, Khansa bisa berkata ketus meskipun gagal berkali-kali. Kepada Agam, Khansa bisa memaki walaupun dua detik berikutnya ia sibuk memikirkan apakah dirinya terlalu kasar. Agam adalah ….


Khansa menggeleng. Dia tidak boleh memikirkan Agam lagi. Setelah apa yang pria itu lakukan, setelah bagaimana Rio mengupayakan kebahagiaannya, Agam harus terlarang bagi Khansa.


Getaran ponsel di dalam tasnya, membuat Khansa merogoh tasnya dan mengambil handphone-nya. Sebuah notifikasi pesan dari Rio, Khansa membukanya dengan cepat.


‘Jangan dibawa stres, kamu bisa, kok.’


Khansa menoleh ke belakang kelas, kepada Rio yang sedang memberinya sebuah senyum penyemangat. Cowok itu pastilah melihat Khansa menggeleng-gelengkan kepala dan berpikir bahwa Khansa terbebani oleh diskusi kali ini.


Sambil mengukir senyumnya, Khansa menggerakkan bibirnya, ‘Aku sayang kamu.’


*


Hola, guys. Jam berapa kalian baca ini?


Semoga part ini nggak ngebosenin, ya 😊😊


*


Happy Reading😊😊