Limerence

Limerence
Failed (Shit) Date



“Fay.” Khansa mengetuk pintu kamar Fay pelan. Satu hal yang membuat Khansa semakin keki adalah karena Fay selalu mengunci pintu kamarnya, sehingga Khansa harus rela berdiri lama-lama di depan pintu untuk mengetuk sampai Fay membukakan pintu. Gadis berwajah sedater npapan cucian itu benar-benar tidak mau diganggu privasinya.


“Ya.” Fay membuka pintu kamarnya dengan wajah kesal. Suara dalam bahasa Jepang yang tidak dimengerti Khansa terdengar dari laptop yang menyala di atas kasur Fay. Adik sepupu jauhnya itu pastilah sedang menonton serial anime kesayangannya ketika Khansa mengetuk pintu.


“Kakak mau keluar, kamu nggak papa kalau ditinggal sendirian?”


“Hm.”


Khansa mengutuk dalam hati. Kalau saja ada keberanian dalam hatinya meskipun sedikit, hal pertama yang akan Khansa lakukan adalah mencekik leher Fay sampai gadis itu kehilangan napas. Namun, semua itu mustahil terjadi karena yang Khansa lakukan justru tersenyum lembut dan bertanya, “Kamu mau dibelikan apa?”


“Pulang jam berapa?”


“Belum tau.”


“Es krim aja.”


“Oke.”


“Kakak bawa kunci, kan?” Fay bertanya, “Aku malas kalau harus membukakan pintu, kadang kakak pulang disaat aku udah tidur.”


Khansa masih tersenyum meski dalam hati dongkol luar biasa. Kenyataannya, Fay tidak pernah tidur kurang dari jam tiga dini hari. Bahkan kadang gadis itu baru tidur sehabis sholat subuh jika ia sedang berkuliah siang. Sedangkan Khansa tidak pernah pulang lebih dari jam sebelas malam. Jadi, yang membuat gadis bengal itu malas bukan kerena terganggu tidurnya melainkan terganggu kegiatan ajaib apa pun yang sedang dilakukannya.


“Hm.” Meniru dari kebiasaan Fay selama ini, Khansa membalas gadis itu dengan gumaman.


“Ya udah.” Khansa mendengar nada kesal pada suara Fay.


“Apa?”


“Katanya kakak mau pergi? Aku mau menutup pintu kamarku.” Lalu Fay benar-benar menutup pintu kamarnya tepat di depan hidung Khansa. Membuat Khansa ingin memaki kasar, tapi suara motor yang berhenti di depan rumahnya membuat Khansa setengah berlari untuk keluar rumahnya.


Ketika melihat Agam masih berdiri di atas motor sport-nya dengan gaya tengil, membuat Khansa kembali mengingatkan Fay, sehingga kesalnya yang tadi sempat teredam kembali meledak.


“Aku benci liat muka kamu. Kamu bisa, kan, nggak usah berwajah tengil kayak gitu?” semburnya membuat Agam mengernyitkan dahi.


“Astaga.” Cowok itu mengelus dadanya, “Aku salah apa lagi, sih?”


“Muka kamu nyebelin.”


“Lho, bukannya ini wajah yang kamu suka?”


“NGGAK.” Khansa menyalak kasar. “Kamu tuh nyebelin banget, sama aja kayak Fay. Nggak ada sopan santunnya, nggak ada rasa hormatnya. Mukanya judes banget kayak ibu tiri, datar kaya papan tripleks, dingin kayak es batu. Kata-katanya bikin naik darah, udah singkat, ketus, pedas lagi. Aku benci banget sama dia.”


Dalam satu tarikan napas, Khansa menyelesaikan kalimatnya.


“Wow.” Agam berdecak kagum.


“Apa?” sergah Khansa.


“Kamu memendam kesal berapa lama?” Agam bertanya sambil tersenyum geli, “Si Fay memang senyebelin itu?”


“Dia lebih dari sekedar nyebelin, dia ngeselin, ngebetein, sama kayak kamu.”


Tawa Agam meledak seketika. “Aku jadi pensaran, ngomong-ngomong, kamu belum mengenalkan kami. Aku dan Fay.”


“Nggak perlu.” Khansa mendelik kesal, “Nanti kamu kegatelan.”


“Dia cantik?”


“Dia jelek.”


“Kalau begitu, kamu nggak perlu khawatir.”


“Kalau kamu masih mau kenalan sama dia, aku nggak mau pergi sama kamu sekarang.”


“Oke. Oke.” Agam mengangkat tangannya seperti seorang prajurit yang sedang menyerah. “Aku yang rugi kalau kamu ngancamnya seperti itu. Cukup tadi sore aku nggak bisa jemput kamu, karena harus mengalah sama si sialan itu.”


“Dia pacarku.”


“Ya. Ya. Ya,” ucap Agam malas, “Dia pacar kamu, aku selingkuhan kamu.”


Melihat mood Agam memburuk karena ucapannya, membuat Khansa tertawa penuh kemenangan.


“Jadi, selingkuhan, ayo kita nge-date.”


*


Kening Agam yang sudah keriting sejak tadi, semakin keriting ketika mendengar penolakan untuk kesekian kalinya. Khansa selalu menolak pergi ke tempat-tempat yang ingin ditujunya. “Kenapa lagi?” Agam bertanya bosan. “Dia sering main di sana juga?”


“Nggak.”


“Jadi?”


“Temannya ada yang tinggal di daerah sana.”


Dengan kesabaran yang sudah menipis, Agam berkata, “Setiap kafe yang ada di kota ini udah pernah jadi tempat manggung dia, jadi kamu menolak kalau kita makan ke kafe, karena takut kalau-kalau salah satu dari mereka melihat kamu sama aku dan melapor kepadanya. Kamu menolak ke mall, karena malam ini dia nggak manggung, bisa jadi dia juga lagi main ke mall yang sama dengan mall yang akan kita datengin. Kamu nggak mau kalau kuajak ke tempat aku biasa nongkrong, karena rumah temennya ada di sana.”


Khansa mengangguk, meskipun kemungkinan Agam tidak bisa melihatnya karena mereka sedang berada di atas motor yang sedang melaju.


“Kamu gila,” desis Agam. “Seberapa sering memangnya kamu nemenin dia manggung sampai kamu pikir, semua orang bakalan kenal kamu? Kamu pikir berapa banyak mall di kota ini untuk kemungkinan ‘bisa jadi’ kamu itu? Kamu bisa menghubunginya untuk memastikan posisinya. Meskipun aku sangat enggak menganjurkan karena aku sangat menginginkan pertemuan dengannya dalam kondisi aku lagi menggandeng tangan kamu. Dan apa itu tadi? Kamu menghafal rumah temannya? Kamu terkesan seperti udah bersiap untuk berselingkuh darinya.”.


“Karena aku punya firasat kalau kamu pasti kembali untuk membuatku melakukan dosa yang sama terus-menerus.


Perkataan Khansa menyulut api kemarahan dalam dada Agam. Pemuda itu menambah kecepatan laju motornya, sengaja untuk menikmati reaksi ketakutan Khansa.


“Agam kamu nggak harus sekencang ini.” Khansa mengetatkan pelukannya ke pinggang Arkan. “Agam.” Khansa merengek, tapi Agam bertingkah seperti ia tidak mendengarkan apa-apa dan menambah laju kecepatannya. Lelah dengan karena diabaikan, Khansa membiarkan Agam berbuat sesuka hati, sampai merasa lelah lalu akhirnya menepi.


“Jadi, aku membuat kamu melakukan dosa yang sama berulang kali?” tanya Agam setelah beberapa saat terdiam dalam keheningan.


“Iya,” jawab Khansa tanpa menoleh.


“Jalan sama aku itu kamu anggap dosa?”


“Disaat aku sedang berhubungan dengan orang lain, udah jelas apa yang aku lakukan sekarang sama kamu adalah suatu kesalahan.” Khansa meninggikan suaranya sebagai bentuk perlawanan karena ia disudutkan sedemikian rupa.


“Oke.” Suara Agam ikut meninggi, “Kalau kita adalah suatu kesalahan, sebuah dosa bagi kamu, aku punya pilihan apa selain berhenti?”


“Apa maksud kamu?”


“Kamu mengerti maksudku, Anca.”


“Kamu mau pergi lagi? Menghilang lagi?” Khansa tidak tahan untuk tidak berteriak.


“Apa aku punya pilihan lain?” Agam sudah lebih bisa mengendalikan suaranya.


Mata Khansa terpejam. Keinginannya untuk kembali meneriaki Arkan menguap bersama udara malam yang dingin.


“Selama … ini, apa pernah kamu memikirkan aku? Sedikit aja, Gam? ‘Apa Khansa tersakiti gara-gara sikapku?’, ‘Apa dia masih mau menunggu aku?’, ‘Apa dia lelah dengan aku?’” tanya Khansa pelan, “Sedetik aja, apa kamu pernah mikir kayak gitu?”


Agam tertegun dalam, membuat Khansa tersenyum lemah. “Pasti enggak. Kamu pasti mikir, Nggak papa, kalau kamu pergi dan datang sesuka hati, Khansa itu terlalu naïf untuk bisa marah. Lagi pula dia pasti sangat mencintai aku. Karena enggak peduli seberapa sering aku ninggalin dia, Khansa akan selalu menyambut kepulanganku.” Khansa mengakhiri kata-katanya sambil meneteskan air mata. Kemudian dia merogoh tas salempang kecilnya dan mengambil handphone. Khansa menekan beberapa nomor sebelum menempelkan benda pipih persegi empat tersebut ke telinganya.


Khansa mengabaikan Agam yang bergeming di samping motornya, ia melangkah, berjalan kaki di atas trotoar.


“Mau ke mana kamu?” Agam sudah menyusul Khansa.


“Pulang.”


“Sama aku.”


“Nggak!”


“Kamu mau pulang jalan kaki?” sentak Agam.


Langkah Khansa terhenti saat sebuah sepeda motor berhenti di depannya. Fay menatapnya sesaat sebelum pandangan gadis itu tertuju pada Agam yang juga menatap ke arah Fay.


“Seenggaknya, kali ini aku bisa tahu kalau kamu menghilang tepat di depan mataku,” ucap Khansa sebelum naik ke boncengan Fay. Dan setelah sekian lama, akhirnya malam ini Khansa mensyukuri sifat acuh tak acuh Fay terhadap orang lain. Karena tanpa permisi, gadis itu langsung melajukan motornya begitu Khansa mendaratkan bokongnya di jok motor matic itu.


*


Holla, guys. Wish you already to wait this story😊😊


*


Happy reading. Luv you😍😍