
Khansa menemukan Fay sedang duduk menikmati satu box es krim dengan kaki berselonjor ke atas meja. TV menyala di depannya, menayangkan adegan beberapa mobil mewah sedang berkejaran. Musik terdengar lantang dari handphone yang diletakkan di atas meja, di ujung kaki Fay. Beberapa komik dan novel bertebaran di atas sofa, sebagian lagi dibiarkan begitu saja di lantai.
Khansa tidak pernah mengerti bagaimana cara Fay bisa melakukan semua hal dalam waktu bersamaan. Seperti saat menonton, Fay juga harus mendengarkan musik, buku pun tidak boleh absen dari sekitarnya.
Khansa lewat begitu saja, tidak menyapa Fay seperti yang selama ini ia lakukan jika bertemu dengan Fay di ruang tengah. Khansa sudah masuk ke kamarnya, hampir menutup pintu ketika suara Fay menghentikannya.
“Selingkuhan kakak menitip pesan.”
Khansa menahan geram, ingin membanting pintu, tetapi urung. “Namanya, Agam.” Khansa berujar lelah, “Bisa kamu sebut namanya aja?” Khansa hampir memohon, karena mendengar kata 'selingkuhan' terus-menerus membuat dadanya semakin sesak, kepalanya bertambah pening.
“Dia terlalu tua untukku sebut nama aja.”
“Abang.” Khansa harus menahan diri untuk tidak berteriak, “Kamu bisa menyebutnya abang.”
“Aku nggak sedekat itu ….” Sepertinya Fay mengerti dengan suasana hati Khansa, karena gadis berkepala batu itu memilih untuk meralat kalimatnya tanpa diminta. “Bang Agam menitip pesan.”
“Apa?” tuntut Khansa. Sebenarnya sejak tadi, ini yang sedang ditunggu Khansa. Kabar Agam. Tatapan peringatan tadi sudah cukup memberi tanda untuk Khansa bahwa pemuda itu menyimpan emosi yang menggunung dan siap dimuntahkan. Namun, setelah melihat tidak ada tanda-tanda keberadaan Agam di rumahnya ketika ia baru datang tadi, membuat Khansa ingin segera mengurung diri di kamarnya.
“Dia mau pergi ….”
Sampai di sana, Khansa tidak mau mendengar lagi. Ditutupnya pintu kasar, sedikit membanting hingga membuat dirinya sendiri terkejut. Setelah merogoh tasnya tergesa, Khansa mengaktifkan ponselnya, menghubungi Agam, lalu menggeram saat suara operator menjawabnya.
“Sialan.” Khansa mengumpat marah. “Agam sialan,” raungnya. Setelah puas mengumpat seorang diri, Khansa menarik selimut tebalnya, menyalakan AC ke mode paling dingin, lalu mematikan lampu.
*
Suara getaran handphone membuat Khansa tersadar. Hal pertama yang ia lihat ketika membuka mata adalah hitam yang pekat. Khansa tidak tahu sudah berapa lama ia terlelap, tetapi ketika tangannya meraih ponsel yang terus bergetar, Khansa tahu kalau hari sudah berganti.
“Halo.” Khansa menjawab serak setelah menggeser icon bewarna hijau pada layar handphone-nya.
“Sayang.” Suara Rio terdengar lega di sebarang sana. “Kamu nggak angkat telepon dari tadi, chat juga nggak kamu baca.”
Khansa menarik kembali selimutnya, membenamkan keseluruhan tubuhnya dalam balutan kain tebal itu. “Maaf.” Khansa berbicara parau. “Aku langsung tidur begitu pulang tadi.”
“Sakit.” Khansa menggigit lidahnya agar tidak terisak. Ingin sekali dia mengadu kepada Rio bahwa ia sangat sakit, setiap kali Agam pergi, Khansa selalu merasakan sakit.
“Sayang?” Suara Rio bertambah lembut.
“Aku sakit.” Akhirnya Khansa tidak bisa menahan lagi. Tangisnya tumpah tanpa bisa dicegah. Suara lembut Rio membuatnya menginginkan pria itu ada di sini, mendekapnya dan menenangkannya, karena kepergian Agam tidak bisa lagi ditanggung Khansa seorang diri.
Terlalu kejam. Khansa menyadarinya. Namun, tak ada yang mampu dilakukannya. Agam kembali meninggalkannya, belahan jiwanya telah hilang lagi. Sementara hatinya terlalu rapuh untuk tegak sendiri.
“Sayang, dengarkan aku.” Suara Rio kembali terdengar. “Aku akan sampai di sana dalam waktu setengah jam. Selama itu, bisa kamu tahan sakitnya sebentar? Kita ke rumah sakit.” Sambungan terputus sebelum Khansa sempat menolak. Mengingat bagaimana Rio memperlakukannya dan bagaimana Agam terhadapnya, membuat air mata Khansa semakin deras.
Di tengah kegelapan kamarnya, Khansa mengutuk diri sendiri. Menyalahkan semesta yang tidak kunjung membuat hatinya condong kepada Rio.
*
**Hallo, maaf telah menghilang sejenak😊🙏
Semoga masih pada nungguin cerita ini ya😇
*
Oh iya, meskipun sudah sangat terlambat, tapi aku mau ngucapin selamat hari raya Id Fitri. Mohon maaf lahir batin 🙏🙏
*
Kalau mau tau tentang update-an Agam-Khansa-Rio, bisa dilihat di postingan aku di ig ya😊😊
@mulyaniidewi
*
Terima kasih, love you, All 😊😍😍**