
Sejak bangun tidur tadi pagi, Khansa sudah tahu kalau wajahnya akan menjadi sangat sepet untuk dilihat. Oleh karenanya, alih-alih pergi ke kampus untuk kuliah dan menimba ilmu seperti biasanya, Khansa lebih memilih mengurung diri di kamarnya. Menyetel AC sampai kebatas paling dingin sementara dia menenggelamkan tubuhnya dalam balutan selimut tebal.
Deringan ponsel sudah sejak tadi memekakkan telinganya, tapi Khansa tidak peduli. Puluhan notifikasi pun, tidak ia hiraukan sama sekali. Karena satu-satunya manusia yang ia harapkan untuk membuat handphone-nya ribut sedemikian rupa telah menghilang entah ke mana.
Setelah matahari perlahan beranjak ke arah barat, Khansa baru keluar dari sarangnya. Didorong oleh rasa lapar tak tertahankan, Khansa berakhir dengan memakan apa saja yang ia temukan dari dalam kulkas.
“Apa bertengkar dengan selingkuhan membuat kakak berakhir seperti gelandangan seperti ini?”
Fay baru pulang kuliah dilihat dari penampilannya. Gadis itu memperhatikannya, berulang-ulang sebelum mengomentarinya dengan kalimat yang penuh bisa. “Rambut kusut seperti seperti gembel yang tidak pernah keramas. Mata bengkak seperti disengat tawon. Muka kucel kayak keset kamar mandi. Terus, apa itu?” Fay mengedikkan dagu ke arah selimut yang sengaja dibawa Khansa untuk membungkus tubuhnya, “Kakak terlihat seperti orang gila yang sering kulihat di pinggir jalan. Melingkupi tubuhnya dengan kain entah apa.”
Kalau dalam keadaan normal, Khansa paling tidak bisa memberikan delikan kepada Fay. Namun, dalam keadaan seperti ini, mencoba melawan akan percuma. Khansa jelas tahu kalau dia tidak pernah menang.
“Selingkuhan kakak lagi di luar, terlihat seperti orang dungu menatap ke arah pintu.” Fay memberi tahu sebelum masuk ke dalam kamarnya.
Khansa masih mencerna perkataan Fay ketika suara yang sangat ia kenal terdengar dari luar. Memanggil namanya berulang kali, membuat debar jantung Khansa menggila ketika ia berhasil membuka pintu dan melihat sosok itu.
Tangis Khansa tidak tertahankan ketika melihat Agam berdiri di depannya. Pemuda itu terlihat seperti biasanya, tampan dan segar, berbanding terbalik dengan penampilannya. Lalu, ucapan Fay membayang di kepalanya. Dan tangisnya semakin menjadi, antara malu dan merindu.
“Baby.” Agam menariknya ke dalam dekapan hangat lelaki itu. Mengusap-ngusap punggungnya. “Maafin aku.”
“Kamu jahat,” bisik Khansa nyaris tidak terdengar.
“Maafin aku.” Agam mengeratkan pelukannya, yang diterima Khansa dengan rasa bahagia yang membuncah.
*
Mereka duduk di sofa, Khansa duduk bersila dengan posisi tubuh sepenuhnya menghadap Agam yang juga menghadapkan tubuhnya ke arah Khansa dengan kaki ikut bersila. Mereka masih saling memandangi sampai akhirnya Khansa bersuara kesal ketika Agam terkekeh geli.
“Apa?” tanyanya ketus.
“Kamu lucu.”
“Kamu mengejek aku?”
“Aku bilang kamu lucu, gimana bisa itu disebut mengejek?”
“Senyum kamu.” Khansa menunjuk bibir Agam, “Ekspresi wajah kamu.” Kali ini telunjuknya terarah ke wajah Agam. “Kamu nggak bersungguh-sungguh mengatakan aku lucu.”
Bukannya menjawab Agam, Khansa justru melemparkan bantal yang ada di pangkuannya ke wajah Arkan. “Masih berani menghina penampilanku setelah apa yang kamu lakukan?”
Agam masih menikmati kemarahannya sampai ia merasa lelah sendiri dan berhenti. “Kenapa kamu masih di sini?” tanya Khansa lirih. “Setelah diingat-ingat, kamu pasti langsung pergi setelah kita bertengkar.”
Agam menghela napas sebelum menangkup wajah Khansa dengan kedua telapak tangannya. “Gimana bisa aku ninggalin kamu, kalau pertengkaran kita aja udah bikin kamu kayak gini?”
Khansa menatap Agam tidak percaya.
“Aku pulang, Anca.” Agam menatap Khansa lembut. “Aku kembali untuk menetap.” Suasana ruang tamu yang benar-benar sepi, keintiman yang terbangun dalam sekejap, membuat Agam mendekatkan wajahnya ke wajah Khansa. Namun, sayangnya mereka lupa kalau ada satu manusia lain yang hidup di rumah Khansa.
“Pintu sialan.” Fay menendang pintu tak bersalah yang ditabraknya ketika berbalik badan untuk melarikan diri agar tidak ketahuan telah memergoki Khansa dan Agam.
“Luka, Fay?” Agam memilih bertanya daripada merasa malu. Sementara Khansa sibuk menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan Agam.
“Nggak.” Fay berkata ketus. Setelah menggerutu pelan, gadis itu masuk kembali ke dalam kamarnya sambil tak lupa menutup pintu dengan sedikit bantingan.
“Faynya udah pergi, kamu mau sembunyi sampai kapan?” Agam menarik tubuh Khansa agar menjauh darinya. “Malu?” tanya Agam sambil tersenyum geli.
“Aku nggak ada muka lagi kalau bertatap muka dengan Fay gara-gara kamu.”
Agam terbahak, “Dia udah cukup umur, Anca.”
“Tetap aja aku malu.”
“Jadi, mau gimana?” Aku nggak mungkin kembali ke satu detik sebelum kita ciuman, kan?”
“Agam mesum,” jerit Khansa yang membuat Agam tertawa terbahak-bahak. Seperti itu saja, Khansa sudah melupakan masalahnya dengan Agam.
*
Selamat menikmati... eh, selamat membaca😊😍
*