
Diantara berjuta manusia bernyawa yang ada di dunia, hanya satu jenis manusia yang mampu membuat Khansa terluka dan bahagia disaat bersamaan. Ialah Agam Pratama. Laki-laki yang selalu datang dan pergi sesuka hatinya, muncul dengan segala pesona yang membuat Khansa jatuh cinta lagi dan lagi, kemudian menghilang untuk kesekian kalinya dan meninggalkan Khansa dengan beban rindu yang lebih berat.
Seharusnya Khansa sudah khatam, kemunculan Agam yang terlalu tiba-tiba akan berakhir seperti ini. Selalu seperti ini, pergi tanpa pamit. Hilang tanpa jejak, seolah-olah tidak pernah ada Arkan dalam eksistensi kehidupannya. Dan oleh karenanya, sudah seharusnya juga Khansa mengerti bahwa tidak boleh ada rindu yang bertumbuh setiap Agam meninggalkannya.
“Kamu kenapa?” Khansa dikejutkan oleh suara Naila yang begitu dekat dengan telinganya.
“Ha?” Khansa menoleh bingung.
“Kamu kenapa?” Naila mengulang pertanyaannya. “Masih sakit? Kamu ditanyain dari tadi nggak nyahut.”
Khansa melarikan mata ke arah teman-temannya, teman-teman Rio lebih tepatnya. Dia adalah seorang introvert akut, sejak berpisah sekolah dengan Aruna, karena gadis itu melanjutkan ke sekolah kejuruan, sementara Khansa memilih sekolah menengah atas, Khansa tidak memiliki teman kecuali Naila. Melalui Naila pula, ia akhirnya bisa berkenalan dengan Rio yang ternyata juga sekolah di SMA-nya dulu. Meskipun sudah berteman lama dengan Naila, tapi Khansa masih sering merasa canggung, apalagi jika teman-teman Rio ikut berkumpul seperti ini.
“Kamu sakit, Nca?” Esme, satu-satunya keturunan berdarah asing dalam kelompok pertemanan mereka ikut bertanya.
Khansa menggeleng. Dia tersenyum untuk menutupi kegundahan hatinya. “Aku nggak papa.”
“Kamu yakin?” Naila kembali bertanya.
Khansa mengangguk dan saat itulah matanya menangkap sosok Rio masih memperhatikannya. Tatapan pemuda itu terlihat teduh tapi Khansa tetap merasa terintimidasi. Dengan jantung yang tiba-tiba berdebar takut, Khansa memberikan senyum terbaiknya untuk Rio sehingga kekasihnya itu kembali fokus dengan kegiatannya bersama Elvan teman satu band Rio dan Rafisqy, kekasih Esme.
“Serius deh, kamu kenapa sih?” Disaat semua orang kembali sibuk menyanyikan lagu karena saat ini mereka sedang merayakan ulang tahun Rio yang tertunda di sebuah tempat karaoke, Naila memutuskan untuk berbisik kepadanya.
“Nggak papa.” Khansa masih tersenyum. “Memang kenapa deh, sampai kamu kepo banget seperti itu?”
Naila menatap lurus kepadanya, “Aku udah mengenal kamu sejak kita kelas sepuluh. Udah dari lima tahun yang lewat.”
Khansa masih tetap tersenyum ketika Naila kembali mendesaknya dengan pertanyaan. “Kenapa?”
Khansa menggeleng, tetap tersenyum untuk menunjukkan bahwa ia sedang tidak kenapa-napa.
“Percaya atau nggak, tapi sepertinya aku tau kamu kenapa.”
Penyataan dengan nada sangat rahasia itu berhasil membuat Khansa menatap Naila dengan mata membulat, membuat Naila mengembangkan senyum lebarnya.
“Sekarang aku makin yakin dengan dugaanku.”
“Nai.”
Naila semakin melebarkan senyumnya membuat Khansa merasa was-was. “Yo.” Naila setengah berteriak memanggil Rio, membuat Khansa tanpa berpikir panjang langsung meremas tangan Naila kencang.
“Kenapa?” Rio mendekat ke sofa, tempat mereka duduk. “Kepalanya sakit lagi?” Rio menyentuh puncak kepala Khansa dan bertanya lembut.
“Kamu ….”
“Sebentar lagi, tanggung.”
“Aku mau pulang sekarang.” Khansa semakin meradang ketika terang-terangan Naila menggodanya dengan bertingkah seperti akan membeberkan sesuatu kepada Rio.
“Oke, kita pulang sekarang.” Setelah itu Rio pamit kepada teman-temannya, juga kepada Naila. “Tadi mau ngomong ya, Nai? Chat aku aja ntar, kalau nggak besok pas ketemu di kampus aja. Aku nganterin Khansa dulu.”
Mendengar Rio berbicara seperti itu membuat Khansa panas dingin. Matanya menatap Naila penuh harap, kepalanya menggeleng cemas, tapi respons Naila justru semakin membuat membuat Khansa berkeringat dingin.
*
Lelaki itu menatap lembut kepadanya. Hanya menatap tanpa bertanya, meskipun Khansa yakin ada banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan Rio kepadanya. Khansa mengutuk dirinya sendiri, betapa buruknya ia sebagai kekasih, dia membiarkan pertanyaan menumpuk di kepala Rio sementara dia sendiri sibuk memikirkan lelaki lain.
Khansa memperhatikan Rio dengan seksama. Meski pun tidak bisa dikatakan tampan dan cendrung terlihat urakan, Rio memiliki hati yang lembut. Matanya teduh sangat kontras dengan penampilan ala anak band-nya. Dan lelaki ini sangat mencintainya, rela melakukan apa pun untuknya.
Namun, mengapa dia tak kunjung mencintai Rio?
Khansa tersenyum setelah Rio melepaskan helm dari kepalanya. “Aku masuk, ya.”
Rio masih bergeming. Khansa tersenyum sekali lagi sebelum melangkah melewati Rio hendak membuka pagar rumahnya sebelum lelaki itu meraih tangannya.
“Kamu kenapa?” Rio bertanya dengan cemas.
“Aku nggak papa.”
“Jangan bohong, please.” Rio menatap kedua mata Khansa, namun Khansa melarikan matanya kemana saja. “Tatap aku.”
Khansa menurut.
“Aku tau kamu kebingungan. Apa ada sesuatu yang seharusnya kamu bagi sama aku? Ada sesuatu yang seharusnya aku tau, tapi kamu sembunyikan?”
Khansa menggeleng terlalu cepat, membuat mata Rio menyipit curiga meskipun hanya sebentar. Setelah itu, Rio hanya mendesah pelan, mengusap puncak kepala Khansa sebentar dan mencium dahinya singkat.
“Masuklah, istirahat," pintanya lembut. Aku cinta kamu.”
Khansa tersenyum, “Aku juga sayang kamu.”
*
Morning, wish you all love this story😊😊