
“Aku nggak masalah kalau ketemu dia. Jadi, kenapa harus turun di sini?” Agam melemparkan protesnya ketika Khansa memintanya untuk menurunkan gadis itu di halte di depan perpustakaan kampus.
Khansa tersenyum. Sudah satu bulan ini ia mendengar kalimat yang sama dari Agam setiap kali dia minta diturunkan jauh dari fakultasnya.
“Aku yang bermasalah,” ucap Khansa begitu dia turun dari motor Agam sambil bertopang pada bahu pria itu.
“Putusin dia kalau begitu.”
“Kamu tau, aku nggak bisa.”
Agam berdecak. “Kamu menyusahkan diri sendiri.”
Khansa tersenyum, “Kamu yang membuatku susah.”
Agam menatapnya dalam, “Kamu pintar ngejawab sekarang.”
“Tentu. Manusia itu harus ada peningkatan, dong.”
Agam menaikkan sebelah alisnya, “Jadi cinta kamu sama aku, ada peningkatan juga?”
Ditanya seperti itu membuat Khansa memukul lengan Agam yang masih memegang stang motor. “Aku nggak cinta sama kamu.”
“Oh, ya?” Agam masih menggoda. “Kalau nggak cinta, kenapa kamu merengek minta diantarkan ke kampus setiap hari seperti ini?”
“Aku nggak merengek.”
“Hm.” Agam bergumam. “Nggak merengek, ya?”
Khansa mengangguk.
“Jadi, harus kusebut apa kalau kamu ngambek setiap aku telat menjemput?”
Khansa mendelik kepada Agam. “Agam gila.” Khansa setengah berteriak sebelum berlari meninggalkan Agam yang tertawa senang melihat gadis itu malu karena ucapannya.
***
“Kamu apa?” Agam setengah berteriak di seberang sana.
“Aku nggak bisa, Gam. Aku harus pergi sama Rio.” Khansa memindahkan telepon ke telinga kirinya. “Aku udah lama nggak jalan sama dia. Udah satu bulan lebih, kalau kali ini aku nolak lagi, dia bakalan curiga.”
“Jadi, kamu milih pergi sama dia daripada jalan sama aku?”
“Bukan seperti itu.”
“Lalu?”
“Kamu nggak ngerti, aku nggak boleh menolak untuk kali ini.”
“Aku memang nggak ngerti,” sahut Agam dengan nada datar. “Aku nggak pernah mengerti, Anca.”
“Apa yang kamu nggak ngerti?” Khansa hampir terdengar putus asa.
“Kamu.” Agam menjawab lantang.
“Gam.”
“Kamu bisa ninggalin dia dan kembali sama aku. Tapi kamu bertahan dan lebih suka ngeliat aku seperti pria jahat.”
“Kamu tau, aku nggak bisa ninggalin dia.”
“Kenapa?”
“Kamu sayang sama dia?” Agam bertanya lirih.
“Ya.” Khansa menelan ludahnya. “Aku menyayanginya.”
Lalu sambungan telepon terputus begitu saja. Khansa menggenggam ponselnya erat-erat. Seakan benda pipih persegi empat itu mampu menjadi penopang dalam hidupnya.
***
“Kamu kenapa?” Khansa hampir terjatuh ketika Rio menunggunya di ruang tamu rumahnya.
“Nggak papa.” Khansa masih bertopang pada sofa di dekatnya.
“Kamu sakit?” Rio berjalan menyebrangi meja. Ia berdiri di depan Khansa kemudian menangkup wajah gadis itu. “Mata kamu merah, agak bengkak. Kamu habis nangis?” kata Rio beruntun.
“Aku nggak ….” Khansa tidak melanjutkan ucapannya. Wajah Rio terlihat panik di depannya, pria itu menatapnya cemas. Membuat rasa bersalah itu semakin besar di dalam dada Khansa.
“Sayang?”
“Aku lagi sakit kepala.” Khansa tidak sepenuhnya berdusta. “Kamu tahu, kan, kalau aku sakit kepala, mataku bakalan bengkak kayak gini?” Khansa menunjuk matanya sendiri.
Rio mengangguk. “Kalau kamu sakit kepala, kita nggak harus pergi.”
“Tapi ….”
“Aku nggak mau kamu tambah sakit. Serius, deh, sayang, kalau kamu sakit kenapa nggak bilang aja sih?”
“Aku tahan kok.”
“Nggak.” Rio menggeleng tegas. “Kamu harus istirahat.”
“Tapi ulang tahun kamu?”
“Kita masih bisa ngerayainnya besok-besok, kan?”
Khansa mengangguk, “Maaf.”
“Lain kalau sakit, bilang. Kamu tahu kan, aku bukan cenayang?”
Khansa kembali mengangguk.
“Kalau gitu, aku langsung pulang aja, ya.” Rio mengusap puncak kepala Khansa sayang. “Kamu istirahat, jangan main hape lagi. Minum obat, setelah itu langsung tidur.”
“Iya.”
Rio menatapnya, seolah memastikan supaya Khansa mematuhinya. “Aku pulang,” pamitnya. Lalu, Rio kembali menangkup wajah Khansa. Menatapnya sejenak, kemudian mengecup dahi Khansa lembut. “I love you.”
Khansa tidak membalas ungkapan cinta Rio. Dia hanya berdiri di sana bahkan setelah beberapa menit sejak Rio menghilang dari hadapannya, Khansa masih berdiri di ruang tamunya, terpaku dengan air mata yang tidak berhenti menetes mengaliri pipinya.
“Maaf,” isaknya sambil memukul-mukul dadanya pelan. “Maafin aku.”
***
Selamat membaca, semuanya.
Jangan lupa vote dan komen, ya. Aku tunggu.
Terima kasih.
***