
Satu hari ditinggal Agam, Khansa masih tidak lepas dari ponselnya, berharap sekali saja pemuda itu menghubunginya. Satu minggu kepergian Agam, Khansa sudah acuh meskipun kadang suara Agam masih terngiang. Satu bulan sejak Agam menghilang, rindu Khansa pun sudah terkurung rapat di dasar hatinya. Mati suri.
Sekarang, setelah berbulan-bulan, Khansa bisa bernapas lega. Ia tidak lagi terpengaruh jika nama Agam terdengar di mana pun. Alih-alih merasa sedih dan kembali berkubang rindu, kini Khansa bisa tersenyum lepas, bangga karena ia pernah memiliki seseorang yang juga bernama Agam.
“Mau ke mana?” Khansa bertanya setelah masuk ke dalam mobil.
“Makan,” jawab Aruna sambil menoleh ke belakang.
“Apa kabar, Nca?” Leo yang sedang duduk di belakang kemudi bertanya setelah Khansa menutup pintu.
“Baik, Bang.” Khansa membalasnya sambil tersenyum sopan. Kemudian kembali menatap kepada Aruna, “Aku kaget tiba-tiba kamu hubungi kayak tadi.” Khansa memang sudah lama tidak berhubungan dengan Aruna, hanya sesekali jika salah satu diantara mereka mempunyai acara keluarga, maka mereka akan saling menghubungi. Seperti ketika kakak Khansa menikah, Khansa menghubungi Aruna dan mengundangnya. Atau sesekali saat mereka saling mengomentari posting-an sosial media masing-masing.
“Kangen sama kamu, udah lama juga kita nggak keluar bareng.” Aruna memperhatikan Khansa dengan seksama, “Kamu keliatan kucel, ya?”
Khansa mengerucutkan bibirnya, Aruna masih tidak berubah, masih suka berbicara frontal.
“Kucel banget, ya?” tanya Khansa sambil melihat dirinya sendiri.
“Iya.” Aruna mengangguk, “Iya, kan, Yang?” tanya Aruna kepada Leo yang sedang fokus menatap jalan raya.
“Biasa aja.” Leo menjawab setelah melihat kaca spion tengah. “Masih manis kok.”
Khansa mengulum senyum, malu setelah dipuji oleh Leo dihadapan Aruna. Namun, sesaat setelah itu, ia terkejut ketika mendapati Aruna memukul belakang kepala Leo dengan tangan kosong.
“Sakit,” jerit Leo. “Kenapa, sih?”
“Kenapa kamu muji Khansa?”
“Kan, kamu nanya dia kucel apa enggak. Ya jawabanku enggak, orang dia masih terlihat manis begitu, apanya yang kucel?” Leo bersungut-sungut dengan sebelah tangan mengusap kepalanya.
Aruna mendelik, “Kamu ngebuat dia salah tingkah tauk.”
“Khansa yang salah tingkah atau kamu yang cemburu?”
“Aku?” Aruna menunjuk batang hidungnya, “Cemburu?” Aruna tertawa, “Sampai kiamat itu enggak akan terjadi.”
“Gengsi aja terus.” Leo mendengus, membuat Khansa tersenyum sendiri di belakang.
“Nca, tapi aku serius. Kamu keliatan kucel. Maksud aku, lihatlah penampilan kamu.” Aruna kembali menoleh ke belakang, “Gaya pakaian kamu semberono.”
Khansa melihat kemeja kedodoran yang ia ambil sembarangan tadi ketika Aruna mengabarkan kalau perempuan itu sudah dekat.
Khansa menggigit bibirnya, memang sejak awal semester tiga, dia mengalami masalah kulit. Kulitnya lebih berminyak dan mudah berjerawat, membuat Khansa hampir putus asa untuk mengatasinya.
“Aku masih skincare rutin, kok.”
“Pengaruh Rio, nih.”
“Sayang.” Leo menegur.
Aruna tertawa. “Bercanda.” Kemudian dia kembali melihat ke belakang. “Kamu masih sama dia, ya?”
Khansa mengangguk singkat, Aruna pernah bertemu Rio ketika di pesta kakak Khansa dua tahun yang lalu. Sesaat setelah mereka berkenalan, Aruna langsung berbisik kepada Khansa. Gadis itu berterus terang kalau dia tidak menyukai Rio, penampilan Rio terlalu acak-acakan, belum lagi Rio kalah tampan dari Agam. Menurut Aruna pula, bahwa penampilan Khansa yang sekarang adalah karena pengaruh berpacaran dengan Rio.
Sebenarnya bukan Aruna saja, nyaris seluruh keluarga besar Khansa tidak menyukai Rio. Padahal mereka tidak pernah benar-benar berkenalan. Tiga tahun berpacaran, tidak sekalipun Khansa membawa Rio kepada keluarganya, hanya saling tahu wajah saja, itu pun terjadi ketika di pernikahan kakak Khansa. Di sosial media pun, Khansa tidak pernah mem-posting kebersamaan mereka.
“Kenapa kamu enggak sama Hamzah aja, sih?” Aruna kembali bertanya, “Kalau kamu enggak bisa sama Bang Agam, Hamzah itu udah pilihan yang baik. Aku lebih setuju dia daripada Rio. Meskipun aku masih berharap kamu sama Bang Agam.”
Khansa menggaruk tengkuknya, melihat Aruna dengan senyum dipaksa.
“Udahlah, Sayang. Kenapa kamu terkesan mendikte Khansa?” Leo mencoba menengahi. “Kan, yang menjalani hubungan Khansa. Dia yang lebih tahu siapa yang terbaik untuknya, kamu hanya memperhatikan dari luar. Itu pun yang kamu perhatikan penampilan fisiknya saja.”
“Tapi, Sayang.”
“Lagi pula, kalau mereka berjodoh, Khansa pasti berakhir dengan Agam, kok.” Leo melirik Khansa melalui spion tengah, “Si bodoh itu hanya berkelana, menikmati masa muda. Karena dia ingin membuktikan bahwa rumahnya sempurna untuk dijadikan tempat pulang.”
“Ha?” Aruna menautkan alisnya, menatap Leo bingung. “Maksud kamu apa?”
“Coba tanya Khansa,” ucap Leo yang membuat Khansa menunduk dalam-dalam, enggan menatap Aruna yang menunggu jawaban darinya.
*
Hola, selamat sore, Semuanya.
Semoga masih terhibur dengan cerita ini, ya 😊😊
*
Happy reading, Semuanya😊😊