Limerence

Limerence
Sebuah Defenisi Bahagia



Khansa masih mengukir senyumnya di dalam kamar, seolah tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya kecuali memamerkan kepada setiap benda mati di kamarnya jika ia sedang bahagia. Rasanya senyum saja tidak bisa mendeskripsikan dengan benar betapa besarnya bahagia yang dirasakan Khansa sekarang.


Masih dengan senyum yang setia di bibirnya, Khansa memejamkan mata. Pikirannya melayang kembali ke enam tahun yang lalu, ketika ia masih tingkat akhir di sekolah menengah pertama. Hari itu, entah mengapa Khansa yang biasanya menolak ajakan Aruna untuk keluar, mau saja ikut saat Aruna pergi menemui pacarnya.


Dan ketika Khansa berdiri di depan kos Leo, anak SMA yang menjadi pacar Aruna, penyesalan itu sudah terlambat. Dia tidak bisa tiba-tiba meminta Aruna berbalik atau sekedar mengantarnya pulang.


“Mau pulang?” Sepertinya Aruna menyadari kegelisahannya.


Khansa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan Aruna dengan jawaban ‘iya’ tanpa menyinggung sahabatnya itu. Meskipun Khansa yakin, Aruna tidak akan tersinggung. Bahkan Khansa yakin, kalau Aruna sebenarnya sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.


“Bentar aja, aku janji.”


Dan sebentar dalam kamus Aruna jelas berbeda dengan Khansa. Khansa harus dan terpaksa menyaksikan Aruna berpacaran selama dua jam. Sebenarnya Aruna dan Leo tidak benar-benar mengabaikannya, mereka mengajak Khansa ikut serta dalam obrolan. Hanya saja Khansa terlalu canggung, tidak masalah kalau Aruna, tapi Leo bukan kenalannya meskipun beberapa kali pernah bertemu ketika Leo menjemput Aruna ke sekolah. Jadi dia lebih banyak diam jika Leo tidak bertanya padanya.


Menjadi satu-satunya manusia yang menyaksikan bagaimana mesranya Aruna dan pacarnya, membuat Khansa diam-diam berharap mendapatkan pacar seperti Leo. Tampan, dan seperti yang sering diceritakan Aruna, sangat perhatian. Angan-angan Khansa harus terhenti lantaran suara itu mengagetkannya.


“Eh, si kampret.” Sosok itu tiba-tiba muncul di ruang tamu kos Leo, kemudian langsung menarik perhatian Khansa sebanyak-banyaknya. “Pacaran jangan di sini.”


“Kenapa?” Leo bertanya acuh, “Nggak kubawa ke kamar ini.”


“Dia lagi jomlo.” Seseorang menyahut dari arah pintu. “Makanya sensi.”


“Lho, Rea ke mana?” tanya Leo.


“Nggak kemana-mana.”


“Putus.” Cowok yang di depan pintu melirik ke arahnya, “Eh, ini siapa?”


Saat itulah sosok itu menatapnya. Mata mereka bertemu. Dipandangi sedemikian rupa membuat Khansa gugup setengah mati.


“Khansa. Temannya Arun.” Leo melihat ke arahnya, “Khansa, kenalkan itu Dani. Teman abang.” Leo mengedikkan dagunya kepada Dani. “Dan itu,” Leo meluruskan telunjuknya kepada sosok yang sedang berdiri di dekat televisi, “Agam, dia yang bersih-bersih di kos.”


Jika Dani tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Leo, cowok yang bernama Agam itu mengumpat dengan mengabsen seluruh penghuni kebun binatang.


“Satu sekolah sama Arun?” Dani bertanya kepadanya.


“Leo udah ngasih tau, abang nggak tuli, Arun,” ujar Dani setengah kesal. “Namanya Khansa?” Dani kembali melemparkan tanya kepadanya.


“Kan abang nggak tuli, seharusnya abang udah dengar kalau namanya Khansa. Leo udah ngasih tau tadi.” Sekarang Leo yang tertawa mendengar pacarnya membalas Dani.


Khansa tidak tahu harus bersikap seperti apa. Agam masih menghujaninya dengan tatapan intens. Membuat debar di jantungnya menjadi tidak karuan. Akhirnya karena tidak ingin kelihatan gugup, ia melarikan matanya untuk melihat Dani yang kembali menatap Aruna kesal.


“Kamu nggak usah datang ke kos, kalau cuma membuat abang kesal.”


“Arun nggak berniat membuat abang kesal. Abang duluan yang memulai.”


“Oh, C’mon. Siapa yang berteriak kepada abang duluan?” sindir Dani sambil tersenyum licik.


Arun sudah akan kembali membalas, tapi teguran dari Leo berhasil membungkamnya. “Kau ngapain di sana, Gam?” Leo bertanya heran, “Berniat menjadi patung untuk pajangan?”


Pertanyaan Leo membuat Khansa kembali menolehkan kepalanya kepada Agam. Dan ternyata pemuda itu masih menatap ke arahnya. Agam bahkan sudah melangkah dan sampai di hadapannya.


“Hai, Anca.”


Dan seperti itulah cara Agam menjadi pemilik hati Khansa.


***


Malam semakin larut, tapi Khansa masih terjaga. Ia membuka sebuah kotak, di dalam sana terdapat banyak kenangannya dengan Agam. Khansa mengambil sebuah album, membukanya, dan menekuri foto-foto dirinya dan Agam ketika awal pacaran dulu. Memandangi setiap ekspresi yang ia dan Agam tampilkan. Mereka sungguh terlihat sangat bahagia.


Kegiatannya terhenti ketika getaran pada ponselnya membuat Khansa meraih benda pipih itu dari atas nakas. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal. Jantung Khansa tiba-tiba bergemuruh, dengan senyum yang semakin lebar ia membuka pesan dari seseorang yang ia yakin juga tengah mengembangkan senyumnya di seberang sana.


Besok kuliah jam berapa?


-Agam-


Khansa mengetikan balasan dengan cepat. Tidak ingin membuat Agam menunggu terlalu lama. Dan Khansa baru terlelap ketika fajar mulai mengemban tugasnya.


***