
“Wortelnya juga dimakan, Yang,” ujar Rio sambil meletakkan kembali wortel yang disisihkan Khansa ke pinggir piringnya.
“Terlalu keras, aku nggak suka.” Khansa kembali memindahkan potongan-potongan wortel itu ke pinggir piringnya.
“Wortel bagus untuk kesehatan mata.” Rio kembali meletakkan wortel ke dalam piring Khansa.
Khansa mengerucutkan bibir, tapi tetap memasukkan wortel tersebut ke dalam mulutnya. Wajahnya bergidik ketika wortel yang belum matang sempurna itu terasa sedikit pahit di lidahnya.
“Jangan dimuntahkan,” titah Rio melihat gelagat Khansa yang akan memuntahkan kembali makanan dalam mulutnya.
“Kalian minta didoakan putus, ya?” Elfan berkomentar setelah memperhatikan bagaimana interaksi Rio dan Khansa.
“Jangan bicara omong kosong,” balas Rio sengit, membuat Elfan, Syakil, Joko, dua teman Rio di Elang’s Band yang lain tertawa terbahak-bahak.
“Kalau putus, kabarin, ya, Nca.” Joko mengedipkan sebelah matanya, “Aku padamu, kok,” lanjutnya yang membuat Rio mengumpat.
Sementara teman-teman Rio masih tertawa karena berhasil mengerjai pemuda itu, Khansa melarikan matanya kepada Agam yang duduk di hadapannya. Sedetik itu ia melirik Agam, tidak cukup sepersekian detik berikutnya dia langsung menunduk. Cowok itu menghunusnya dengan tatapan tajam, sanggup membuat Khansa mengkerut ketakutan.
“Sayang?” Khansa mendengar Rio memanggilnya lembut, tetapi ia juga yakin bahwa Agam masih belum melepaskan tatapannya, oleh karena itu Khansa sengaj tidak menghiraukan Rio.
“Sayang?” Rio masih memanggilnya, kali ini tangan lelaki itu bahkan menyentuh wajah Khansa. “Kamu kenapa? Kok, pucat?”
Khansa menggeleng, takut-takut dia kembali melirik ke Agam, sama seperti tadi, pemuda itu masih menatapnya tajam. Bahkan sekarang, semua mata tertuju padanya. Fay yang duduk di samping kiri Agam, Elfan, Syakil, dan Joko yang berturut-turut duduk di samping kanan Agam. Di samping kanan Khansa sendiri, Naila yang duduk berhadapan dengan Fay juga ikut menatapnya. Di samping kirinya sudah pasti Rio, disusul oleh Esme dan Rafisqy, benar-benar hanya terfokus kepada Khansa.
“Yang?” Rio masih bertanya.
“Nggak.” Khansa menggeleng, menatap Rio sambil tersenyum lemah, “Aku nggak papa.”
“Kamu yakin?”
“Iya.”
“Aku pesankan susu hangat?” Rio kembali bertanya, sementara tangannya mengusap wajah Khansa lagi. “Mau?”
Khansa baru akan mengangguk ketika Agam berdiri secara tiba-tiba, membuat kehebohan dengan memundurkan kursinya kasar. “Sori,” ucapnya semberono. “Terima kasih, udah mengajak kami ke sini, tapi aku ada agenda tersendiri sama pacarku,” sambungnya lagi sambil menarik tangan Fay yang akan menyuap makanannya lagi.
Khansa semakin memucat, tahu sekali kenapa Agam berbuat seperti itu. Sebelum benar-benar pergi, Khansa bisa menangkap tanda peringatan yang dilayangkan Agam melalui tatapannya.
*
Khansa tidak menjawab, “Cowoknya lebih jutek lagi.” Elfan berdecak, lalu menggeleng-geleng, “Mau seperti apa anak mereka kalau mereka sampai berjodoh.”
Disaat semua orang tertawa mendengar gurauan Elfan, Khansa merasa kesal dan ingin mencekik Elfan sampai mati.
“Aku pesankan susu hangat dulu, ya.”
Begitu Rio akan mengangkat tangannya, Khansa menempelkan wajahnya pada lengan Rio, “Mau pulang.”
“Susu hangatnya nggak jadi?”
Khansa menggeleng. “Mau pulang aja.”
“Woi, malah pacaran lagi!” seru Elfan mengagetkan Khansa yang langsung menegakkan tubuh.
“Kami cabut duluan, ya.” Rio meraih jaketnya.
“Udah mau pulang?” Naila yang bertanya, “Tapi, kan, perayaannya belum selesai, Yo.”
“Khansa nggak enak badan, sori, ya.”
“Terserah bapak saja.” Elfan kembali menyahuti dengan bercanda, “Kesehatan ibu negera lebih penting. Kami para staf istana, bisa memaklumi,” lanjutnya lagi yang mengundang gelak tawa mereka semua.
*
Selamat sore, Semuanya.
*
Bagaimana harinya?
Aku harap baik-baik aja, ya. Kalau pun enggak, jangan khawatir, semuanya pasti akan baik-baik lagi😊😊
Tetap semangat 😊😊
*