LIGHT IN THE DARK

LIGHT IN THE DARK
Part 8



Happy Reading 💫


.


.


.


.


"Malam itu di kediaman Maheswari, aku melihat Aulia, Orland dan juga Daisy sedang berlatih. Tepatnya, berlatih pedang. Dan kelihatan dengan jelas kalau diantara mereka bertiga, Daisy lah yang paling pro." Queen berujar memberitahukan apa yang dia lihat pada malam dimana dia memantau ketiga anak manusia itu.


"Salah satu keahlian Harumi Reiko adalah pedang. Dan Daisy itu yang paling bisa di antara mereka bertiga. Apa jangan-jangan dia adalah orang yang kita cari? Mengingat dia juga masuk dalam list orang yang patut di curigai," kata Kenric.


"Untuk sementara, kita pantau dulu kak. Kita belum bisa langsung bertindak dengan bukti yang belum kuat."


Kenric mengangguk setuju. "Wajah Daisy dan Harumi yang di foto itu memang berbeda. Tapi, tidak menutup kemungkinan jika gadis itu menyamar atau operasi plastik."


Queen terkekeh. Argumen kakaknya tentang operasi plastik itu membuat Queen menggelengkan kepala. Bisa-bisanya kalimat konyol seperti itu keluar dari mulut seorang Dominique.


💫_💫


Pada dasarnya, langit sore itu memang sangat membantu. Selain sang surya yang mengurangi teriknya, suhu pun jadi lebih sejuk ditambah angin yang berhembus. Karena itu, sangat membantu bagi Queen yang saat ini sedang mengendarai motor metik pink-nya membelah jalanan Jakarta, sambil sesekali berdecak kesal karena jalanan yang begitu padat.


Gadis penyuka hiking itu baru saja pulang dari bengkel. Tadi pagi ketika berangkat ke sekolah, ban motornya pecah dan mau tidak mau, Queen meninggalkan motornya di bengkel terdekat dan bergegas ke sekolah menggunakan taxi karena dia hampir terlambat.


Walaupun baru sebulan lebih dirinya berada di Jakarta, Queen sudah mengetahui rute-rute strategis menuju rumah dan sekolahnya. Rute jalanan yang pasti membuat dirinya tidak akan pulang terlambat atau terjebak macet. Walaupun rute itu lumayan berbahaya, tidak membuat seorang Queen Dominique menjadi takut. Padahal, banyak kendaraan yang tidak berani melewati jalanan tersebut. Karena selain sepi, terkadang ada preman yang nongkrong di situ sambil mabok-mabokkan.


Tiba-tiba, Queen memelankan laju motornya karena netra coklatnya melihat ada tawuran anak-anak SMA.


"Ck. Benar-benar dunia penuh drama." Queen berdecak kesal.


Queen memberhentikan motornya tepat di dekat orang-orang yang sedang tawuran. Dengan tampang flat, Queen memencet tombol klakson terus menerus hingga mengalihkan atensi mereka yang sedang tawuran kepada dirinya.


"Bisa minggir? Saya mau lewat," ucap Queen cuek dengan tampang yang masih datar.


"Biarkan dia lewat!" Teriak  salah satu cowok jangkung dan membuat anak-anak yang lain memberikan jalan kepada Queen.


Sambil menghembuskan napas berat, Queen menatap mereka semua. Ada beberapa anak yang mengenakan jaket levis dengan bordiran gambar burung elang di belakangnya. Atensinya di ahlikan kepada cowok yang tadi memerintahkan teman-temannya. Queen yakin jika cowok itu adalah ketua dari geng berjaket levis itu.


Tanpa mengucap sepatah katapun, Queen menjalankan motornya meninggalkan tempat itu yang kembali ramai dengan aksi tawuran antar dua SMA.


Selang beberapa menit, Queen telah tiba di kediamannya. Lagi-lagi Queen menghembuskan napas berat ketika melihat mobil lamborghini aventador berwarna putih yang terparkir di halaman rumahnya.


Tepat seperti dugaannya. Di ruang tamu, nampak sang kakak bersama Mark yang sedang berbincang-bincang. Tanpa sapaan apalagi menghampiri dua orang itu, Queen berjalan santai menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Kenric yang menyadari kelakuan adiknya hanya bisa menggelengkan kepala. Beginilah sikap Queen jika ada orang lain di sekitar mereka.


"Gantilah bajumu dan segera turun kesini, Riel. Ada hal penting yang harus kita bahas." Kenric setengah berteriak kepada sang adik yang tubuhnya mulai hilang dari pandangan netra-nya.


Karena perkataan sang kakak, mau tidak mau Queen mengurungkan niatnya untuk tidur. Selesai mandi dan mengenakan celana pendek selutut dengan baju kaos putih V neck, Queen berjalan keluar dari kamarnya untuk menghampiri sang kakak yang saat ini bersama Mark sedang berada di ruang tengah.


Karena kakaknya yang percaya dengan seorang Mark Collin, membuat Queen juga tidak perlu susah-susah menyamar dan mengenakan kacamata. Ya walaupun sang kakak memanggilnya Ariel bukan Queen.


Queen duduk di samping sang kakak yang sesekali berbincang dengan Mark. Kenric hanya meliriknya sekilas dan kembali larut pada laptopnya sambil mulutnya berkomat-kamit mengkritik penampilan Queen yang terbilang tidak sopan di depan tamu.


Queen tidak menggubris. Dia fokus memainkan iphone-nya yang berlogo apel digigit.


"Mark, apa benar nama gangster mereka itu kalajengking?" tanya Kenric.


"Entahlah. Tapi kata beberapa narasumber sih seperti itu. Mereka memiliki tato kalajengking di pergelangan tangannya. Makanya di juluki itu," jawab Mark.


"Saya sudah berusaha mencari data tentang mereka, tapi sama sekali tidak ketemu. Dari kalajengking, scorpion, dan beberapa bahasa lainnya dengan kata kunci Kalajengking, tapi tetap tidak ketemu. Jika ingin mencari seseorang, kau tahukan kita butuh satu petunjuk? Ini sama sekali tidak ada."


"Terus bagaimana? Kita harus tahu tentang mereka, Ken."


"Apa kamu tahu tato mereka seperti apa?"


Mark menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu dan berkata, "yang pernah melihat mereka itu Gerald. Tapi saya tidak yakin anak ceroboh itu mengingat apa yang dia lihat. Apalagi ketemunya disaat kejadian seperti itu."


"Saya pernah melihat tatonya waktu berkelahi dengan mereka." Queen tiba-tiba berujar. Di letakan iphone nya diatas meja, kemudian dia berlari ke kamarnya. Selang beberapa menit, dia telah kembali dengan membawa secarik kertas dan sebuah pencil.


Queen mulai menggambar tato kalajengking yang pernah dia lihat di salah satu pergelangan tangan preman yang dia pukul waktu menolong Gerald dan pacarnya. Setelah beberapa menit, Queen telah selesai menggambar. Dia pun menyerahkan kertas itu kepada Kenric.


"Itu tato mereka," ujar Queen.


"Oh, shit! Saya tahu siapa mereka." Kenric mengumpat ketika melihat yang di gambar Queen. Dia segera mengetik sesuatu di keyboard laptopnya. Tidak lama kemudian, dia menyerahkan laptop itu kepada Queen dan Mark yang refleks melihat pada layar laptop.


"Nama gangster nya Shion. Mereka itu kelompok pembunuh bayaran level atas." Kenric menjelaskan pada Queen dan Mark tentang foto beberapa orang yang mengenakan jas hitam seperti bodyguard. Bedanya, orang-orang itu kelihatan berkelas.


"Waktu di Rusia, Saya pernah mendengar tentang mereka, namun tidak pernah berurusan dengan mereka. Dan berharap jangan sampai berurusan dengan Shion. Tapi nyatanya, kali ini kita akan berurusan dengan mereka." Lanjut Kenric.


"Apa mereka sekejam itu?" Tanya Queen.


"Mereka membunuh musuhnya dengan memenggal kepala. Terus kepalanya di kirim ke keluarga korban dengan netra yang sudah di keluarkan. Bahkan, ada beberapa yang mulutnya dijahit, dan telinga di potong." Kenric bergidik ngeri membayangkan apa yang baru saja di ucapkan nya.


"Itu kamu. Bukan kakak." Kenric mendengus kesal. Memang di antara mereka berdua, Queen lah yang lebih banyak berurusan soal merenggut nyawa orang. Sudah seperti malaikat pencabut nyawa saja. Kalau Kenric menyamar untuk mendapatkan musuh yang dicari, Queen lah yang bertugas untuk membunuh.


"Saya tidak menyangka bisa bekerja sama dengan kalian. Adikmu, sungguh mengerikan, Ken." Mark yang sedari tadi mendengar perbincangan kakak beradik itu menggeleng tak percaya.


Tugas Mark tidak jauh berbeda dengan Kenric. Hanya saja, Mark lebih banyak melindungi klien-nya seperti seorang bodyguard yang merangkap menjadi detective.


Tiba-tiba, handphone milik Mark berdering.


"Halo."


"Halo bos, Gerald di bawah oleh orang-orang itu," ujar seseorang di seberang telepon.


"Oh, shit! Dibawah kemana?"


"Anggota kita yang lain sedang mengikuti mereka. Saya shareloc sekarang, bos."


Klik!


Mark menutup teleponnya dan menatap Kenric serta Queen dengan raut wajah cemas. Queen menghembuskan napasnya berat. Dia paham apa yang ingin di sampaikan Mark walau hanya melalui raut wajahnya.


"Saya akan bantu. Kak, pantau kami dari jauh." Queen berdiri dari duduknya dan bergegas ke kamar untuk mengganti pakaiannya.


Selesai bersiap-siap, Queen dan Mark segera menuju lokasi yang sudah di kirimkan anak buah Mark. Saat ini, mereka tidak menggunakan mobil melainkan motor sport black color. Selain lebih cepat sampai ke lokasi, kendaraan juga tidak terlihat mencolok.


Dua puluh menit, Queen dan Mark telah tiba di sebuah gedung tua bekas pabrik.


"Bagaimana?" Mark bertanya pelan pada salah satu anak buahnya yang sedari tadi sudah berada di luar gedung dan sedang bersembunyi di balik tembok.


"Mereka di dalam bos. Dan keadaan klien, sangat mengenaskan," jawab anak buahnya Mark. Dan klien yang di maksud adalah Gerald.


"Ariel, kamu siap?" Mark mengalihkan atensinya pada Queen dan bertanya.


Queen hanya mengangguk. Mereka berdua pun dengan perlahan berjalan masuk kedalam. Ternyata, gedung pabrik itu cukup besar. Namun tidak membuat Queen dan Mark kesulitan mencari keberadaan Gerald. Karena sedari awal mereka masuk, mereka mendengar suara ribut dan orang yang sedang di pukul.


Mark terkejut di balik tembok ketika melihat tak jauh dari tempatnya bersembunyi bersama Queen, ada Gerald yang sedang diikat kedua tangannya ke atas seperti orang yang sedang di gantung. Wajah tampannya sudah berlumuran darah dan luka dimana-mana. Benar apa kata anak buahnya Mark tadi kalau keadaan Gerald sungguh mengenaskan.


Mark dan Queen saling menatap satu sama lain. Seakan sedang bertelepati, mereka berbicara melalui tatapan. Sama-sama saling mengangguk dan berjalan keluar dari persembunyiannya menghampiri orang-orang itu.


"Hey!" Teriak Mark. Semua orang mengalihkan atensi mereka kepada Mark dan Queen. Begitupun dengan dua orang yang sedari tadi memukuli Gerald. Mereka berdua bahkan menghentikan pukulan mereka.


"Lepaskan dia jika kalian ingin hidup!" ujar Mark lagi dengan nada tinggi.


"Finally, anjing penjaga tuannya telah tiba," ujar salah seorang pria berbadan tegap dan membuat yang lain tertawa. Pria itu mengenakan jas berwarna hitam yang kelihatan berkelas. Berbeda dengan beberapa pria lain yang sekelompok dengannya.


Bukannya tersinggung, Mark justru terkekeh.


"Dan anda apa? Anjing liar pemakan sampah?" Balas Mark dengan nada santai.


Pria itu tertawa kencang mendengar peertanyaan Mark yang terdengar seperti pernyataan.


"Saya akui keberanian kalian. Cuma berdua?" Tanya pria itu sambil melihat ke sekitar mungkin ada anak buah Mark yang lain.


"Tidak usah susah-susah mencari. Kami hanya berdua."


"Kami dua puluh satu orang. Apa kalian sanggup?" Tanya pria itu menaikan sebelah alisnya.


"Ijinkan kami untuk membuktikannya." Queen yang sedari tadi terdiam kini berujar.


"Oh, rupanya ada gadis cantik." Pria itu tersenyum meremehkan. Dia berkata lagi, "tempat mainmu bukan disini, gadis kecil. Sebaiknya kamu pulang dan bermain boneka."


"Sayangnya, saya ingin sekali bermain bola. Apa tuan bersedia memberikan kepala tuan untuk saya jadikan bola?" ujar Queen dengan santainya tapi membuat pria itu menjadi geram.


"Hajar mereka!" Teriak pria itu memberikan perintah untuk anak buahnya.


"Show time." Queen bergumam pelan sambil menyeringai.


.


.


.


.


TBC


Don't forget to give me your vote and comment about my story.


See u next part, guys 💫