
Happy Reading 💫
.
.
.
.
Memiliki wajah yang cantik dan polos. Siapa yang tidak menyangka jika di balik wajah polos itu menyimpan seringain mengerikan? Bagaikan malaikat pencabut nyawa, dengan senang hati akan menghakimi orang bersalah yang berujung kematian.
Mendengar teriakan kesakitan dan memohon ampun ketika dirinya mencabik dan memotong setiap inci demi inci tubuh lawannya merupakan kesenangan tersendiri baginya. Bahkan, bau amis dari cairan kental berwarna merah yang di kenal dengan sebutan darah adalah salah satu kesukaannya ketika mengendus bau amis tersebut.
Bukan, dia bukan psychopath. Bukan pula orang yang haus akan darah sehingga siapa pun akan dia bunuh. Dia memiliki kriteria tersendiri untuk memilih siapa korbannya. Yang pasti, orang itu benar-benar bersalah dan pantas di hukum mati. Tapi dari caranya menyiksa sang lawan sepertinya terlalu kejam layaknya seorang psychopath. Mungkin.
Ketika starwhite yang berada dalam misi memberantas kejahatan, dirinyalah yang di hadapkan menjadi iblis tak berperasaan. Ketika musuh telah di tangkap oleh anggota starwhite yang bertugas, proses eksekusi dilakukan oleh gadis berwajah polos itu. Menyiksa secara perlahan hingga seringai iblisnya berubah menjadi senyuman mematikan sang malaikat pencabut nyawa.
Namun, dirinya memiliki penilaian sendiri. Walaupun di serahkan musuh dalam tangannya, dia akan memastikan orang itu pantas di hukum mati atau di buat cacat seumur hidup. Kecacatan yang orang itu sendiri akhirnya memilih untuk mati.
Mengapa gadis cantik berwajah polos itu harus semengerikan ini? Ah ya, semua berawal dari aksi pembunuhan kejam yang di alami sang ibunda tercinta tepat di depan matanya. Umur tujuh tahun adalah masa dimana seorang anak harusnya mengukir kenangan-kenangan indah yang dia lalui. Namun, bukanlah kenangan indah yang terbentuk, melainkan sebuah kajadian lumuran darah menodai lantai keramik di hiasi teriakan kesakitan dan minta tolong.
Saat itu, gadis kecil yang mengenakan piyama bermotif princes Aurora dari negeri dongeng hanya bisa terdiam dengan wajah pucat dan tubuh gemetar di dalam lemari pakaian yang pintunya sedikit terbuka. Sang ibu menyembunyikan anaknya di dalam benda persegi empat yang menjulang tinggi satu menit sebelum si pembunuh masuk kedalam kamar mereka. Nyaris ketahuan kalau saja sang ibu tidak mengalihkan atensi mereka dengan cara membanting pot bunga ke lantai.
Si pembunuh yang terlihat tidak jelas wajahnya menarik rambut wanita cantik ber iris coklat yang sama seperti si gadis kecil yang tengah bersembunyi menahan isak tangis agar suaranya tidak terdengar oleh sang pembunuh. Wanita cantik yang selalu di panggil mommy oleh si gadis kecil itu di seret hingga badannya terpentok ujung tempat tidur.
Di tampar pipi kanan-kiri tanpa jeda membuat kulit pipi putih mulus itu menjadi merah dengan sudut bibir yang berdarah. Di angkat, di banting ke lantai, di lempar kedinding, kepalanya pun di benturkan dengan keras ke lantai. Bahkan, kulit putih mulus yang selalu terawat oleh produk-produk mahal dan sentuhan klinik kecantikan kini sedang di kuliti oleh si pembunuh.
Tidak mengenal ampun dan berbelas kasihan. Padahal, wanita ber iris coklat itu sedang teriak kesakitan dan meminta tolong untuk di lepaskan. Namun si pembunuh, seakan menulikan telinganya dan terus melakukan hal itu.
Sang pembunuh tidak sendiri. Gadis kecil itu mendengar langkah kaki yang lain. Ternyata pembunuhnya ada dua orang. Namun, karena si pembunuh berdiri menyamping membuat wajahnya hanya terlihat sebagian. Sedangkan seorang yang lain justru berdiri membelakangi.
Penyiksaan terus berlanjut. Sang ibu di cekik lehernya, di tusuk-tusuk perutnya dengan pedang terus menerus. Darah merembes dengan derasnya. Namun, sang ibu masih terus bertahan demi putri kecilnya yang sedang ketakutan. Di dalam hati, terus merapalkan doa berharap pertolongan segera datang dan menyelamatkan putri kesayanganya.
Rumah besar dan semegah ini selalu mempunyai penjaga di setiap sudut. Para maid pun jumlahnya tidak sedikit. Tapi, bagaimana dua orang ini bisa masuk kedalam rumah klasik bergaya eropa dan melakukan tindakan keji seperti ini?
Wanita yang tubuhnya sudah lemah dan mulai kehilangan kesadarannya perlahan, tersenyum lirih ketika melihat seorang pria paruh baya dengan tubuh tegap berbalut pakaian bermerek dengan harga fantastik tengah berdiri di depannya. Ekspresi datar dengan sorot mata tajam meremehkan menatap wanita bernetra coklat itu. Melihat pria itu sudah cukup menjawab pertanyaan yang tadi terlintas dalam benak si wanita yang akrab di sapa Ratu Starwhite.
Hingga beberapa detik saling menatap, si pria berujar, "kau pantas menerima ini." Pria itu terkekeh di akhir kalimatnya. Kekehan yang sungguh mengerikan bagi gadis kecil di balik lemari. Saking menakutkannya sampai gadis kecil itu menutup kedua telinganya dengan tangan mungilnya. Hingga akhirnya, gadis kecil itu tidak sadarkan diri lagi.
.
.
.
.
Kenric menghela napas berat berulang kali sambil menatap wajah sang adik yang terlihat gelisah dalam tidurnya. Sesekali keningnya berkerut, kepalanya di geleng ke kanan dan kiri, keringat sudah membanjiri pelipis sang adik. Bahkan, gumaman pelan dengan kata "jangan pergi" terus terlontar dari bibir mungil sang adik yang memucat.
Lagi, Queen mengalami mimpi buruk. Selalu saja seperti ini sehabis Queen membunuh orang dengan cara seperti seorang psychopath. Setiap tetesan darah yang menetes dari lawannya, membuat Queen tidak bisa tenang dalam tidurnya. Seakan-akan, darah itu menuntut balas atas pembunuhan kejam yang dilakukan seorang Quensha Ariela Dominique.
Tadi selepas Kenric mengobati semua luka Gerald yang cukup serius, Kenric langsung bergegas menuju kamar adiknya. Kenric sangat mengenal adik kesayangannya itu. Tanpa perlu diberi tahupun, Kenric dapat melihat dengan jelas tatapan rapuh milik sang adik ketika mereka tiba di rumah satu jam yang lalu.
Kenric membaringkan tubuhnya di samping tubuh rapuh sang adik. Di peluknya tubuh mungil Queen sambil berucap "tenanglah, semua akan baik-baik saja" terus menerus hingga wajah sang adik yang terlihat gelisah, kini perlahan mulai tenang. Keadaan Queen, hanyalah Kenric yang mengetahui. Dia tahu dengan jelas bagaimana menderita adiknya setelah melakukan pembunuhan dengan cara kejam.
Semenjak beberapa tahun yang lalu melihat langsung aksi pembunuhan kejam sang ibunda tercinta, karakter Queen perlahan mulai berbeda. Namun hanya berlangsung sementara. Sekitaran dua minggu Queen menjadi anak pendiam. Selepas itu, entah bagaimana ceritanya, Queen kembali menjadi sosok anak seperti sebelum kejadian mengenaskan itu terjadi. Menjadi sosok anak ceria yang hyperaktif dan penuh dengan canda tawa.
Kenric dan sang Ayah sempat kahwatir. Takut kalau-kalau kejadian itu membuat Queen menjadi trauma. Namun sepertinya itu tidak terjadi. Queen seakan-akan menerima semua kejadian itu dan menganggap, hal itu tidak pernah terjadi. Kenric jadi teringat kejadian di kala itu.
"Flashback on"
"Hey, little girl. Are you okay?" Tanya Kenric lembut pada sang adik yang saat itu sedang memakan ice cream coklat di bangku taman rumah mereka. Saat itu, Kenric berumur sebelas tahun. Ya, dia dan Queen berbeda empat tahun.
("Hey, gadis kecil. Apakah kamu baik-baik saja?")
("Aku baik, kakak. Jangan khawatir.")
"Are you sure? Mm, I mean. If you feel not good, you can say to me. I will help you."
("Apakah kamu yakin? Mm, maksudku. Jika kamu merasa tidak baik, kamu bisa katakan padaku. Aku akan membantumu.")
Queen hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan sang kakak. Kemudian, dia tersenyum lebar dan menatap sang kakak sambil berkedip lucu. Dengan jahilnya, Queen menyendokkan ice cream dan mengolesinya di wajah tampan kakaknya itu.
Tidak terima dengan keusilan adiknya, Kenric membalas dengan menggelitik perut sang adik hingga Queen tertawa terbahak-bahak.
"Flashback off"
Kenric tersenyum mengingat kenangan indahnya bersama sang adik tercinta yang saat ini berada dalam pelukan hangatnya. Dirinya yang berpikir Queen tidak akan terpengaruh dengan kejadian waktu itu, ternyata salah besar.
Dengan seiringnya waktu, Queen menjadi sosok seseorang yang tidak akan berhenti untuk menyiksa lawannya. Seperti yang dia lakukan pada pria berjas itu. Pernah kenric menanyakan kenapa Queen melakukan hal itu. Dan jawaban sang adik sungguh mengejutkan.
"Aku membalas rasa sakit, mommy."
Kenric hanya bisa diam terpaku ketika mendengar kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Queen. Ingin merespon pun, dirinya tidak tahu harus berkata apa. Rasa sakit yang di terima Queen karena penyiksaan mommy mereka yang berujung kematian, merubah Queen menjadi sosok mengerikan di balik wajah polosnya. Padahal, orang-orang yang dia siksa dan bunuh bukanlah pelaku insiden itu. Tapi bagi Queen, selagi lawannya pernah membunuh orang, mereka tetap tersangka yang pantas di perlakukan sama. Di siksa secara perlahan hingga akhirnya di bunuh.
Setelah dirasa Queen sudah aman, Kenric beranjak perlahan dari tempat tidur dan berjalan keluar menuju kamar Gerald. Kamar tamu yang dadakan menjadi kamar rawat untuk Gerald.
Tiba di kamar Gerald, Kenric melihat Mark yang masih terjaga dan berdiri menghadap jendela yang masih terbuka dan menampakan langit malam dengan bertaburan bintang. Padahal, waktu sudah menunjukan pukul dua dini hari.
"Bagaimana?" Tanya Kenric yang ikut berdiri di samping Mark. Dia melipat kedua tangannya di depan dada dan ikut mendongak menatap langit malam.
"Tadi sempat bangun, tapi tidur lagi." Mark menjawab tanpa menoleh pada Kenric.
Kesunyian kembali melanda. Hanya terdengar helaan napas namun lebih dominan pada Kenric yang sesekali menghela napasnya dalam dan menghembuskannya berat. Tubuhnya boleh berada bersama Mark dan Gerald, tapi pikirannya melayang kepada Queen. Bagaimana gadis itu terlihat menderita dalam tidurnya.
"Bagaimana dengan Queen?" Mark yang seakan menyadari apa yang dipikirkan Kenric, bertanya.
"Baik."
"Adikmu, sungguh mengerikan." Mark menoleh sebentar ke arah Kenric. Ingin melihat bagaimana ekspresi wajah pria itu.
Kenric hanya diam. Dia memaklumi kalau Mark berkata seperti.
"Apa sebaiknya di periksa?" Mark bertanya lagi. Walaupun bukan dokter, Mark sedikit tahu tentang ilmu dasar kejiwaan seseorang. Dan dirinya merasa, adik temannya itu sedikit berbeda dalam artian, berbeda pada jiwanya.
Kenric menghela napas berat. Sebenarnya, dia ingin sekali membawa Queen ke psikiater. Tujuannya hanya ingin menyembuhkan Queen dari traumanya. Agar adiknya itu berhenti melakukan hal mengerikan. Namun, dia takut membuat Queen terluka karena berpikir, kakaknya menganggap dia gila.
Ketika adiknya menawarkan untuk menjadi bagian pengeksekusi lawan dari starwhite, Kenric pikir dia hanya akan sekali menembak atau menikam saja. Tapi tidak disangka, akan menyiksa terlebih dahulu. Penyiksaan yang di bilang sungguh mengerikan.
"Sebaiknya, dia jangan terlibat hal seperti ini lagi. Cukup dia fokus mencari si cewek Jepang di sekolah itu."
Mark mengangguk. Dirinya juga pikir seperti itu.
Tanpa mereka sadari, obrolan mereka sedari tadi di dengar oleh Gerald yang sudah bangun dari tidurnya semenjak Kenric masuk. Tapi, dirinya pura-pura memejamkan mata. Selain karena tubuhnya yang lemah dan sakit karena luka-lukanya, dia juga penasaran dengan gadis bermata coklat itu.
.
.
.
.
TBC
Don't forget to give me your vote and comment about my story.
See u next part, guys 💫