LIGHT IN THE DARK

LIGHT IN THE DARK
Part 14



Happy Reading 💫


.


.


.


.


Disini lah sekarang Queen berada. Duduk dalam kegelapan sambil memangku kaki dengan angkuhnya di single sofa yang berada tepat di dalam kamar Kenric. Queen sengaja tidak menyalakan lampu. Ketika sedang berpikir, Queen butuh kegelapan.


Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, namun Kenric masih berkeliaran di luar sana. Entah apa yang sedang di kerjakan anak pertama keluarga Dominique itu sehingga sudah beberapa hari ini, selalu pulang larut malam. Bahkan, Queen dan Kenric jarang bertemu. Semenjak Mark berada di rumah ini, Kenric lebih suka keluyuran bersama Mark. Membiarkan Queen tinggal besama Gerald yang suka sekali menjahilinya.


Queen tersenyum miring. Apa sekarang partner Kenric adalah Mark? Atau, apakah Kenric sudah berubah menjadi lawan?


Queen menyadari dengan sangat kalau saat ini, dia benar-benar berjalan sendiri dalam misi ini. Untuk sesaat, tatapan Queen berubah sendu. Dia tidak akan memaafkan jika kakaknya benar-benar mengkhianati dirinya. Dan kalau sampai itu terjadi, Queen yang akan membunuh kakaknya itu dengan tangannya sendiri.


Terdengar suara pintu berdecit. Walau di dalam kegelapan, Queen dapat melihat dengan jelas siluet seseorang masuk ke dalam kamar yang di yakini Queen adalah pemilik kamar ini. Kenric terkejut ketika menyalakan lampu, dia melihat Queen yang duduk di single sofa sambil menatap tajam padanya.


“Terkejut?” tanya Queen dengan tampang datar dan tatapan yang masih tajam.


“Ah, sedikit,” jawab Kenric sambil tertawa canggung. Di lepaskan jaket kulit berwarna hitam yang di kenakannya dan di lemparkan asal ke atas tempat tidur. Kemudian, dia berjalan dan duduk di salah satu sofa tepat berada di depan Queen.


“Jadi, ada apa?” tanya Kenric lembut. Dia sebenarnya tahu ada yang tidak beres. Melihat bagaimana ekspresi dan tatapan maut adiknya. Namun, sebisa mungkin dia tidak salah dalam berkata dan bertindak. Jangan sampai membuat mereka bertengkar.


“Apa kita ini adalah partner, Ken?”


Kenric tertawa pelan. Apa-apaan pertanyaan adiknya itu?


“Tentu saja kita adalah partner, little girl. Ada apa denganmu? Kenapa bertanya seperti itu?” Kenric menggeleng pelan. “Dan ya, kemana panggilan manis untukku? Ah, aku merindukan kau memanggilku ‘kakak’.”


Queen tersenyum miring, “kau yakin? Aku pikir, partnermu sekarang adalah Mark.”


Kenric menelan salivanya susah payah. Tatapan adiknya saat ini seakan ingin menguliti dirinya.


“Apa dia sudah tahu?” batin Kenric.


“Kenapa melamun? Sedang mencari alasan yang tepat?” tanya Queen lagi dengan tatapan yang masih sama, tajam.


Seketika, atmosfer berubah menjadi dingin yang mencekam. Padahal saat ini, AC di kamar sedang off. Kenric membuka mulutnya tapi di rapatkan kembali bibirnya itu. Tidak tahu harus merespon seperti apa.


Melihat itu, Queen tertawa. Tapi tidak ada keramahan dalam tawanya. Tawa Queen begitu menyeramkan di pendengaran Kenric. Ini bukan seperti little girl-nya Dominique.


“Kau tahu Ken, walaupun kau kakakku, tidak akan ada pengecualian. Pengkhianat, tetap akanku bunuh!” Ancam Queen penuh penekanan.


Keringat membanjiri pelipis Kenric. Anak pertama pemimpin starwhite itu benar-benar gugup sekarang. Queen berjalan mendekati Kenric. Di condongkan badannya kedepan. Di arahkan mulutnya tepat di samping telinga Kenric.


Dengan suara pelan, Queen berkata, “selamat malam, kakakku.” Memukul pelan bahu sang kakak. Tersenyum manis seperti biasanya, dan kemudian Queen melangkah keluar dari kamar itu.


Begitu menutup pintu, Queen melihat Mark berdiri di bawah tangga. Mark yang baru saja mengambil minum di dapur, terkejut melihat Queen.


“Hai, belum tidur?” tanya Mark sambil tersenyum.


“Ini mau tidur. Tadi mampir sebentar mengunjungi sang kakak yang lupa kalau punya adik,” jawab Queen sambil membalas senyuman Mark.


Tanpa menunggu respon Mark, Queen berjalan pelan menaiki tangga menuju kamarnya. Namun sebelum dia masuk ke dalam kamarnya, Queen menengok ke belakang, di lihatnya Mark yang berjalan masuk ke kamar sang kakak.


“Apa aku perlu mengasah pisau khusus untuk kalian?” batin Queen.


Queen membalikkan kembali badannya dan berjalan masuk ke kamar.


.


.


.


.


Di salah satu ruangan yang minim akan cahaya, seorang wanita berdiri menatap tajam seorang laki-laki yang tergeletak di tanah dengan napas yang tersengal-sengal. Badan babak belur di sertai darah yang bercucuran di mana-mana.


“Kenapa sampai bisa kecolongan?” tanya wanita itu marah.


“Maaf bos. Lawan kami itu, sepertinya bukan dari kalangan biasa,” jawab salah satu pria bertubuh kekar yang berdiri di samping wanita bertopi hitam itu.


Wanita itu menatap tajam si pria yang tadi menjawab pertanyaannya, membuat si pria berbadan besar itu meneguk salivanya dengan susah payah.


“Kejadian sudah beberapa hari yang lalu, dan kalian baru memberitahukan saya. Merasa sudah menjadi bos disini?”


Bugh!


“Where is X?” tanya wanita itu tajam.


Tidak ada yang berani menjawab. Lima belas pria yang bersama di dalam ruangan itu, menutup rapat-rapat mulut mereka. Jika si bos tahu, tamatlah riwayat mereka. Itu yang ada di dalam benak mereka semua.


"He is dead," tutur wanita itu. Melihat bagaimana reaksi anak buahnya, wanita itu tahu pernyataannya adalah benar.


“Bos, mere ...”


*Bugh!


Bugh!


Bugh*!


Belum sempat si pria berbadan besar itu menyelesaikan kalimatnya, wanita bertopi hitam sudah lebih dulu melayangkan tinjunya. Pukul sana-sini, melampiaskan kemarahan yang sudah di tahannya sedari tadi.


Si pria berbadan besar yang ternyata adalah ketua dari kelompok saat ini hanya terdiam menerima pukulan sang bos.


“Sampah!” sarkas si wanita bertopi. “Eight,” panggil wanita itu kepada sang ketua.


“Yes, bos?” si pria berbadan besar yang ternyata di panggil "eight" menyahut. Walau sedikit meringis karena sudut bibirnya berdarah.


“Kesempatan terakhir.”


“Terimakasih, bos.”


Si wanita bertopi hitam melenggang pergi dari ruangan itu. Tapi sebelum langkahnya semakin jauh, dia berbalik dan ...


Dor!


Satu tembakan tepat mengenai jidat si pria yang tergeletak di lantai. Tersenyum miring, si wanita itu berjalan pergi.


Di dalam mobil yang melesat pergi meninggalkan kawasan bangunan tua itu, si wanita bertopi menatap orang yang duduk di sampingnya.


“Lakukan keahlianmu. Cari tahu, siapa mereka,” perintah si wanita bertopi dan mendapat anggukan dari orang di sebelahnya.


Si wanita, mengalihkan atensinya pada orang lain yang duduk di balik kursi kemudi.


“tutup mulutmu kalau masih ingin hidup.”


Si supir mengangguk dengan cepat. Kedua tangannya yang memegang setir sudah gemetaran. Namun sebisa mungkin, dia menyembunyikan ketakutannya.


.


.


.


.


Hidup dalam dunia yang penuh bahaya, membuat Queen selalu waspada. Biar dalam tidur sekalipun, apa pun bisa terjadi. Karena itu, dia tidak boleh lengah.


Walaupun mata terpejam, namun telinganya masih begitu tajam. Ada gerakan di dalam kamarnya. Entah siapa tamu kurang ajar yang bertamu pada saat subuh seperti ini. Dan lagi, melalui jendela kamarnya.


Masih dengan mata terpejam, Queen bergerak membalikkan tubuhnya dan tidur membelakangi jendela. Dengan gerakan sangat hati-hati, tangannya di arahkan ke bawah bantal. Dengan sigap, Queen membalikkan tubuhnya kembali menghadap jendela dan pistol nya di arahkan tepat di depan wajah seseorang yang sedang berdiri di samping tempat tidurnya, sambil memandang intens Queen.


Kamar yang gelap. Hanya mengandalkan lampu tidur yang cahayanya pun tidak terlalu terang. Namun Queen dapat melihat tamu kurang ajar ini adalah seorang pria yang sedang terkekeh.


“Say good bye for the world, little girl," ujar pria itu sambil mengarahkan pistolnya tepat di pelipis Queen.


(Ucapkan selamat tinggal untuk dunia, gadis kecil).


.


.


.


.


TBC


Don’t forget to give me your vote and comment about my story.


See u next part, guys 💫