
Happy Reading đź’«
.
.
.
.
Lagi dan lagi, Queen terjebak di antara tawuran dua SMA yang berbeda. Mengapa juga motor pink-nya kali ini pakai acara mogok? Mana di jalan yang sama lagi mereka tawurannya. Anak-anak berjaket levis dengan gambar burung elang di belakang jaket itu sedang baku hantam begitu hebatnya dengan lawan yang berbeda. Ya, berbeda dari waktu itu. Sebenarnya, berapa banyak musuh yang dimiliki geng berjaket levis itu?
Queen mendengus pelan. Langkahnya berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang tidak beraturan. Matahari begitu terik dan Queen sedari tadi mendorong motornya dari belokan jalan utama. Rasanya begitu lelah. Sang kakak juga pakai acara hilang entah kemana. Setelah dirasa pernapasannya mulai teratur, Queen kembali melangkah sambil mendorong motornya.
Kali ini, Queen sengaja tidak menegur mereka agar mereka memberikan dia lewat seperti waktu itu. Jika dia kena pukul, nanti akan dia balas.
“Awas ...!”
Bugh!
Queen refleks membalikkan badannya ketika mendengar suara pukulan di belakang tubuhnya. Tidak terkejut sama sekali karena dia memang sudah melihat pergerakan cowok yang ingin memukulnya itu dari kaca spion motornya. Tidak jauh dari tempatnya berpijak, seorang cowok dengan hidung berdarah tergeletak di tanah.
“Bangsat! Lo enggak lihat ada orang lewat? Pakai kayu segala lagi. Dia cewek, man!” umpat cowok berjaket levis itu pada cowok satunya yang tergelat di tanah. Kentara sekali dia sangat marah terlihat dari wajahnya yang merah.
Semua aksi baku hantam terhenti karena teriakan cowok yang berdiri di depan Queen. Cowok ini seakan menyembunyikan Queen di balik punggungnya. Queen hanya diam dengan tampang flat.
“Lo, nggakpapa?” cowok itu berbalik dan memegang pundak Queen. Di telusuri Queen dari atas sampai bawah mencari kalau saja ada yang terluka. Dan entah bagaimana ceritanya, motor Queen sedari tadi sudah berpindah tangan ke salah satu teman cowok itu, di lihat dari jaket mereka yang sama.
Queen terkejut, sudah pasti. Bagaimana tidak terkejut kalau wajah cowok itu tepat di depan wajah Queen. Begitu dekat hingga Queen tidak sadar jika dirinya menahan napas.
“Hey ...” cowok itu mengguncang pelan tubuh Queen hingga Queen tersentak kaget.
“Eh, iya gue nggakpapa.” Queen mengerjapkan matanya, masih sedikit terkejut.
Cowok itu mengangguk singkat dan berbalik. Di tatap lawannya dan berkata, “cara lo, kayak banci. Nyerang dari belakang dan cewek pula."
Tidak ada respon dari cowok yang sudah berdiri sambil di papah temannya. Pukulan sang ketua Geng lawan memang sangat kuat.
“Cabut!” Teriak cowok itu kepada teman-temannya.
“Lo, gue anterin pulang. Motor lo biar di bawah sama Arken ke bengkel,” titah cowok itu tak ingin di bantah. Dia sedari tadi sudah melihat cewek ini walaupun sedang sibuk baku hantam. Sedikit terkejut karena cewek berkacamata itu berani jalan terus padahal sedang ada tawuran. Kalau orang lain, pasti sudah menghindar dan memilih melewati jalan lain.
Queen menurut. Toh, dia tidak perlu capek-capek mendorong motornya lagi. Queen naik ke atas motor sport milik cowok itu. Setelah menyebutkan alamat rumah Queen, cowok itu melajukan motornya.
“Gue, Raiden. Lo?” tanya Raiden setengah teriak.
“Ariel.” Singkat, padat dan jelas. Itulah Queen. Bahkan, cewek itu masih saja bertampang flat.
Tidak ada percakapan lagi di antara dua anak manusia itu hingga mereka tiba di depan rumah minimalis bertingkat dua milik Queen.
“Thanks.” Queen turun dari motor Raiden.
Raiden mengangguk singkat. “Lain kali, kalau ada aksi tawuran kayak gitu, hindari. Bukan sebaliknya,” peringat Raiden dengan tegas.
Queen bergumam pelan.
“Di rumah, ada siapa?”
“Kenapa?”
Bukannya menjawab, Raiden malah turun dari motornya. Di buka helmnya dan di rapikan rambutnya yang berantakan.
“Eh?” Queen mengerutkan kening ketika Raiden berjalan melewatinya begitu saja dan masuk ke halaman rumah Queen.
“Lo mau ngapain?” tanya Queen menyusul Raiden.
“Mau jelasin ke orang tua lo kenapa bisa pulang sama gue.”
“Eh, nggak usah.” Terlambat. Raiden sudah memencet bel dan tidak lama, pintu rumahnya terbuka menampilkan sosok,
“Gerald?”
“Raiden?”
“Riel, kenapa baru pulang?” Gerald, menatap tajam Queen. Yang di tatap malah memutar bola matanya malas.
“Jangan sok jadi kakak galak. Gue bukan adik, lo,” sarkas Queen tajam.
Gerald meringis. Niatnya ingin seperti kakak yang posesif terhadap adiknya malah buat dia malu sendiri.
“Ck! Nggak asik lo.” Gerald berdecak kesal. Sedangkan Queen hanya memandangnya datar. “Masuk Rai,” ajak Gerald pada Raiden.
Mereka bertiga pun masuk dan duduk di ruang tamu. Sebelum itu, Gerald sempat memanggil bik Minah untuk buatkan minum.
“Jadi, gimana ceritanya lo berdua pulang bareng? Gue rasa sekolah kalian berbeda,” tanya Gerald.
“Enggak sengaja ketemu di jalan,” jawab Queen cepat sebelum Raiden yang menjawab. Dia tidak ingin memberitahukan yang sebenarnya pada Gerald. Karena, cowok menyebalkan itu pasti langsung mengejek dirinya.
Gerald menatap Queen dengan menaikan sebelah alisnya, “jawaban macam apa itu?”
“Lo kenapa bisa disini? Ini bukan rumah lo.” Raiden yang memang sudah mengenal Gerald, bertanya.
“Keluarganya bangkrut, jadi numpang disini.” Bukan, bukan Gerald yang menjawab tapi Queen.
“Enak aja lo. Omongan itu adalah doa,” kesal Gerald sambil melempar bantal sofa ke arah Queen tapi di tangkap oleh gadis itu.
“Makanya, pulang sana. Betah amat tinggal di rumah orang.” Queen berdiri dari duduknya dan berjalan pergi ke kamar tanpa menoleh sedikit pun pada Raiden. Karena seperti biasa, Queen tidak akan suka dengan kehadiran orang baru. Kata “thanks” yang di ucapkan tadi juga sudah cukup baginya untuk kebaikan cowok itu yang mengantarnya pulang ke rumah.
“Jadi?” Gerald menaikan sebelah alisnya dan menatap Raiden.
“Target lo kali ini siapa? Gadis yang tadi?” tanya Raiden dengan tampang flat. Mereka sekarang terlihat seperti musuhan.
“Urusan lo, apa?” tanya balik Gerald dengan santai.
Raiden tersenyum miring, “gue enggak akan biarin ada korban berikutnya lagi, tuan Gerald.” Raiden menatap Gerald tajam. “Jangan coba-coba sentuh gadis itu!”
Gerald terkekeh pelan. Ada apa hubungan Raiden dan Ariel? sampai-sampai, cowok ini berani mengancamnya.
Raiden berdiri dari duduknya. Tanpa pamit, dia berjalan keluar dari rumah itu. Tapi sampai di ambang pintu, Raiden berhenti melangkah karena mendengar perkataan Gerald.
“Ayunda, gimana kabarnya?”
Raiden mengepalkan tangannya kuat. Rasanya dia ingin memukul Gerald saat ini juga. Tapi, dia tidak boleh gegabah. Menghadapi orang seperti Gerald, perlu taktik yang bagus.
Tidak merespon apapun, Raiden berjalan pergi dari rumah itu.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang melihat “drama” kecil mereka.
“Apa hubungan mereka sebenarnya?” benak orang itu.
.
.
.
.
Hari semakin larut ketika Queen memasuki kamarnya. Dia baru pulang dari mengintai Daisy. Ada banyak hal yang ingin dia laporkan pada sang kakak. Tapi di urungkannya sampai dia benar-benar yakin dengan mereka, dua orang yang sekarang sedang di curigai olehnya.
Ah, harusnya sedari awal Queen mengintai mereka. Dari apa yang dia lihat dan dengar, sudah cukup jelas jika mereka patut di curigai. Biarlah kakaknya itu tidak tahu saja dulu perihal ini. Queen membaringkan tubuhnya di ranjang miliknya setelah mandi terlebih dulu. Ada banyak hal yang harus di kerjakan besok.
.
.
.
.
TBC
*Don't forget to give me your vote and comment about my story.
see u next part, guys đź’«*