LIGHT IN THE DARK

LIGHT IN THE DARK
Part 15



Happy Reading đź’«


.


.


.


.


“Say good bye for the world, little girl,” ujar pria itu sambil mengarahkan pistolnya tepat di pelipis Queen.


.......


Queen menyeringai. Di tepisnya pistol yang bertengger pada pelipisnya sambil bangun dari tempat tidur.


“Tidak pernah berubah, Mr. Dominique,” ujar Queen sambil terkekeh pelan.


“Well, itu adalah ucapan salam hangat untuk gadis kecilku,” balas pria itu yang ternyata adalah Mr. Jordan.


Queen menyalakan lampu kamarnya dan langsung menghambur ke pelukan sang ayah tercinta.


“Salam hangat macam apa itu, Daddy?”


Mr. Jordan tertawa pelan. Di tuntun putri kesayangannya itu dan mereka berdua duduk di sofa yang berada di sudut kamar.


Walau tadinya tidak terlihat jelas wajah sang ayah, tapi suara dan bau parfum khas milik Mr. Jordan sangatlah di kenal Queen.


“Beginikah cara bertamunya seorang pemimpin Starwhite? Menyelinap Di tengah malam ke dalam kamar seorang gadis melalui jendela? Berkelas sekali Mr. Dominique,” ujar Queen menyindir sang ayah.


Lagi-lagi Mr. Jordan tertawa. Selalu saja anak kesayangannya ini membuat dia tertawa seperti sekarang.


“Daddy ingin bertemu denganmu. Ada hal penting yang ingin Daddy sampaikan.”


“Kenapa tidak melalui coding saja seperti biasanya?”


“Tidak bisa selama kakakmu yang mengakses semua jalan masuk dan keluar,” ujar Mr. Jordan dengan tampang serius.


Queen terdiam. Apa praduga tak bersalahnya kini menjadi sebuah fakta yang tak mengenakan?


“Tidak. Jangan berpikir macam-macam, Queen. Kenric tidak akan berkhianat,” ucap Mr. Jordan seakan mengerti apa yang di pikirkan anaknya itu.


Queen tertawa remeh, “apa daddy juga ingin membodohiku?”


“Jangan salah paham, little girl. Kamu cukup fokus pada misi mu saja.”


“Daddy ingin menyampaikan sesuatu padaku, tapi tidak ingin Kenric mengetahuinya. Padahal kami adalah partner.” Queen mendengus. “Ada apa dengan kalian?”


“Ini yang terbaik untukmu.”


“Terbaik untukku?” Queen tertawa remeh. “Jangan sampai pedangku menghunus jantung kakakku sendiri.”


“Lakukan apa pun yang kamu percayai,” ujar Mr. Jordan tidak menggubris perkataan Queen barusan.


Queen mendengus. Membuang muka ke samping. Apa-apaan daddy nya itu?


“Segala sesuatu, ada sebab akibat,” tutur Mr.Jordan dengan tampang serius. “Ada sebabnya kamu membunuh musuhmu. Tapi, ada akibatnya juga yang akan kamu terima.”


Queen mengalihkan atensinya pada sang Ayah.


“Kehilangan partnermu, misalnya,” lanjut Mr. Jordan.


“Oh ayolah. Aku lagi tidak ingin bermain tebak kata, Dad.”


Mr. Jordan mengedikkan bahu, “lakukan apa pun yang kamu percayai. Karena saat ini, kamu berjalan sendiri.” Berdiri dari duduknya, tanpa ucapan selamat tinggal, Mr. Jordan menyelinap keluar dari kamar Queen melalui jendela.


Tinggallah Queen seorang diri. Ditemani kegelapan malam dengan dingin yang mencekam, Queen berpikir keras.


“Lakukan apa pun yang kamu percayai. Karena saat ini, kamu berjalan sendiri.” Kalimat sang Ayah terus terngiang di kepala Queensha Ariela Dominique.


.


.


.


Langit sedang mendung, pertanda sebentar lagi akan turun hujan. Masih mengenakan seragam putih abu-abu khas anak SMA dengan lambang sekolah SMA Satelit, Queen melangkahkan kakinya memasuki sebuah cafe bernuansa klasik.


Cukup kagum dengan interior cafe yang baru pertama kali di kunjunginya. Melirik pesan yang masuk ke iphone nya, Queen melenggang menaiki tangga menuju lantai dua. Ternyata, di lantai dua ini jauh lebih indah.


Queen berjalan mendekati meja pojok tepat berada di dekat jendela full kaca dengan bunga gantung di atasnya. Dekorasinya antara perpaduan klasik, modern plus garden menambah penilain yang kian bertambah di berikan seorang Queen.


“Hai,” sapa suara berat nan tampan yang sedari tadi melambaikan tangan ke arah Queen seperti anak kecil ketika Queen menginjakkan kakinya di lantai dua.


“To the point,” tegas Queen tidak ingin berbasa-basi.


“Sabar. Pesan dulu kek.”


Queen berdecak kesal tapi tetap menuruti perkataan cowok di depannya itu. Setelah menyebutkan pesanannya ice coffie latte, Queen memandang kembali cowok di depannya ini ketika si waiters beranjak pergi.


Ekspresi ramah yang di berikan si cowok namun di balas dengan ekspresi datar dari Queen membuat si cowok yang bukan lain adalah Raiden menggelengkan kepala. Sungguh ajaib gadis di depannya itu. Ya, Queen dengan Raiden memang janjian bertemu.


“Gimana perkembangannya? Udah lo kasih tahu ke kakak lo soal yang gue bilang tempo hari?” tanya Raiden.


Bukannya menjawab, Queen malah meletakan sebuah amplop coklat di atas meja.


Dengan kening mengkerut karena bingung, Raiden meraih amplop coklat itu dan melihat isinya. Ternyata foto.


Raiden menatap empat foto di genggamannya. Empat potret dengan setiap orang yang berbeda.


Raiden menaikan sebelah alisnya dan menatap Queen, “ada apa dengan mereka?”


“Jawab saja. Kenal apa tidak?”


“Orlando maheswari, sepupu Viktor Maheswari,” tutur Raiden sambil menunjuk sebuah potret. “Kalau lo berpikir dia salah satu dalang dari kejadian waktu itu, lo salah.”


Queen menaikan sebelah alisnya, “bisa berikan alasannya kenapa salah?”


“Sepupu dia juga jadi korban, sama seperti gue. Lo pikir, gue jalanin ini semua sendiri? Gue nggak terlalu pintar melacak data seseorang.”


Queen tersenyum miring, “data diri tentang kakak gue, dia yang beri tahu?” tebak Queen dan tepat sasaran.


Raiden terkekeh pelan, “gue suka cewek kayak lo. Terlalu peka dan pintar.”


Queen kembali memberikan tatapan datarnya, “apa gue lagi di tembak?”


Raiden tertawa, “gue di terima?”


“Ck! Bisa serius?”


“Oke-oke,” Raiden mengangkat kedua tangannya ke atas pertanda menyerah. Padahal, senang sekali menjahili gadis bertampang datar ini.


“Jadi, ada yang perlu gue tahu lagi?” tanya Queen.


“Seperti yang lo bilang tadi, data tentang Kenric gue dapet dari dia. Tapi tentang lo yang adik seorang Kenric, gue sendiri yang tahu. Berkat ngintai kakak lo.”


Queen hanya diam.


“Nggak ada niat buat ngasih tahu tentang lo ke Orland, karena gue pikir lo nggak terlibat masalah ini,” tutur Raiden tersenyum tipis. “Tapi ternyata gue salah. Justru lo yang paling berperan dalam misi ini.”


Queen tersenyum miring, “tuduhan tanpa bukti?”


Raiden mengedikkan bahunya acuh, “dari cara lo ngomong dan menganalisis semuanya, gue bisa nebak kalau lo bukanlah gadis polos.”


Queen tersenyum tipis. Tipis sekali sehingga Raiden pun tidak menyadari jika gadis itu sedang tersenyum.


“Tiga foto yang lain?” tanya Queen.


“Daisy, Aulia, Jannet,” jawab Raiden. “Gue nggak tertarik sama yang namanya Daisy apalagi Jannet. Tapi Aulia ...”


“Aulia kenapa?”


“Ah, gue minum dulu. Haus,” ujar Raiden sengaja untuk membuat Queen kesal. Entah kenapa, menjahili gadis ini menjadi hobinya sekarang.


Queen mendengus tapi tidak berniat merespon.


“Jadi, Aulia itu mulai berbeda. Sifatnya, fashionnya, sikapnya, semuanya berbeda dari Aulia yang gue kenal.”


“Kapan?”


“Hah?”


“Ck! Kapan lo mulai merasa Aulia itu berbeda?”


“Sebulan setelah kejadian itu.”


Queen manggut-manggut. Sebulan setelah kejadian itu, dan bulan berikutnya dia pergi ke Singapura selama hampir dua bulan. Informasi ini cukup jadi alasan Queen untuk berbuat sesuatu pada gadis itu.


“Lo tahu Shion?” tanya Raiden membuyarkan lamunan Queen.


Queen mengangguk.


“Shion itu, sekelompok dengan Gerald.”


“Lo serius?” tanya Queen terkejut. Benar-benar terkejut. Bahkan, dia tidak menyembunyikan raut keterkejutannya.


“Whua, bisa terkejut juga ternyata,” ujar Raiden sambil tertawa.


“Gue juga manusia,” tutur Queen kembali memasang wajah datar.


“Lo pikir aja sendiri kenapa keadaan Ayunda lebih miris di bandingkan si kampret itu,” ucap Raiden dengan senyum sinis.


Pikiran Queen kembali mengingat kejadian di waktu itu. Kejadian dimana dia menolong Gerald dan Ayunda.


“Kehilangan partner, misalnya,” perkataan Mr. Jordan waktu itu tiba-tiba terlintas dalam benak Queen.


“Brengsek!” Umpat Queen pelan. “Gue bunuh lo, Kenric!” batin Queen.


.


.


.


.


TBC


*Don't forget to give me your vote and comment about my story.


See u next part, guys* đź’«