
Happy Reading 💫
.
.
.
.
Saat ini, waktu menunjukan pukul delapan malam. Queen dan Kenric sedang duduk berhadap-hadapan di atas sofa black color. Dengan dua cangkir coklat panas yang menemani malam dingin mereka karena di luar sedang hujan deras, kakak beradik itu menatap satu sama lain. Queen tahu jika saat ini, kakaknya ingin berbicara hal yang serius.
"Jadi, apa saja yang terjadi selama aku pergi?" Kenric bertanya setelah menyesap secangkir coklat panas miliknya.
"Akan aku jawab setelah kamu memberitahukan, siapa mereka dan apa yang kamu sembunyikan dariku? Aku pikir, kita ini partner, Ken?" Queen sedikit menyindir sang kakak. Sebenarnya, dia ingin sekali menonjok wajah tampan kakaknya itu karena sudah melakukan tindakan lain tanpa memberitahukan padanya.
Kenric menghembuskan napasnya berat. Dia tahu jika ini akan terjadi. Mengingat bagaimana sikap Queen tadi siang yang pamit pergi ke kamar dengan menggunakan bahasa formal seperti itu padanya. Menunjukan jika adik kesayangannya itu dalam mode marah.
"Subuh sebelum aku berangkat ke Inggris, malamnya aku mendapat pesan dari daddy yang menyuruhku kesana untuk bertemu dengan Mark. Mark itu, seorang agent rahasia yang di tugaskan oleh Papanya Gerald untuk menjaga sekaligus memecahkan kasus ini. Ya, tugas Mark sama dengan kita. Sama-sama mencari pembunuh asli Tanaka Ryuichi."
"Gerald itu, siapa? Sepertinya dia bukan orang biasa."
"Kenapa tidak kau cari tahu sendiri?"
"Kau tahu aku, Ken. Aku tidak suka mencari tahu seseorang yang tidak terlibat dalam misiku."
"Sayangnya, Xavier Gerald Archiles itu adalah orang yang paling dan sangat terlibat dalam kasus ini. Dalam misi kita."
Queen mengeraskan rahangnya. Dia tidak begitu menyukai cowok blasteran Inggris itu. Cowok tidak berguna dan cerewet. Begitulah pandangan Queen terhadap Gerald.
"Gerald Archiles adalah anak pertama dari pengusaha nomor satu se-Asia. Bahkan, cowok itu cukup populer di kalangannya." Lanjut Kencric.
Queen mendengus kesal. Seperti biasa, dia sama sekali tidak tertarik mengenai kekayaan seseorang.
"Seperti yang kamu lihat dari wajahnya, dia Blasteran Inggris-Indo, tapi sedari kecil tinggalnya di Indonesia."
"Pantes." Celutuk Queen.
"Pantes, kenapa?"
"Aksennya tidak seperti Mark walaupun ngomongnya pake bahasa Indo. Dan lagi, bahasanya juga gaul. Ternyata di Inggris cuma numpang lahir aja."
Kenric tertawa. Queen sudah kembali menjadi little girl-nya.
"Bahasa gaul yang bagaimana?" Kenric bertanya setelah menghentikan tawa nya.
"Lo-gue."
"Nah, iya. Itu yang mau aku tanyakan tapi lupa. Lo-gue itu apa sih? Aku dengar juga hampir semua anak-anak di sekolahmu menggunakan kata itu."
"Lo itu kamu, dan gue itu aku. Bahasa gaul anak jakarta katanya. Aku sampai menginstal aplikasi kamus bahasa gaul anak Jakarta biar bisa memahami omongan mereka."
Kenric tertawa lagi. Dia benar-benar menikmati wajah kesal sang adik. Untung saja, mereka bisa menyesuaikan aksen mereka. Terimakasih pada sang daddy tercinta karena sedari kecil, mereka di ajarkan bahasa Indonesia dengan aksen yang tidak kentara english-nya.
"By the way, Ken. Kenapa kita harus menangani misi ini? Kau tahu sendiri kalau Starwhite tidak pernah mau berurusan dengan negara di benua asia. Tapi kenapa, Daddy sendiri yang menyuruh kita menyelesaikan misi ini?" Tanya Queen penasaran.
"Waktu itu, Daddy sempat bilang padaku kalau ini adalah urusan pribadi. Karena itu, apapun yang terjadi, jangan pernah mengatasnamakan Starwhite."
"Maksudmu, kita bekerja sendiri dan tidak dalam naungan Starwhite?"
Kenric mengangguk dan kembali meminum coklat panasnya.
"Seriously? Hey, bagaimana bisa kita bekerja tapi tidak dalam naungan Starwhite? Biar bagaimanapun, kita juga butuh perlindungan dari kelompok kita jika suatu saat, terjadi hal yang sangat buruk." Queen protes. Jika dari awal dia tahu hal ini, dia tidak akan menerima misi konyol ini. Bukannya Queen takut. Tapi, jika mereka melakukannya di negara bagian eropa, sangat tidak masalah karena itu adalah kawasan mereka. Tapi, ini di asia. Tempat dimana baru pertama kalinya mereka berada disini.
"Daddy pasti punya alasan kuat hingga mengirim kita sejauh ini." Kenric menjeda sebentar. Ditatapnya manik coklat milik sang adik dan berkata lagi, "entah apapun alasannya, pasti akan daddy beritahukan ketika saatnya tiba. Kita hanya perlu menunggu waktu itu datang. Dan selama menunggu, sebagai keturunan Dominique, sangat PANTANG untuk lari dari tanggung jawab yang sudah di embankan di atas pundak kita," kata Kenric sambil menekankan kata pantang.
Queen mengangguk. Perasaannya jadi tidak enak. Dia mulai paham apa yang di maksud sang kakak. Hal ini benar-benar buruk.
"Disaat kita menerima misi ini, kita bukanlah bagian dari Starwhite ataupun Dominique lagi. Kita bergerak sendiri, Queen. Dan jika keadaan buruk itu datang, ingatlah untuk ja..."
"Jangan pernah menyebut nama Starwhite ataupun Dominique. Dan kematianlah pilihan terakhir kita. Entah dibunuh, atau bunuh diri," ujar Queen menyela perkataan sang kakak sambil menyebutkan salah satu syarat starwhite.
Kenric mengangguk dan menggenggam tangan sang adik.
"Setidaknya, kita meninggal dengan terhormat. Dimanapun dan dalam keadaan apapun, selagi melindungi Starwhite dan Dominique, kita terhormat."
Untuk pertama kalinya netra coklat itu menatap sendu wajah sang kakak. Ini namanya misi bunuh diri. Queen tidak menyangka bahwa waktu itu adalah hari terakhirnya melihat dan memeluk sang ayah. Dari percakapan mereka ini, Queen menyadari kalau sang kakak mengetahui bahwa lawan mereka bukanlah orang sembarangan yang mudah di taklukan.
"Tapi Mark tahu kalau kita bagian dari Starwhite."
"Yang dia tahu, kita adalah anggota, bukan keturunan pendiri Starwhite."
"Apa kakak percaya padanya?"
Kenric tersenyum. Untuk pertama kalinya, Queen memanggilnya kakak dengan tulus dan lembut. Sepertinya, budaya kedisiplinan di Negara Indonesia ini sudah sedikit merubah adik kesayangannya ini.
Queen menghembuskan napas berat. Inilah resiko jika menjadi seorang Starwhite. Menjadi keturunan Dominique. Tidak punya pilihan lain selain mengikuti alur kehidupannya yang sudah di tentukan semesta. Padahal waktu kecil, Queen sudah di suruh sang Daddy untuk mengganti nama belakangnya dan pindah ke Korea, tinggal bersama grandma dan grandpa nya. Bukan untuk di asing kan, melainkan demi keselamatannya sendiri.
Namun, memiliki darah sang pejuang dan petarung dari mafia terhebat bernama Jordan Dominique, membuat Queen dengan kerasa kepalanya tetap memilih menjadi seorang Starwhite. Bahkan, dia pernah dengan polosnya berkata ingin menjadi pemimpin Starwhite selanjutnya menggantikan sang Daddy.
Membunuh orang dengan tidak mengenal kata ampun. Tidak pernah kalah dalam bertarung. Bahkan, nyaris tidak memiliki rasa takut dalam dirinya. Membuat gadis blasteran Amerika-Rusia itu melupakan fakta bahwa suatu saat, dia akan terjatuh juga. Karena di atas langit, masih ada langit.
"Apa ini akhirnya? Akhir dari perjalanan seorang the Queen of Starwhite?" Batin Queen. Entah kenapa gadis bernetra coklat itu merasa, ini adalah misi terakhirnya. Semoga firasatnya salah.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Kenric menyadarkan Queen dari lamunannya.
"Aku berpikir, mungkin ini saatnya akhir dari the Queen of Starwhite."
Kenric terkekeh. Dia berpindah duduk di samping sang adik. Di elusnya surai panjang Queen dengan lembut.
"Semenjak mommy meninggal, gelar ratu starwhite berpindah padamu. Kakak senang karena kamu bisa menjadi ratu yang baik dan membanggakan," ujar kenric tulus.
"Dan kakak menjadi rajanya."
"Kalau kakak raja, terus Daddy apa?"
"Mm... Raja dari segala raja?"
Dua kaka beradik itu tertawa. Rasanya, sudah lama mereka tidak tertawa seperti ini. Bahkan, sekarang panggilan mereka telah berubah.
"Jadi, apa saja yang terjadi selama kakak pergi?" Kenric kembali pada topik awal.
Queen menegakan tubuhnya. Di ambilnya sebuah ipad yang berada di atas meja. Queen memperlihatkan foto seorang cewek dari balik layar ipad-nya kepada sang kakak.
"Kakak ingat gadis ini?"
"Dia salah satu teman sekolahmu, kan?"
"Iya, namanya Aulia. Kakak lihat wajahnya baik-baik. Dia, gadis yang ada di dalam video cctv itu. Video yang memperlihatkan Harumi Reiko mendatangi rumah si ketua osis."
"Oh, iya. Saat itu Harumi tidak sendiri. Dia bersama seorang gadis. Bagaimana bisa aku melewatkan data siswi ini?" Kenric menepuk jidatnya pelan. Ketika memeriksa semua data siswa-siswi Satelit high school, Kenric memang tidak menyadari tentang Aulia.
"Aulia itu, pacarnya Orland."
Kenric terdiam mendengar penuturan sang adik.
"Hampir dua bulan, gadis itu tidak masuk ke sekolah. Katanya, dia izin karena ada urusan di Singapura." Lanjut Queen. Dia menggeser layar ipad-nya dan memperlihatkan foto Aulia yang tengah berada di bandara.
"Lihat tanggal yang tertera di bawah fotonya kak, 15 july 2020 pukul 17.30 WIB. Gadis itu berada di bandara Soekarno hatta dan pastinya baru pulang berpergian. Malamnya, aku melihat dia di kediaman Maheswari. Namun tanggal 18, dia mengatakan pada Janne kalau dia baru pulang tanggal 17 sore. Gadis itu tengah berbohong. Tapi, apa yang sedang di sembunyikan gadis itu? Kalau saja dia tidak ada hubungannya dengan Harumi, aku tidak akan securiga ini pada gadis yang mungkin saja memiliki alasan mencengangkan di balik kebohongannya. Alasan yang menjadi keuntungan bagi kita jika mengetahuinya," tutur Queen panjang lebar.
Kenric tetap diam. Dia sama sekali tidak tertarik perihal dimana Queen mendapatkan foto itu. Sudah jelas bahwa seorang hacker itu sangat ahli dalam mendapatkan sebuah data apalagi hanya foto. Dan Queen merupakan seorang hacker yang kemampuannya tidak perlu di ragukan lagi.
Atensinya tetap dia tujukan pada foto gadis berkulit putih yang mengenakan blouse putih dan celana hitam panjang. Terlihat sederhana tapi berkelas.
"Ah ya, dan satu lagi." Queen menggeser layar ipad-nya lagi. Kali ini, terpampang foto seorang gadis manis berambut pendek.
"Namanya Daisy Caroline, sepupunya Aulia. Dia juga ikut Aulia pergi ke singapura."
"Gadis ini, sama sekali tidak ada data dirinya dalam data murid-murid Satelit High School." Kenric berujar sambil mengerutkan kening.
"Kakak benar. Makanya aku sempat terkejut dengan kehadirannya beberapa hari lalu." Queen menghembuskan napasnya berat. Dirinya benar-benar memutar otak dalam kasus ini.
"Aku mendapatkan informasi kalau gadis itu baru saja pindah ke Satelit High School dua bulan lalu. Padahal baru masuk sekolah sehari, besoknya langsung pergi ke Singapura bersama Aulia. Karena itu, datanya belum sempat dimasukin atau sengaja di abaikan pihak sekolah." Queen memberi jeda.
"Yang anehnya, dia begitu akrab dengan Janne. Kalau Aulia tidak masalah, karena mereka memang saling mengenal dari kelas satu SMA. Tapi Daisy, gadis itu bahkan baru saja pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia dua bulan yang lalu. Belum sempat berinteraksi, Daisy dan Aulia sudah pergi ke Singapura. Tapi mereka benar-benar terlihat akrab." Lanjut Queen. Dia memijit pangkal hidungnya.
"Aku akui kalau gadis itu sedikit berbeda. Sebagai seorang agent terlatih, aku memiliki insting kalau gadis itu bukanlah gadis biasa. Sorot tatapan matanya berbeda." Sekali lagi Queen menghembuskan napasnya berat. Terlalu banyak oknum yang mencurigakan.
"Tapi, data yang aku temukan soal Daisy itu sangatlah biasa. Saking biasanya, membuat aku curiga, kak." Queen berujar lagi.
"Curiga gimana?"
"Dia hanya gadis biasa yang memiliki orang tua lengkap dan tumbuh dalam keluarga penuh cinta. Masa pertumbuhannya pun, hanyalah kisah biasa. Tapi, bagaimana bisa dia seperti sosok yang mengerikan? Bagaimana bisa dia memegang pedang sefasih itu? Tidak pernah terdata kalau gadis itu ahli berpedang selain ilmu bela diri taekwondo. Kisah hidupnya benar-benar mulus tanpa cacat. Ayolah kak, tidak ada satu pun manusia di muka bumi yang hidupnya tidak memiliki masalah. Kisah hidupnya seakan telah di atur semulus mungkin."
Kenric mengangguk setuju. Eh, sebentar ...
"Pedang?" Tanya Kenric begitu menyadari Queen tadi menyebutkan pedang.
Queen menangguk.
"Malam itu ..."
TBC
Don't forget to give me your vote and comment about my story.
See u next part, guys 💫