
Happy Reading 💫
.
.
.
.
"Lo masih punya urusan sama gue," ujar Orland yang ternyata adalah orang yang menarik tangan Queen barusan.
Queen menyentakkan tangannya kasar, "urusan apa lagi?"
"Jangan pura-pura b*go." Orland menatap Queen dengan tajam. "Apa maksud lo ngomong gitu sama Aulia?"
"Yailah cuma gitu doang. Jangan baper deh," ujar Queen cuek.
"Lo ..."
"Ada apa sih?" tanya Raiden menyela perkataan Orland. Dirinya sedari tadi melihat dua orang berbeda gender itu dengan tampang bingung.
"Pacar lo nggak ada akhlak," jawab orland ketus.
"Pacar lo aja yang baperan. Kalau cinta, harusnya dia percaya sama lo, bukan gue." Queen memutar bola matanya malas.
"Stop!" kata Raiden sebelum Orland melayangkan kata-katanya membalas Queen. "Mau sampai kapan kalian berdebat terus? Ada hal penting yang harus kita bahas."
Queen mendengus kesal sedangkan Orland tetap menatap tajam pada gadis bernetra coklat itu. Namun sedetik kemudian, Orland berbalik dan menaiki motornya. Sama hal yang dilakukan Raiden dan Queen yang di bonceng Raiden saat ini.
Mereka bertiga beranjak dari tempat itu menuju tempat yang Queen sendiri tidak tahu dimana. Hanya Orland dan Raiden saja yang mengetahuinya.
Namun ketika di tengah jalan, Raiden dan Orland yang seakan menyadari ada beberapa motor di belakang yang sedang mengikuti mereka, sontak menancap pedal gas motor nya lebih kencang.
"Sepertinya kita di ikutin," kata Raiden setengah berteriak agar Queen mendengarnya.
Queen memutar kepalanya ke belakang dan melihat memang ada enam motor yang mengikuti mereka. Queen tertegun. Tidak mungkin mereka itu anak geng motor. Dari penampilannya saja, Queen seperti bisa menebak siapa mereka. Namun, tebakannya masih berstatus praduga tak bersalah.
Queen tetap diam walau saat ini, Raiden mengendarai motornya lumayan kencang. Nyalip sana nyalip sini. Kondisi yang sama pun di alami oleh Orland. Namun, enam motor itu berhasil mengepung Orland dan juga Raiden dari sisi kanan, kiri dan belakang.
Queen berdecak. Kenapa dua orang ini sangat bodoh? Dari awal, harusnya mereka berpencar. Atau salah satunya harus di depan bukan beriringan seperti saat ini. Alhasil, mereka di kepung.
Salah satu pria berpakaian hitam itu menendang motornya Raiden cukup kencang. Raiden yang tidak siap pun teroleng ke samping dan jatuh. Refleks, Orland juga menghentikan motornya.
Queen meringis saat siku lengannya tergores jalan aspal.
"Lo nggak-papa?" tanya Raiden yang membantu Queen berdiri.
Queen menggeleng. Saat ini, pasti akan ada perkelahian. Apa yang harus Queen lakukan? Melawan atau pura-pura menjadi anak polos yang tidak tahu adu jotos?
Dua pilihannya benar-benar beresiko. Kalau Queen tidak melawan, dia pasti akan di tangkap. Tapi, kalau Queen melawan, Queen takut dirinya tidak akan berhenti sebelum lawannya mati. Itulah sisi gelap dari seorang Queen. Begitu haus akan darah.
Namun belum sempat Queen bereaksi, Raiden dan Orland sudah berkelahi dengan orang-orang itu. Queen akui mereka berdua cukup mahir berkelahi. Para pria berjubah hitam itu sudah terkapar di aspal. Tinggal dua orang saja. Queen memutuskan tidak akan melawan. Dia punya rencana yang tiba-tiba terlintas dalam otak liciknya.
Raiden dan Orland yang merasa sudah menang dalam perkelahian ini dibuat terkejut karena dari arah berlawanan, para gerombolan dengan jubah hitam yang sama sedang menuju mereka.
"Shit! Mereka terlalu banyak," umpat Raiden.
Orland mengalihkan atensinya pada Queen yang sedari tadi berdiri di samping motor.
"Lo, bisa berantem?" tanya Orland pada Queen.
Queen menggeleng pelan. Ingat, dia punya rencana bukan?
Orland mengitari pandangannya ke sekeliling arah untuk mencari celah agar Queen bisa keluar dan bersembunyi. Namun tidak ada celah apa pun. Mereka bertiga benar-benar terkepung saat ini.
"Mereka bawah senjata," ujar Orland ketika atensinya melihat senjata yang di pegang salah satu pria berjubah hitam itu.
Raiden tertegun. Hanya dia dan Orland yang bisa di andalkan saat ini. Mereka tidak punya senjata apa pun dan lawan mereka berjumlah lebih dari sepuluh orang dan mereka membawa senjata. Sudah pasti dia dan Orland akan kalah.
"Siapa kalian?" tanya Raiden tajam pada mereka.
"Tidak penting siapa kami," ujar salah satu pria berjubah hitam. "Kami hanya menginginkan perempuan itu. Serahkan dia dan kalian selamat," lanjutnya sambil menunjuk Queen.
Queen hanya menatap datar pada pria itu. Sudah dia duga mereka menginginkan dirinya. Sepertinya, dugaan dia tentang siapa orang-orang ini adalah benar.
"Gue nggak akan ikut kalau kalian juga nggak bawah mereka," ujar Queen santai.
Raiden dan Orland yang mendengar penuturan Queen barusan sontak terkejut. Apa-apaan permintaan cewek ini?
Queen menaikan sebelah alisnya, "emang mau minta bantuan sama siapa?"
"Kakak lo."
Queen terkekeh pelan, "justru itu, gue mau kalian ikut." Queen kembali memasang ekspresi datarnya, "gue nggak mau Kenric ikut terlibat akan hal ini."
"Sudah selesai berdebatnya?" tanya Orland dengan ekspresi menahan emosi. Mereka lagi di tengah-tengah penjahat. Harusnya sama-sama berjuang buat menyelamatkan diri. Bukannya berdebat untuk di bawah atau tidak.
"Pilihannya cuma dua. Di tangkap, atau melepaskan diri sendiri," ujar Orland yang langsung melayangkan tendangannya pada salah satu pria bertubuh besar yang sedari tadi berdiri dua langkah di depannya.
Perkelahian sengit pun terjadi. Queen yang sedari awal tidak ingin ikut berkelahi, hanya bisa diam sambil melihat mereka dengan ekspresi datar.
Tidak ada rasa takut dalam diri Queen saat ini. Otaknya terus menari-nari indah menyusun rencana licik yang akan membawa dia semakin dekat dengan tujuannya.
Di sisi lain, Raiden dan Orland semakin kewalahan menghadapi gerombolan berjubah hitam yang tidak ada habisnya. Beberapa lawan sudah tumbang di pukul mereka. Hanya saja, masih banyak lagi yang harus mereka hadapi.
DOR!
Suara tembakan yang menggema tiba-tiba menghentikan perkelahian yang sedang terjadi. Salah satu pria berjubah hitam itu menembakkan pistolnya ke udara.
"Jangan sampai kalian membuat peluru ini menembus jantung kalian," ujar Pria itu dengan suara tajam.
"Seret mereka," perintah pria itu lagi.
Raiden dan Orland yang memang sudah tidak bertenaga lagi, hanya bisa pasrah ketika di seret. Sedangkan Queen pura-pura berontak ketika dirinya di tarik paksa oleh dua pria berjubah hitam yang lain. Alhasil, Queen di bekap mulutnya menggunakan sapu tangan yang telah di bubuhi obat bius.
Mereka bertiga di masukan kedalam sebuah mobil van berwarna hitam. Mobil pun melaju meninggalkan tempat itu.
.
.
.
.
Queen mengerjapkan matanya perlahan, berusaha membiasakan cahaya yang mengenai netra nya. Kepalanya pusing. Sepertinya, Queen bukan hanya di berikan obat bius. Karena sekujur tubuhnya terasa lemas.
Setelah matanya terbuka sempurna, Queen dapat melihat dirinya yang duduk diatas bangku dengan kaki dan tangan yang diikat. Mulutnya pun di sumpal kain.
Melihat ke sebelah kiri, Raiden juga Orland mengalami hal yang sama seperti dirinya. Bedah nya, wajah tampan kedua pria itu di penuhi lebam dan darah. Mereka berdua juga masih belum sadarkan diri.
Queen mengarahkan atensinya pada pintu bercat coklat yang tidak jauh darinya. Ruangan ini cukup luas, namun Queen masih bisa mendengar suara dari luar ruangan itu.
Samar-samar Queen mendengar percakapan orang-orang itu.
"Kenapa mereka juga dibawah?" tanya seseorang di luar ruangan itu. Queen mengernyit. Suara seorang wanita.
"Maaf bos. Kami tidak punya pilihan lain," jawab salah satu pria berjubah hitam itu.
Wanita itu menatap tajam anak buahnya. Pria berjubah hitam yang ternyata adalah ketua kelompok itu menelan saliva nya susah payah. Bos nya itu memiliki tatapan yang mematikan.
"Mereka melihat lambang kita," ujar pria itu lagi.
"Lambang?" gumam Queen ketika mendengar penuturan pria itu.
"Shion." Queen refleks menoleh ke samping kirinya ketika mendengar perkataan Orland.
Queen tertegun. Sejak kapan pria itu tersadar? Dan bagaimana cara dia melepaskan kain yang menyumpal mulutnya?
"Kita tidak akan bisa lolos kali ini," ujar Raiden yang membuat Queen tersadar.
Dirinya sudah salah langkah. Dia terjebak rencananya sendiri.
.
.
.
.
TBC
See u next part, guys 💫