
Happy Reading 💫
.
.
.
.
Terjadilah perkelahian sengit antara Queen, Mark, dan dua puluh orang bertato kalajengking.
Dua puluh berbanding dua. Jelas Queen dan Mark kalah jumlah. Namun, dengan keahlian bela diri yang tidak perlu di ragukan lagi kehebatannya, Queen dengan lihainya memukul, menendang bahkan tak tanggung-tanggung membuat retak tulang-tulang lawannya. Mark pun sanggup memukul lawannya. Walau sesekali dirinya terkena pukul.
Queen yang sedang berkelahi dengan seorang dari depan, kiri dan kanannya yang selalu menyerang dirinya tanpa jeda, di kejutkan dengan serangan tiba-tiba dari belakangnya ketika ada yang menarik rambut panjang Queen yang sengaja di kuncir kuda. Banci kah? Kenapa berkelahi dengan cara menarik rambut?
Belum sempat merespon, sebuah pukulan dari arah depan menghantam wajahnya dan membuat sudut bibirnya robek mengeluarkan darah segar. Queen melepaskan masker hitam yang di kenakannya. Di usap sudut bibirnya yang berdarah menggunakan ibu jarinya. Dengan sorot mata tajam, Queen menatap secara bergantian pria yang baru saja memukul wajahnya dan pria yang menarik rambutnya.
Queen tersenyum miring dan berkata, "tangannya minta di patahkan, ya? Dengan senang hati akan saya patahkan," ujar Queen santai dan langsung adu pukul dengan ke empat pria itu. Lawan yang lain sudah tumbang. Queen sama sekali tidak perduli mereka masih hidup, atau sudah tidak bernyawa lagi.
Hingga terakhir, Queen benar-benar mematahkan tangan dua orang yang tadi memukul wajahnya dan yang berkelahi seperti banci menarik rambutnya.
"Siapa pun yang berurusan dengan saya, nyawalah taruhannya." Queen tersenyum miring ketika tidak merasakan denyut nadi lawannya lagi disaat dia memeriksa lawannya itu. Atensinya di alihkan kepada Mark yang sedang memukul lawan terakhirnya hingga tumbang. Kemudian, di ahlikan lagi pada pria berjas bertubuh tegap yang sedari tadi hanya berdiri menyaksikan.
"Tuan, bersediakah memberikan saya kepala anda?" tanya Queen dengan senyum meremehkan. Dia ingat dengan jelas ketika tadi pria itu tersenyum meremehkan dirinya. Kini, seorang Dominique sedang membalas lawannya dengan memberikan senyuman yang sama.
Pria berjas itu berdecih.
"Saya akui keahlian kamu, little girl. Tapi kau harus tahu, saya bukanlah tandinganmu." Pria itu masih saja memberikan senyuman meremehkan kepada Queen.
"Just information for you, Mr. Yang boleh memanggil saya little girl hanyalah kakak saya. Jadi, berhenti memanggil saya seperti itu dengan mulut sampah mu!" Queen ber-ujar dengan nada santai nan menusuk.
Pria itu tertawa kencang. Dia sama sekali tidak merasa takut walaupun kini tinggal dia seorang. Karena semua anak buahnya, telah tumbang di kalahkan Queen dan Mark.
Ketika Mark ingin menyerang pria berjas itu, Queen menghentikannya.
"Mark, kamu tolong saja Gerald. Pria ini, biar menjadi urusan saya," kata Queen yang langsung menyerang pria itu.
Sesuai perkataan Queen, Mark membantu Gerald. Sedangkan Queen sudah bertarung dengan pria itu. Queen benar-benar menginginkan kepala si pria berjas. Tenaganya yang sedikit terkuras karena perkelahian dia melawan beberapa orang sebelumnya, membuat Queen sedikit kewalahan menghindari pukulan lawannya. Queen akui jika pria berjas itu cukup ahli.
Namun, Queen berhasil menumbangkan lawannya. Pria berjas itu tumbang di atas lantai berdebu. Queen menginjak wajah si pria pelan.
"Wow, Tuan. Gadis kecil ini sedang menginjak kepalamu." Queen terkekeh pelan meremehkan pria berjas yang saat ini sudah lemah. Banyak luka yang di dapatnya. Queen juga terluka, walaupun tidak separah si pria berjas.
Pria berjas itu tidak merespon. Namun tangannya perlahan di arahkan ke belakang punggungnya dan mengambil sebuah pisau lipat yang sangat tajam. Pisau lipat dengan ukiran kalajengking. Ketika pisau itu ingin di arahkan ke kakinya Queen, gadis ber netra coklat itu langsung menendang tangan si pria berjas. Ternyata dari awal, Queen sudah merasakan pergerakan si pria berjas.
Queen menunduk dan mengambil pisau yang terjatuh tak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan senyuman manis yang sebenarnya terlihat mengerikan, Queen menyayat leher si pria ber jas secara perlahan.
Tak jauh dari tempatnya Queen, Gerald dan Mark menyaksikan perbuatan Queen yang sangat mengerikan di depan mata mereka. Dengan susah payah mereka berdua menelan salivanya.
"Gadis itu, sungguh mengerikan." Mark bergidik ngeri.
Gerald hanya menganggukan kepalanya lemah. Dia tidak cukup punya tenaga lagi untuk sekedar bersuara. Seluruh tubuhnya di penuhi luka-luka. Bahkan, bagian kaki sepertinya retak dan punggung yang tadi di tusuk terus mengeluarkan darah.
"Gerald, saya sarankan jangan pernah membuat gadis itu marah. Dia selalu membalas setiap orang yang merendahkannya. Kamu mengerti?"
Lagi, Gerlad hanya mengangguk lemah. Dia sudah bertekad kalau selepas ini, dia tidak akan pernah berdebat dengan gadis itu lagi.
"Cukup, Queen. Kamu membuat dua orang yang berdiri di sana takut." Terdengar suara Kenric dari balik earpice yang sedari tadi di gunakan Queen.
Memang dari awal, Kenric menyaksikan semua itu. Karena Queen mengenakan kacamata yang biasanya dia gunakan kesekolah. Ingatkan kacamata apa? yup, Kacamata yang dibuat Kenric.
Queen mendengus. Lagi-lagi kakaknya mengganggu kesenangannya.
"Kak, kita apakan semua mayat ini? Disini, tidak ada Snow dan Flafy." Queen bertanya setelah menyayat leher pria berjas itu dengan sekali tarikan panjang dan dalam hingga pria itu pun tidak bernyawa lagi.
Berbicara tentang Snow dan Flafy, dua singa peliharaan Queen itu memang selalu menjadi hewan yang berguna ketika Queen membunuh lawannya dan ingin menyingkirkan mayat mereka agar tidak ketahuan oleh pihak berwajib alias polisi. Daging mayatnya, cukup di potong beberapa bagian, terus di berikan kepada Snow dan Flafy agar memakan potongan daging manusia itu. Mengerikan? Sangat.
"Tinggalkan saja mereka. Shion, tidak pernah ingin meninggalkan jejak. Walaupun orang lain yang membunuh orang-orang mereka, tetap Shionlah yang akan membereskan mayatnya. Bahkan, membersihkan setiap tetesan darah dan sidik jari di tempat kejadian. Mereka tidak ingin, kejahatan yang mereka lakukan dicium oleh kepolisian. Berurusan dengan polisi, memang sangat merepotkan," jawab Kenric.
Queen tidak merespon. Di ahlikan atensinya pada Mark dan Gerald.
"Bawa Gerald ke rumah saya aja. Di saat seperti ini, kakak saya bisa berahli profesi menjadi dokter gadungan," kata Queen yang hanya di respon Mark dengan anggukan.
Mark pun membopong Gerald keluar dari gedung itu. Sedangkan Queen, sudah berjalan keluar lebih dulu.
Queen pun masuk kedalam sebuah mobil yang sudah di sediakan anak buahnya Mark. Begitu juga dengan Mark dan Gerald yang ikut masuk dan duduk di jok belakang mobil. Sedangkan motor yang tadi mereka kenakan, di bawah oleh anak buahnya Mark. Mobil pun melaju ke kediaman Kenric dan Queen, meninggalkan gedung tua bekas pabrik dengan dua puluh satu mayat di dalamnya.
.
.
.
.
TBC
Don't forget to give me your vote and comment about my story.
See u next part, guys 💫