
Happy Reading đź’«
.
.
.
.
SMA Satelit saat ini sedang riuh nya dengan kehadiran seorang cowok menggunakan motor sport. Memiliki wajah yang tampan bak seorang pangeran di negeri dongeng, membuat langkah seluruh siswa-siswi yang baru saja keluar dari SMA Satelit menjadi terhenti dan menatap penuh pujian serta penasaran.
Queen yang baru saja melambaikan tangan pada Daisy, Aulia dan Jannet ketika tiga cewek itu berjalan menuju parkiran, mengerutkan kening melihat keramaian tepat di depan gerbang. Mengedikkan bahu tidak peduli, Queen berjalan keluar sekolah untuk menunggu angkot. Hari ini, dia tidak membawah motor nya karena benda itu sedang berada di bengkel.
“Ariel.” Terdengar suara berat khas cowok memanggil Queen.
Queen menghentikan langkahnya dan menatap cowok yang memanggil dirinya. Oh, ternyata si cowok yang sedari tadi menjadi pusat perhatian itu adalah Raiden. Dengan tampang flat, Queen berjalan menuju Raiden yang sedang berdiri bersandar pada motor sport berwarna merah miliknya. Agak risih sebenarnya karena semua mata kini tertuju padanya.
“Ngapain lo kesini?” tanya Queen begitu tiba di hadapan Raiden.
“Jemput lo,” jawab Raiden santai.
Queen menaikan sebelah alisnya dan seolah berkata, “kenapa jemput?”
Seakan mengerti, Raiden berkata, “kita ke bengkel ngambil motor lo.”
Queen mengangguk pelan, “tapi jangan tebar pesona kayak gitu. Ini bukan roman picisan.”
Raiden terkekeh pelan. Bukan salahnya jika pesona dia membuat semua orang mengagumi dirinya.
Setelah Queen naik ke atas motor, Raiden pun melesatkan kendaraan kesayangannya itu membelah jalanan ibu kota. Tidak lama kemudian, Raiden berhenti di depan sebuah cafe.
“Kita makan dulu. Gue laper,” ujar Raiden.
Queen mendengus pelan dan turun dari motor. Setelah memarkirkan motornya, Raiden dan Queen berjalan masuk ke dalam cafe.
“Selamat siang mas, mbak. Mau pesan apa?” tanya seorang waiters ramah.
“Mau makan apa?” tanya Raiden kepada Queen.
“Samain aja,” jawab Queen sambil memainkan handphonenya.
Waitersnya pergi setelah Raiden menyebutkan pesanan mereka.
“Jadi, apa hubungan lo sama Gerald?”
Queen menatap datar Raiden, dan tidak berniat untuk menjawab sama sekali. Mereka hanya saling tahu nama. Jadi Queen tidak perlu untuk menjawab pertanyaan itu.
"Gue tahu lo dengar semua perkataan gue dan Gerald kemarin," ujar Raiden lagi.
“So?” tanya Queen datar.
“Apapun hubungan kalian, lo harus hati-hati sama dia,” ujar Raiden dengan tampang serius.
“Kenapa gue harus hati-hati?”
“Gue tahu siapa kakak lo.”
Queen terkejut. Namun sebisa mungkin, dia menyembunyikan raut keterkejutannya dan tetap memasang tampang flat andalannya. Kalau dia benaran tahu tentang Kenric, itu berarti cowok di depannya ini bukan orang sembarangan.
“Emang kakak gue, siapa?”
“Seorang agent rahasia. FBI, mungkin?” Queen tersenyum miring. Ternyata, identitas kakaknya masih aman.
“Kalau iya, kenapa?”
“Lo tahu kenapa Gerald dan Mark mencari tahu tentang pembunuhnya Ryu?”
“Ryu?”
“Tanaka Ryuichi. Dan kakak lo juga terlibat dalam misi itu.”
“Lo tahu soal cowok itu?” tanya Queen heran.
Raiden mengangguk, “dia sepupu gue.”
Queen tersenyum miring. Pengakuan cowok di depannya ini membuat dia mengerti satu hal.
“Ketemu gue, itu bukan kebetulan. Tapi udah lo rencanain. Right?”
“Yups,” Raiden mengangguk. “Seperti yang lo bilang, ini bukan cerita roman picisan tentang si badboy ketua geng. Aksi tawuran itu, sengaja gue lakuin.”
“Dekatin kakak lo.”
Queen manggut-manggut. Dia makin memahami apa yang di rencakan cowok bernama Raiden ini.
“But, I'm speechless karena ternyata, ada Gerald di rumah lo. Sialan tuh cowok, udah selangkah di depan gue ternyata,” ujar Raiden.
Percakapan mereka sempat terhenti karena waiters membawa pesanan mereka.
“Jadi, bisa jelasin soal Gerald? Kelihatannya, kalian tidak akur. Padahal, Gerald itu teman sepupu lo,” tanya Queen sepeninggalan waiters.
Raiden terkekeh pelan, “lebih tepatnya, musuh di balik selimut.” Raiden meminum orange juice pesanannya. “Dia mengkhianati Ryu hanya karena cewek yang dia suka memilih Ryu di bandingkan dia.”
“Ayunda?” tebak Queen dan di angguki Raiden.
Queen tersenyum tipis. Tidak perlu bertanya lebih lanjut lagi karena Queen sudah menemukan jawabannya. Ini dia kepingan puzzle yang sedang dia cari. Kini, semuanya telah dia temukan. Tinggal di susun kembali menjadi sebuah puzzle dengan bentuk yang sempurna.
“Apa omongan lo bisa di percaya?” tanya Queen basa-basi. Karena sebenarnya, Queen memang percaya perkataan cowok di depannya ini. Semua pernyataan Raiden, sangat masuk di akal.
“Lo harus percaya.”
“Kasih satu alasan, kenapa gue harus percaya?”
“Biar lo nggak menyesal suatu saat nanti.”
Queen manggut-manggut. Cukup puas dengan jawaban Raiden.
“Kenapa ngasih tahu gue? Kenapa bukan ke kakak gue langsung?”
“Gue tahu lo Cuma gadis biasa yang fokusnya hanya sekolah. Masalah berbahaya seperti ini, kakak lo nggak mungkin libatin adik perempuannya yang bahkan, menjaga diri sendiri pun nggak bisa.”
Bukannya tersinggung, Queen malah tertawa. Cowok di depannya ini, bagaimana reaksi dia nanti saat tahu, siapa Queen sebenarnya.
“Itu bukan jawaban atas pertanyaan gue.”
“Walaupun lo nggak terlibat, tapi sedikit banyak gue yakin lo tahu perihal ini. Kalau lo cerita, kakak lo pasti langsung percaya. Dan mungkin, mencari tahu apa yang gue katakan tadi benar apa nggak.”
“Kenapa nggak langsung cerita ke kakak gue?” lagi, Queen mengulang pertanyaan yang sama. Cowok di depannya ini, terlalu bertele-tele.
“Karena kakak lo, sudah salah memilih partner.”
Queen terdiam. Dalam hatinya, dia membenarkan ucapan cowok di depannya ini. Entah apa yang Mark lakukan. Sampai-sampai, Kenric bisa memberikan kepercayaan pada orang itu.
Ini adalah pertemuan ketiga Queen dan Raiden. Dua anak manusia berbeda gender dan hanya saling tahu nama, tidak lebih dari hal itu. Namun kenapa Queen bisa lancar berbicara dengan orang yang baru? Bukankah Queen tidak suka dengan orang asing? Dan lagi, sikapnya yang tidak akan berbicara lebih dari 10 kata pada orang asing.
Namun, insting seorang Queen tidak pernah salah. Melihat cowok ini berbicara dengan Gerald waktu itu, dia sudah tahu siapa yang patut dia percayai. Karena itu, kenapa dirinya waktu awal ketemu Gerald selalu membatasi diri. Menganggap bahwa Gerald dan Mark adalah orang asing. Bahkan sampai sekarang.
Ingatkan Queen agar ketika sampai di rumah nanti, dia harus mencari tahu siapa Raiden sebenarnya.
“Nama lengkap lo, siapa?”
“Raiden Aliandro.”
“Thanks for your information.”
Raiden mengangguk pelan
“Ryu adalah sepupu gue satu-satunya. Gue tahu banyak soal dia. Anak itu, walaupun berandal jalanan, suka balapan liar dan pergaulan bebas, dia tidak akan sampai membunuh orang. Apalagi, temannya sendiri.” Raiden tersenyum miring. “Di bunuh dan di tuduh sebagai pembunuh Viktor Maheswari, gue nggak akan terima hal itu. Setidaknya, gue harus cari tahu siapa pembunuh sepupu gue dan Viktor. Supaya nama Ryu juga bisa bersih dari tuduhan itu.”
“Viktor Maheswari?” tanya Queen dengan kening mengkerut. “Apa ada hubungannya cowok itu dengan Orlando Maheswari?”
“Mereka sodara sepupu. Sama kayak gue dan Ryu.”
Queen terdiam. “Kenric Dominique, berapa banyak lagi hal yang lo sembunyiin dari gue?” batin Queen kesal.
.
.
.
.
TBC
Don’t forget to give me your vote and comment about my story.
See u next part, guys đź’«