LIGHT IN THE DARK

LIGHT IN THE DARK
Part 17



Happy Reading 💫


.


.


.


.


Queen berjalan santai di koridor SMA Satelit. Tidak di hiraukan banyak mata yang memandangnya. Jelas saja semua melihat Queen dengan tampang heran. Penampilan Queen kali ini, sangat jauh berbeda dengan sebelumnya.


Tidak ada kacamata, tidak ada tampang sok polos. Yang ada, penampilannya sudah seperti seorang bad girl. Kali ini, dia akan melakukan semuanya sesuai caranya. Parsetan dengan Kenric.


Sambil terus mengunyah permen karet dan memasang ekspresi datar andalannya, Queen melangkah menuju ruangan Osis dimana orang yang ingin di temuinya, berada disana.


Tanpa mengetuk pintu, tanpa mengucapkan salam, Queen membuka pintu bercat coklat itu.


Queen sedikit meringis ketika semua atensi orang-orang yang berada di ruangan itu, menatapnya. Tapi secepat mungkin, ekspresinya kembali datar.


"Dimana sopan santun kamu?" Orland selaku ketua Osis SMA Satelit menatap tajam ke arah Queen.


"Cuma mau bilang, kalau gue baru aja bully kakak kelas," ujar Queen menghiraukan perkataan Orland tadi.


Semua yang berada di ruangan itu terkejut. Heran kenapa bisa ada orang yang melaporkan kalau dirinya sendiri melakukan bully.


"Saya tidak punya waktu untuk meladeni omong kosong kamu. Keluar!" ujar Orland tegas. Matanya masih saja menatap Queen dengan tajam dan ekspresi yang datar.


Queen menaikan sebelah alisnya sambil tersenyum remeh, "jadi ini yang namanya Ketos berwibawa SMA Satelit? Yang katanya tegas?" Queen tersenyum miring, "tegas kok biarin si pelaku begitu aja."


Orland menatap nyalang si cewek berpenampilan urakan yang tidak tahu malunya mengganggu rapat OSIS yang sedang di pimpin nya sekarang. Bukannya takut, Queen kembali menatap tajam Orland.


"Kalau penjahat mengaku, maka penjara penuh." Orlando tersenyum miring, "berikan saya bukti kejahatan kamu."


"Land, biar kita aja yang ..." Dicky salah satu anggota Osis, menutup rapat mulutnya ketika si ketua Osis menatapnya dengan tajam. Niat hati ingin membantu mencari tahu kebenaran yang di katakan Queen, malah di tatap seperti itu. Jadi kicep.


Tanpa merespon perkataan Orland, Queen membalikan badannya dan berjalan pergi begitu saja. Orland tersenyum remeh. Dirinya, tidak akan mudah di permainkan.


"Boleh juga caranya mencari perhatian gue," batin Orland.


"Lanjut!" ujar Orland tegas.


Tidak berselang lama, semua anak OSIS di buat terkejut dengan suara pintu yang terbuka karena tendangan seseorang dari luar. Makin terkejut lagi tampang mereka semua termasuk sang ketua Osis ketika melihat Queen menyeret paksa seorang cewek dengan menarik rambut panjang cewek itu.


"Nih buktinya," ujar Queen menarik kakak kelasnya itu yang bernama Fani dan mendorongnya hingga jatuh tepat di samping Orland.


"Kak Fani?" pekik salah satu anak Osis di ruangan itu.


Mereka semua menggelengkan kepala tidak percaya. Fanira Sayahkira, mantan ketua Cheers SMA Satelit. Salah satu most wanted girl dan ratu bully. Tidak ada yang berani melawan gadis cantik berdarah Inggris itu di sekolah ini. Kecuali sang Ketua Osis dan para guru tentu saja.


Namun, anak baru bernama Ariel ini baru saja menyeret kakak kelas mereka itu. Bahkan, keadaan Fani sangat memprihatinkan.


"Ini buktinya," ucap Queen dengan ekspresi datar.


Orland mengalihkan atensi nya pada Fani.


"Ceritakan," pinta Orland agar Fani menceritakan kronologi kejadiannya.


Fani berdiri. Sambil memperbaiki penampilannya yang berantakan serta rambut yang sudah seperti rambut singa, Fani menatap tajam Queen.


"Gue di toilet. Nggak tahu kenapa, tiba-tiba adik kelas yang nggak tahu diri ini, dateng dan jambak gue. Sempat lawan sih. Tapi dia main keroyokan. Dia bertiga, dan gue sendiri," ujar Fani dengan sinis.


Queen tersenyum miring, "fitnah lebih kejam dari pembunuhan," ujar Queen menatap datar kakak kelasnya itu. "Lo yang lebih jelas tahu siapa yang main keroyokan disini," lanjut Queen.


"Laras," panggil Orland terhadap salah satu anak OSIS. "Antarkan ka Fani ke UKS. Dan lo," Orland menunjuk Queen. "Ikut gue."


Cowok bernama lengkap Orlando Maheswari itu melangkahkan kaki keluar dari ruangan OSIS di ikuti Queen di belakangnya. Namun, langkah Queen terhenti di ambang pintu dan menatap seseorang dengan ekor matanya.


"Gothca!"


Queen menyeringai. Dia telah mendapatkan apa yang di carinya. Ternyata, insting nya tidak pernah salah. Setelah ini, Queen harus mengasah pedang khusus untuk menjamu tamu baru nya ini.


.


.


.


.


"Kita mau kemana?" tanya Queen ketika dia dan Orland berjalan menyusuri koridor.


Pria tinggi bertubuh tegap ini sama sekali tidak menjawab pertanyaan Queen. Ekspresinya begitu datar dan dingin. Queen yang berjalan di sampingnya hanya mendengus kesal.


Hingga, kaki mereka berhenti di depan pintu bertuliskan ruangan BK. Queen menghela napas berat. Hal ini pasti akan melibatkan Kenric. Queen sangat jelas tahu kalau pembullyan yang dia lakukan, akan di kenakan sangsi skorsing dan bisa jadi, orang tua di panggil serta.


Namun ketika tangan Orland yang ingin meraih gagang pintu, ada sebuah telepon masuk di iphone nya.


"Halo."


.......


"Serius?" Orland melirik sekilas Queen yang berdiri di sampingnya.


......


"Baiklah," ujar Orland dengan ekspresi datar dan menutup teleponnya.


"Ikut," perintah Orland tegas. Kali ini, aura nya semakin dingin.


Queen hanya pasrah mengikuti langkah sang ketua Osis. Dirinya dilanda rasa penasaran kemana Orland membawanya. Dan lagi, apa yang akan di perbuat ketua Osis ini padanya.


Ternyata, Orland membawanya ke taman belakang sekolah yang jarang di datangi siswa SMA Satelit.


Orland duduk di bangku panjang yang memang di sediakan di taman itu. Diliriknya Queen yang hanya berdiri menatapnya dan menyuruh Queen untuk ikut duduk.


"Apa rencana lo?" tanya Orland dengan ekspresi datar tanpa melihat Queen. Tatapannya hanya lurus ke depan.


Queen mengerutkan kening, "rencana apa maksud lo?"


"Lo tahu siapa cewek yang lo bully itu?" Bukannya menjawab, Orland kembali melayangkan pertanyaan lain.


Queen mengedikkan bahunya acuh, "nggak tahu dan nggak mau tahu. Lagian, dia duluan yang ngusik gue," jawab Queen cuek.


"Kali ini, gue akan biarin masalah ini. Tapi ..." Orland menatap lekat wajah Queen. Mereka sama-sama saling menatap dengan ekspresi datar. "Nggak akan ada lain kali," lanjut Orland.


"Kenapa?" tanya Queen bingung. Kenapa semudah itu, cowok yang katanya tegas ini bisa melepaskan Queen dalam hukuman.


"Pacar?" beo Queen.


"Raiden."


"Hey, he's not my boyfriend!" ketus Queen.


Orland mengedikkan bahunya acuh. Berdiri dari duduknya dan melenggang pergi tanpa mengatakan apa pun pada Queen.


"Raiden, awas lo!" gumam Queen mendengus kesal.


Queen berjalan ke kelasnya dengan ekspresi datar seperti biasanya. Kejadian tentang Queen yang membully seorang most wanted girl SMA Satelit menjadi perbincangan hangat seantero sekolah. Queen mendadak menjadi artis yang di kenal dengan nama Ariel.


Inilah yang Queen inginkan. Dengan menunjukan bahwa dia bukanlah seseorang yang mudah di sentuh, seseorang itu akan keluar dari persembunyiannya.


"Ariel, tadi lo hebat banget," ujar Jane heboh ketika Queen tiba di kelas. Queen hanya tersenyum tipis.


"Well, kejadian ini membuat seantero gempar. Bahkan, sampai ke telinga para guru," ucap Daisy.


"Dan yang membuat aneh, kenapa lo nggak di panggil guru BK? I mean, lo lakuin bullyan yang di larang keras di sekolah ini," kata Aulia.


Queen mengedikkan bahunya acuh dan duduk dengan santainya di bangkunya.


"Keluarga lo harus kuat buat nutupin kasus ini. Lo nggak di hukum kan?" tanya Daisy.


Queen mengangguk.


"Kok bisa? Keluarga lo sehebat apa?" tanya Jane terkejut.


"Bukan keluarga gue, tapi Orland," jawab Queen santai.


"Orland?" Aulia melotot, "Orland pacar gue?"


Queen mengangguk malas.


"Lo ada hubungan apa sama Orland?" tanya Daisy memicingkan mata curiga.


Queen mengernyit. Jangan bilang, mereka curiga kalau Queen ada something dengan Orland?


Queen terkekeh pelan. Main-main sedikit dengan ketua osis menyebalkan itu sepertinya menyenangkan.


"Nggak ada hubungan apa-apa. Hanya ..,"


"Hanya?" tanya mereka bertiga serempak.


"Hanya dia pernah bilang suka sama gue," jawab Queen mantap.


Shock? Jangan di tanyakan lagi. Jane, Daisy apalagi Aulia sangat terkejut dengan pernyataan Queen barusan. Bahkan, ekspresi Aulia jadi sendu. Bukannya merasa bersalah karena sudah berbohong, Queen malah acuh tak acuh.


"Nggak mungkin Orland kayak gitu, Riel," ujar Daisy tidak terima.


"Gue cukup kenal Orland. Dia bukan tipe cowok seperti itu," sambung Jane.


Aulia tidak mengatakan apa pun. Berdiri dari duduknya dan langsung berlari keluar kelas. Daisy dan Jane sontak ikut berlari menyusul Aulia.


Queen tersenyum miring. Semuanya sesuai dengan apa yang dia inginkan.


****


Dilain tempat, para gerombolan yang mengenakan pakaian serba hitam serta motor besar dengan helm menutupi seluruh wajah mereka, sedang menanti kedatangan seseorang yang rencananya akan mereka bunuh.


Masih belum terima dengan kematian ketua kelompok mereka serta ini perintah langsung dari atasan yang harus membawa "dia" entah hidup maupun mati.


Jumlah mereka tidaklah sedikit. Ada sekitar dua puluh lima orang yang berpencar di segala sudut jalan agar tidak ketahuan. Rencana mereka kali ini tidak boleh gagal lagi. Jika tidak, nyawa mereka yang menjadi taruhannya.


Dari kejauhan, salah satu pria berbadan besar yang di tugaskan memata-matai gedung sekolah SMA Satelit melihat target mereka sedang berjalan keluar dari halaman sekolah. Segera pria itu menelpon teman-temannya dan memberitahukan perihal ini.


Queen yang baru saja bel pertanda pulang berdentang, langsung cepat-cepat berjalan keluar dari sekolah. Pasalnya, dia sedang menghindari si ketua osis maupun Aulia cs. Dia sedang tidak ingin di ganggu. Ada hal penting yang harus segera di urusnya.


Namun, langkahnya terhenti tepat di depan gerbang sekolah kala netranya melihat sebuah motor sport yang di kenalnya. Queen mendengus pelan. Ini dia biang keroknya.


Berjalan santai dengan gaya cool, tas ransel yang hanya tersampir pada pundak sebelah kanan nya, Queen berjalan menghampiri Raiden yang sedang berdiri menyender pada motornya sambil tersenyum manis pada Queen.


Entah kenapa, pria itu suka sekali mengumbar senyumannya pada Queen. Bukannya membalas senyuman Raiden atau sekedar say hi, Queen langsung menendang tulang tibia alias tulang kering nya Raiden hingga pria itu meringis kesakitan. Tendangan Queen, memang tidak main-main.


"Apa-apaan sih lo!" ketus Raiden sambil mengusap kakinya.


"Lo yang apa-apaan?" Queen melotot, "sejak kapan kita pacaran? Hah?"


Raiden meringis. Cewek di depannya ini ternyata galak juga.


Menyugar pelan rambutnya kebelakang. Memasang tampang cool padahal kakinya masih sakit, Raiden berdehem pelan.


"Emang nya lo nggak mau pa ..."


"Nggak!" ujar Queen menyela omongan Raiden.


"Belum juga selesai ngomong." Raiden mendengus.


Queen menatap pria tampan di depannya ini dengan ekspresi datar. Ya, Queen akui Raiden memang tampan. Bahkan, mereka kini menjadi pusat perhatian para siswa yang sedang berjalan keluar dari sekolah.


"Ngapain kesini?" tanya Queen.


"Jemput lo. Ada sesuatu yang mau gue tunjukin," jawab Raiden.


Tanpa ragu, Queen mengangguk setuju. Hari ini dia tidak membawa motornya, jadi dia bisa memanfaatkan Raiden untuk sekalian mengantarnya pulang.


Ketika Queen ingin menaiki motor Raiden, tangannya di tarik seseorang. Refleks, Queen membalikan badannya kebelakang.


Queen terkejut ketika melihat siapa yang menarik tangannya.


"Ma ... Mau apa?" tanya Queen terbata-bata.


.


.


.


.


TBC


See u next part, guys ... 💫